Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 55 membawanya pulang.


__ADS_3

Tidak lama Athar akhirnya sampai di perumahan Anna. Athar memastikan berkali-kali dengan alamat yang masih menyala di handphonenya Anna dan memang benar itu alamat Anna.


" Apa memang dia tinggal di sini," gumam Athar menurunkan kaca mobilnya melihat-lihat di sekitar perumahan yang terlihat sepi itu dan Athar mengamati suasana di tempat tinggal Anna yang jelas ini pertama kali Athar menemui tempat seperti itu.


Sebenarnya tidak terlalu kumuh. Tetapi juga perumahan susun pasti sedikit berantakan ya Athar harus memaklumi dan siap mental untuk selanjutnya.


" Lalu dia mana tempatnya tinggal?" tanya Athar kebingungan. Athar hanya melihat lantai menjulang tinggi itu yang mana setiap teras di gunakan sebagai jemuran.


Athar menoleh ke arah Anna yang masih tidur, Athar mendekatinya ingin membangunkannya. Namun tidak jadi yang sepertinya Athar tidak tega membangunkannya dan membuatnya membuang napasnya kasar kedepan.


Athar hanya mencari masalah saja. Jadi kesusahan sendiri menghadapi Anna yang mana Anna masih dengan lelapnya tidur tanpa dosa.


Athar pun berpikir keras bagaimana cara mengetahui di mana letak rumah Anna. Athar memilih keluar dari kamar dan bertanya pada salah seorang warga yang di temuinya dan warga itu langsung memberi tahu di mana tempat Anna tinggal.


Setelah itu Athar membuka pintu mobil bagian Anna. Anna masih tertidur pulas tanpa bangun sedikitpun. Athar membuang napasnya perlahan dan membuka saefty belt Anna. Lalu langsung menggendong Anna ala bridal style keluar dari dalam mobil.


Anna terlihat nyaman dengan kepalanya yang menempel di dada Athar. Padahal Athar sudah sangat berat mengangkat tubuh kecilnya itu.


" Kau benar-benar menyusahkan," desis Athar kesal dengan melihat wajah Anna. Lalu Athar melangkahkan kakinya menuju tempat Anna tinggal.


Athar membawa Anna menaiki anak tangga yang panjangnya minta ampun yang mungkin akan sampai langit ke-7.


" Apa tidak ada lift di sini," gerutu Athar sesak napas menggendong Anna menaiki anak tangga.


" Ini lagi, bukannya bangun-bangun. Apa dia pikir tubuhnya tidak berat apa. Sudah tangganya kotor, lama lagi sampainya. Apa tidak bisa buat rumah tidak jauhnya minta ampun. Argghhh kenapa aku sial sekali," oceh Athar dengan napasnya naik turun yang kewalahan menggendong Anna.


Belum lagi gaun Anna yang beberapa kali hampir terinjak Athar dan bahkan mereka sampai ingin jatuh. Memang ada-ada saja kesialan yang di dapatkan Anna.

__ADS_1


Akhirnya penantian Athar telah tiba. Di mana Athar berdiri di depan rumah Anna. Masih menggendong Anna dengan mengatur napasnya agar stabil.


" Kenapa memilih rumah sejauh ini. Kenapa tidak sekalian saja tinggal di langit ke-7," oceh Athar dengan napasnya yang ngos-ngosan yang hanya bisa marah-marah pada wanita tidur.


Athar pun membuka pintu dengan kunci yang tadi di berikan warga yang di tanyanyainya dan Athar mendorong pintu dengan kakinya agar terbuka.


Jenjrejeng begitu masuk Athar harus di suguhkan dengan rumah Anna yang berantakan. Melihat dari ujung ke ujung memang penuh dengan berantakan.


Di atas meja penuh dengan sampah, bekas makanan belum lagi lantainya yang ada saja di atasnya di mana-mana berantakan. Tidak ada istimewanya sama sekali.


" Apa ini memang rumahnya," batin Athar masih terlihat schock dan tidak percaya.


Jika Anna memang tinggal di tempat itu. Athar melihat ada foto Anna menempel di dingding itu memang sudah memastikan jika itu rumah Anna. Ya namanya juga kuncinya pas. Ya pasti rumah Anna.


Athar melihat wajah Anna dengan geram yang mungkin jika Anna bangun dia akan menceramahi Anna sampai berlembar-lembar.


Bagi Athar itu bukan kamar bahkan. Gudang di rumahnya jauh lebih rapi dari pada kamar yang di mana-mana terdapat pakaian yang berantakan.


" Apa ini kamarnya, sepertinya ini bukan kamarnya," lirih Athar yang napasnya semakin sesak dengan kamar yang di anggapnya gudang.


" Kenapa dia bisa tinggal di tempat seperti ini," desis Athar yang schock dengan kamar itu. Athar benar-benar sial hari ini.


" Sebaiknya aku cepat pergi dari sini," ucap Athar tidak sanggup lagi membiarkan matanya melihat apa yang seharusnya tidak perlu di lihatnya.


Karena berjalan sudah tidak fokus. Athar pun melangkah mendekati tempat tidur. Namun kakinya tersandung dengan pakaian yang ada di lantai dan membuatnya jatuh bersama Anna.


Tak.

__ADS_1


Kepala Anna sampai terbentur kelantai membuat Athar kaget dengan matanya melotot hampir keluar.


" Hmmmm," lirih Anna mengigau dengan memegang kepalanya. Namun matanya masih terpejam.


Athar terlihat panik dan memeriksa cepat kepala Anna, dan untung tidak ada darah yang keluar membuat Athar bernapas lega. Dia bisa menjadi tersangka pembunuhan terhadap Anna.


" Itu salahmu sendiri, makanya jangan apa-apa di letakkan," oceh Athar menyalahkan Anna.


" Huhhhhhhhh," Athar menurunkan napasnya perlahan dan kembali mengangkat tubuh Anna dan membaringkannya di ranjang dengan lembut.


Athar menggeser-geser pakaian di sekitar tempat tidur dan Athar yang begitu ke lelahan menyandarkan tubuhnya sebentar di kepala ranjang. Matanya kembali melihat isi kamar yang memang bukan kamar baginya.


Bahkan saat menoleh kesampingnya. Matanya harus di suguhkan dengan pakaian dalam Anna. Dan Athar langsung mengalihkan dengan cepat pandangannya. Dengan napas naik turun Athar menoleh ke arah Anna dan yang sih tertidur pulas.


" Apa nyawanya masih ada. Bisa-bisanya sudah jatuh tidak terbangun sama sekali," ucap Athar geleng-geleng dengan Anna.


Mata Athar tiba-tiba melihat pipi Anna yang memerah dan pasti bekas tamparan dari Chandra. Athar menatap sendu wajah Anna dan perlahan tangannya mengusap lembut pipi itu.


Namun tidak lama Athar langsung di tersadar dan menjauhkan tangannya.


" Apa yang kau lakukan Athar. Kau benar-benar gila!" ucap Athar menggoyang-goyangkan kepalanya menyadarkan dirinya dengan tingkah aneh yang di lakukannya.


Mata Athar masih berkeliling melihat isi kamar itu dan stop melihat sesuatu di atas meja di mana seorang wanita muda yang di cium 2 anak kecil yang iya tau satu wanita itu adalah Aurelia karena Aurelia sudah 14 tahun saat itu. Yang Athar bisa menebak jika satunya adalah Anna.


Athar hanya menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Dan kembali melihat Anna.


" Kenapa dia bisa tinggal di tempat seperti ini, tapi seharunya aku tidak heran. Karena kelakuannya memang sudah terlihat saat bekerja di perusahaan ku," batin Athar geleng-geleng yang melihat wajah Anna yang masih pulas tidur.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2