
Pagi hari kembali tiba Anna sudah bangun dari tidurnya dan ketika begitu bangun Anna yang langsung duduk tiba-tiba mengendus saat merasa ada aroma yang sedap di hidungnya.
" Tumben banget masakan Bu Sri sampai kekamarku wanginya," ucap Anna yang menghirup aroma masakan yang merasa itu masakan warung yang ada di perumahan itu.
Anna mengikat rambutnya asal dan langsung turun dari ranjangnya keluar dari kamarnya dan aroma masakan itu semakin dekat dan ternyata aroma itu membawa Anna kedapur yang mana Anna melihat Bu Anjani yang memasak di dapur
" Ibu ngapain?" tanya Anna yang mendekati dapur.
" Anna, kamu sudah bangun," sahut Anjani yang tersenyum pada Anna.
" Iya. Ibu lagi masak," ucap Anna. Anjani mengangguk.
" Dapat bahan-bahannya dari mana?" tanya Anna heran dia memang tidak menyiapkan apa-apa di dapurnya.
" Bukannya di bawah ada warung jadi ibu membelinya. Kamu kan harus bekerja. Jadi Ibu menyiapkan kamu sarapan. Sebelum kamu bekerja," ucap Anjani.
" Ya pun Bu. Tapi ibu tidak perlu repot-repot memasak," sahut Anna yang merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa Anna, sekarang sebaiknya kamu mandi. Biar kamu langsung sarapan," ucap Anjani yang melanjutkan memasak. Dan Anna seakan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
" Ya ampun dia ada uang untuk belanja. Katanya tadi malam tidak ada siapa-siapa di Jakarta dan terlihat tidak punya uang. Kalau begitu. Kenapa coba tidak pulang aja langsung kan ada uang untuk naik bus pulang ke kampung," batin Anna yang terus berdiri di belakang wanita itu sampai Anjani berbalik kembali.
" Kamu kenapa masih berdiri di sana. Ayo cepat mandi!" ucap Anjani. Anna menganggu dan langsung pergi. Anna sudah seperti seorang anak yang menuruti apa kata mamanya dan buktinya langsung pergi begitu saja ketika di suruh mandi.
************
Tidak lama akhirnya Anna pun selesai mandi dan sudah rapi-rapi yang mau kekantor. Hari ini juga Anna harus berkompetisi kembali dengan beberapa rekan-rekannya.
Karena hari ini Anna dan rekan-rekannya akan membuat desain dalam bentuk bahan jadi yang akan di saksikan semua orang di perusahan dan dengar-dengar akan di liput media. Karena juga melibatkan masyarakat untuk memberi saran dan kritik yang menyukai produk-produk dari Glossi dan bisa memberikan saran dan kritiknya di kolom komentar situs Glossi
Seperti biasa Anna akan tampil sangat simpel. Anna menggunakan celana jeans panjang berwarna Navy dengan blouse pink yang di masukkan ke dalam celananya. Sebenarnya hari ini penampilan Anna lumayan rapi dan rambutnya yang tumben-tumbennya di gerainya yang biasanya hanya di sanggul cepolnya.
Setelah rapi Anna keluar dari kamar dan Anjani benar-benar menyuguhkan sarapan untuknya.
__ADS_1
" Kamu sudah selesai ayo sarapan," ucap Anjani yang menuangkan air putih kedalam gelas. Anna menganggukkan kepalanya dan Anna langsung menghampiri meja makan. Anna menarik kursi dan duduk.
" Semoga kamu suka ya," ucap Anjani yang mengambilkan Anna nasi dan Anna memang menjadi diam dan mungkin sedikit terharu yang seperti merasakan menjadi seorang anak.
" Sudah cukup?" tanya Anjani.
" Sudah Bu," sahut Anna. Padahal nasi yang di taruh Anjani itu tidak mempan untuk perut karetnya.
" Kamu mau sayur supnya?" tanya Anjani. Anna mengangguk dan Anjani langsung mengambilnya.
" Mau ayam goreng?" tanya Anjani lagi. Anna mengangguk kembali.
" Makanlah!" ucap Anjani yang selesai menaruh lauk kepiring Anna.
" Makasih Bu," ucap Anna.
Anjani mengangguk dan duduk di depan Anna yang ternyata ikut makan. Anjani sudah menganggap itu seperti rumahnya sendiri saja dan seperti Anna yang tamu.
" Ibu bilang saja berapa tadi pengeluaran ibu untuk membeli semua ini. Nanti biar saya ganti," sahut Anna.
" Tapi kan Bu ini pasti banyak," sahut Anna.
" Tidak Anna. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Kamu sebaiknya makan, kamu harus kekantor bukan," sahut Maharani. Anna menganggukkan kepalanya dan mulai memakan.
" Apa enak?" tanya Anjani.
" Iya Bu, sangat enak. Makasih ya Bu. Jadi Anna tidak perlu mencari sarapan lagi. Anna jadi merasa seperti manusia saja," sahut Anna tiba-tiba dengan senyum yang menyimpan kesedihan yang membuat Anjani melihatnya.
" Manusia, memang kamu tidak manusia?" tanya Anjani.
" Hmmm, ya nggak tau namanya apa. Selama ini hanya tinggal sendiri bangun dan pergi lalu makan asal-asalan. Jadi ini pertama kali saat bangun tidur ada yang membuatkan makanan dan bahkan repot-repot membuatkan kepiring Anna. Jadi Anna merasa seperti orang normal pada umumnya," sahut Anna yang menyimpan kesedihannya.
" Memang kamu tidak pernah di buatkan makanan oleh ibu kamu?" tanya Maharani.
__ADS_1
" Hmmm, semenjak mama pergi waktu Anna 10 tahun. Sampai detik ini. Anna tidak pernah di perlakukan seperti ini," ucap Anna yang jujur apa adanya dan dari matanya terlihat Anna begitu sedih dan mata itu bahkan menahan tangis. Anjani mendengar cerita singkat Anna yang sedikit itu membuat dia terharu.
" Tapi kita sama Anna," sahut wanita. Anna langsung melihat serius pada Anjani.
" Sama maksudnya?" tanya Anna heran.
" Saya juga baru pertama kali menyiapkan masakan untuk orang lain. Selama ini saya hanya memasak untuk diri sendiri dan serasa apa yang saya lakukan membuat kesempurnaan untuk saya seperti seorang ibu," ucap Anjani dengan wajah senduhnya.
" Seharusnya di saat usia seperti ini adalah kebahagian seorang ibu yang bisa menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan anak. Tapi sayang Tuhan tidak memberi kesempatan itu," ucap Anjani.
" Ibu mengatakan seorang ibu. Apa ibu mempunyai seorang anak?" tanya Anna yang menebak-nebak. Anjani menganggukkan kepalanya dengan matanya yang berkaca-kaca.
" Seorang Pria yang hanya di lahirkan dan tidak bisa di jaga dan mungkin sekarang dia sudah dewasa dan menjadi Pria yang tampan dan berwibawa," ucap Anjani yang menahan tangis.
" Memang kemana anak ibu?" tanya Anna. Anjani melihat Anna dengan mengangkat ke-2 bahunya sambil tersenyum menutup kesedihannya.
" Jadi Bu Anjani punya anak. Ternyata dia wanita yang kesepian. Ya ampun dari matanya dia juga begitu sedih dan sepertinya sedang merindukan seseorang," batin Anna yang begitu simpatik dengan Bu Anjani yang menahan air matanya.
" Hmmm, Anna kamu mau tidak menjadi anak ibu," sahut wanita itu tiba-tiba. Anna kaget mendengarnya.
" Aku," tunjuk Anna pada dirinya. Anjani mengangguk.
" Bolehkan ibu menganggap kamu seperti anak ibu sendiri," sahut wanita itu lagi.
" Ya ampun kalau aku jadi anaknya. Bukannya Bu Anjani menyukai Athar yang itu artinya aku akan memanggil Athar papa atau ayah," batin Anna menggedikkan bahunya yang kegelian sendiri.
" Anna, kamu tidak mau ya," sahut Anjani.
" Oh, bukan begitu Bu. Anna mau kok. Apa lagi kalau di masakkan makanan seenak ini. Anna jelas mau. Ibu sebaiknya tinggal sama Anna saja di sini. Di kampung juga ibu tidak ada temannya. Ibu adalah ibu yang sendirian dan Anna anak yang sendirian dari pada kita sendiri-sendiri. Mending di satuin aja," ucap Anna yang memutuskan. Anjani tersenyum mendengarnya.
" Bagaimana, ibu setuju atau tidak," sahut Anna. Anjani memaggguk.
" Nah begitu jadinya cocok," sahut Anna yang bertambah semangat.
__ADS_1
" Ya sudah kamu makan lagi," ucap Anjani. Anna mengangguk dan langsung makan dengan lahap dan bahkan nasinya di tambahnya langsung padahal di piringnya saja belum habis. Ya tingkah Anna hanya membuat Anjani tersenyum dengan geleng-geleng yang begitu bahagia jika hidupnya akan berwarna.
bersambung