
Sana, Lisa dan Olive pun melihat-lihat kedalam melihat rumah tersebut.
" Ini yang kau katakan mencari bahan," sahut Athar melihat Anna sinis.
" Kenapa sih dari tadi nggak percayaan. Kamu pikir aku bohong hah!" sahut Anna kesal.
" Sekarang katakan. Bagaimana aku percaya kata-kata mu," sahut Athar.
" Heh Pak Athar yang terhormat. Aku benar-benar mencari bahan. Kau yang terlalu berlebihan dengan berpikiran buruk kepadaku. Tadi kau bilang tadi bukan rumah yang aku tau. Kau lihat sendiri buktinya apa hah! kata bibiku. Rumahnya kotor dan segalanya. Kau masih mengatakan aku bohong," sahut Anna dengan kesal yang sudah berkacak pinggang.
" Kak Athar udah deh. Mending kak Athar pulang, memang kita menemani Anna kok untuk mencari bahan untuk karyanya ya kalau tinggal di manapun ya itu tidak ada masalah bagi kita," sahut Olive menambahi membela Anna.
" Siapa yang menyuruh kamu bicara," sahut Athar. Olive hanya bisa manyun dengan kakaknya yang super lebay itu.
" Ya namanya punya mulut," celetuk Olive.
" Masih berani menjawab," sahut Athar kesal. Olive pun memilih diam.
" Isssh, sudahlah mending kita istirahat, ayo Sana bentang itu kasurnya," sahut Anna melihat di sudut ruangan ada kasur lipat.
" Iya," sahut Sana.
" Tunggu!" cegah Athar.
" Ada apa lagi?" tanya Anna.
" Kalian bersihkan, di sapu dulu, di lap dulu di pel. Pastikan semuanya bersih," titah Athar.
" Ini itu sudah bersih," sahut Sana.
" Jangan membantah lakukan apa yang aku katakan. Jangan samakan jiwa jorok kalian denganku," sahut Athar.
" Lebaynya kumat," batin Anna.
" Lagian kita yang tidur di sini. Kenapa harus nyuruh-nyuruh di bersihkan. Lagian sudah bersih dan ini nyaman untuk kita," sahut Anna.
" Aku bilang jangan cepat laksanakan. Kamu Lisa cepat kamu atur orang-orang yang susah di kasih tau ini. Jika mereka tidak bisa beres. Kamu yang akan menjadi tumbalnya," sahut Athar memberi ancaman. Lisa bernapas dengan lemas yang pasrah dengan kehidupannya.
" Cepat!" bentak Athar.
__ADS_1
" iya- iya bos," sahut Lisa ketakutan
" Ayo Anna cepat," sahut Lisa yang ketakutan dan terlihat memohon pada Anna dan yang lainnya.
Anna, Olive dan sana hanya memutar bola mata dengan malas. Ya Olive dan Anna memang sudah tau tingkat higienisnya pria itu.
Anna, Lisa, Sana dan Olive akhirnya harus kerja bakti untuk membersihkan rumah sepetak itu. Mau tidak mau mereka memang harus melakukannya. Semua harus di laksanakan dengan perintah Athar. Di mana Athar seperti mandor dan terus menyuruh-nyuruh untuk yang ini, itu yang membuat mereka harus tahan batin.
Athar memang sangat cerewet masalah kebersihan jadi mohon harap di maklumi Pria yang satu itu. Anna, Olive Lisa dan Sana sudah berkali-kali menyapu, mengepel. Tetapi masih aja salah di mata Athar. Bahkan entah sudah berapa jam mereka membersihkan rumah sepetak itu dan benar-benar kinclong tanpa.
Mereka juga membentangkan kasur lipat yang menutupi lantai dan langsung sama-sama menghempaskan diri yang terlihat kelelahan dengan mengatur napas mereka yang terlihat naik turun.
" Ini bukan liburan tetapi kerja paksa, atau kerja rodi," keluh Anna.
" Benar, kenapa aku jadi ikut-ikutan. Hhhh, dia kan bos kalian," sahut Sana dengan napasnya tersenggal-senggal.
" Ahhhhhh, ini karma untuk kita semua. Karena sudah berbohong," sahut Lisa.
" Tidak ada karma. Siapa juga yang berbohong. Ingat kita harus bertahan," sahut Anna.
" Aku setuju sama Anna," sahut Olive.
" Iya ini memang tempat yang aku katakan kan buat healing," sahut Anna.
" Lagian indah kok," sahut Olive.
" Ayo anak-anak, makanannya sudah siap!" tiba-tiba bibi datang yang berteriak dari luar mereka melotot saling melihat dan dengan cepat bangkit untuk keluar dari rumah itu.
Kecuali Lisa yang masih punya images anggun yang bangkit perlahan dan langsung keluar dari rumah. Lisa juga harus geleng-geleng dengan teman-teman yang super heboh itu.
Bibi membawa makanan itu dengan menggunakan kantin dan meletakkan di atas bangku yang di bawah pohon.
" Ayo sini makan!" titah bibi. Mereka mengangguk dan berikan ke kursi itu berkeliling dengan kaki yang saling bersilah.
" Ini bakalan tahan?" Tanya Sana sangsi akan jatuh.
" Akan tahan jangan khawatir," sahut Bibi yang terus menata makanan itu.
" Hmmmm, lezat, lezat sekali," ucap Anna yang menelan salivanya yang begitu selera dengan makanan itu.
__ADS_1
Bibi hanya tersenyum mendengarnya menghidangkan menu makanan, ada sayur sop, ikan bakar, ada tempe dan tahu dan ada sambal yang menambah selera makan.
" Hmmm, di mana Pria tampan itu?" tanya bibi yang melihat-lihat di sekitarnya yang tidak melihat Athar.
" Ahhhh, jangan di pikirkan bi, paling di terjang ombak," sahut Anna yang sudah mulai mengambil nasinya. Bibi hanya geleng-geleng mendengarnya. Kalau Anna mengatai Athar langsung datang.
" Ayok nak ikut makan," sahut Bibi dengan ramah.
" Saya tidak lapar," jawab Athar.
" Sudahlah kak Athar jangan malu-malu. Ayo buruan makan," sahut Olive.
" Benar kan kita belum ada makan. Kalau kamu lapar, terus lemah, nggak ada tenaga. Lalu sakit yang jadi supir kita siapa coba," sahut Sana yang membuat Anna tertawa kecil. Athar bertambah emosi dengan satu wanita yang mulai lebih berani kepadanya.
" Sana!" tegur Lisa.
" Sudah-sudah kalian jangan pada berisik. Ayo nak kamu juga ikut makan. Bukannya kamu juga teman mereka," sahut Bibi.
" Bibi, dia itu kakak aku," sahut Olive.
" Oh begitu. Ya sudah lalu kenapa masih berdiri. Ayo makan, kamu harus menikmati makanan masakan bibi," ucap bibi lagi yang mengajak Athar.
Athar tetap menolak sementara yang lain tetap makan yang tidak peduli Athar mau ikut atau tidak. Apa lagi Anna masalah perut mana bisa di tawar-menawar.
" Ya sudah bibi Kerumah dulu. Kalian sisakan ya untuknya jangan rakus-rakus, ingat masih ada teman kalian," ucap bibi memperingati anak-anak gadis itu.
" Iya bi," sahut semuanya serentak dengan mulut yang penuh dengan makanan.
" Makanannya enak-enak," sahut Olive.
" Masakan bibiku memang enak," sahut Anna.
" Kak Athar kenapa diam. Ayo makan!" ajak Olive lagi. Athar tidak peduli dan membiarkan saja mereka makan.
" Kalau lapar juga pasti makan, ya pasti karena tidak lapar makanya tidak makan," batin Anna.
Mereka makan dengan lahap yang menggunakan tangan. Karena memang tidak ada sendok makan yang di gunakan di sana. Walau Lisa dan Olive makannya harus super ribet. Karena kuku cantik mereka akan lecet jadi makannya super hati-hati. Hal itu jelas tidak berlaku untuk Anna dan juga Sana yang makan lahap menggunakan tangan seakan besok tidak ada hari lagi.
Bersambung
__ADS_1