Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 363


__ADS_3

"Mama tidak seharusnya membicarakan masalah ini mah, Anna dan Athar sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," tegas Anna.


"Tapi kamu masih mencintainya Anna dan mama tau itu. Mama tau kamu masih mencintai Athar. Kamu tidak bisa berbohong dengan mengatakan hubungan kalian. Mama tau semuanya. Jika masih ada cinta di hati kamu," tegas Maya.


"Tapi Athar sudah tidak mencintai Anna," sahut Anna, "mah untuk apa mencintai. Jika cinta itu tidak hanya sepihak," sahut Anna dengan kembali menahan sakit di hatinya.


"Anna!" lirih Athar.


Anna melihat kearah Athar dan Athar juga melihatnya, "jika dia mencintai Anna dia tidak akan menutupi apapun dari Anna. Dia tidak akan pergi meninggalkan Anna. Jadi cinta yang ada juga sudah memudar," ucap Anna dengan suara rendah yang saling bertatap dengan Athar.


"Anna kamu tidak bisa membohongi semua orang. Apa yang kamu katakan sangat berbeda dari hati kamu," sahut Maya.


"Apa mama ingin memaksa Anna untuk memaksa suatu hal yang jauh lebih menyakitkan," sahut Anna dengan menaikkan volume suaranya.


"Ayo kita bicara!" sahut Athar berdiri dari tempat duduknya dan memegang tangan Anna yang mengajak Anna untuk bicara.


"Di sini saja. Jika mau bicara. Aku tidak butuh pergi kemana-mana," sahut Anna melepas tangannya dari Athar.


"Anna aku bilang ayo kita bicara!" Athar kembali menarik tangannya dan memaksanya untuk berdiri dan membawanya pergi.


Setelah kepergian Anna dan Athar tidak ada yang mengeluarkan suara yang penuh kebingungan dengan apa yang harus di lakukan. Begitu juga dengan Aurelia yang kebingungan dan tidak tau mengatakan apa.


Anjani juga hanya diam. Ya dia tidak bisa ikut campur dengan keputusan Athar. Walau dia tau sahabatnya Maya masih sangat menginginkan Anna dan Athar bersama kembali.


"Aku hanya berharap kalian berdua bisa menghadapi masalah ini," batin Anjani dengan harapannya yang kedengarannya sangat simple.


***********


Anna dan Athar berbicara di luar karena jika berbicara didepan orang banyak. Ya Athar masih punya rasa malu.


"Lepaskan aku!" berontak Anna dengan kasar melepaskan tangannya dari Athar dan Athar pun tidak lagi menyentuhnya.


"Apa-apaan sih pakai tarik-tarik segala!" kesal Anna.


"Aku minta maaf," ucap Athar.


"Tidak perlu minta maaf," sahut Anna dengan ketus.


"Anna mari aku tau kamu marah dengan semua keputusanku, aku minta maaf Anna," ucap Athar dengan lembut.


"Aku sudah tidak peduli Athar. Mau apapun keputusan kamu. Aku tidak peduli. Mau kamu tinggal di Luar Negri mau di planet manapun. Aku tidak peduli sama sekali," tegas Anna yang menunjukkan rasa muak nya pada Athar.


"Kamu dengar ya Athar kita sudah putus sejak kamu meninggalkan ku dan tidak peduli kepadaku. Aku menjadi orang di salahkan karena ke egoisan kamu yang tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Masalah trauma dan pemikiran kamu tentang pernikahan yang terlalu pendek. Jadi menurut kamu aku tidak hah! dengan cara kamu menjalin hubungan denganku membuatku hanya bergantung padamu dan di campakkan tiba-tiba. Jadi menurutmu aku bisa percaya lagi dengan hubungan setelah kau melakukan semua itu kepadaku," teriak Anna dengan menunjuk-nunjuk Athar.


"Aku anak broken home sama seperti mu. Tapi aku masih bisa berpikir jernih dengan memiliki wawasan positif yang tidak semua pernikahan seburuk itu dan bisa belajar dari orang tuaku. Tidak sepertimu yang berpikir pendek. Tetapi seharusnya semua itu tidak alasan. Karena memang pada dasarnya kau itu tidak pernah mau menikah. Kau sangat menikmati kesendirian mu dan pekerjaanmu dan kau hanya membutuhkan kesibukanmu dari pada depanmu," tegas Anna.


Baru kali Anna mengeluarkan kemarahannya dengan perbedaan pendapat antara dia dan Athar masalah pernikahan.


"Anna aku tau aku salah dan aku berusaha untuk berubah, untuk mengubah pikiran ku dengan berobat dan...."


"Aku tidak peduli!" sahut Anna memotong pembicaraan Athar, "aku tidak peduli Athar kamu sedang melakukan tritmen ini itu, berobat sana sini. Aku tidak peduli. Karena kamu tau apa. Mau kamu sembuh atau tidak aku tidak akan kembali kepadamu. Karena aku juga harus berpikir untuk melanjutkan hubungan dengan Pria yang pengecut sepertimu," tegas Anna yang sudah bulat dengan pemikirannya.


"Jadi lakukanlah semua dengan sesuka mu. Karena memang kita sudah selesai. Kau dan aku tidak hubungan apa-apa lagi. Karena dengan apa yang kau lakukan kepadaku membuatku trauma untuk menjalin hubungan dengan orang lain," tegas Anna dengan wajahnya menunjukkan kemarahan pada Athar.


Anna mendekati Athar dengan menunjuk dada Athar dengan jarinya.

__ADS_1


"Kau itu laki-laki paling jahat yang pernah aku temui. Kau sudah membuatku sangat mencintai mu dan seperti orang gila saat kau meninggalkanku, kau mengikatku dengan pacaran dan semua waktuku habis hanya untukmu dan kau mencampakkan ku begitu saja hanya karena yang bagiku itu masalah spele. Jadi menurutku dengan semua yang terjadi sudah menjelaskan kita tidak cocok dan artinya hubungan kita tidak ada lagi," tegas Anna.


Athar memegang tangan Anna yang menunjuk dadanya. Anna memberontak ingin tangan itu di lepaskan.


"Lepaskan! lepaskan!" Anna memberontak lagi dan Athar langsung menariknya sampai Anna menabrak dada Athar yang semakin dekat dengan Athar dengan Athar memegang pinggangnya sampai Anna tidak bisa kemana-mana.


"Athar apa yang kau lakukan! lepaskan aku! lepaskan aku!" berontak Anna.


"Aku puas Anna mendapatkan makian mu hari ini. Ini yang aku tunggu. Karena tadi malam saat kita bertemu. Kau tidak mengatakan apa-apa seakan-akan kau sudah tidak mempunyai perasaan kepadaku. Tetapi hari ini kau banyak bicara yang sudah menjelaskan bagaimana perasaanmu kepadaku yang ternyata masih sama," ucap Athar.


Anna mengkerutkan dahinya mendengar kata-kata Athar yang menurutnya Athar terlalu percaya diri.


"Kau jangan terlalu percaya diri Athar. Kau sudah mengatakan berkali-kali. Jika aku tidak punya perasaan apa-apa kepadamu," tegas Anna.


"Semakin kau mengatakannya, semakin kau menjelaskan bagaimana perasaan mu kepadaku dan aku bisa melihat dari matamu yang masih mencinta ku," ucap Athar.


Anna sampai tersenyum mendengar kepedean Athar yang menurutnya terlalu pede.


"Aku sudah mengatakan, jangan terlalu percaya diri. Jadi lepaskaan aku!" berontak Anna yang berusaha untuk melepaskan diri. Namun bukannya melepas Athar memegang tangannya dan menarik Anna yang tidak tau mau membawa Anna kemana.


"Athar lepaskan aku! lepaskan Athar!" Anna berteriak-teriak saat Athar memaksa dirinya dan menarik Anna memasuki mobil. Tidak tau lagi kemana sebenarnya Athar membawanya.


Anna dan Athar berada di dalam mobil yang tidak tau Athar akan membawanya kemana.


"Athar kamu mau membawa aku kemana sih?" tanya Anna dengan kesal saat Athar ada di di sebelahnya yang menyetir tanpa memperdulikan keluh kesahnya.


"Athar kau benar-benar sangat menyebalkan ya. Bukannya menjawab malah menyetir terus," ucap Anna dengan kesal.


"Kalau kau tidak menjawabnya aku akan melompat," ancam Anna.


"Kalau begitu jawablah. Kau mau bawa aku kemana," ucap Anna dengan kesal.


"Aku juga tidak tau," sahut Athar membuat Anna mengkerutkan dahinya.


Memang Athar bukan lagi berhubungan dengan mentalnya. Tapi memang otak Athar sudah rusak yang bisa-bisanya membawa Anna pergi entah kemana.


"Athar mau itu sebenarnya apa hah! kau mau memaksaku untuk kembali kepadamu iya," ucap Anna dengan kesal yang benar-benar bisa ikutan gila karena perbuatan Athar.


Namun tiba-tiba Athar memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat dan bahkan menyetir mulai tidak fokus yang hampir menabrak orang di depannya.


"Athar awas!" teriak Anna yang terkejut dengan Athar hampir menabrak dan untung Athar bisa mengelak.


"Athar kau bisa pelan-pelan tidak," ucap Anna dengan kesal melihat ke arah Athar dan melihat Athar memegang kepalanya yang mana Athar terlihat begitu kesakitan membuat Anna heran.


"Athar kau baik-baik saja! Athar mending berhenti, kita bisa celaka," ucap Anna panik dengan Athar yang tiba-tiba terlihat kesakitan.


Kali ini Athar mendengarkan Anna dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Athar kamu baik-baik saja?" tanya Anna yang khawatir dengan Athar.


Athar menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan yang mana Athar terlihat tidak baik-baik saja dengan mengatur napasnya dan bahkan berkeringat dingin.


"Athar kau baik-baik saja?" tanya Anna lagi yang melihat ada yang tidak beres dengan Athar.


***********

__ADS_1


Athar dan Anna masih berada di dalam mobil yang tetap berhenti di pinggir jalan dengan Athar yang merebahkan tubuhnya di jok mobil dan dengan matanya yang terpejam yang masih berusaha untuk menenagkan dirinya yang tidak tau apa sebenarnya yang terjadi padanya.


Sama dengan Anna yang masih berada di samping Athar. Sejak tadi dia hanya bingung dan lebih baik tidak banyak bicara dan menunggu Athar saja.


"Kamu punya minum di sini?" tanya Anna.


"Tidak ada!" jawab Athar. Anna melihat di sekitar tempat mereka berhenti hanya jalannya dengan pepohonan dan yang hanya ada beberapa kendaraan yang melintas di musim dingin dan salju yang turun.


"Aku akan mencari minum dulu," ucap Anna yang ingin keluar dari mobil.


Athar langsung mencegahnya, "tidak ada gunanya Anna, kau tidak akan menemukan apa-apa di tempat ini," ucap Athar.


"Lalu bagaimana denganmu. Apa kau sudah baik-baik saja?" tanya Anna. Athar menganggukkan kepalanya.


"Lalu apa yang terjadi kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Anna yang berbicara dengan lembut.


Athar membuka matanya dan melihat lurus kedepan, "aku tidak tau bagaimana menjelaskannya kepadamu. Aku tiba-tiba tidak bisa mengendalikan diriku. Perasaan ku dan semua bercampur dan menjadi seperti ini," jelas Athar yang masih terlihat begitu sesak.


"Apa ini sering kau alami?" tanya Anna yang mulai merasa simpatik.


"Aku sering mengalaminya dan itu alasan utamaku untuk ke New York melakukan pengobatan sambil mengalihkan pikiran untuk bekerja. Karena jika aku terus dekat denganmu aku takut terkadang pemikiran ku tidak pernah terkontrol," jelas Athar dengan suaranya yang masih terlihat begitu sulit bicara.


"Aku tidak mengerti Athar dengan jalan pikiran kamu. Kamu itu menganggap ku seperti apa. Apa dengan kamu menceritai apa yang terjadi. Apa menurutmu aku akan meninggalkan mu. Athar seandainya kamu mengatakan semuanya. Semua tidak seperti ini dan jika sudah seperti ini. Ini hanya menyulitkan posisi ku," ucap Anna.


"Kalau begitu begitu jawab pertanyaan ku. Apa kau masih mencintai ku?" tanya Athar melihat ke arah Anna.


"Meski mencintai. Apa ada gunanya lagi. Kau sudah mantap Athar. Tidak akan kembali kepadamu. Aku sudah merenungi semua ini dan mengambil kesimpulan. Jika keputusan yang kamu ambil dengan pergi dan tidak memberitahu apa-apa kepadaku itu sudah menjadi kesimpulan. Jika kamu tidak mempercayaiku dan tidak menganggapku ada dan bukan berarti setelah aku tau aku akan kembali kepadamu. Tidak Athar aku tidak bisa," tegas Anna yang begitu mantap dengan keputusannya.


"Aku punya alasan untuk tidak memberitahu mu," ucap Athar.


"Apapun alasannya. Apa yang kamu lakukan sudah menjadi kebenarannya dan aku tidak bisa untuk kembali," sahut Anna.


Athar menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan kedepan dengan memejamkan matanya.


"Kita adalah orang yang di pertemukan dengan tidak terduga dengan banyak hal, emosi dan tangisan yang kamu lihat dan aku lihat sampai kita jatuh cinta dengan berbagai drama ini itu yang kita lalui dan kita berpacaran dengan keharmonisan tanpa pertengkaran dan mungkin karena kita saling mencintai membuat kita saling mengalah dan lebih baik untuk tidak membesarkan masalah agar tidak terjadi pertengkaran. Namun yang terjadi apa. Akhirnya kita menemukan titik untuk mengakhiri hubungan kita dengan perselisihan dan pertengkaran. Kita sudah tidak bertemu selama 2 bulan dan banyak yang kita lewati dalam hal itu," ucap Anna berbicara dengan tertata rapi.


"Athar jangan kita bicara. Dunia juga tau bagaimana perasaan kita bersua. Karena orang yang saling mencintai tidak mungkin semudah itu untuk melupakan cintanya dan iya kita juga tidak mungkin akan menjadi musuh karena hubungan kita yang berakhir," ucap Anna.


"Athar mari kita berteman saja," lanjut Anna membuat Athar melihat ke arahnya yang membuat mata mereka saling bertemu.


"Mungkin kita tidak cocok untuk menjadi pasangan kekasih lagi. Karena jalan pemikiran kita yang tidak sama. Ya kamu mengalami suatu hal dan bukan berarti itu alasan untuk tidak mau memperbaiki hubungan kita. Walau di dalam hati kita berdua masih menginginkan hal itu. Tetapi bagiku kita lebih baik menjadi teman," ucap Anna dengan keputusannya.


"Anna maafkan aku. Sudah benar-benar melukaimu," ucap Athar


Anna mengangguk dengan tersenyum, "aku sudah memaafkanmu dan kita akan berteman bukan. Kita tidak akan bermusuhan," ucap Anna.


Kata teman itu sudah begitu sakit kedengarannya, sampai Athar kembali membuang napasnya perlahan yang tidak rela jika hubungan mereka berpindah menjadi teman.


"Aku akan mensuport segala yang kamu lakukan. Aku lebih ingin menjadi sahabatmu di bandingkan kembali menjadi kekasihmu," ucap Anna lagi dengan tersenyum yang merasa hatinya begitu plong.


"Baiklah, aku akan menerima mu sebagai sahabatku," sahut Athar yang mau tidak mau harus mengatakan iya.


Anna tersenyum mendengarnya dengan mereka ber-2 saling melihat dengan sama-sama tersenyum yang mungkin keputusan berteman jauh lebih baik.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2