Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 73 Anna di rumah Athar.


__ADS_3

Athar yang begitu khawatir pada Anna langsung buru-buru membawanya menuju mobilnya. Athar memang terlihat panik dengan kondisi Anna yang sangat memburuk.


" Athar mau kamu bawa kemana dia?" tanya Ari Purnama.


" Aku akan membawanya kerumah sakit," jawab Athar dengan suara bergetar.


" Bawa kerumah saja Athar, nanti biar Dokter keluarga kita yang akan datang kerumah," sahut Maharani memberikan idenya.


" Baiklah!" sahut Athar yang langsung menurut.


Athar langsung memasukkan Anna kedalam mobilnya mendudukkan Anna dengan perlahan di dalam mobilnya. melihat wajah Anna yang tampak pucat yang membuatnya begitu iba.


Bahkan Athar membuang napasnya dengan perlahan dengan kedepan. Saat Athar ingin bergerak tangan Anna masih memegang kuat kemeja dan dengan perlahan Athar melepas tangan Anna yang begitu dingin dari kemeja.


Dengan buru-buru Athar memakaikan Anna sabuk pengaman dan langsung menyusul masuk kedalam mobil duduk di kursi pengemudi. Dia tidak ingin membuang waktu sedikitpun.


Athar memakai sabuk pengamannya. Namun kembali melihat ke arah Anna yang di sampingnya. Anna masih mengeluarkan darah dari hidungnya yang mungkin Anna begitu lelah.


Athar pun mengusap darah itu menggunakan lengan bajunya. Dengan perasaannya yang aneh jika sudah berdekatan dengan Anna. Tidak menunggu lama akhirnya Athar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kondisi Anna benar-benar butuh pertolongan.


Mobil Athar di susul mobil Derry yang membawa Ari Purnama dan Maharani sementara Olive bersama Gibran. Setelah kepergian mobil itu Aurelia berlari keluar dari rumah mengejar Athar.


" Athar tunggu!" panggil Aurelia berteriak yang sudah ketinggalan dan tidak sempat mengejar Athar.


" Kenapa semuanya jadi seperti ini. Athar akan berpikir yang tidak-tidak kepadaku. Dia akan menganggap. Jika aku ikut ambil alih dalam penyekapan Anna. Argggghhh," teriak Aurelia dengan mengusap kasar wajahnya yang benar-benar stress dengan semuanya.


" Aurelia!" panggil Chandra yang menyusul keluar bersama Amelia.


" Ada apa pah," sahut Aurelia dengan wajah bengisnya.


" Kamu memberi tahu Athar tentang keberadaan Anna?" tanya Chandra, hal itu langsung membuat Aurelia mengkerutkan dahinya mendengar tuduhan papanya.


" Apa gunanya aku memberitahunya. Untuk semua ini. Pah, aku tidak memberitahunya dan siapa yang memberitahunya itu bukan urusanku. Yang jelas karena Maslaah ini Athar dan keluarganya akan berpikiran lain kepada keluarga kita dan semua itu karena papa," sahut Aurelia marah-marah pada Chandra yang tidak segan-segan menyalahkan Chandra.

__ADS_1


" Berani sekali kamu Aurelia menyalahkan papa," sahut Chandra menekan suaranya.


" Lalu apa. Pah, papa lihat apa yang terjadi tadi, mereka semua begitu terkejut saat melihat Anna yang sekarat seperti itu dan papa mengatakan itu bukan salah papa, mengurung Anna dan melakujan semuanya adalah kesalahan papa. Semuanya berantakan karena papa," ucap Aurelia dengan kemarahannya.


" Aurelia kamu!" gertak Chandra.


" Pah sudah," sahut Amelia menghentikan keributan dengan Aurelia, semuanya sudah terlanjur. Tidak ada gunanya kalian berdua bertengkar seperti ini," sahut Amelia mencoba menjadi penengah.


" Semuanya sama saja sahut Aurelia yang langsung meninggalkan tempat itu. Dia sudah begitu pusing dengan banyaknya masalah yang terjadi.


" Ada apa dengannya kenapa dia jadi marah-marah," ucap Chandra.


" Pah, mama sudah mengingatkan di awal dan lihat akhirnya seperti ini. Ini jauh lebih berantakan. Dari pada pesta kemarin," sahut Amelia yang juga terlihat begitu pusing.


" Dan itu kesalahan ku?" sahut Chandra.


" Entahlah," sahut Amelia yang tidak bisa berkata-kata lagi, dia pun langsung pergi.


**********


Rumah Ari Purnama.


Dokter pribadi keluarg Ari Purnama sedang memeriksa Anna. Di mana Anna berada di kamar tamu yang pasti luasnya sudah seperti kamar utama. Anna berbaring di tengah ranjang dengan pakaian yang sudah di ganti.


Anna memakai baju tidur Olive. Karena memang pakaian Anna yang sebelumnya tidak layak pakai lagi, bau dan segalanya yang memang tidak layak pakai lagi. Wajah Anna dan tangannya juga di bersihkan dan tidak terlihat kucel lagi. Sementara Dokter sedang memeriksa Anna.


Di mana Maharani, Ari Purnama, Derry dan Olive berdiri di sekitar ranjang yang juga ingin tau kondisi Olive. Sementara Athar berdiri di depan pintu yang melihat Anna dari jauh dengan ke-2 tangannya di lipat di dadanya.


" Bagaimana keadaannya Dokter?" tanya Maharani setelah melihat Dokter selesai memeriksa Anna.


" Dia sudah baik-baik aja, semoga besok bisa bangun. Saya juga menyuntikkan vitamin kepadanya, agar tenaganya ada," jawab Dokter.


" Apa tidak terjadi sesuatu padanya?" tanya Maharani yang terlihat panik.

__ADS_1


" Tidak apa-apa, dia hanya dehidrasi dan juga kekosongan perut. Tetapi saya sudah menyuntikkan vitamin untuknya," jawab Dokter.


" Lalu kenapa keluar darah dari mulutnya?" tanya Olive.


" Karena dia sangat lelah dan lemas tanpa adanya tenaga membuatnya mengeluarkan darah. Di lihat dari kondisinya sudah tiga hari dia seperti itu," jelas Dokter.


" Jahat sekali mereka," gumam Olive dengan matanya yang bergenang.


" Kalian semuanya jangan khawatir, beristirahat dengan cukup akan membuatnya jauh lebih baik, dan setelah sadar berikan dia obatnya dan langsung berikan makan. Maka kondisinya akan pulih kembali," ucap Dokter memberikan saran.


" Makasih Dokter kalau begitu," sahut Maharani.


" Sama-sama. Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu," sahut Dokter yang berpamitan.


" Baik Dokter, biar saya antarkan," sahut Derry.


Dokter mengangguk dan pergi keluar dari kamar. Dokter menundukkan kepalanya saat berpapasan dengan Athar sekedar menyapa. Athar hanya menganggukkan matanya dan kembali melihat ke arah Anna yang masih terbaring lemas yang kebetulan wajah Anna mengarah ke kanan yang mengarah pintu yang bisa di lihat Athar langsung.


" Keterlaluan mereka, kenapa tega seperti ini, memang apa salah Anna dan bukannya Anna juga anaknya," ucap Olive duduk di samping Anna memegang pipi Anna.


Dia ikut sedih dengan kondisi temannya itu yang di temukan begitu snagat memperhatikan.


" Mama juga tidak mengerti, kenapa mengurung Anna di tempat seperti itu, tidak di beri makan sampai seperti ini," sahut Maharani yang menatap sendu wajah Anna.


" Memang kita tidak bisa mencampuri urusan keluarga mereka. Tapi papa juga tidak percaya, kalau pak Chandra bisa sampai tega pada putrinya sendiri," sahut Ari Purnama geleng-geleng dengan kelakuan calon besannya itu.


" Jadi selama Anna berada di sana, dia tidak masuk kantor yang ternyata Anna di kurung di sana. Apa dia akan mati jika aku terlambat sedikit saja tadi," batin Athar menatap wajah malang itu.


Apa yang di lihatnya sudah seperti penyiksaan yang sangat keji. Anna di kurung di tempat yang tidak layak, tidak di beri makan atau apapun bahkan sampai pakaiannya terdapat belatung.


Athar merasa sungguh ngeri dengan semua itu dan bahkan Aurelia tau. Tetapi seakan pura-pura tidak tau dengan Anna yang di sekap. Kecurigaan Jennie sebelumnya memang tepat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2