
" Lepaskan aku!" berontak Anna melepaskan diri dari Chandra yang berada di tempat sepi tidak ada tamu. Chandra memang membawa Anna keluar dari area pesta yang takut mempermalukan dirinya.
" Kurang ajar kamu Anna berani sekali kamu mengacaukan pesta ini!" teriak Chandra.
" Kenapa? malu dengan semuanya. Lalu tidak malu dengan kelakukan mu!" teriak Anna.
Chandra tampak emosi dengan Anna yang sekarang meneriakinya. Chandra melihat ada gelas yang berisi minuman dan langsung menyiramnya ke wajah Anna.
Byurrrr air itu memenuhi wajah Anna. Anna pasrah dengan memejamkan matanya. Hal itu ternyata bersamaan datangnya Amelia, Aurelia, Maharani, Ari Purnama, Olive, Athar, Derry, dan Gibran. Mereka kaget dengan Chandra yang menyiram Anna.
" Mas hentikan!" tegur Amalia yang menahan tangan suaminya untuk tidak lagi menyiram Anna.
" Ya Allah," lirih Maharani yang schok dan juga Olive kaget dengan apa yang terjadi sampai tangannya menutup mulutnya.
Athar hanya membulatkan matanya melihat perlakuan Chandra, sementara Derry masih tetap kebingungan dan Gibran mengeluarkan senyum miringnya.
" Mas apa yang kamu lakukan," tegur Amelia.
" Jangan suka cari muka di hadapanku," sahut Anna sinis.
" Cukup Anna. Kamu selalu seperti ini Anna. Kamu tidak pernah punya tata krama dengan baik. Ini yang kamu dapatkan selama bertahun-tahun berkeliaran di luaran sana kamu seperti sampah!" teriak Chandra dengan menunjuk-nunjuk Anna. Bahkan sampai menoel kepala Anna dengan jarinya. Namun lagi-lagi Amelia berusaha untuk mencegah suaminya.
" Anak kurang ajar sepertimu berhasil menjadi sampah," desis Chandra menekan suaranya. Kata itu jelas membuat Anna sakit hati sampai air matanya sudah tidak terbendung lagi. Namun dia tiba-tiba tersenyum melihat papanya yang bicara itu.
" Sampah. Aku memang sampah. Karena pada dasarnya aku tidak akan menjadi sampah kalau orang tuanya sendiri juga sampah," sahut Anna yang selalu menjawab dengan kata-kata tidak kalah pedasnya.
" Kau masih berani bicara," sahut Chandra yang ingin melayangkan tangan pada Anna sampai Anna memejamkan matanya.
" Mas sudah cukup!" cegah Amelia.
" Cih," Anna berdecak sinis, " Kau menyuruhku datang kepesta ulang tahun mu ini dengan tulisan mu yang indah dengan kata maaf. Tapi ternyata apa. Apa yang kau lakukan hanya ingin menyadarkan ku dengan menunjukkan betapa bahagianya keluarga yang kau dapatkan," ucap Anna dengan suara rendahnya.
" Apa katamu, meminta maaf. Tidak ada seorang ayah yang harus meminta maaf pada anak yang tidak tau diri sepertimu. Aku bahkan tidak harus membujukmu dan juga seharusnya aku tidak mengundangmu kemari," sahut Chandara menegaskan.
Mendengar kata ayah seakan sudah memperjelas status Anna di keluarga itu dan seakan sudah terjawab apa yang di pikirkan yang lainnya.
" Kau dengar Anna, aku sudah mempertimbangkan untuk mengundangmu datang kemari. Dan aku sangat ragu melakukannya. Dan ternyata ini jawaban keraguanku," desis Chandra.
__ADS_1
" Apa maksudnya?" tanya Anna heran.
" Mas sudahlah hentikan semuanya. Aku yang salah di sini. Aku hanya ingin kamu dan Anna stop bermusuhan seperti ini. Kalian adalah ayah dan Anna. Anna maafkan mama. Mama yang menyuruh orang itu datang dengan membawa nama papa kamu. Agar kamu bisa datang dan pulang kembali kerumah ini. Semua mama lakukan untuk hubungan kalian," sahut Amelia menjelaskan.
Anna kaget mendengarnya. Dia mengira papanya yang mengundangnya yang membujuknya dan bahkan menulis surat untuknya. Tetapi ternyata itu adalah perbuatan ibu tirinya. Jelas emosi Anna semakin naik yang merasa di permainkan.
" Jadi Anna adalah anak dari pak Chandra," batin Athar menarik kesimpulan.
" Wanita ini benar-benar, sudah kuduga dia pasti membuat ulah sehingga drama ini terjadi," batin Aurelia menatap kesal ibu tirinya itu.
" Kau dengar sendiri kan. Aku sendiri justru tidak menginginkanmu ada di sini. Semenjak kau keluar dari rumah ini. Aku sungguh tidak peduli atas apa yang kau lakukan!" tegas Chandra.
" Jadi kau yang mempermainkanku," sahut Anna melihat tajam ke arah Amelia. Anna menyunggingkan senyumnya.
" Anna, bukan itu, mama hanya...." sahut Amelia.
" Cukup! teriak Anna, " kau memang sangat pintar bersandiwara. Seharusnya aku tidak heran dengan wanita seperti mu. Kau sengaja melakukan semua ini. Dan ini hasil yang kau inginkan sebenarnya!" teriak Anna.
" Jangan salah paham Anna," sahut Amelia mencoba mencari pembelaan.
" Cukup!" bentak Anna dengan menunjuk tepat di wajah Amelia.
" Anna cukup!" teriak Chandra.
" Kenapa? Bela saja dia. Dia memberimu makan. Dia yang menghidupiku. Jadi belalah keluarga bahagiaku itu!" teriak Anna.
Plakkk.
Tidak tahan dengan kata-kata Anna membuat Chandra langsung menampar Anna. Membuat semua orang kaget dengan tamparan panas di pipi Anna. Hanya Gibran yang menyunggingkan senyumnya dengan Anna mendapatkan tamparan itu.
Orang-orang di sana seolah-olah hanya bisa menonton tanpa bisa mencegahnya kemarahan Chandara.
" Mas!" lirih Amelia yang menyangkan semua itu.
" Menamparku lagi. Bermain kekerasan kepadaku," sahut Anna menekan suaranya dengan matanya yang membulat sempurna.
" Aku orang tuamu. Jika kau melebihi batasmu sudah sewajarnya kau di beri pelajaran!" Sahut Chandra dengan menekan suaranya menujnjuk Anna.
__ADS_1
" Orang tua. Apa tidak malu orang seperti mu mengatakan aku anakmu. Anak yang mana. Anak yang kau buang. Yang kau tidak pedulikan selama 5 tahun. Apa katamu tadi aku sampah dan berkeliaran. Aku berkeliaran untuk hidupku. Hidupku yang sudah di buang oleh orang tua sepertimu yang lebih peduli dengan kekayaan dari pada kebahagian anakmu. Aku saja sebagai anak malu mengakuimu sebagai orang tua," tegas Anna dengan air matanya yang jatuh.
" Anna, aku bisa memukulmu sekali jika kau tidak menjaga ucapanmu," ucap Chandra yang sudah sesak napas menghadapi Anna.
" Pukul aku lakukan yang kau kau mau. Kau sangat berkuasa bukan. Kau berhak dengan tanganmu yang melayang untukku. Kau mengakui ku anak hanya untuk bermain tangan kepadaku. Wanita ini sengaja mengundangku hanya untuk melihat suami hasil rampasannya untuk kembali bermain tangan kepadaku. Apa itu yang kailan rindukan iya," sahut Anna.
" Anna!" geram Chandra yang ingin memukul Anna lagi.
" Aku tidak tau, jika laki-laki bajingan di dunia ini hanya ada satu yaitu pria yang darahnya mengalir di tubuhku. Aku benar-benar sungguh jijik dengan darahmu yang mengalir ditubuhku," ucap Anna dengan emosi yang memang sengaja memancing Chandra untuk lebih marah lagi.
" Anna kau benar-benar," sahut Chandra yang ingin memukul Anna lagi.
" Pah, sudahlah," sahut Aurelia yang langsung mencegah papanya, " hentikan semua ini," tegas Aurelia.
" Ayo Anna. Kamu pergi dari sini. Jangan terus memancing emosi papa. Kamu jangan seperti ini Anna," ucap Aurelia.
" Lepaskan aku. Jangan pura-pura baik di depanku. Kenapa kau juga malu di depan semua orang," sahut Anna.
" Aku tidak ingin ribut denganmu. Jadi pergilah dari sini," tegas Aurelia
" Aku memang akan pergi. Aku tidak Sudi berda di neraka. Terima kasih atas usahamu sehingga melampiaskan kerinduan suamimu untuk bermain tangan kepadaku," sahut Anna dengan mengusap air matanya.
" Kalian pikir bisa bahagia seperti ini, aku akan mengingatkan kejadian ini untuk kalian seorang ayah yang sudah berhiyanat pada istrinya. Akan aku ingatkan karma itu kepadamu. Di mana kau akan melihat kehancuran hubungan putrimu sendiri," ucap Anna dengan kata-katanya yang sulit di mengerti namun tersirat makna.
Anna membuang napasnya perlahan dan langsung membalikkan tubuhnya yang melihat keluarga Athar ada di sana yang menontonnya sejak tadi.
Anna pergi begitu saja. Dan Chandra menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
" Maaf untuk kejadian ini," sahut Chandara yang langsung pergi. Aurelia pasti malu dengan kejadian itu dan dia juga sudah tidak punya muka lagi untuk berada di sana dan langsung peri begitu saja.
" Maafkan kami," ucap Amelia yang merasa bersalah.
" Tidak apa-apa Maharani. Apa yang kamu lakukan memang salah. Kamu bukan membuat Anna dan Chandra berbaikan. Tetapi kamu malah membuat semakin buruk. Mungkin niat kamu baik. Tapi Anna yang sudah menanam kebencian tidak mudah untuk menerima semuanya," sahut Maharani memberikan pengertian.
" Dari bicara mama. Apa mama juga mengenal Anna!" batin Athar yang masih penasaran.
" Jadi Anna selama ini adalah anak dari pak chnadra dia mengatakan yatim piatu," batin Olive yang masih kesulitan untuk mencerna semuanya.
__ADS_1
Bersambung