
Tidak lama akhirnya mereka sudah berada di lokasi balon udara yang mana keduanya ingin menaiki balon udara yang tadi permintaan Anna dan Athar menurutinya.
Setelah melakukan persyaratan untuk naik Anna dan Athar sudah ada di atas yang mana ke-2 nya sudah naik di sana. Yang menikmati pemandangan dari atas sana. Anna begitu takjub melihat keindahan kota Bangkok tersebut dari atas yang penuh dengan lampu-lampu bangunan kota.
" Kamu suka?" tanya Athar yang berdiri di belakang Anna yang terus melihat ke bawah.
" Hmmm, indah sekali," jawab Anna dengan wajahnya penuh kebahagian yang terus mengeluarkan senyumnya.
" Kau tidak takut ketinggian?" tanya Athar.
Anna membalikkan tubuhnya menghadap Athar dan menggelengkan kepalanya.
" Aku mana takut apapun," sahut Anna menyombongkan diri.
" Yakin!" tanya Athar menaikkan 1 alisnya menatap intens Anna.
" Yakin," jawab Anna dengan percaya diri, " tapi..." Anna melanjutkan kata-katanya tetapi menjedanya sebentar.
" Tapi apa?" tanya Athar yang menunggu jawaban Anna.
" Tapi aku takut jika kamu marah," ucap Anna.
Athar mendengarnya tersenyum, " bukannya kamu sering membuatku marah," sahut Athar dengan menaikkan 1 alisnya.
" Itu bukan marah. Tetapi kesal," sahut Anna yang membuat perbedaan.
" Jadi ada bedanya?" tanya Athar.
" Benar ada bedanya. Kalau kesal saat wajah kamu itu terlihat geram, merapatkan gigi dan berteriak Annaaaaaa!!!!!! Kau itu seakan ingin menerkamku dan itu namanya kesal," ucap Anna dengan penjelasan dan memeraktek kan wajah Athar.
" Lalu kalau marah?" tanya Athar yang ingin tau lagi.
" Matamu berkaca-kaca, diam menahan diri dan melukai dirimu itu lah kalau kamu marah dan hal itu sangat membuatku takut," jawab Anna mengubah ekspresi wajah menjadi sendu.
__ADS_1
" Jangan melakukan hal itu Athar. Aku tidak mau kau melukai dirimu," ucap Anna dengan serius.
Athar mendekatkan dirinya pada Anna dengan memegang pipi Anna dan Athar menganggukan pelan kepalanya.
" Aku tidak akan melakukan apa yang membuatmu takut," ucap Athar dengan menatap Anna intens, menatap dalam-dalam Anna dan Anna tersenyum mendengarnya.
" Jangan pernah takut untuk ada di sisiku. Aku berjanji Anna, kemarin itu adalah yang terakhir kalinya aku melakukannya. Aku tidak melakukan itu lagi," ucap Athar.
" Janji?" ucap Anna dengan mengantungkan jari telunjuknya. Athar mengendus dengan senyuman. Lalu menyambut uluran kelingking jari itu.
" Janji," sahut Athar.
Anna tersenyum mengembang lalu berjinjit mencium pipi Athar dengan tersenyum. Jujur Athar begitu kaget melihat Anna yang seperti itu. Namun Anna langsung membalikkan tubuhnya melihat kembali pemandangan yang seolah salah tingkah dengan apa yang di lakukannya barusan.
Athar mendengus dengan senyuman miring dengan perbuatan Anna yang sudah berani padanya.
Tidak ingin menghilangkan kesempatan akhirnya membuat Athar memeluk Anna dari belakang dengan menempelkan pipinya dengan pipi Anna.
" Kau berani menciumku!" bisik Athar dengan suara seraknya yang membuat Anna merinding.
" Benarkah!" tanya Athar lagi. Anna menganggukkan kepalanya.
" Huhhhhh, kamu sih Anna kenapa lantang sekali mencium Athar," batin Anna yang kelihatan menyesal melakukannya.
" Aku mencintaimu!" bisik Athar di telinga itu.
Jangan tanya jantung Anna begitu berdebar kencang dan mendengar ucapan cinta itu membuat Anna ingin rasanya terbang ke langit ke 7 atau malah terjun bebas ke bawah sana.
Athar yang begitu cuek dan dinginnya bisa-bisanya beberapa kali mengucapkan cinta padanya. Anna mungkin adalah orang yang paling beruntung di dunia ini.
Athar perlahan membalikkan tubuh Anna dengan memegang ke-2 bahu Anna dan sekarang Anna sudah menghadap dirinya.
Anna terlihat semakin gugup di depan Athar yang menatapnya dengan intens dan Anna sebenarnya ingin mengalihkan pandangannya karena begitu gugup mendapat tatapan dari Athar.
__ADS_1
Athar memegang pipi Anna dengan matanya yang turun pada bibir Anna. Sementara Anna sudah semakin gemetar dengan tangannya yang saling menggenggam di sana.
Di detik berikutnya. Anna merasakan benda kenyal yang sudah menempel birnya dan apa lagi jika bukan Athar yang menciumnya dengan dalam dan Anna langsung memejamkan matanya kala ciuman
Kala mendapatkan ciuman lembut dari Pria di depannya itu. Ciuman yang menuntut yang mana Athar memegang ke-2 tengkuk Anna yang semakin membuat wajah Anna ke depan agar dia semakin leluasa untuk mencium lebih dalam lagi. Menelusuri isi di dalam mulut sang wanita.
Anna tidak terbiasa dalam hal berciuman. Jadi dia masih kaku. Tetapi Athar yang sepertinya lihai mampu membuat Anna menikmatinya dengan ke-2 tangan Anna yang sekarang memegang kuat kemeja Athar.
Mereka berciuman di atas balon udara. Suasana yang indah itu membuat ke-2nya sama-sama mabuk dalam ciuman itu.
Lama berciuman akhirnya Athar menyelesaikannya dengan melepas tautan bibir itu perlahan yang mana mereka sama-sama membuka mata perlahan dengan hembusan napas yang sama-sama naik turun.
Athar yang masih menunduk mensejajarkan wajahnya dengan Anna. Athar tersenyum dengan mata yang berbinar. Athar mengecup sekilas bibir yang basah yang menjadi candunya itu. Lalu mencium lembut kening Anna dan langsung memeluknya dengan erat.
" Jangan pernah pergi dari ku. Tetap lah di sisiku," ucap Athar. Anna hanya mengangguk di dalam pelukan itu. Dia pun mengeratkan pelukannya. Di mana wajahnya yang berada di dada bidang Athar.
**************
Lain Anna dan Athar yang belakangan ini selalu bahagia dengan hal-hal manis yang mereka lakukan. Aurelia yang berada di dalam kamar yang berdiri di depan cermin. Dia menatap wajahnya di cermin. Matanya masih begitu sembab yang sedari tadi masih menangis
Aurelia melihat ponsel yang ada di atas meja. Itu adalah ponselnya Derry yang di pinjamkan Derry untuknya. Aurelia mengambil ponsel tersebut dan tidak tau kenapa tangannya harus membuka sosial media Anna.
Air matanya menetes kala melihat kebersamaan Anna yang di mana berada di meja makan bersama Athar, Maya dan Anjani. Aurelia semakin menangis melihat hal itu dan terduduk di lantai dengan ponsel yang berada di tangannya yang melihat ke bahagian tersebut.
" Mama!" Lirihnya menyebut nama mamanya yang bersama Anna, " mama benar-benar marah kepadaku. Mama tidak ingin menemuiku. Mama hanya menemui Anna. Mama begitu membenciku," Aurelia menangis terisak-isak dengan memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sakit.
Derry yang memasuki kamar itu melihat Aurelia yang kembali menangis membuatnya begitu prihatin. Derry yang berdiri di depan pintu seolah tidak sanggup melihat Aurelia seperti itu. Derry pun langsung menghampirinya dan berjongkok di depan Aurelia yang menangis sengugukan.
" Mama benar-benar tidak menganggapku ada lagi," ucap Aurelia dengan kata-katanya yang terasa begitu sakit untuknya. Derry di depannya mengusap air mata itu lalu membawa Aurelia kedalam pelukannya.
" Aku menyuruhmu untuk istirahat. Bukan menangis lagi," ucap Derry dengan suara beratnya.
Tidak ada jawaban yang ke luar dari mulut Aurelia. Dia hanya menangis di pelukan pria yang tampaknya menjadi satu-satunya yang peduli kepadanya di saat semua orang meninggalkannya.
__ADS_1
Bersambung