
Anna dan Athar makan di salah satu Restaurant. Mereka menikmati makan malam setelah tadi mereka tidak bertemu karena kesibukan Athar yang mengurus masalah adiknya. Membantu Polisi mencari tau siapa yang menghajar Mahendra.
"Bagaimana sayang? apa kamu lelah hari ini?" tanya Anna yang melihat wajah pacarnya yang terlihat lesu.
"Lumayan," jawab Athar.
"Apa ada petunjuk mengenai orang yang menghajar Gibran?" tanya Anna begitu penasaran.
"Untuk saat ini tidak ada Anna. Bahkan tidak ada saksi yang melihatnya dan juga tidak rekaman Cctv yang terdapat di lokasi," jawab Athar.
"Lalu bagaimana selanjutnya. Kalau tidak ada petunjuk. Itu artinya kita semua tidak akan tau," ucap Anna yang semakin khawatir.
"Mungkin harus menunggu Gibran sadar. Mungkin saja Gibran mengenali orang yang menghajarnya. Karena menurut polisi yang menghajar Gibran bukan satu orang melainkan ada beberapa," jelas Atha.
"Jadi harus menunggu Gibran sadar. Tetapi kondisinya saja masih lemah seperti itu," sahut Anna.
"Kita berdoa saja. Semoga dia cepat sadar dan bisa membantu untuk menyelidiki kasus ini," sahut Athar yang kembali menyantap makananya.
"Sayang apa mungkin kejadian ini berhubungan dengan musuh Gibran," sahut Anna yang tiba-tiba kepikiran membuat Athar melihat kearahnya.
"Maksudnya?" tanya Athar.
"Kemarin kak Aurelia menyinggung masalah kesana. Dia mengatakan mungkin saja. Ini ada hubungannya dengan orang yang tidak menyukai Gibran," ucap Anna yang perkataan kakaknya ada benarnya juga.
"Aku juga kepikiran dengan hal itu Anna. Karena memang tahun lalu. Gibran orang penuh dengan obsesi tentang masalah Perusahaan dan juga kekuasaan dan bahkan Gibran terlihat sering jurang dan mungkin memang iya. Dia ada masalah yang belum terselesaikan," jelas Athar yang juga sempat memikirkan hal itu.
"Lalu bagaimana sayang jika memang iya?" tanya Anna yang terlihat sangat khawatir.
"Aku masih menyuruh Jennie untuk menyelidiki masalah ini dan semoga saja tidak ada apa-apa," jawab Athar.
"Hmmm begitu rupanya. Oh iya sayang menyinggung masalah Bu Jennie. Aku tiba-tiba ingin membahas kak Aurelia dan Mahendra," sahut Anna yang baru kepikiran.
"Masalah apa?" pekik Athar.
"Tadi pagi saat kerumah sakit, sangat kebetulan sekali kak Aurelia melihat Jennie dan Mahendra lagi sarapan bersama dan terlihat begitu romantis. Mungkin saja di hati Bu Jennie sedang bertanya-tanya ada apa di antara ke-2nya. Aku juga tidak tau apa yang terjadi dan kamu tau tidak tadi Kaka Aurelia juga marah-marah pada Mahendra yang mengatakan, kinerja Mahendra tidak bagus dan ini itu lah. Pokoknya kak Aurelia marah-marah tidak jelas," ucap Anna yang mengadu pada kekasihnya.
"Kok gitu?" tanya Athar.
"Aku menduga-duga sih. Pasti Kaka Aurelia sudah mulai sadar. Kalau Bu Jennie ada hubungan dengan Mahendra. Jadi dia menumpahkan semua dengan marah-marah," ucap Anna yang menduga-duga.
"Bisa jadi sih," sahut Athar.
"Aku hanya berharap Kaka Aurelia benar-benar bisa melepas Mahendra. Karena bagaimanapun pun Mahendra tidak menyukainya dan sudah berbaikan dengan Bu Jennie," sahut Anna dengan harapannya.
"Aku juga berharap seperti itu sayang. Hanya saja sebenarnya masalah ini kuncinya ada pada Mahendra yang seharusnya Mahendra lebih bijak dan tegas untuk mengatakan dengan jelas masalah hubungannya dengan Jennie. Agar tidak membuat Aurelia kecewa dan berharap terus," ucap Athar.
"Aku juga setuju sayang dengan pendapat kamu," sahut Anna.
"Ya sudah kita sebaiknya makan saja. Setelah ini aku antar kamu pulang dan masalah Gibran aku akan mengurusnya," ucap Athar.
__ADS_1
"Baiklah!" sahut Anna tersenyum dan kembali menikmati makanannya.
**********
Aurelia berada di perusahaan Athar yang sedang melaksanakannya urusan bersama dengan Mahendra dan tiba-tiba mereka berpapasan dengan Jennie dan saling menghentikan langkah saat berhadapan. Mahenndra dan Jennie sama-sama melihat dengan sama-sama tersenyum dan senyum itu di di lihat oleh Aurelia yang mengamati ke-2 wajah yang benar-benar begitu bahagia itu.
"Ehemm!" Aurelia berdehem membuat Mahendra dan Jennie sedikit kaget dan senyum di wajah mereka sama-sama memudar.
"Apa Athar ada di ruangannya?" tanya Aurelia.
"Iya, dia ada di ruangannya dan sedang menunggu Mahendra," jawab Jennie.
"Baiklah Mahendra. Kamu duluan saja kedalam. Aku juga ada urusan dengan Jennie," ucap Aurelia membuat Mahendra heran.
"Ada apa Mahendra. Tidak boleh aku berurusan dengannya?" tanya Aurelia yang mengamati wajah Mahendra.
"Bukan begitu Nona. Baiklah saya permisi dulu," sahut Mahendra yang akhirnya pergi dan tinggal Jennie dan Aurelia yang sekarang saling melihat.
"Ada apa ya? kamu punya keperluan apa kepadaku?" tanya Jennie.
"Mari bicara di luar. Ini sedikit penting," sahut Aurelia yang melangkah terlebih dahulu dan Jennie mengangguk mengikuti Aurelia. Walau sebenarnya Jennie juga bingung kenapa Aurelia mengajaknya untuk pergi.
************
Aurelia berada di atas gedung yang terbuka luas. Hal itu sangat membuat Jennie bingung dengan Aurelia yang membawanya ke sana. Aurelia berdiri dengan ke-2 tangannya yang di lipat di dadanya.
"Ada apa Aurelia?" tanya Jennie dengan wajah herannya yang sudah berdiri di samping Aurelia.
"Perusahaan Bu Maya. Bekerja sama dengan Perusahaan Glossi. Jadi jelas banyak pekerjaan yang berhubungan," jawab Jennie dengan tenang.
"Perusahaan yang bekerja sama. Tetapi kalian berdua yang terlihat sangat sering bertemu," ucap Aurelia membuat Jennie semakin bingung dengan pertanyaan Aurelia yang tidak di ketahui sebenarnya mengarah kemana.
"Aurelia aku adalah asisten Athar dan dia mengutus ku untuk mengurusi masalah pekerjaan dan sama dengan kalian yang juga mempercayakan Mahendra dan jika aku dan Mahendra yang sering bertemu. Jadi itu hal yang wajar dan aku sangat bingung dengan sebenarnya apa maksud kamu menanyakan hal ini kepadaku. Aku benar-benar tidak mengerti Aurelia," sahut Jennie.
"Aku menyukai Mahendra," sahut Aurelia yang langsung to the point yang membuat Jennie terkejut dan Aurelia tersenyum menghadap Jennie.
"Perasaan ku tidak main-main. Aku sungguh menyukainya dan juga sangat mencintainya, aku sungguh serius Jennie. Aku tidak main-main, aku sungguh sangat menyukainya Jennie," ucap Aurelia yang penuh penegasan dan Jennie hanya diam yang melihat mata Aurelia yang bicara kepadanya.
"Jennie kamu sudah tau bagaimana perasaanku pada Mahendra dan aku pasti sangat tersinggung sangat tidak suka jika kamu harus dekat-dekat dengannya. Kamu harus menghargai perasaan ku Jennie. Harus di hargai," ucap Aurelia yang penuh penegasan.
"Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan kepadamu. Kalau aku permisi dulu. Terima kasih untuk waktumu. Semoga tidak menggangu pekerjaan mu," ucap Aurelia tersenyum dan langsung pergi dari hadapan Jennie.
**********
Karena perkataan Aurelia tadi Jennie jadi kepikiran dan sekarang Jennie terdiam yang tidak fokus dengan pekerjaannya yang mana hanya berdiri di lantai 2 melihat ke halaman Perusahaan.
Dratt-dratt-Dratttt.
Ponsel yang di genggamnya berdering membuat Jennie melihat panggilan masuk itu yang ternyata dari Mahendra. Sangat lama bagi Jennie untuk mengangkat panggilan itu sampai akhirnya Jennie mengangkatnya.
__ADS_1
"Iya Mahendra," sahut Jennie.
"Aku mencarimu. Kamu di mana?" tanya Mahendra yang ternyata ada di bawah, di halaman Perusahaan.
"Apa kamu sibuk?" tanya Mahendra. Jennie diam.
"Mahenndra!" tegur Aurelia yang membuat Mahendra melihat kebelakangnya dan melihat ke arah Aurelia.
Di atas sana Jennie melihat hal itu. Melihat Aurelia dah juga Mahendra.
"Ayo kita pulang. Kita masih banyak pekerjaan," sahut Aurelia. Jennie mendengar percakapan Aurelia dan juga Mahendra.
"Aku ada pekerjaan Mahendra, nanti aku telpon lagi," sahut Jennie.
"Baiklah kalau begitu, kamu jangan lupa makan ya," ucap Mahendra.
"Iya," sahut Jennie yang langsung mematikan telpon itu dan Aurelia mendengar semuanya dan terlihat tidak suka.
"Ayo Mahendra!" ajak Aurelia terlihat sangat memaksa dan bahkan merangkul lengan Mahendra dan Jennie di atas sana melihat hal itu, melihat saja bagaimana Aurelia yang pergi dengan Mahendra. Pria yang tak lain kekasihnya dan barusan saja di katakan dengan jelas jika wanita yang mengajak kekasihnya itu menyukai Mahendra.
"Jennie!" tegur Athar yang berdiri di belakang Jennie membuat Jennie langsung membalikkan tubuhnya.
"Athar!" sahut Jennie.
"Aku ingin bicara dengan mu," sahut Athar.
"Baiklah!" sahut Jennie. Athar menghela napas dan langsing menghampiri Jennie duduk di samping Jennie.
"Apa kau mendapat petunjuk dengan orang yang menyerang Gibran?" tanya Athar.
"Aku masih memeriksa semua orang-orang yang pernah bekerja sama dengan Gibran. Masalah ini sangat berkaitan dengan urusan masa lalu Gibran dengan para Pembisnis lainnya dan sangat tidak ada kaitannya dengan Sana," kelas Jennie yang sudah menyelidiki dan bisa menyimpulkan sedikit.
"Aku sudah menduga masalah itu. Hanya saja aku juga kepikiran dengan Sana. Karena ini menyangkut pernikahan mereka yang aku pikir ini sangat berkaitan," ucap Athar.
" Tidak ada kaitannya sama sekali. Aku sudah memastikannya dan ini murni karena masalah Gibran. Aku akan mencari tau detailnya semuanya. Kamu jangan khawatir," sahut Jennie.
"Baiklah. Aku serahkan masalah ini kepadamu. Aku dan Derry akan berkerja sama dengan pihak polisi dan kamu urus semua masalah yang belum selesai dengan Gibran dengan rekan-rekannya," ucap Athar membagi tugas dengan Jennie.
"Baiklah Athar kamu jangan khawatir aku akan melakukan yang terbaik," sahut Jennie.
"Dan iya Jennie masalah kamu dan keluarga Mahendra. Aku akan mengurusnya. Kamu fokus saja dengan hubungan kamu dan Mahendra," sahut Athar.
"Tidak perlu Athar aku bisa menyelesaikannya," sahut Jennie yang tidak ingin di bantu Athar.
"Bagaimana mungkin kamu bisa menyelesaikannya. biarkan aku yang mengurusnya. Kamu santai saja," sahut Athar.
"Maaf merepotkanmu," ucap Aurelia yang merasa tidak enak.
"Jangan meminta maaf santai saja," sahut Athar. Jennie mengangguk.
__ADS_1
"Satu lagi Jennie. Aku rasa kamu tau jika Aurelia menyukai Mahendra. Aku hanya berpesan padamu. Jangan sampai kamu goyah. Karena ada yang menyukainya. Perjuangan kalian tidak mudah. Jadi mau seribu orang menyukai Mahendra. Jika dia hanya mencintaimu aku rasa tidak akan pernah ada masalah. Jadi tetap kamu harus bisa mengatasi masalaah kalian," ucap Athar mengingatkan.
Bersambung