Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 295


__ADS_3

Maharani dan Ari Purnama terlihat mengobrol berdua yang duduk di belakang rumah.


" Tidak terasa semua berlalu begitu cepat. Anak-anak sudah dewasa semua bahkan Athar sudah memperkenalkan calon istrinya pada keluarga kita," ucap Ari purnama yang melihat lurus ke depan.


Maharani menoleh ke arahnya dan Ari Purnama pun melihat ke arahnya. Ari purnama meraih tangan Maharani yang berada di atas di atas pahanya.


" Terimakasih sudah menemaniku selama puluhan tahun, melahirkan Olive yang cantik dan membesarkan ke-3 putra ku," ucap Ari Purnama dengan tulus.


" Aku hanya seorang ibu yang berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anak aku," ucap Maharani dengan tulus.


" Maafkan aku Maharani, aku banyak melakukan kesalahan kepadamu. Aku menghiyanatimu dan melakukan ini itu kepadamu. Aku tidak sadar jika wanita di sampingku ini sudah banyak berkorban untukku dan hadir di dalam hidupku," ucap Ari Purnama.


" Aku juga minta maaf pada mu mas. Aku juga tidak sempurna menjadi istri. Aku masih banyak kekurangan dan masih banyak salahnya. Jadi aku juga minta maaf untuk semua kekuranganku," ucap Maharani.


" Kalau begitu anggaplah baru menikah dan kita sama-sama belajar sekarang," ucap Argantara.


" Hmmmm, aku juga mau belajar kembali menjadi istri yang baik, menjadi ibu," sahut Maharani tersenyum. Ari Purnama pun tersenyum dan merangkul istrinya itu.


" Ehemmm!" tiba-tiba terdengar suara deheman membuat Maharani dan Ari Purnama melihat ke belakang yang ternyata Olive dan Derry yang mana Derry merangkul Olive.


" Enak benget peluk-pelukan. Kita nggak di ajak-ajak," ucap Olive dengan wajah cemberutnya.


" Ya sudah sini mama peluk," sahut Maharani. Olive tersenyum dan langsung menghampiri mamanya yang duduk di tengah-tengah mama dan papanya.


Sementara Derry malah berlutut di depan Maharani. Membuat Maharani dan Ari Purnama bingung dengan apa yang di lakukan Derry.


" Derry!" lirih Maharani. Derry meraih tangan Maharani dengan menggenggamnya erat.


" Derry ada apa?" tanya Maharani heran.


" Maafkan ibu Derry mah, jika dia menyakiti mama maafkan dia. Selama ini Derry tidak pernah melihat ibu kandung Derry siapa. Derry hanya tau ibu Derry hanya mama dan hanya mama yang Derry anggap. Jadi jika ibu Derry menyakiti mama. Maka ampunilah dia dan jangan benci Derry. Jangan benci Derry karena kesalahan di masa lalu," ucap Derry dengan tulus memohon maaf atas kesalahan ibunya.


Maharani tersenyum dengan menahan rasa keharuan. Maharani memegang pipi Derry sembari mengusapnya.


" Mama akan menjadi orang yang paling berdosa. Jika mama sampai membenci kamu. Tidak ada seorang ibu yang membenci anaknya dan apa yang terjadi tidak ada urusannya sama kamu. Kamu anak yang baik dan tidak tau apa-apa. Jadi apa yang terjadi bukan kesalahan kamu," ucap Maharani.


" Apa itu artinya mama tidak menyimpan dendam pada Derry?" tanya Derry.


" Seorang ibu tidak akan memiliki dendam dengan anaknya," ucap Maharani. Derry tersenyum dan langsung memeluk Maharani.

__ADS_1


" Makasih mah, makasih untuk semua kebaikan mama. Derry sangat bahagia bisa di besarkan dari ketulusan tangan seorang ibu seperti mama. Makasih ma," ucap Derry yang meneteskan air matanya.


Olive dan Ari Purnama saling melihat dan sama-sama tersenyum dengan rasa keharuan.


" Jangan berterima kasih Derry. Seorang ibu tidak pernah mengharapkan rasa terima kasih anaknya," ucap Maharani.


" Benar kata mama kak. Mana ada terima kasih seorang ibu," sahut Olive.


" Benar kata Olive. Yang penting sekarang kita sudah saling menerima kesalahan dan semoga kedepannya kita baik-baik saja dan belajar dari apa yang telah kita jalani," sahut Ari Purnama mereka mengangguk dan saling berpelukan. Olive dan Ari Purnama juga ikut berpelukan dengan Derry dan Maharani yang sama-sama terharu.


**********


Anna yang malam hari belum tidur sama sekali. Dia masih berada di teras kamarnya yang sedang menelpon. Di pastikan dia sedang telponan dengan pacarnya.


" Pokoknya aku tetap mau ikut!" tegas Athar.


" Maksa amat," sahut Anna.


" Iya aku akan memaksa kamu kali ini. Jadi kalau kamu mau tetap pergi ke Korea untuk menonton konser yang tidak jelas itu. Ya aku harus ikut!" tegas Athar.


" Apaan sih bilang konser tidak jelas. Itu konser jelas tau. Mereka itu semua orang-orang..."


" Issss, iya-iya, kamu ikut," ucap tampak terpaksa. Athar mendengarnya menyunggingkan senyumnya.


" Kenapa bicaranya tampak kesal seperti itu?" tanya Athar.


" Siapa yang kesal orang biasa aja kok," sahut Anna mengelak.


" Jangan bohong. Aku tau kamu itu sedang kesal kepadaku. Apa jika aku ikut aku akan mengganggu acara kamu?" tanya Athar.


" Tidak Athar tidak sama sekali. Jangan berpikir seperti itu. Aku senang kok kalau kamu ikut. Tetapi kalau ada apa-apa nanti. Jangan salahkan aku ya," ucap Anna memberitahu terlebih dahulu.


" Semua akan baik-baik saja. Jika kamu tidak membuat ulah," jawab Athar.


" Kenapa aku?" sahut Anna.


" Sudahlah jangan membicarakan itu lagi. Kamu sebaiknya istirahat ini sudah malam," ucap Athar.


" Baiklah, kamu juga istirahat," sahut Anna.

__ADS_1


" Hmmm, kita mengobrol besok lagi," sahut Athar.


" Iya," sahut Anna.


" Selamat malam!" ucap Athar.


" Hanya selamat malam?" tanya Anna.


" Lalu?"


" Ya, apa kek," sahut Anna yang menuntut sesuatu membuat Athar mendengus dengan senyuman.


" I Love you," ucap Athar membuat senyum Anna mengembang.


" I love you too," sahut Anna.


" Baiklah kamu istirahat sekarang," ucap Athar lagi. Anna menganggukan kepalanya dan menutup telpon dari pacarnya itu.


" Ada-ada saja yang membuatnya marah-marah," gumam Anna geleng-geleng dengan senyum penuh dengan keceriaan yang hatinya berbunga-bunga. Karena kekasihnya itu.


**********


Lain Anna dan Athar yang saling menelpon. Ternyata Sana dan Gibran lagi sedang berjalan berduaan dengan langkah yang serentak.


" Lalu apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Sana.


" Seperti apa yang aku katakan. Aku hanya menerima hukumanku dan mungkin untuk selanjutnya bagaimana kedepannya. Ya tunggu hukuman selesai dulu baru aku akan berpikir," jawab Gibran.


" Aku doakan yang terbaik untuk kamu. Semoga saja kamu bisa bersabar dalam menjalani hukuman kamu dan pasti setelah itu kamu bisa menjadi orang yang jauh lebih baik lagi dan bertanggung jawab," ucap Sana memberi arahan.


" Terimakasih Sana. Jujur aku terbuka dan bisa berpikiran hal ini. Karena kamu terima kasih untuk kamu yang sudah mendorongku. Aku menemukan jalan yang terbaik berkat kamu," ucap Gibran melihat ke arah Sana.


Sana tersenyum mendengarnya, " aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mengatakan apa yang bisa aku katakan," ucap Sana.


" Paling tidak kau banyak membantuku," ucap Gibran.


Sana mengulurkan tangannya dan Gibran menyambut dengan mereka saling berjabat tangan.


" Sampai bertemu di kemudian hari," ucap Sana. Gibran mengangguk dengan tersenyum.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2