
Dengan begitu lemas Anna akhirnya pulang kerumahnya yang terlihat begitu lesu dengan langkahinya yang tampak tidak bersemangat.
"Jadi Derry masih di sana Aurelia?" tanya Maya sembari mengunyah makananya yang makan bersama Aurelia.
"Iya mah, Derry masih menemani Athar di sana," jawab Aurelia.
"Semoga saja Athar baik-baik saja. Mama juga belum pernah bertemu dengan Bu Anjani. Mama tidak tau apa yang di pikirkannya setelah apa yang terjadi pada Athar," ucap Maya.
"Mungkin Bu Anjani merasa bersalah pastinya sama dengan Om Ari Purnama dan juga Tante Maharani mereka semua di penuhi rasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Athar," ucap Aurelia.
"Terkadang perpisahan yang menjadi korban memang adalah seorang anak. Anna dan Athar hanya kurang komunikasi sehingga mereka bisa berbeda pendapat seperti itu dan tidak adanya komunikasi yang baik," ucap Maya.
"Jadi kalian juga tau tentang masalah ini," sahut Anna yang mendengar apa yang di bicarakan orang tuanya dan juga kakaknya.
"Anna!" sahut Aurelia dan Maya serentak.
"Semuanya tau dan hanya aku yang tidak," sahut Anna.
"Anna ayo sini duduk!" ajak Maya dengan lembut.
Aurelia berdiri dan langsung menghampiri Anna membawa Anna duduk di meja makan. Anna menghela napasnya dengan duduk di samping mamanya dan air matanya menetes.
__ADS_1
"Kenapa harus terjadi? aku tidak tau apa-apa dengan semua ini. Semua orang tau apa yang terjadi tetapi kenapa aku tidak tau apa-apa," ucap Anna yang terlihat begitu lelah, Aurelia dan Maya saling melihat dan hanya berusaha untuk menenangkan Anna.
"Anna maafkan kakak. Kakak juga baru tau ini saat Derry pergi ke New York," sahut Aurelia.
"Dan kakak tidak memberitahu aku," sahut Anna.
"Bukan begitu Anna. Namun Athar memang tidak ingin kamu tau dan Derry juga tidak bisa memberitahu begitu saja. Karena takut nanti Athar akan marah," jawab Aurelia.
"Kenapa aku harus tidak tau. Kenapa? setelah kakak dan yang lainnya tau semua ini. Kalian semua pasti menyalahkanku kan. Sekarang aku baru menyadari. Kenapa semua orang terkesan sangat menyalahkanku. Jadi ini yang terjadi kalian menyalahkanku karena kalian tau semua apa yang terjadi, simpatik dengan Athar dan menyalahkan aku," ucap Anna.
"Anna tidak ada yang menyalahkan kamu. Mama sangat kecewa dengan keputusan Athar yang juga mengambil jalan seperti itu dan meninggalkan kamu. Dan alasan yang juga mama ketahui juga membuat mama kecewa. Karena apapun itu Athar seharusnya mengatakan yang sebenarnya dan tidak pergi begitu saja seperti seorang pengecut. Jadi jika kamu mengatakan mama menyalahkan kamu. Itu tidak benar Anna karena mama tidak pernah mengalahkan kamu tidak sama sekali," ucap Maya yang berpikir netral.
"Kakak juga Anna. Kakak tidak pernah menyalahkan kamu. Kamu jangan berpikiran seperti itu Anna tidak ada yang menyalahkan kamu," sahut Aurelia yang sejak tadi menenangkan Anna.
"Anna kamu jangan berpikiran apa-apa. Karena tidak ada yang menyalahkan kamu. Percayalah," ucap Maya lagi.
**********
Masih dengan air matanya yang keluar. Anna duduk di pinggir ranjang dengan handphonenya yang berada di telinganya yang Anna sepertinya menghubungi seseorang.
"Anna aku juga tidak tau masalah itu dan baru tau. Karena apa yang kamu dengar dari mama dan papa dan aku sudah tanya pada mereka. Kak Athar memang ada masalah dengan fikisnya. Kak Athar trauma dengan pernikahan dan dia memilih putus dari kamu karena tidak ingin kamu tersakiti. Aku juga bingung Anna harus bicara apa lagi. Tetapi setelah aku mengetahui semua ini jujur. Aku sangat kasihan kepada kak Athar. Seharusnya masalah ini tidak terjadi," ucap Olive yang ternyata menelpon Anna dan menceritakan apa yang di ketahuinya pada Anna.
__ADS_1
Padahal Anna sudah tau sebelumnya dari Jennie dan Mahendra.
"Apa Sana juga tau masalah ini?" tanya Anna dengan suara seraknya.
"Iya Anna. Sana juga tau masalah ini. Dia dan kak Gibran malah sudah tau lama dan sebelum kak Athar ke Luar Negri. Aku juga tidak menyangka jika di rumah hanya aku yang tidak tau apa-apa dan Sana tidak pernah memberitahu ku sama sekali," ucap Olive.
Yang adanya Anna semakin merasa paling tidak berguna. Bisa-bisanya semua orang tau dan bahkan sahabatnya juga tau dan dia benar-benar tidak tau apa-apa. Pantesan Sana sahabatnya tidak banyak menyalahkan Athar atau memaki Athar saat hubungan mereka berakhir. Ternyata ada sesuatu yang di ketahuinya.
"Anna apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Olive.
"Olive apa setelah kamu tau semuanya. Kamu tau kondisi Athar seperti apa dan apa yang di alaminya. Apa kamu juga menyalahkanku?" tanya Anna.
"Tidak Anna," jawab Olive dengan cepat, "kenapa aku harus menyalakan kamu. Aku tidak menyalahkan kamu sama sekali. Sungguh Anna aku tidak menyalakan kamu. Apa yang terjadi bukan kesalahan kamu. Masalah trauma itu bukan kesalahan kamu. Kak Athar yang mengalaminya dan tidak bisa berpikir jernih menghadapinya. Lalu kenapa itu salah kamu. Jika di pikirkan mungkin kamu juga bisa mengalaminya. Aku juga mungkin. Tetapi tidak. Jadi apa yang terjadi tidak ada alasan untuk mengalahkan kamu," ucap Olive yang berpikir netral. Karena memang seharusnya Anna tidak di salahkan. Anna tidak tau apa-apa dan Anna juga berhak untuk mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya.
"Anna aku memang sangat ingin kamu terus bersama kak Athar. Tapi aku tidak pernah memaksa kamu harus bersamanya. Untuk apa bersama Pria yang tidak bisa bertanggung jawab yang ujung-ujungnya kamu juga yang akan tersakiti nanti. Dengan kamu sudah tau apa yang terjadi sebenarnya. Kamu juga tidak perlu merasa bersalah. Kamu juga tidak perlu harus meminta maaf atau berusaha untuk kembali pada kak Athar. Tidak perlu Anna. Kamu dan kak Athar sudah sama-sama dewasa dan kamu juga tau dan punya hak untuk keputusan kamu,"
"Aku tidak berpihak pada siapapun Anna. Walau semua ini terjadi pada kak Athar. Tetapi seharusnya dia lebih bijaksana dan tidak seperti pengecut yang pergi begitu saja," jelas Olive yang berbicara netral. Walau Athar adalah kakaknya. Tetapi dia juga tau harus memposisikan dirinya untuk siapa.
"Terima kasih Olive. Aku merasa hanya kamu yang memahami ku," ucap Anna.
"Kamu istirahatlah Anna. Jangan memikirkan apa-apa. Kamu berhak bahagia dan jangan menyalahkan diri kamu," ucap Olive memberi saran.
__ADS_1
Anna hanya semakin meneteskan air matanya mendengar kata-kata Olive.
Bersambung.