Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Episode 95 perang dingin


__ADS_3

Tidak berapa lama akhirnya Anna pun kembali dengan membawa segelas air putih dan meletakkan gelas di atas meja.


" Apa ini bersih?" tanya Athar.


" Tidak, itu tidak bersih, itu air bekas comberan," sahut Anna kesal.


" Kalau sana ganti," sahut Athar.


" Ini bersih puas," teriak Anna kesal.


" Kau yang mengatakan tadi tidak bersih," sahut Athar santai. Anna harus sabar-sabar menghadapi Dajjal seperti Athar. Dia harus terus mengatur napasnya dengan panjang.


Sementara Athar sudah membuka berbagai kotak makanan itu. Di mana terdapat banyak makanan. Ada steak, spageti, ayam KFC, ayam bakar, ikan bakar, makanan mahal-mahal dari Restaurant bintang 5.


Apa yang di tata Athar di meja hanya membuat Anna menelan salavinanya. Yang jelas sangat selera dengan makanan itu.


Athar melihat Anna dan Anna pura-pura mengalihkan pandangannya. Athar menyunggingkan senyumnya.


" Kenapa masih berdiri. Ayo duduk makan bersamaku," sahut Athar. Anna lumayan tersentak kaget mendengar ucapan Athar.


" Apa yang dia katakan makan bersamaku. Apa aku tidak salah dengar dia menawarkan ku. Apa jangan-jangan obat yang aku berikan tadi salah. Makanya otaknya tiba-tiba berubah yang begitu baik mengajakku makan," batin Anna dengan pikirannya yang kemana-mana.


" Kenapa kau masih diam. Ayo duduk dan makan. Bukannya tadi kau lapar," ucap Athar dengan lembut. Anna masih diam yang tidak tau sejak kapan jual mahal. Dia masih betah dalam diamnya.


" Jangan sampai aku berubah pikiran," sahut Athar memberikan ancaman lagi.


" 1, 2, 3,"


Anna dengan cepat duduk dan mengambil salah satu makanan. Dia memang tidak bisa menjaga imagenya kalau berhubungan dengan makanan.


Apa lagi Athar ingin berubah pikirannya


Makanya langsung cepat-cepat. Athar hanya tersenyum miring melihatnya. Jangan terus tersenyum Athar nanti jatuh cinta baru tau rasa.

__ADS_1


Anna pun akhirnya makan juga dengan Athar. Di mana dia makan dengan lahap sementara Athar makan dengan santai dan tumbennya Athar tidak menegur Anna makan. Biasanya Athar akan banyak protes jika Anna makan.


di sela-sela makan mereka. Anna melihat ke arah Athar yang seperti ingin bertanya sesuatu. Tetapi terlihat begitu ragu.


" Ada apa?" tanya Athar tanpa melihat Anna. Yang tau jika Anna melihatnya sedari tadi.


" Kau benar-benar sudah sembuh?" tanya Anna.


" Kau mengkhawatirkan ku," sahut Athar asal-asalan.


" Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk," Anna langsung tersedak makanan mendengar kata-kata Athar. Athar mendengus kasar dengan mengukir senyum miring dengan Anna yang mendadak salah tingkah.


" Kau itu sangat kepedean. Mana mungkin aku mengkhawatirkanmu," sahut Anna langsung membantah.


" Kalau tidak mengkhawatirkan ku. Lalu kenapa bertanya," sahut Athar dengan melihat Anna dengan menaikkan 1 alisnya.


" Memang aku tidak boleh bertanya apa," sahut Anna.


" Tidak biasanya kau bertanya," sahut Athar dengan santai.


" Karma," sahut Athar yang sepertinya menanggapinya.


" Iya karma. Karena seorang Pria yang semena-mena dengan seorang wanita. Pasti akan mendapat balasan yang berlipat-lipat," sahut Anna menegaskan.


" Benarkah seperti itu," sahut Athar dengan santai.


" Ya benarlah. Kamu itu hidup itu hidup seperti orang tidak bahagia. Aku bisa melihat dari kamu tertidur. Kamu itu seperti orang yang tidak pernah tenang, ketakutan dan begitu menyedihkan. Apa lagi kamu memanggil-manggil nama ibumu. Ibu itu adalah seorang wanita dan karena kamu berbuat semena-mena dengan ku. Makanya kamu di hantui oleh ibumu," ucap Anna yang bicara melarat kesana kemari.


Mendengar kata ibu membuat Athar melihat Anna dengan serius. Anna mungkin tidak sadar dengan kata-katanya yang mungkin begitu sensitif untuk Athar.


" Apa yang kamu dengarkan selanjutnya?" tanya Athar dengan suara dinginnya.


" Kamu memanggil ibu, menyuruh jangan pergi. Memang kemana ibumu," sahut Anna yang melihat ke arah Athar.

__ADS_1


Di mana mata mereka saling bertemu. Athar menatapnya serius. Seolah Anna mengetahui kelemahannya dan itu membuatnya seakan merasa terhina.


" Apa aku salah bicara. Kenapa dia menatapku seperti itu. Dia sepertinya sangat marah. Tapi apa yang aku katakan. Aku tidak mengatakan apa-apa sama sekali," batin Anna yang terlihat panik dengan tatapan Athar.


" Aku hanya mendengarka itu saja, tidak ada yang lain. Sungguh," sahut Anna tiba-tiba yang menunduk pada makanan dan makan kembali. Dia seakan tidak mau melanjutkan perdebatan dengan Athar. Yang mungkin jika bicara masalah ibu. Athar tidak suka. Karena sejatinya Anna juga tau ibu dari Athar tidak tau di mana.


" Lalu di mana ibumu?" tanya Athar tiba-tiba. Anna tersentak mendengar perkataan itu. Mengangkat kepalanya dan kembali saling melihat dengan Athar.


" Bukannya kau Anka piatu. Tante Amelia adalah ibu tirimu. Lalu di mana ibu kandungmu?" tanya Athar dengan serius.


" Kenapa aku harus mengatakannya kepadamu. Itu urusan pribadiku. Kau tidak perlu ikut campur," sahut Anna.


" Masalah yang kau katakan juga masalah pribadi ku dan kau juga tidak punya wewenang untuk membawa masalah ibu kedalam guyonan mu," ucap Athar dengan serius.


" Siapa yang bercanda. Aku hanya mengatakan apa yang aku dengar," sahut Anna. " Dan apa salahnya aku bertanya," lanjut Anna berusaha tenang.


" Aku juga sudah mendengar jelas. Aku juga tau. Tentang dirimu. Tante Amelia bukan ibu kandung mu. Lalu apa salahnya aku juga bertanya," sahut Athar yang membalikkan kata-kata itu.


" Kita tidak sedekat itu dan kau tidak punya hak untuk bertanya padaku," sahut Anna menegaskan.


" Lalu kenapa berani menanyakannya kepadaku masalah itu. Apa kau merasa kita sedekat itu," sahut Athar yang terus membalikkan setiap kata-kata yang di ucapkan Anna.


Aman terdiam dan menatap Athar dengan tajam. Seakan dia juga tidak tau apa yang harus di katakannya lagi.


" Aku sudah selesai makan. Jangan menyuruhku membereskannya. Aku mau tidur. Ini sudah hampir mau subuh," sahut Anna yang langsung berdiri yang berhenti makan di tengah jalan.


Karena sudah merasa sama-sama tegang dengan Athar merasa sama-sama membahas masalah yang sepertinya sangat sensitif untuk ke-2nya membuat Anna memilih pergi. Dari pada ada kata yang jauh lebih buruk yang akan di keluarkannya nanti.


Brukkkk.


Suara bantingan pintu kamar itu lumayan kuat dan Athar hanya melihat Anna yang memasuki kamar. Tanpa memanggil atau apapun itu lagi.


Ternyata mood Athar juga sama, sama-sama buruk dengan Anna dan memilih untuk sama-sama menghentikan makannya. Karena sudah tidak selera lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2