
Sementara Athar membawa Anna kebelakang perusahan di mana Anna berdiri di depannya dengan Anna yang terlihat diam dan tidak bicara sama sekali. Athar yang memegang botol mineral langsung membuka tutup botolnya dan memberikan Anna minum.
" Minumlah!" ucap Athar lembut. Anna mengambilnya dan meneguknya dia memang mendadak haus karena masih takut dengan kejadian tadi.
Athar mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan langsung membersihkan darah yang ada di dahi Anna yang mana Anna masih saja minum dan melihat Athar di depannya yang mengobati lukanya yang mana sudah menempelkan plaster pada lukanya.
Anna selesai minum dan memberikannya pada Athar. Athar memberikan sapu tangan itu pada Anna dan Anna mengambilnya untuk melap-lap tangannya yang masih berkeringat.
" Kau tidak marah kepadaku?" tanya Anna pelan yang melihat Athar tampak santai.
" Marah itu hanya pada manusia dan kau bukan manusia. Jadi percuma aku marah- marah padamu. Kau juga tidak akan mengerti, tidak akan mendengar, tidak akan jera dan akan tetap melakukannya. Jadi tidak ada gunanya aku marah kepadamu," jawab Athar dengan dinginnya.
" Kalau aku tidak manusia. Jadi aku siapa?" tanya Anna dengan pelan.
" Kau pikir aja sendiri. Aku cuma mengatakan kepadamu satu hal jangan bermain-main dengan nyawa," ucap Athar yang terlihat begitu khawatir pada Anna.
" Maafkan aku," ucap Anna pelan yang mengetahui kesalahannya.
" Aku berharap maafmu adalah tulus. Sehingga kau tidak mengulanginya lagi perbuatanmu. Kau bukan anak kecil lagi yang harus di peringatkan berkali-kali," ucap Athar dengan wajah seriusnya. Anna menganggukan kepalanya.
" Apa kau sudah baik-baik saja?" tanya Athar yang memang melihat Anna tidak tenang dan seperti orang trauma.
" Aku sudah merasa jauh lebih baik, walau tadi aku cukup panik karena hampir menabrak papa," jawab Anna.
" Aku mengerti. Lain kali hati-hati lah," ucap Athar. Anna mengangguk dengan tersenyum tipis.
" Ya sudah ayo masuk. Kamu harus tenangkan diri kamu. Ingat kamu akan membuat desain hari ini yang di saksikan banyak orang. Jadi tetap fokus. Tetap tenang dan jangan memikirkan apa-apa. Jika kamu ingin lolos ke tahap selanjutnya, jadi berusaha yang terbaik jangan mengecewakan orang-orang yang mendukungmu," ucap Athar memberi saran dan sepertinya semangat untuk Anna.
__ADS_1
" Kamu mengerti?" tanya Athar. Anna mengangguk.
" Ya sudah ayo masuk. Jennie sedang menjemput bahan-bahan mu," ucap Athar.
" Baiklah," sahut Anna dan Athar menggengam tangannya memasuki perusahan itu.
Athar memang tidak mengamuk seperti biasanya pada Anna. Mungkin sudah capek dengan marah-marah pada Anna yang selalu menanggap semuanya spele. Ya bagaimana tidak spele tidak bisa menyetir namun sok-sokan untuk menyetir. Jadi Athar lebih tenang menghadapi Anna sekarang ini.
Ternyata kebersamaan Athar dan Anna yang singkat itu di lihat oleh Chandra yang mengamati hubungan Anna dan Athar.
" Jadi Anna benar-benar ingin bermain-main denganku. Tidak Anna papa bukan tandingan mu. Athar itu calon kakak iparmu dan tidak seharusnya kau mendekatinya Anna. Jika kau menginginkan pria kaya. Kau bisa membicarakannya dengan papa. Maka akan di Carikan dan berubah lah menjadi anak baik dan penurut," batin Chandra.
**********
Akhirnya apa yang di tunggu-tunggu pun telah tiba. 20 para peserta dalam pembuatan desain karya mereka sudah berada di tempat masing-masing dan sudah mulai mengerjakan apa yang mereka kerjakan. Yang melakukan yang terbaik untuk karya mereka.
Semetara Athar matanya hanya fokus pada satu wanita yang terlihat lincah siapa lagi jika bukan Anna dan ini ke-2 kalinya Athar melihat Anna serius dalam suatu hal yang pertama sewaktu mengobati tangannya dan yang kali ini lincahnya dengan tangan bergerak dengan kaki di mesin jait Anna terlihat fokus dan seperti wanita karir yang begitu elegan.
Berbeda dengan Aurelia yang tidak fokus. Karena fokusnya pada Athar yang manatanya tidak lepas dari Anna. Jelas ada kecemburuan untuk Aurelia yang sungguh betapa bencinya situasi itu dan sampai tangannya beberapa kali terkena tusuk jarum.
" Athar kau benar-benar tidak menghargaiku," batin Aurelia yang fokusnya telah hilang.
" Fokus Aurelia. Kau bisa kalah jika tidak fokus," batin Aurelia yang berusaha untuk tenang dan fokus pada pekerjaannya.
Media juga terlihat meliput segala kegiatan itu. Dan juga banyak yang menonton di sana para karyawan dan pasti ada Sana dan Olive yang membentangkan spanduk BTS.
" Aku yakin Anna pasti menang," ucap Sana dengan yakin.
__ADS_1
" Ya iyalah, kita yang dukung dia," sahut Olive.
" Lihat Anna begitu lincahnya dan lihat lawan-lawan Anna sangat tidak ada apa-apanya. Pada ketakutan," ucap Sana yang meremehkan lawan-lawan Anna.
" Iya kamu benar. Anna punya kita pasti menang," sahut Olive yang tersenyum lebar yang mana mereka begitu bahagia dan dengan semangatnya mendukung Anna.
" Kita doakan saja untuk Anna agar benar-benar menang dan dia bisa membuat desain terbaik dari Perusahan papamu," ucap Sana.
" Tenang Sana papa ku itu sangat profesional orangnya," sahut Olive.
" Anna tetaplah berjuang kalahkan kakakmu yang sombong itu. Kau pantas menunjukkan keahlianmu tampar mereka Anna dengan karyamu, mereka selalu menghinamu dan meremehkanku aku percaya kamu bisa menghadapi semuanya Anna," batin Sana yang terus berdoa untuk temannya itu.
" Aku melihat Anna sangat telaten menggunakan mesin seperti sudah sangat biasa," ucap Jennie pada Athar.
" Mungkin memang dia sudah biasa menggunakannya," jawab Athar dengan santai.
" Ya Allah Anna sama seperti ibunya yang bakat desain dalam menggunakan mesin dia sangat lincah. Aku jadi mengingat Maya duku yang menjadikan gaun pengantin untukku. Cara Anna dalam bekerja sama persis dengan Maya," batin Maharani yang teringat sahabatnya.
Bahkan Maharani tiba-tiba melihat Anna adalah Maya yang mana Maya menjait dengan senyuman. Namun tiba-tiba menangis dan tetap menjait yang tanpa di sadari Maharani air matanya menetes melihat halusinasi tersebut. Derry yang berada di samping mamanya melihat mamanya menangis membuatnya heran.
" Mama kenapa?" tanya Derry. Maharani tersentak dan tersadar. Lalu langsung dengan cepat menyeka air matanya.
" Tidak apa-apa. Mama tidak apa-apa," jawab Maharani yang tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
Ternyata Athar juga melihat mamanya yang tiba-tiba menangis. Athar melihat mamanya yang terus melihat Anna.
" Di mana ibu kandung Anna sebenarnya. Apa masih hidup atau sudah tiada," batin Athar yang begitu penasaran dengan orang tua kandung Anna dan ada rasa ingin membawanya pada Anna. Agar Anna tidak kesepian. Ya Athar mengetahui wanita itu selalu kesepesepian saat Anna mengigau di dalam hutan.
__ADS_1
Bersambung