
Tidak tau siapa orang-orang yang menghajar Gibran yang jelasnya sekarang Gibran sudah babak belur dengan penuh luka. Dengan seketika dadanya di injak dan membuatnya kesakitan dan dalam pandangan matanya yang mulai memudar hanya melihat wajah Sana. Wajah tunangannya yang seminggu lagi akan di langsungkan.
"Tinggalkan!" itu yang di dengar Gibran sebelum matanya tertutup yang tidak mengenal siapa orang-orang yang sudah menghajarnya habis-habisan membuat air matanya keluar saat mata itu terpejam.
"1minggi kedepan kita tidak akan bertemu!"
"Aku sudah tidak sabar menunggu Minggu depan. Kita akan menikah," kata-kata Sana yang baru beberapa menit yang lalu mengantarkannya untuk menutup matanya.
************
Di kediaman Ari Purnama. Derry, Athar Ari Purnama, Maharani dan Olive berada di ruang tamu. Athar sibuk dengan laptopnya, Derry sibuk dengan handphonenya, Ari Purna sibuk membalik- balikkan Dokument.
Sementara Maharani dan Olive sibuk berdebat dengan tablet yang mana ke-2nya saling merebut.
"Issss mama apa salahnya kali ini, Olive yang pilihkan kue pernikahannya," ucap Olive dengan kesal.
"Pilihan kamu itu norak, tidak sesuai dengan selera Sana. Jadi biar mama saja yang menentukan," sahut Maharani.
"Issss, mama itu spele kepadaku, Sana itu temanku dan aku yang lebih tau mana yang cocok," sahut Olive tidak mau kalah.
Athar, Derry dan Ari Purnama hanya geleng-geleng melihat kelakuan ibu dan anak itu.
"Mau dia teman kamu atau tidak, tetapi pilihan kamu tidak ada yang benar. Jadi mama yang harus memilihkannya.
"Isss mama keterlaluan, semuanya mama yang urus, dari dekor, ini, itu, makanan, mama terus yang pilih, tidak pernah memasukkan ide Olive mama sangat menyebalkan," ucap Olive dengan kesal.
"Ya namanya pilihan kamu tidak ada yang benar," sahut Maharani.
"Papa lihat mama," sahut Olive mengadu pada Ari Purnama.
"Papa harus mengatakan apa," sahut Ari Purnama bingung.
"Ya belain aku. Apa salahnya kue pernikahan kak Gibran dan Sana berdasarkan rekomendasi lu," ucap Olive.
"Harus mama," sahut Maharani.
"Kita tunggu kak Gibran. Biar dia yang menentukan," sahut Olive dengan ke-2 tangannya yang berada di dadanya.
"Siapa takut," sahut Maharani.
"Issss," desis Olive.
Athar, Derry dan Ari Purnama hanya geleng-geleng saja yang tidak ikut-ikutan dalam perdebatan itu.
"Tuan nyonya!" sapa pelayan tiba-tiba menghampiri ruang tamu.
__ADS_1
"Ada apa bi?" tanya Maharani.
"Ada polisi di depan," jawab bibi yang mengejutkan semua orang.
"Polisi. Ada urusan apa polisi datang kemari," sahut Athar sampai menghentikan pekerjaannya saat mendengar Polisi.
"Benar kenapa Polisi sampai kemari," sahut Olive.
"Suruh masuk bi," sahut Ari Purnama.
Pelayan itu mengangguk dan langsung pergi.
"Kenapa perasaan mama tiba-tiba jadi tidak enak," ucap Maharani merasa ada yang tidak beres.
" Mama tenang dulu, tidak akan terjadi apa-apa," ucap Derry.
"Selamat malam pak!" sapa Polisi dengan ramah yang sudah menghampiri ruang tamu.
Ari Purnama dan yang lainnya berdiri dan mereka begitu cemas tiba-tiba.
"Selamat malam ada yang bisa saya bantu pak," sahut Ari Purnama.
"Kami dari kepolisian ingin menyampaikan. Bahwa saudara Gibran di temukan...."
"Kenapa dengan Gibran?" tanya Maharani yang mulai panik.
"Bu Maharani dan tuan Ari Purnama. Tuan Gibran ada di rumah sakit, kami menemukan tuan Gibran terkapar di aspal dan kritis di rumah sakit," jelas Polisi tersebut yang mengejutkan semua orang sampai Maharani langsung terduduk dengan memegang dadanya.
"Mama!" ucap Olive kaget yang membantu sang mama dan menenagkan sang mama.
"Apa yang terjadi Pak?" tanya Athar.
"Kami nanti akan memberi keterangan lebih lanjut lagi," ucap Pak polisi.
"Apa yang terjadi pada Gibran, ada apa ini," lirih Maharani yang begitu bergetar.
"Mah tenang dulu mah," sahut Ari Purnama.
"Kami permisi!" ucap Pak Polisi pamit.
"Ayo kita kerumah sakit, ayo kita lihat Gibran, ayo mas!" Maharani mulai panik dan penuh ketakutan.
"Iya-iya mama tenang dulu, semua akan baik-baik saja. Ayo Derry kamu siapkan mobil!" perintah Ari Purnama yang juga begitu cemas.
"Iya pah," sahut Derry dengan buru-buru menyiapkan mobil untuk mereka secepatnya menuju rumah sakit untuk melihat kodisi Gibran.
__ADS_1
**********
Di depan rumah Sana ada mobil yang terparkir yang mana di dalamnya Lisa dan juga Anna.
"Sayang kamu sudah sampai?" tanya Athar melalui panggilan telpon.
"Iya aku sudah sampai aku bersama Lisa," jawab Anna dengan air matanya menetes.
"Kamu sampai kan pelan-pelan ya," ucap Athar yang terlihat suara Athar begitu serak yang pasti menahan sesuatu.
"Baiklah!" sahut Anna dengan membuang napasnya perlahan.
"Ya sudah aku tutup dulu, semoga dia baik-baik saja," sahut Athar.
"Hmmm," Anna hanya menjawab dengan deheman dan langsung menutup telpon tersebut. Menarik napasnya dan membuanga perlahan kedepan, menyeka air matanya melihat ke arah Lisa.
"Ayo Anna!" ajak Lisa dengan memegang kuat tangan Anna. Anna menganggukkan kepalanya dan mereka sama-sama turun dari mobil.
Mereka ber-2 dengan keyakinan menghampiri rumah sahabat mereka dengan menekan bel rumah tersebut.
"Iya sebentar," sahut Sana dari dalam rumahnya yang buru-buru berlari menuju pintu untuk membuka pintu.
"Anna, Lisa, kalian tumben datang malam-malam kayak gini," ucap Sana dengan terkejut melihat kedatangan 2 temannya itu.
"Sana kita datang kemari mau menyampaikan sesuatu," ucap Anna yang begitu gugup dengan tangannya yang saling memegang kuat.
"Menyampaikan apa. Kenapa wajah kalian begitu serius sekali. Seperti ada sesuatu," sahut Sana yang mulai merasa ada yang tidak beres.
Anna dan Lisa saling melihat yang penuh keraguan dalam apa yang akan mereka sampaikan.
"Oh iya mumpung kalian ada di sini. Aku ingin menunjukkan beberapa anting yang di pakai nanti di pernikahan ku. Kalian bantu aku pilihkan ya. Ayo masuk," ucap Sana yang memasuki rumah.
"Sana Gibran!" sahut Lisa membuat langkah Sana terhenti dan kembali membalikkan tubuhnya.
"Ada apa dengan Gibran. Kenapa membawa-bawa namanya?" tanya Sana. Lisa dan Anna masih diam dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Ada apa sebenarnya. Kenapa tiba-tiba aku menjadi takut, kalian kenapa diam!" sahut Sana yang tiba-tiba panik dan bahkan keringat dingin.
"Gibran sudah tidak ada," ucap Anna dengan suaranya yang bergetar yang harus menyampaikan kabar duka itu yang sangat mengejutkan bagi Sana.
"Apa maksud kamu Anna. Kamu jangan bercanda Anna. Baru saja dia mengantarku pulang. Ini sangat tidak lucu Anna," sahut Sana.
"Anna tidak bercanda Sana. Gibran sudah tiada," sahut Lisa membenarkan pernyataan Anna. Sana mendengarnya begitu shock dengan air matanya yang mengalir. Anna dan Lisa langsung menghampirinya dengan memeluknya.
"Tidak, itu tidak mungkin. Apa yang kalian bicarakan, itu tidak mungkin, tidak!" Sana berteriak di pelukan 2 sahabatnya yang sekarang menenangkan Sana yang pasti sangat terkejut dengan kabar yang tiba-tiba di dapatkannya itu.
__ADS_1
Bersambung