
Anna dan Athar masih sama-sama diam. Anna tetap menunduk dengan hatinya yang komat-kamit berdoa yang baik-baik. Sementara Athar terus mengatur napasnya. Anna membuatnya benar-benar menjadi orang gila.
" Ini hanya salah paham," sahut Anna mengangkat kepalanya dan memberanikan melihat Athar. Athar hanya melihatnya yang berani mulai bicara.
" Aku punya penyakit yang nama ilimiahnya aku sendiri tidak tau. Yang tiba-tiba membuatku akan bicara suka-suka tanpa aku sadari dan itu sering kambuh kalau aku sedang stres dan tadi di dalam lift aku sedang memikirkan banyak masalah dan aku terkejut melihatmu dan penyakitku pun kambuh. Dan makanya aku seperti itu. Dan sebenarnya aku tidak sadar apa yang aku lakukan. Aku juga tidak tau apa yang aku lakukan. Aku lebih tepatnya seperti orang bingung yang kerasukan dan tidak tau apa-apa," ucap Anna yang kembali memainkan dramanya berbicara tanpa rem.
Athar belum bicara. Tetapi mulutnya sudah heboh duluan dengan usahanya mengelabui Athar.
" Cih," Athar hanya berdecak dengan wanita yang sekarang ekspresinya berubah menjadi wanita yang sangat menyedihkan.
" Percayalah apa yang terjadi tadi. Tidak di sengaja itu sebuah penyakit," ucap Anna meyakinkan Athar.
" Tidak di sengaja katamu," sahut Athar. Anna mengangguk cepat.
" Ya memang aneh. Aku juga tidak tau apa itu namanya. Aku dari kecil seperti itu dan Dokter bilang itu berbahaya," lanjut Anna lagi memainkan cara agar Athar tidak bicara masalah di pecat.
" Sangat bahaya?" tanya Athar seolah menaggapi bahkan wajahnya juga sangat percaya. Anna dengan cepat mengangguk.
" Iya dia percaya kata-kata ku. Iya percayalah padaku manusia bego," batin Anna merasa mangsanya masuk jebakan.
" Kalau memang berbahaya. Itu juga akan menjadi bahaya di Perusahaan ini. Dan orang sepertimu harus di buang sama dengan penyakitmu itu. Karena kau bisa menyebar virus," ucap Athar menekan suaranya berbicara tepat di wajah Anna membuat wajah Anna refleks mundur.
" Maksudnya?" tanya Anna gugup.
" Kau masih berani bertanya apa maksudnya!" teriak Anna dengan menguatkan volume suaranya.
" Kau sadar siapa kau dan siapa aku. Kau sudah mempermalukan ku. Menurunkan harga diriku dengan berbicara yang tidak-tidak. Kau juga wanita gila yang bicara semamu. Lihat perbuatanmu. Tanganku kau cakar dan kau gigit, pinggangku sakit, pipi kau tampar dan rambut ku dan pakaianku berantakan karena ulahmu," teriak Athar dengan wajahnya memerah dan rahang kokohnya yang mengeras. Athar tidak akan bisa mengontrol dirinya, jika berurusan dengan Anna.
" Aku akan bertanggung jawab, aku mengobati tanganmu, pipimu, pinggangmu aku akan membersihkan pakaianmu dan akan menyisir rambutku. Selesaikan," sahut Anna dengan cepat yang langsung punya jawaban.
__ADS_1
Athar mandengus kasar kesamping geleng-geleng yang bisa-bisa gila karena kata-kata Anna yang sangat mudah itu.
" Apa katamu selesai?" tanya Athar geram. Anna mengangguk cepat.
" Semuanya akan selesai jika kau enyah dari perusahaan ku bersama penyakitmu itu," teriak Athar menunjuk pintu keluar membuat Anna kaget
" Kau memecatku?" tanya Anna memastikan.
" Apa ada kata-kata yang lebih baik dari situ. Aku tidak ingin Perusahaanku. Membawa pengaruh buruk. Karena perbuatan wanita seperti mu," tegas Athar.
" Tapi ini tidak adil untukku. Aku baru bekerja di sini. Dan kau sudah main pecat-pecat saja," sahut Anna yang langsung protes tidak terima
" Lihatlah dirimu, apa penyakit mu kumat lagi?" tanya Athar menyunggingkan senyumnya. Anna menarik napasnya panjang dan membuangannya perlahan.
" Huhhhhh, ini pasti ada masalahnya dengan masalah pribadi. Kau harus tau aku yang di rugikan di sini. Kau sudah menabrak motorku. Kau juga menjatuhkan ponselku dan sekarang kau memecatku. Begini saja supaya semuanya adil. Aku akan melupakan apa yang kamu lakukan kepadaku mengenai motor, handphone dan lift. Tapi jangan pecat aku. Aku tidak punya pekerjaan. Jadi aku akan menganggap semuanya impas," ucap Anna bernegosiasi.
" Ini hanya keadilan untukku, supaya supaya kita tidak sama-sama di rugikan," sahut Anna yang mencari pembelaan untuk dirinya.
" Kau pikir kau bisa memerintahku," ucap Athar yang sedari tadi menahan dirinya.
" Apa lagi yang harus aku lakukan. Agar Pria ini benar-benar tidak memecatku. Anna kamu sih cari masalah mulu," batin Anna yang sekarang kebingungan
" Please jangan pecat aku. Ini bukan salah ku. Ini salahmu. Kau yang memulai semuanya," sahut Anna memohon dengan menyatukan kedua tangannya. Namun masih saja menyalahkan Athar.
" Wanita ini benar-benar sakit jiwa. Masih saja menyalahkanku," batin Athar penuh emosi.
" Anna kamu harus putar otak. Agar dia tidak memecatmu. Ya Allah, aku mohon buatlah Pria ini tiba-tiba baik, lalu dia minta maaf padaku dan juga mengakui kesalahannya," batin Anna berdoa.
" Untuk apa kau masih disini. Sekarang kau keluar dari sini," usir Athar yang sepertinya kewalahan dengan Anna.
__ADS_1
" Apa aku keluar, itu artinya masalah akan selesai?" tanya Anna. Athar mendengus kasar.
" Iya, masalah akan selesai. Makanya keluar dari sini dan jangan pernah kembali lagi kemari!" tegas Athar.
" Apa maksudnya kau benar-benar akan memecatku," sahut Anna panik.
" Jadi maksud mu apa. Aku tidak akan memecatmu begitu?" tanya Athar Anna mengangguk.
" Kau sudah membuat semuanya kacau, dan kau pikir masih ada kesempatan untukmu. Jangan mimpi!" tegas Athar.
" Tidak mungkin, Aku tidak mungkin di pecat," batin Anna panik.
" Untuk apa lagi kau berdiri di sini. Sekarang leluar kau dari ruangan ku. Sebelum aku memanggil satpam menyeretmu dari hadapanku," usir Athar.
" Kau tidak akan memecatku kan?" tanya Anna ingin memastikan yang masih penuh harapan.
" Keluar aku bilang!" teriak Athar mengusir dengan suaranya yang menggelegar dan Anna tersentak kaget langsung lari cepat-cepat lari karena takut dengan monster itu yang sudah tidak sabaran ingin memakannya.
" Arghhh," teriak Athar meremas rambutnya frustasi dia benar-benar seperti orang gila karena perbuatan Anna.
" Wanita itu benar-benar membawa sial. Bisa-bisanya dia membuatku malu, menuduhku sembarangan dan sudah tau bersalah. Masih menyalahkan ku, terlalu banyak bicar dengan kata-katanya yang tidak bermoral," teriak Athar dengan penuh emosi dan bahkan sampai memukul meja dengan ke-2 tangannya meluapkan kemarahannya pada Anna.
Menghadapi Anna lebih berat dari pada tumpukan pekerjaan. Ya wanita bar-bar yang sudah memakinya, melukainya dengan tangan Anna yang multi fungsi.
Anna masih berada di depan pintu ruangan Athar. Dengan mengusap-usap dadanya. Dan wajahnya yang begitu sendu.
" Masa iya aku di pecat. Kan, aku baru bekerja. Kalau aku di pecat itu sama saja semuanya sia-sia. Lagian dia yang salah sih," batin Anna dengan wajahnya yang cemberut.
Bersambung
__ADS_1