Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 8 dinginnya Athar.


__ADS_3

Aurelia bertanya seperti itu. Karena melihat Athar yang tampak tidak peduli sama sekali.


" Bukan begitu. Tetapi nanti saja Jennie yang memeriksanya," sahut Athar dengan suara dingin.


Namun Aurelia tetap menanggapi dengan senyuman. Walau pasti kecewa yang ingin Athar melihat desainnya dan mengomentarinya, memberinya saran ya itulah yang di harapkan nya. Ternyata tidak Sama sekali.


" Hmmm, baiklah, semoga kali ini kita sepemikiran dan kita bisa kalaborasi bareng," ucap Aurelia dengan penuh harapan.


" Ya," sahut Athar dengan datar yang kelihatan cuek dan tidak menanggapi apa yang di katakan Aurelia.


" Hmmm, Athar. bagaimana kalau kita makan siang bersama," ajak Aurelia.


" Aku tidak bisa. Aku ada rapat," jawab Athar menolak dengan santai.


" Selesai rapat," sahut Aurelie masih berharap ada kesempatan.


" Aku tidak bisa memastikannya," sahut Athar mengambil buku agenda di atas mejanya dan juga ponselnya lalu berjalan ke arah Aurelia.


" Aku duluan, yang lain sudah menungguku," ucap Athar dengan cuek dan langsung pergi meninggalkan Aurelia yang berdiri mematung.


" Ini ruangannya. Tetapi bisa-bisanya dia pergi dan meninggalkan ku di sini. Apa coba maksudnya. Selalu tidak bisa. Lalu kapan bisanya," batin Aurelie tampak kecewa dengan sikap Athar yang terlalu dingin dengannya.


Padahal bisa di katakan mereka adalah pasangan kekasih. Tidak tau mereka pasangan kekasih atau tidak. Hanya saja itu rumor yang terdengar di banyak kalangan.


Aurelia hanya banyak-banyak bersabar untuk menghadapi Athar yang sangat cuek. Athar berhati dingin dan pasti lebih menomor satukan pekerjaan dari pada hal-hal semacamnya seperti ajakan Aurelia yang menurutnya tidak bermutu dan hanya membuang waktu saja.


*******.


Aurelia harus keluar dari ruangan Athar sendirian dengan penuh kekecewaan. Saat Aurelia harus keluar berpapasan dengan Gibran dan juga Derry.


" Wau, nona Aurelia," sahut Gibran yang membuat Aurelia menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah 2 pria itu.


" Apa Athar sedang meninggalkan mu?" tebak Gibran dengan nada mengejek.


" Kak," tegur Derry pada sang kakak.


" Bukan urusan mu," sahut Aurelie dengan ketus membuat Gibran menyunggingkan senyumnya.


" Ya beginilah. Kalau sudah terbiasa makan hati. Maka hal ini sangat biasa untuknya dan masih bisa bersandiwara dalam wajahnya yang padahal wajahmu menutupi kemarahan di hatinya," ucap Gibran sok tau seperti pakar ekspresi saja.


" Apa yang kau katakan. Jangan bicara sembarangan, kau tidak berhak menilai diriku," sahut Aurelia ketus.


" Ya aku hanya mengatakan sesuai dengan pengamatan ku. Aurelia, kau itu cantik, pintar, kaya raya. Tetapi kenapa bodoh mau saja mengejar-ngejar Athar yang sama sekali tidak melirikmu. Sadarlah Aurelia. Waktumu sangat banyak terbuang sia-sia," ucap Gibran dengan senyum miringnya.


" Kak, sudahlah," ucap Derry pelan.

__ADS_1


" Kau sebaiknya menjaga ucapan mu Gibran. Kau tidak tau apa-apa tentang hubungan ku dengan Athar," sahut Aurelia mulai kesal. Aurelia meletakkan ke-2 tangannya di dadanya. Lalu tersenyum miring melihat Gibran.


" Sekarang aku mengerti. Kenapa kau selalu kalah dari Athar. Karena kau bukan bekerja. Tetapi terlalu sibuk mengurusi kehidupan orang lain, selalu selalu menggunjing kehidupan orang. Sehingga kau lupa pada tugas utama dan selalu ketinggalan jauh dari Athar," ucap Aurelia dengan sinis yang mengatai Gibran dengan kata-kata pedas.


" Apa katamu. Aku kalah, aku tidak pernah kalah dengannya," sahut Gibran terpancing emosi dan dengan kata-kata singkat Aurelia yang tidak mungkin di terimanya.


" Fakta sudah membuktikan bahwa kau selalu kalah dari Athar dan kau tetap saja tidak mengakuinya. Dari pada mengurusi hidupku. Mending kau urus dirimu banyak belajar dan tingkatkan kualitas pekerjaanmu. Supaya kau bisa di lihat dan paling tidak ada yang menghormatimu," tegas Aurelia sinis menyungging kan senyumnya lalu pergi begitu saja setelah puas mengatai Gibran.


" Argggghhh, sialan wanita itu berani sekali dia menilaiku. Dia pikir siapa dirinya," geram Gibran langsung darah tinggi dengan mengepal tangannya.


" Sudahlah kak, lagian kakak juga sih, ngapain coba nganggu Aurelie," sahut Derry.


" Aku tidak mengganggunya aku hanya menyayangkan dirinya yang tergila-gila dengan Athar," sahut Gibran.


" Sama saja. Biarkan itu menjadi urusannya. Tidak ada gunanya kakak mencampurinya," sahut Derry.


" Ahhhh, kamu sama saja. Selalu berpihak pada Athar," ucap Gibran kesal memegang kepalanya dan langsung pergi dan Derry hanya membuang napasnya perlahan kedepan.


" Tadi dia yang memancing keributan. Tiba di katai malah tidak terimah aneh bukan. Selalu ikut campur. Tetapi tidak mau di campuri," ucap Derry geleng-geleng dengan kelakukan kakaknya yang aneh.


*********


Malam hari Anna dan Sana temannya sedang nongkrong di pinggir jalan di depan gerobak abang-abang penjual bakso. Di mana mereka ber-2 sedang menikmati bakso yang menjadi langganan mereka. Bakso super enak dan pasti sangat murah.


" Lalu kenapa tidak mengambil ceknya. Kau kan bisa menulis banyak nominalnya dan kau bisa kaya," sahut Sana kepedasan menyayangkan temannya yang menolak cek dari Pria yang di ceritakan Anna.


" Ahhhh, harga diri ku mau di taruh di mana. Dia mentang-mentang orang kaya. Mau suka-sukannya, mana mungkin aku mengambil ceknya," sahut Anna yang sampai keringatan memakan bakso.


" Ya kalau begitu dia yang enak dong," sahut Sana mengipas-ngipas lidahnya yang kepedasan.


" Yang jelas dia sudah ku viralkan jadi orang-orang bisa menilai. Bahwa setiap orang kaya itu sama saja, dan wajahnya itu akan di kenali orang-orang," sahut Anna.


" Ya tapi kan Anna tetap saja sayang ceknya motormu juga lecet, kau juga terluka. Cek itu seharusnya bisa membeli tiket konser BTS VVIP lagi ," ucap Sana dengan dengan suara lemasnya yang menyayangkan rezeki di tolak mentah. Anna terlihat berpikir seakan membenarkan perkataan temannya itu.


" Ya benar juga sih. Tapi kalau aku mengambilnya. Harga diriku mau di taruh di mana. Lagian nanti yang ada nanti dia malah kebiasaan lagi," sahut Anna.


" Anna, lalu apa harga dirimu bisa membuat body motormu terlihat cantik kembali hah dan mengobati lukamu," sahut Sana.


" Ya nggak sih, Ahhhh ya sudah lah mau gimana lagi. Anggap saja aku sial bertemu dengannya dan semoga dia akan mendapat balasannya," sahut Anna kembali menikmati baksonya.


" Lalu bagaimana wawancaramu. Ada harapan atau tidak?" tanya Sana.


Anna menggeleng dengan mulutnya yang gembul karena penuh bakso.


" Tidak akan ada harapan?" tanya Sana. Anna mengangguk.

__ADS_1


" Kok gitu?" tanya Sana.


" Bagaimana mau ada harapan. Kamu sih nggak bilang dulu perusahannya gimana. Kan aku jadi bingung saat mereka bertanya seperti itu," jawab Anna.


" Lalu kamu akan cari kerja di mana lagi?" tanya Sana.


" Ngggak tau, ternyata cari kerjaan berhubungan dengan desain itu sangat sulit," ucap Anna mengeluh.


" Tapi kan nilaimu bagus, lagian kamu juga lulusan terbaik di kampus, udah gitu lulus cepat lagi. Aku aja belum wisuda," sahut Sana.


" Ya tetap aja. Kalau jurusan yang aku ambil sulit mendapatkan perkerjaan. Jadi sama saja," sahut Anna.


" Ya lagian kamu sih, melamar pekerjaan langsung ke perusahaan besar. Belum ada pengalaman apa-apa. Tapi langsung nekat. kamu sih," ucap Sana dengan santainya dan langsung membuat Anna menatapnya horor bahkan makan berhenti.


" He Sana," gertak Anna. " Kamu yang menyuruhku melamar kesana. Aku juga tidak tau perusahaan itu. Tapi kamu yang menjebakku kesana dan aku juga mana tau apa-apa kalau mereka memberikan pertanyaan seperti itu," sahut Anna langsung kesal dan merocos mengatai Anna.


" Ihhhhhh, kamu kok malah marahin aku sih. Kan aku nggak tau apa-apa, sampai kaget lo aku," sahut Sana yang tidak ingin di salahkan.


" Iya ini bukan salah kamu ini salah dia," sahut Anna menekan garfu dengan kuat membuat Sana heran.


" Dia siapa?" tanya Sana.


" Pria pembawa sial itu," sahut Anna dengan geram yang mempunyai dendam besar.


" Yang nabrak motor kamu," tebak Sana. Anna mengangguk


" Dia akan mendapatkan balasannya. Pria menyebalkan, sok kaya, angkuh, semoga saja kamu mendapat karma secepatnya," umpat Anna menyumpahi Athar.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.


Athar yang duduk dibangku belakang tiba-tiba saja terbatuk. Mungkin ada yang membicarakannya. Ya kutukan Anna sampai pada Athar.


" Kamu mau minum?" tanya Jennie yang menyetir melihat Athar dari kaca spion.


" Tidak perlu, tenggorokan ku tiba-tiba sakit," sahut Athar memijat-mijat jakunnya.


" Apa ada masalah?" tanya Jennie.


" Tidak, hanya tiba-tiba gatal saja," jawab Athar menggaruk-garuk tenggorokannya.


" Baiklah," sahut Jennie yang kembali fokus menyetir.


" Kenapa aku tiba-tiba tersedadak padahal tidak memakan apapun," batin Athar. Dia batuk karena di ceritai oleh Anna. Anna menyumpahinya dan langsung kontak pada Athar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2