Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 45 Pembalasan yang setimpal.


__ADS_3

Aurelia berada di dalam mobilnya. Beberapa kali Aurelia membuang napasnya kasar. Yang memang sejak bertemu Anna di dalam kamar mandi tadi hatinya tidak netral.


" Kenapa dia tidak bisa membuang kebiasaan buruk itu. Apa harus tangannya putus dulu. Baru dia bisa mengubahnya," desis Aurelia yang ternyata memikirkan Anna.


" Anak itu memang selalu saja mencari penyakit. Sudah punya kehidupan enak. Tapi masih mencari tempat untuk tidak enak," batin Aurelia geleng-geleng.


" Sudahlah, itu jalan yang dia pilih. Dia memang keras kepala dan sampai kapanpun aku tidak akan bisa berbuat apa-apa," ucap Laura yang memakai safety belt dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan santai pergi dari Perusahan tersebut.


*********


" Issss, dasar manusia kasar, bisa-bisanya dia menjatuhkanku. Memang dia pikir aku barang apa," oceh Anna memegang pinggangnya. Berjalan seperti nenek yang encok.


" Bukannya berterima kasih sudah di obati, malah sembarangan menjatuhkanmu," ucapnya lagi yang benar-benar kesal.


" Tidak apa-apa Anna, yang penting dia tidak menghukumku yang berlebihan. Masalah ini sudah selesai. Itu artinya aku tidak akan mendapatkan hukuman yang lain lagi," batin Anna tersenyum merasa lega.


*************


Anna dan Lisa sedang berjalan di lantai 2 yang langsung bisa melihat ke arah Lobi.


Anna berjalan sambil membuka pisang yang tadi lupa di makannya saat makan siang di kantin Perusahaan.


" Anna makan jangan sambil jalan," ucap Lisa menegur Anna.


" Belum juga makan, masih di buka," sahut Anna yang membuka pisang itu.


Tiba-tiba Anna melihat Gibran di bawah sana membuat langkahnya berhenti. Anna yang sedang memakan pisang melihat kesal ke arah Gibran. Lisa pun ikut berhenti melihat ke mana arah mata Anna.


" Ada apa Anna?" tanya Lisa heran.


" Kau tau siapa dia?" tanya Anna menatap tajam Gibran.


" Oh, dia Direktur di perusahan ini," jawab Lisa.


" Ishhh, hanya Direktur saja. Tetapi sombongnya minta ampun. Dia pikir siapa dirinya, sudah mulutnya tidak pernah di sekolahkan dan lihatlah gayanya sungguh kampungan," desis Anna yang masih memiliki dendam kesumat dengan Gibran.


" Kau ada masalah dengannya?" tanya Lisa.

__ADS_1


" Dia sudah menghinaku. Dengan kata-katanya yang sok tau itu yang tidak terpelajar itu, dia mengataiku dengan seenak mulutnya yang tidak di sekolahkan itu," ucap Anna dengan kesal.


Lisa tidak mengerti dengan kata-kata Anna. Namun dari apa yang dilihatnya sangat jelas Anna memang begitu kesal kepada Gibran. Bahkan dari sorot mata Anna terlihat memang sangat membenci Gibran.


Dengan bersamaan Athar dan Jennie juga memasuki Perusahaan dan mereka berhenti di depan lobby dengan Jennie yang bicara kepada Athar.


Namun mata Athar fokus pada Anna di atas sana yang bersama dengan Lisa yang mana Athar juga melihat arah pandang Anna yang ternyata melihat, Gibran yang sedang menelpon dengan gayanya yang peteng-tengan.


" Athar kau mendengarku?" tanya Jennie yang melihat Athar bengong. Jennie pun melihat siapa yang di lihat Athar dan ternyata Anna.


Anna di atasnya sana tampaknya masih dendam dengan Gibran.


" Aku belum puas untuk kemarin memberinya pelajaran. Akan aku beri pelajaran lagi supaya impas," geram Anna yang langsung dengan cepat membuang kulit pisang sembarangan.


Lisa melotot melihat apa yang di lakukan Anna.


" Anna sampahmu!" tegur Lisa yang bisa-bisanya tidak menyadari Anna sudah membuang sampah itu.


Matanya bahkan hampir ingin keluar dengan kelakuan Anna dan Lisa semakin panik saat melihat Athar di bawah sana yang menyaksikan Anna membuang sampah sembarangan.


" Dia benar-benar tidak pernah mematuhi peraturan perusahan ini," geram Athar yang kesabarannya kembali di uji. Sementara Jennie juga terlihat jauh lebih pasrah.


Dan Gibran yang selesai menelpon langsung berjalan dan tanpa melihat ada kulit pisang di lantai membuat Gibran langsung terpeleset dan jatuh.


" Aahhhh," teriak Gibran memegang punggungnya yang terhempas kuat ke lantai.


Anna tertawa puas di atas sana. Athar tiba-tiba malah tertawa jaim ketika melihat Gibran yang sudah terjatuh akibat ulah Anna. Jennie terlihat schok dengan Athar yang bisa-bisanya tertawan tertahan. Ini pertama kali Jennie melihat Athar tertawa.


" Apa aku tidak salah lihat," ucap Jennie heran dan Athar langsung sadar jika dia tadi tertawa dan dengan cepat langsung pasang mode cool. Dengan merapikan dasinya.


" Apa yang kau lihat," sahut Athar gugup dengan Jennie menatapnya heran.


" Kau sedang tertawa?" tanya Jennie yang masih tidak percaya.


" Itu hanya penglihatan mu saja. Kau urus dia. Jangan sampai di membuang sampah sembarangan lagi," ucap Athar yang langsung pergi. Jennie geleng-geleng yang hari ini sungguh aneh untuknya.


" Woy, siapa yang membuang sampah sembarangan?" teriak Gibran dengan penuh kemarahan. Anna langsung berjongkok untuk mengumpet dan tidak lupa menarik Lisa agar tidak terlihat oleh Gibran.

__ADS_1


" Anna kamu ini aneh-aneh aja deh. Gimana kalau Pak Gibran tau. Kamu yang melakukannya. Bisa berakhir hidup kamu," ucap Lisa yang panik.


" Biarin aja aku tidak peduli. Itu salahnya sendiri. Mulutnya seenaknya mengataiku," sahut Anna yang terlihat sangat santai dia memang tidak takut pada Gibran.


" Tapi Anna," sahut Lisa ketakutan dengan perbuatan Anna yang mengerjai Gibran.


" Ishhhh, sudahlah, jangan khawatir santai saja," ucap Anna.


Lisa geleng-geleng dan pasrah dengan Anna yang tampak ceroboh. Tidak ada takutnya sama sekali. Sementara dia setelah ini akan mendapat teguran lagi. Karena tadi Athar melihat Anna melakukan pelanggaran yang sangat parah.


***********


Athar, Ari Purnama, Derry sedang berada di ruang meeting private.


Ceklek


Gibran yang di tunggu akhirnya datang. Gibran layaknya kakek-kakek yang memegang pinggangnya kesakitan.


" Maaf Pah terlambat," ucap Gibran menahan sakit.


" Ada apa denganmu. Kenapa pinggangku?" tanya Ari Purnama.


" Ini semua gara-gara para Cs yabg tidak bejus dalam bekerja sembarang membuang sampah, aku jadi terpleset karena kulit pisang sialan itu," desis Gibran marah-marah sambil mengambil tempat duduk di samping Derry. Duduk dengan perlahan agar tidak kesakitan.


" Ada apa cleaning servis memangnya?" tanya Derry.


" Ya ini akibatnya, tidak bejus bekerja. Aku jadi jatuh," desis Gibran yang penuh amarah. Namun Athar terlihat tenang dia memang tau apa yang terjadi pada Gibran.


" Akan ku periksa Cctv, siapa yang sudah membuatku seperti ini," ucap Gibran.


" Sangat berlebihan," sahut Athar, " Kau yang kurang hati-hati. Jadi ambil pelajarannya. Jangan menyalahkan orang," lanjut Athar dengan dingin bicara.


" Kau tidak perlu ikut campur," sahut Gibran sinis.


" Sudah, jangan ribut. Ayo kita mulai meetingnya," sahut Ari Purnama yang mencegah anak-anaknya perang dingin. Sementara Derry santai-santai saja. Sudah biasa baginya ke-2 kakaknya itu saling menyerang dengan omongan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2