Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 25 Tidak bisa di pecat.


__ADS_3

Sekarang Athar sedang duduk di sofa dengan Jennie duduk di sampingnya mengobati lukanya di tangannya bekas gigitan Anna melebihi gigitan kucing.


" Jadi dia baru 1 Minggu bekerja di sini?" tanya Athar yang masih penuh emosi dengan napasnya yang tidak stabil.


" Benar. Dia salah satu yang mengikuti wawancara tempo lalu," jawab Jennie.


" Lalu kau memilihnya?" tanya Athar. " Kau memilih 4 dan dia salah satunya dan 50 pelamar kerja?" tanya Athar lagi.


" Aku memilih bukan karena dia. Tapi kualitasnya dan kemampuannya bukan hanya aku yang memilihnya. Tetapi semua team yang ikut memilihnya, setelah menilai benar-benar," jawab Jennie.


" Apa katamu. Kualitas. Kualitas dari mana. Kualitas bermain drama dan bertindak seperti hewan. Itu yang kau katakan kualitas," ucap Athar marah-marah.


" Kami tidak melihat pribadinya. Tapi data dan prosedur pekerjaannya dan juga tingkat kinerjanya," jawab Jennie dengan singkat.


" Kau selalu punya jawaban," sahut Athar kesal, menjeda bicaranya sebentar. Aku tidak mau tau wanita itu harus keluar dari perusahaan ini. Itu hanya akan membuatku sial jika dia lama-lama di perusahaan ini," tegas Athar yang tidak main-main untuk memecat Anna.


" Tapi Athar," sahut Jennie.


" Tapi apa?" tanya Athar kesal.


" 4 karyawan baru yang di pilih wawancara kemarin. Itu sudah di kontrak selama 1 bulan untuk melihat kinerja mereka dan Anna tidak bisa di pecat begitu saja apa lagi karena hanya masalah pribadi," ucap Jennie menjelaskan.


" Jangan menyebut namanya di depanku dan aku tidak punya masalah pribadi padanya," tegas Athar.


" Aku minta maaf, jika membuatmu marah. Tapi sungguh kita tidak bisa memecat Anna begitu saja," ucap Jennie menegaskan.


" Ishhhh," Athar berdecak kesal karena belum bisa memecat Anna begitu saja. Jennie hanya diam dan mengobati Athar lagi. Namun Jennie melihat Athar dengan serius membuat Athar heran.


" Ada apa?" tanya Athar.


" Kau tidak melakukan itu kepadanya dan?" tanya Aurelia.


" Apa maksudmu?" tanya Athar heran.


" Ya di dalam lift," sahut Jennie.


" Kau punya pikiran aku melakukan itu," sahut Athar tidak menyangka Jennie juga sedang berpikiran aneh kepadanya.

__ADS_1


" Bukan itu. Tetapi kan aku melihat kau membekap mulutnya," sahut Jennie.


" Heh! Jennie, itu karena mulutnya kurang ajar. Kau tidak tau apa yang di lakukannya. Dia sudah menamparku, mengigit tanganku, membuat pinggangku sakit. Kau pikir aku sudi melakukan itu kepadanya. Makanya aku ingin mengeluarkannya dari perusahaan ini," ucap Athar kesal.


" Tetapi tidak bisa. Karena ada prosedur nya juga," sahut Jennie.


" Kalau begitu jangan bertanya mengenai dia lagi di hadapanku. Aku muak. Dan jangan berani menyebut namanya lagi di depanku!" teriak Athar. Jennie hanya mengangguk pasrah mendengarkan Athar yang marah-marah.


Athar jarang marah. Karena dia Pria tenang. Tetapi Anna berhasil membuatnya marah seperti orang kesetanan.


***********


Di sisi lain Anna yang terlihat murung duduk di kantin kantor dengan meminum orens jus yang sedari tadi di aduk-aduknya dengan sedotan dan Lisa berada di sampingnya untuk menemaninya.


" Kenapa nasib ku sial sekali coba," ucap Anna dengan wajah murungnya yang merasa nasibnya benar-benar sial.


" Aku mana tau kalau dia adalah bos. Aku juga tidak tau siapa dia. Tetapi masa iya itu salahku. Dia yang menabrakku dan juga di dalam lift jelas-jelas dia yang melecehkan ku," ucap Anna yang curhat pada Lisa dengan bibirnya yang kerucut.


" Lisa aku tidak berbohong. Aku serius Lisa. Aku memang tidak bersalah Lisa. Memang dia mengintip rokku. Kamu lihat rokku, sangat mudah untuk matanya mengintipnya. Matanya yang jelalatan," ucap Anna yang masih sempat-sempatnya mencari pembelaan dari Lisa.


Dia berusaha meyakinkan Lisa. Lisa hanya tersenyum penuh kebingungan antara percaya atau tidak.


" Kamu ragu padaku?" tanya Anna tampak frustasi.


" Anna, beginiya aku bukannya ragu atau tidak percaya dengan mu. Tapi masalahnya bos Athar itu orangnya sangat cuek, dia begitu dingin. Dia tidak pernah ganjen sama cewek-cewek di kantor, jangan karyawan para model yang menjadi brand ambassador juga tidak tidak pernah di liriknya," ucap Lisa.


" Oh, jadi maksudmu aku bohong tadi gitu dan apa yang terjadi tadi itu itu hanya rekayasa dan kamu ingin mengatakan kalau aku tidak cantik begitu," sahut Anna. Lisa langsung menggoyang-goyangkan tangannya.


" Ishhh, bukan begitu Anna, kamu salah paham," sahut Lisa.


" Ahhhh, sudahlah," sahut Anna menagis, " memang begini nasib orang miskin. Kebenaran akan di tutup dengan pangkat seseorang. Mentang dia kaya tidak ada yang percaya kepadaku. Lalu aku harus mengadu kepada siapa," ucap Anna yang sudah menangis tampak sangat berlebihan. Membuat Lisa sangat prihatin.


" Kamu juga tidak percaya kepadaku. Apa gunanya lagi. Aku sudah diperlakukan tidak baik dan sekarang akan di pecat, tidak ada yang mempercayaiku. Tidak ada yang memebelaku, hiks," ucap Anna meratapi tangisnya dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya menunduk menangis seolah-olah tertindas.


" Cup-cup," ucap Lisa yang simpatik dengan menepuk-nepuk bahu Anna.


" Anna, jangan sedih aku mengerti perasaanmu," sahut Lisa yang ikutan mewek.

__ADS_1


" Ahhhh, sudahlah, tidak ada gunanya lagi. Kita juga akan berpisah. Aku akan keluar dari kantor ini," ucap Anna yang lebih menguatkan volum suaranya.


" Tidak Anna, kamu tidak akan di pecat," ucap Lisa.


" Tau apa kamu. Bosnya itu dia. Dan jelas tadi dia mengatakan kepadaku untuk keluar dari perusahaannya," ucap Anna yang masih saja menagais.


" Anna, kamu itu tidak akan di pecat sebelum 1 bulan bekerja," ucap Lisa. Membuat Anna berhenti menangis dan melihat Lisa serius.


" Maksudnya?" tanya Anna.


" Karyawan yang baru di terima kemarin. Itu di kontrak selama 1 bulan. Dan tidak bisa di pecat sebelum 1 bulan. Atau mengundurkan diri," jelas Lisa singkat.


" Maksud kamu aku akan bekerja 1 bulan lagi di sini?" tanya Anna memastikan. Lisa mengangguk.


" Jadi kamu bisa mencari pekerjaan, sebelum di pecat," ucap Lisa memberi saran.


" Berarti aku masih bisa gajian?" tanya Anna masalah yang penting untuknya. Lisa mengangguk.


" Kamu seriusan?" tanya Anna tidak percaya.


" Aku serius," jawab Lisa membenarkan. Anna dengan cepat menyeka air matanya yang tidak tau asli atau tidak.


" Lisa," ucap Anna pelan mendekatkan diri pada Lisa membuat Lisa bingung.


" Apa?"tanya Lisa.


" Berapa gaji karyawan pemula seperti ku?" tanya Anna dengan kepo.


" Aku mana tau, itu bukan urusanku," jawab Lisa pelan.


" Masa iya kamu tidak tau, angka depannya aja," ucap Anna mendesak Lisa untuk memberi tahu.


" Ayo lah kasih tau aku. Pasti kamu tau. Kamu kan bagian keuangannya," desak Anna lagi. Lisa menggerak-gerakkan tangannya di meja dengan menunjukkan angka 4.


" Segitu?" tanya Anna pelan. Lisa menganggukkan matanya.


" Lumayan, bisa lunasi hutang-hutang," batin Anna merasa sedikit lega. Ya dia tidak peduli bagaimana dia dengan Athar nanti. Yang penting dia masih mendapatkan gaji selama 1 bulan bekerja di perusahaan itu dan Athar tidak akan bisa mencarinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2