
Melihat kondisi Anna yang sangat memprihatinkan membuat Athar merasa simpatik apa lagi Anna terus meracau menyebut-nyebut nama mamanya dan dengan linangan air mata.
Athar seakan berkaca pada dirinya sendiri yang mana nasibnya juga sama seperti Anna.
Namun keluarganya ada untuknya yang membuatnya tidak seperti orang tersiksa seperti Anna. Ayahnya atau ibu tirinya menyayanginya dan dia bisa merasakan itu. Walau terkadang dia sangat merindukan ibunya.
Athar mengusap-usap tangan Anna yang memegangnya kuat dan juga mengusap air mata Anna di pipi itu. Athar melepas tangan Anna dengan perlahan dari tangannya dan membuat tubuh Anna miring dengan memegang selimut kuat-kuat.
Athar menuju lemari Anna membuka lemari itu yang Alhamdulillah lemari itu begitu rapi dengan lipatan yang begitu rapi dan enak di pandang. Bagaimana tidak rapi Anjani tinggal bersamanya. Jadi lumayanlah paling tidak Athar tidak akan emosi.
" Apa dia tidak punya baju hangat," gumam Athar yang mencari-cari pakaian Anna dan malah melihat lipatan bagian pakaian dalam yang membuat Athar langsung mengalihkan pandangannya dengan cepat seakan pura-pura tidak melihat hal itu.
Tiba-tiba mata Athar tertuju pada jasnya yang rapi tergantung di lemari itu. Jas yang pernah di pakai Anna saat Anna di antar Athar pulang dalam keadaan tidur dan itu juga sehabis bertengkar dengan Chandra. Athar tersenyum melihat jas itu dan Athar terus mencari pakaian yang bisa menghangatkan tubuh Anna.
Athar pun menemukan mantel coklat berbahan baldu yang sepertinya sangat cocok. Athar langsung mengambilnya dan kembali mendekati Anna. Duduk di samping Anna membantu Anna duduk untuk memakaikan mantel tersebut.
Setelah terpakai Athar kembali membaringkan Anna dan menyelimutinya lagi. Athar juga kembali mengkompres Anna dengan panasnya yang tidak kunjung turun.
Athar terus memantau panas Anna dan bahkan dia sudah kembali kedapur untuk mengganti air kompres itu. Athar memasuki kamar Anna dengan membawa kantung plastik yang tadi sudah di berikan anak buahnya kepadanya.
Athar kembali duduk di samping Anna dan kembali mengkompres Anna dan terus mengecek perkembangan suhu tubuh Anna.
" Kenapa panasnya tidak turun-turun," ucap Athar yang terus cemas dengan Anna.
Athar pun membuka kantung plastik. Di mana kantung plastik itu tidak lain adalah obat-obatan yang di minta Athar pada anak buahnya.
__ADS_1
" Panasnya tidak kunjung turun. Membawanya ke Dokter tidak mungkin dengan cuaca yang tidak baik di luar yang ada Anna akan semakin parah," gumam Athar yang akhirnya membuka salah satu tablet obat penurun demam dan langsung memasukkan kedalam mulut Anna dan memberi Anna perlahan air putih.
Tetapi obat itu langsung keluar dan tidak di terima Anna. Dan Athar mencoba lagi. Namun yang adanya Anna batuk-batuk membuat Athar menjadi panik.
" Anna kamu harus minum obat, agar kondisimu baik-baik saja, panasmu tidak turun maka minumlah obatnya," ucap Athar pelan. Namun Anna yang memang tidak sadar kan diri tidak bisa meminum obat itu dan terus keluar lagi dari dalam mulutnya.
Athar meletakkan tangannya di punggung Anna membuat Anna setengah duduk dengan mendekatkan Anna pada wajahnya. Athar melihat wajah Anna dengan intens wajah pucat yang terlihat menyedihkan itu.
" Maafkan aku, aku harus melakukan ini. Ini untuk kebaikanmu," ucap Athar memasukkan pil itu kemulutnya dan dengan perlahan Athar mendekatkan wajahnya pada Anna dan meraih bibir Anna dan langsung menempelkan bibirnya pada Anna dengan mentransfer pil yang di mulutnya pada Anna.
Memberikan Anna obat melalui ciuman. Karena Athar tidak punya pilihan lain selain harus melakukan hal itu agar kondisi Anna semakin membaik.
Tujuan Athar agar Anna bisa meminum obat. Namun tanpa di sangka perasaan Athar malah tidak menentu getaran itu semakin bergetar hebat dan dan pil yang sudah di pastikan di telan Anna.
Tidak tau apa yang di lakukannya yang mungkin itu di lakukan untuk ungkapkan perasaan. Lama mencium Anna yang tidak sadarkan diri. Pada akhirnya Athar melepas perlahan dengan matanya yang perlahan terbuka dan langsung fokus pada wajah Anna yang polos dengan tertidur.
Athar mencium lembut kening Anna dan perlahan kembali meletakkan merebahkan Anna di atas bantal.
" Aku minta maaf jika aku melakukan itu," ucap Athar lagi dengan mengusap-usap pipi Anna. Namun Anna yang merasa ada tangan langsung meraihnya dan menggenggam tangan itu kuat dengan kedua tangannya, Anna memiringkan tubuhnya dengan tangan Athar di dadanya yang di peluknya dengan erat.
Lalu Athar pun menyusul suntuk berbaring di samping Anna dengan membawa Anna masuk kedalam pelukannya dan Anna yang merasa ada yang memeluknya juga semakin memeluk Athar dengan erat yang seakan nyaman.
" Jangan pergi, biarkan aku tetap bersamamu," ucap Anna mengigau. Athar kembali mencium pucuk kepala Anna.
" Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sampingmu," ucap Athar yang seolah berjanji pada Anna dan semakin memeluknya erat yang mana Athar juga merasakan hangatnya tubuh Anna.
__ADS_1
**********
Pagi hari tiba, Athar sudah bangun terlebih dahulu dan Athar kembali mengecek kondisi Anna. Anna jauh lebih baik dari pada tadi malam yang panasnya juga sudah turun. Namun Athar tetap mengkompres Anna dengan mengganti air yang bari.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk,
Aman tiba-tiba terbatuk-batuk dengan memegang dadanya dan matanya yang mulai terbuka dengan sipit. Athar pun membantu Anna untuk duduk dan langsung memberi Anna air putih.
" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Athar dengan lembut.
Anna menggeleng dan kembali merebahkan dirinya dengan berbaring miring yang meringkuk kedinginan. Athar pun menyelimuti Anna dan Anna langsung memegang erat selimut untuk mengurangi rasa dinginnya.
Athar pun mematikan AC di kamar Anna dan keluar dari kamar membiarkan Anna untuk beristirahat.
Athar mengeluarkan handphone dari sakunya dan sepertinya menelpon.
" Aku tidak bisa kekantor hari ini. Kamu gantikan jadwalku hari ini," ucap Athar dalam telponnya dan langsung meletakkan di atas meja.
" Anna tidak mungkin kekantor hari ini dan aku tidak mungkin meninggalkannya. Bu Anjani sedang tidak ada di sini," batin Athar yang tidak ingin membuat Anna sendirian.
Athar wajar begitu khawatir pada Anna yang memang sakit dan tidak tega meninggalkan Anna sendirian. Dia pasti kepikiran dan memilih untuk merawat Anna. Tidak kekantor sehari tidak akan membuatnya menjadi miskin.
Bersambung
.
__ADS_1