Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 216 bertemu.


__ADS_3

Olive menuruni anak tangga dan langkah Olive harus terhenti ketikan melihat kakaknya berada di ujung anak tangga terakhir. Kakaknya Athar, di mana wajah Athar terlihat sangat berantakan dan seperti tidak tidur. Tetapi tetap wajah itu tampak begitu tampan.


" Kak Athar, ada apa?" tanya Olive yang berdiri di depan Athar.


" Kamu tau di mana Anna?" tanya Athar dengan suara pelan bahkan seperti berbisik-bisik.


" Anna!" sahut Olive dengan wajah herannya.


" Iya Anna, apa kamu tau di mana dia?" tanya Athar lagi.


" Aku tidak tau di mana Anna, memang kenapa? Apa Anna tidak ada di rumahnya?" tanya Olive dengan wajahnya yang penuh kebingungan.


" Dia tidak ada di rumahnya," jawab Athar.


" Mungkin kekantor, ini kan sudah waktunya kekantor dan kakak tumben belum rapi-rapi," ucap Olive.


" Tidak Olive Anna tidak di rumah sejak tadi malam," ucap Athar.


" kakak serius? tanya Olive yang tampak terkejut. Athar menganggukkan kepalanya.


" Kemana dia? apa kakak sudah menelponnya?" tanya Olive.


" Kakak sudah mencobanya. Tetapi tidak bisa di hubungi," jawab Athar.


" Ya ampun kok gitu. Bentar ya biar Olive coba telpon dulu," sahut Olive yang langsung menghubungi Anna.


Ternyata sama dengan Athar no yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan.


" Anna kemana ya?" Olive pun jadi bingung sendiri. Karena sebelumnya temannya itu masih bersamanya ya sewaktu di pesta semalam. Tetapi Anna memang langsung pulang siang itu setelah pengumuman kemenangan.


" Kakak juga tidak tau di mana dia," ucap Athar dengan suaranya yang begitu lemah yang sudah tidak bisa bernapas lagi.


" Ya sudah kak Athar, nanti Olive coba hubungi Sana, siapa tau Sana tau di mana Anna," sahut Olive memiliki ide.


" Ya sudah kalau begitu makasih ya Olive. Kaka pergi dulu!" ucap Athar.


Olive mengangguk. " Anna kemana ya, kenapa Anna pergi. Apa yang terjadi pada Anna kok bisa pergi. Kasian kak Athar dia pasti khawatir banget sama Anna, aku harus membantunya," batin Olive yang tidak tega dengan kakaknya yang tidak henti-hentinya dengan drama ke galaluannyanya itu.


***********


Sementara Derry dan Aurelia sudah sarapan pagi ini. Sarapan di dalam kamar hotel dengan Aurelia yang sudah mengganti pakaiannya. Di mana mereka duduk di lantai dengan makanan yang di atas meja yang rendah sepinggang mereka.


" Kamu mengenal wanita tadi malam?" tanya Aurelia tiba-tiba di tengah makannya.


" Kenapa bertanya padaku. Apa aku sedekat itu sama Anna. Sampai aku tau semuanya," ucap Derry.


" Bukannya belakangan ini kamu memang dekat dengannya," sahut Aurelia yang tetap makan tanpa melihat Derry.


" Aku tidak dekat dengannya. Aku juga tidak tau siapa wanita itu. Lagian aku dan Anna sebatas pekerjaan dan terlebih lagi kami hanya berteman, tidak ada yang dekat di antara kami ataupun special," ucap Derry.


" Oh, begitu. Aku pikir kamu tau wanita itu siapa?" sahut Aurelia.


" Memang ada apa? apa wanita yang mengaku ibu Anna mengganggumu?" tanya Derry.


" Tidak aku hanya penasaran saja," jawab Aurelia.


" Kalau begitu tanyakan pada Anna. Kau akan tau jawabannya," sahut Derry memberi saran.


" Aku mana mungkin bertanya padanya," sahut Aurelia.

__ADS_1


" Kenapa? gengsi?" tebak Derry membuat Aurelia melihat ke arah Derry.


" Aku tidak pernah gengsi, hanya aku tidak mau saja bicara padanya," sahut Aurelia.


" Jangan keras kepala Aurelia. Dia adikmu dan kau kakak yang harus melindunginya. Jadi jangan besarkan ego kamu," ucap Derry memberi saran.


" Kau tidak tau apa yang aku rasakan. Jadi diamlah!" ucap Aurelia yang terus makan.


" Justru aku tau perasaanmu. Makanya bicara seperti ini kepadamu," sahut Derry.


" Sudahlah jangan membahasnya. Aku mau menengangkan diri sekarang. Jadi jangan membasah masalah yang membuat kepala ku tambah sakit. Aku berharap kehadiranmu di sini untuk memberikanku ketemangan bukan membuatku semakin sakit kepala," ucap Aurelia menegaskan.


" Baiklah! aku tidak akan membahasnya. Jadi jika kamu ingin makan. Maka makanlah," ucap Derry. Aurelia diam dan tetap melanjutkan makannya.


*******


Malam yang begitu indah dengan bulan yang di temani bintang-bintang yang indah. Di langit malam di atas sana. Gelombang air laut berlomba-lomba menyapu pesisir pantai. Suara jangkrik dan suara air laut yang saling bertautan dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi. Membuat rambut gadis cantik yang duduk di atas pasir.


Siapa lagi jika bukan Anna. Duduk di dalam ukiran love yang sudah di bentuknya terlebih dahulu. Ternyata Anna tidak ke Bangkok dia malah memilih pulang kampung bersama Anjani untuk menenangkan dirinya.


Dia memang ada rencana untuk ke Bangkok. Tetapi dia ingin pulang kampung dulu. Paling tidak berpamitan pada bibinya. Karena pasti dia juga akan sulit menemui bibinya nanti. Karena jarak yang sangat jauh.


Anna sudah 2 hari di kampung dan ya tidak tau mau apa dan sampai kapan di sana. Tetapi intinya sebelum pergi, Anna ingin reflesing dulu selama di kampung.


Selama di kampung Anna terus saja gelisah, galau, sudah tidur. Ya pikirannya tidak pernah tenang. Anna juga tidak pernah menyentuh handphonnya, sehingga dia tidak tau apa yang terjadi dan siapa yang mengabarinya. Anna benar-benar tidak peduli dan hanya ingin menenangkan pikirannya yang mungkin perlahan-lahan akan terbiasa dengan suasana kampung dan hatinya juga bisa tenang dan sembuh kembali seperti sedia kala.


Karena kalaupun Anna ke Bangkok sudah dengan suasana hati yang baru dan bisa memulia segalanya dengan tenang dengan hal yang baru tanpa ada beban dan galau-galau lagi.


Di tempatnya di dalam lingkaran love Anna


hanya duduk dengan melihat air laut yang tak kunjung sampai kepadanya. Dengan hembusan napasnya kasar yang beberapa kali terhembus dari mulutnya. Pandangan mata itu hanya melihat gelombang laut itu. Matanya yang menatap dengan kekosongan.


" Isssss, tobat Anna! tobat, jangan memikirkan dia, tobat, tobat," Ocehnya menceramahi dirinya sendiri dengan menepuk-nepuk pipinya dengan ke-2 tangannya untuk menyadarkan dirinya sendiri.


" Argggh sudahlah sebaiknya aku pulang saja, perutku lapar, mending aku makan mengisi perutku. Setelah itu aku yakin. Masalahku akan tuntas semuanya. Jadi harus isi perut dulu," ucap Anna mengusap perutnya yang mulai demo di dalam sana.


" Aku sebaiknya pulang dari pada di sini terus,"


Anna pun langsung berdiri dari tempatnya meninggalkan tempat persembunyiannya dan langsung pergi. Ketika Anna berjalan menuju rumah bibinya.


Anna menghentikan langkahnya ketika merasa ada yang mengikutinya dan Anna yang tadinya merasa hanya halusinasi ternyata tidak. Ada bayang yang tiba-tiba melintas yang membuatnya takut dan meyakini jika memang benar ada yang mengikutinya.


" Ya ampun siapa lagi itu. Aku merasa ada yang mengikutiku," batin Anna merasa was-was.


Anna pun yang tidak ingin terjadi apa-apa. Langsung berjalan dengan cepat sebelum pikirannya yang dia akan di culik, di ikat di rel kereta api dan ini itu terjadi mending dia lari. Namun tiba-tiba langkahnha harus terhenti ketika melihat seorang pria yang tiba-tiba berdiri di depannya.


Anna begitu terkejut melihat Pria itu. Yang tak lain Athar. Berdiri tegak dengan kemeja putih yang di masukkan kedalam celananya, wajahnya yang menatap nanar Anna dengan intens. Dengan napas yang tidak teratur sama seperti Anna yang terlihat shock yang tidak percaya jika dia melihat Athar.


" Athar. Dia ada di sini. Apa aku tidak salah lihat, apa sungguh dia adalah Athar," batin Anna yang matanya masih terus melihat Athar. Dia masih tidak percaya dengan Athar yang di temuinya itu.


" Aku menemukanmu!" Lirih Athar dengan suara beratnya dengan napasnya naik turun yang tidak percaya benar-benar bertemu dengan Anna.


Mereka sama-sama diam terpaku dengan saling diam dan menatap dengan mata yang mungkin saling menyampaikan sesuatu.


Anna, menyadarkan dirinya mengingat sesuatu. Ya dia tadi terlihat begitu tergesa-gesa. Karena ada yang mengikutinya. Anna mihat kebelakang nya dan melihat kosong tidak ada orang yang mengikutinya. Namun dari kejauhan seperti Anna melihat ada yang pergi yang membuat kecemasan Anna semakin bertambah.


Anna kembali melihat Athar dan dengan spontan Anna menarik tangan Athar dan membawa Athar pergi yang membuat Athar heran dengan tindakan Anna. Namun Athar hanya mengikut saja apa yang di lakukan Anna kepadanya.


Anna ternyata mengajak Athar bersembunyi di antara 2 rumah yang dengan Anna bersandar di dingding dan Athar di depannya tampak menghimpitnya karena di tempat sempit.

__ADS_1


Athar bingung kenapa Anna mengajaknya kesana dan melihat wanita di depan itu tampak cemas yang matanya juga melihat ke sana kemari yang terlihat begitu gelisah.


" Ada ap...?"


Belum sempat Athar bertanya Anna langsung membekap mulut Athar membuat Athar diam dan Anna meletakkan 1 jarinya di bibirnya yang memberi pertanda untuk diam.


Anna terlihat gelisah dan sebentar-sebentar mengintip siapa yang yang mengikutinya. Namun Athar yang berada di depan Anna yang begitu dekat dengan Anna. Wanita yang di rindukannya itu terus menatap Anna dengan dalam.


Melihat wanita itu begitu cemas dan terlihat resah. Anna yang merasa aman membuang napasnya perlahan kedepan dan hembusan napas itupun di saksikan Athar. Anna melihat ke arah Athar. Anna baru sadar jika dia masih menutup mulut Athar. Anna pun dengan cepat melepas tangannya.


" Aku hanya merasa ada yang mengikutiku, jadi aku tidak bermaksud untuk melakukannya," ucap Anna yang mendadak canggung. Athar diam dan tidak merespon apapun dan melihat Anna terus bahkan matanya fokus pada bibir Anna yang bergetar.


Anna yang tampaknya tidak mau bicara banyak-banyak atau harus bertanya mengapa ada Athar di sana. Anna pun memilih pergi. Namun Athar menahan tangan Anna membuat Anna melihat ke arahnya.


" Lepas!" ucap Anna dengan dingin.


" Kita harus bicara!" ucap Athar. Anna melepaskan tangan Athar dari tangannya.


" Aku tidak ada urusan dengamu dan tidak ada yang harus kita bicarakan," ucap Anna dengan dingin dan ingin pergi lagi. Athar menahannya lagi dengan memegang ke-2 bahu Anna dan mendorongnya kedingding dengan pelan dengan Athar sedikit menunduk mensejajarkan wajahnya pada Anna.


" Athar kau!" geram Anna yang masih berusaha untuk meloloskan diri. Namun Athar tetap menahannya dengan memegang ke-2 bahu Anna.


" Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" berontak Anna dengan kesalnya yang menyinggirkan tangan Athar dari bahunya dan ingin pergi lagi. Namun Anna tetap pergi dan Athar tetap menahannya dan Anna ingin pergi. Athar meletakkan tangannya di dingding yang mengurung Anna yang tidak membiarkan Anna pergi.


" Athar kau," geram Anna.


" Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kita menyelesaikan masalah kita," ucap Athar dengan wajah seriusnya.


" Aku dan kau tidak ada masalah. Jadi jangan menggangguku, menyinggir dari hadapanku," tegas Anna yang benar-benar muak dengan Athar yang malah terkesan memaksanya.


" Ada dan masalah itu tidak selesai sampai detik ini. Aku dan kamu punya masalah yang harus kita tuntaskan," ucap Athar dengan matanya yang menatap Anna dalam-dalam.


" Anna aku mohon dengarkan aku," ucap Athar kembali memegang ke-2 bahu Anna.


" Tidak ada yang harus di dengarkan dan sudah aku katakan. Aku tidak punya urusan dengan mu," ucap Anna menegaskan.


" Tidak Anna kita ada urusan dan harus kita selesaikan," ucap Athar menegaskan dengan wajah Athar yang penuh dengan harapan.


" Aku sudah selesai denganmu. Jadi kau jangan mengganggu ku lagi. Aku juga bukan karyawanmu lagi. Jadi stop bicara padaku!" ucap Anna menegaskan pada Athar melihat mata Athar yang melihatnya dengan dalam.


Tidak ingin larut dari tatapan mata itu. Anna kembali memilih untuk pergi namun Athar menahannya lagi dan kali ini Athar memegang tengkuk Anna dengan ke-2 tangannya dan sedikit membuat wajah Anna mendongak ke atas dan Athar langsung menempelkan bibirnya pada Anna.


" Mpt..."


Hal itu membuat Anna kaget dengan matanya yang melotot saat Athar mencium paksa dirinya. Anna memberontak dengan mendorong dada Athar sambil memukul-mukulnya. Namun Athar tidak bergerak sama sekali dan malah semakin membuat Anna mendekat padanya sehingga dia bisa mencium Anna lebih dalam, memaksa masuk kedalam mulut Anna.


Athar yang terlihat memakasa Anna dalam berciuman yang akhirnya Anna pasrah dan perlahan memejamkan matanya dengan tangannya yang memegang erat kemeja Athar. Saat Athar benar-benar memperdalam ciumannya.


Ciuman yang tadinya memaksa menjadi lembut. Air mata Anna terlihat menetes di pipinya yang bisa di rasakan Athar. Athar mencium bibir Anna juga sekalian yang mana jika Athar mengungkapkan perasaannya pada Anna melalui ciuman itu.


Perasaan, emosi, rindu, bercampur menjadi satu. Hati ke-2 nya sama-sama berdetak tidak menentu, yang mungkin sama-sama merasakan ada yang berbeda di antara ke-2nya.


Setelah merasa cukup meluapkan semuanya dari ciuman itu. Athar melepas ciuman itu dengan perlahan. Mata mereka sama-sama terbuka dengan napas yang sama-sama naik turun. Napas yang saling mengejar satu sama lain.


Anna yang masih mengatur napasnya yang tidak teratur itu mengangkat kepalanya melihat Pria yang telah berani menciumnya itu. Di mana sama dengan Athar yang juga melihatnya dan hembusan napas berat keduanya semakin jelas saling kejar-kejaran.


Tangan Athar mengusap pipi Anna yang terdapat butir air mata di pipi itu. Dengan mata mereka masih saling bertemu yang Anna menatapnyanya dengan ada rasa benci sedikit.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2