
Hari pernikahan Aurelia dan Derry
Akhirnya hari pernikahan Aurelia dan Derry telah tiba di mana pernikahan mereka di adakan di luar gedung pernikahan yang pasti sudah di siapkan sedemikian rupa untuk pernikahan ke-2nya.
Pernikahan ke-2 nya tampak di hadiri tamu-tamu penting, dari keluarga Derry maupun Aurelia sampai kerabat dan juga teman-teman Derry dan Aurelia dari Perusahaan bisnis mereka dan tamu lainnya.
Pesta pernikahan itu juga tampak meriah dengan dekor yang indah ala-ala outdoor. Malam ini memang hanya tinggal resepsinya aja. Karena tadi pagi sudah di adakan ijab kabul dan pasti tadi pagi sempat di warnai rasa haru karena Aurelia harus menikah tanpa kehadiran sang papa.
Karena seharusnya yang menikahkannya adalah alm Chandra. Namun takdir berkat lain yang mana sang papa harus di panggil terlebih dahulu.
Tetapi dengan kekuatan keluarga yang selalu ada di sisinya. Mampu membuat Aurelia bangkit dan Aurelia bisa melewati semua rasa haru itu sampai acara ijab kabul selesai dan sekarang hanya tinggal resepsi yang mana Aurelia dan Derry yang ada di pelaminan yang terlihat sangat cantik dan tampan.
Kalau kata orang seperti ratu dan raja sehari. Seperti itulah pernikahan mereka berdua yang tidak henti-hentinya mengeluarkan semanan indah di antara ke-2nya.
Anna, Athar, Ari Purnama, Maharani, Maya, Anjani, Sana, Gibran sedang berkumpul dengan berbincang yang duduk di meja bulat sembari mereka menikmati makan bersama.
"Akhirnya kak Aurelia menikah juga dengan kak Derry dan acaranya juga berjalan dengan lancar," ucap Anna yang menjadi orang yang paling bahagia dengan kebahagiaan kakaknya.
"Menantu mama bertambah satu lagi," sahut Maya.
"Dan menantuku juga sudah 3 menantu cewek yang cantik-cantik," ucap Maharani.
"Jadi rumah bertambah ramai ya Maharani," sahut Anjani.
"Kalau rumah tidak akan pernah ramai mana ada menantuku yang mau menetap tinggal di rumah, Gibran sama Sana milih tinggal di rumah sendiri Athar dan Anna juga tinggal sendiri dan Derry sama Aurelia nggak tau juga nantinya. Ujung-ujungnya aku sama mas Ari yang hanya akan di rumah," sahut Maharani yang mulai mengeluh.
Anna, Athar, Sana dan Gibran mendengarnya hanya tersenyum. Keluhan itu kode untuk mereka harus tinggal serumah.
"Mama tapi kan kita sering sih datang kerumah," sahut Anna.
"Ya kan maunya setiap hari," sahut Maharani.
"Maharani kamu itu tidak boleh seperti itu. Anak-anak sudah punya keluarganya masing-masing. Jadi kalau mereka ada waktu pasti kok mereka akan mengunjungi kita," ucap Ari Purnama.
"Iya mah benar kata papa," sahut Gibran.
"Ya kalian jangan hanya kalau punya waktu saja baru datang. Tetapi benar-benar harus datang setiap hari," sahut Maharani.
"Iya-iya mah," sahut Athar.
"Tapi masih ada Olive di sana bukan," sahut Maya.
"Olive juga selalu merasa sudah dewasa dan aku takut dia akan mengikuti jejak kakaknya yang akan menikah," ucap Maharani yang tidak siap akan hal itu.
"Mama jangan mulai deh, Olive itu memang sudah dewasa dan pasti akan menikah," sahut Gibran.
"Ya tapi tidak sekarang juga, mama belum siap," sahut Maharani.
"Tapi kan mah, mama harus mempersiapkan diri. Karena hari itu pasti ada," sahut Athar.
__ADS_1
"Benar Maharani, melepas anak perempuan itu lebih sulit dari pada melepas anak laki-laki," sahut Maya.
"Iya makanya jangan bercerita masalah Olive. Membayangkannya saja aku sudah tidak ingin," sahut Maharani yang pusing sendiri. Anna, Athar, Gibran dan Sana hanya tersenyum dengan Maharani.
"Sudah biarkan mama kalian seperti itu," sahut Ari Purnama.
"Sudahlah kita makan lagi. Anna ini sayang kamu coba in nenas asam manisnya," ucap Anjani yang sangat peduli dengan menantunya itu.
"Iya ma," sahut Anna yang memberikan piringnya pada Anjani.
"Sayang tidak bisa," cegah Athar.
"Kenapa Athar?" tanya Anjani heran.
"Sayang kamu lupa, kalau kamu lagi hamil, sangat bahaya untuk bayi kita," ucap Athar mengingatkan istrinya.
"Ya ampun aku lupa," sahut Anna menepuk jidatnya.
"Apa kamu bilang Athar barusan Anna hamil!" sahut Maya dengan wajah terkejutnya.
Yang lain juga terkejut mendengar kehamilan itu dan Anna dan Athar saling melihat dengan tersenyum kaku yang sepertinya ke-2nya belum ingin memberitahu kabar kehamilan itu.
"Anna kamu sedang mengandung?" tanya Anjani ingin memastikan.
"Iya mah Anna sedang hamil,"sahut Anna dengan pelan dengan tersenyum.
"Ini sungguhan," sahut Maharani yang tidak percaya. Anna mengganggukan kepalanya membuat yang lain tampak begitu bahagia dengan terharu.
"Alhamdulillah ya Allah," sahut Maya yang langsung memeluk Anna dengan menciumi wajah Anna. Anjani dan Maharani juga melakukan hal yang sama.
Sangat terlihat mereka begitu bahagia yang mendapatkan kabar kehamilan tersebut sampai mereka tidak bisa berkata apa-apa.
Lain dengan Sana yang merasa terasingkan dan justru sangat sedih dengan melihat orang yang bahagia dengan kehamilan Anna. Namun dirinya sama sekali belum hamil sampai detik ini.
"Akhirnya papa punya cucu juga Athar," sahut Ari Purnama yang juga sangat bahagia dan Sana mendengar apa yang di katakan mertuanya itu semakin sakit hati. Sangat terlihat jelas mertuanya sangat menginginkan cucu selama ini. Namun tidak di katakan pada Sana.
Orang-orang yang begitu bahagia dengan memeluk Anna membuat mata Sana berkaca-kaca dan Gibran suaminya melihat reaksi sang istri yang membuat Gibran pasti tau Sana akan sedih. Apa lagi Sana sangat terlihat jelas ingin sekali cepat-cepat punya anak.
"Anna kamu harus jaga kesehatan ya sayang, kamu jangan lelah-lelah," ucap Maya memberi ingat putrinya.
"Benar Anna, kalau ada apa-apa kamu harus bilang sama mama," sahut Anjani.
"Kamu sebaiknya tinggal di rumah mama saja. Biar mama bisa kontrol kamu," sahut Maharani. Mereka seakan melupakan perasaan Sana yang sejak tadi di tahannya.
Karena tidak tahan dengan apa yang di depannya. Sana pun akhirnya memilih berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi meninggalkan meja itu. Anna pun melihat kepergian Sana dan Anna menyadari jika Sana pasti sedih dengan kehamilannya yang mana Anna yang mendahului Sana.
"Ada apa dengan Sana. Apa sana sedih dengan kehamilan ku," batin Anna yang jadi kepikiran dengan sahabatnya itu.
"Anna kamu dengar mama tidak?" tanya Maya membuat Anna yang melamun jadi sedikit kaget.
__ADS_1
"Iya mah, Anna dengar kok," sahut Anna yang tersenyum kaku yang fokus sudah kemana-mana yang pasti sudah pada Sana yang pergi tiba-tiba dan Gibran kelihatannya tidak bisa berkata apa-apa. Karena jika dia bicara lagi pasti mereka akan ribut lagi.
********
Sana memasuki kamar mandi dengan sana mencuci wajahnya yang mana air matanya keluar.
"Lisa sudah melahirkan dan Anna sekarang sedang hamil. Padahal aku yang pertama yang menikah. Lalu kenapa aku tidak mendapatkan kepercayaan. Apa kesalahan ku. Apa dosa yang aku lakukan. Kenapa aku tidak hamil sampai detik ini," Sana mengeluh dengan keadaannya yang menangis dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.
"Apa sahabatku sekarang sedang sedih dengan kehamilan ku?" tiba-tiba terdengar suara yang membuat Sana langsung berbalik badan karena mengenal suara itu yang ternyata Anna.
"Anna!" sahut Sana dengan menyeka air matanya dan kembali menghadap cermin dengan mengatur napasnya.
"Aku sedang mengandung dan ternyata kebahagiaan ku membuat sahabat ku jadi sedih," ucap Anna yang mendekati Sana berdiri di samping Sana dan melihat Sana dari cermin.
"Apa aku salah Sana?" tanya Anna. Sana menangis sengugukan dan kembali menangis dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.
"Aku tidak bermaksud Anna. Aku hanya terbawa perasaan saja. Tetapi sungguh aku tidak ada maksud apa-apa," ucap Sana. Anna yang mendengarnya langsung memeluk sahabatnya itu.
"Aku mana mungkin bahagia dengan kehamilanku jika kamu sahabat terdekatku saja tidak bahagia," ucap Anna.
"Jangan mengatakan itu Anna, aku hanya terbawa perasaan saja. Aku bahagia kok, aku sangat bahagia," sahut Sana yang merasa dia seperti anak kecil yang sangat mudah baper dan tanpa sadar justru membuat Anna sahabatnya jadi merasa bersalah.
Anna melepas pelukannya dengan memegang ke-2 bahu Sana dan menatap Sabahatnya yang penuh dengan air mata itu.
"Anak itu rezeki dan mungkin kamu belum mendapatkan rezeki. Sana aku tau perasaan kamu seperti apa. Tetapi percayalah Tuhan tidak pernah tidur dia akan melihat siapa yang berusaha dan kamu sudah banyak berusahalah selama ini dan hanya tinggal menunggu waktunya saja," ucap Anna dengan bijak.
"Maafkan aku Anna, aku hanya terbawa perasaan saja. Kamu adalah sahabat ku dan sekalian adalah iparku dan aku sangat bahagia kok dengan kehamilan kamu dan semoga saja aku bisa cepat menyusul," ucap Sana dengan tersenyum.
Anna menganggukan kepalannya dan kembali memeluk Sana Sahabatnya itu.
"Aku juga mendoakan hal itu, semoga kamu cepat menyusul," ucap Anna yang terus memberikan semangat dan pasti doa untuk sahabatnya itu.
Ternyata Gibran dan Athar berada di depan kamar mandi di mana Gibran tersenyum lega dengan Anna yang dapat menenangkan istrinya dan Athar menepuk bahu Gibran yang pasti memberikan suport dan semangat untuk kakaknya itu juga.
Anna dan Athar memang sangat dewasa yang sangat paham harus melakukan apa, agar tidak menyinggung perasaan siapa-siapa.
"Ya sudah kita kembali yuk!" ajak Anna yang sudah melepas pelukannya dari Sana.
"Iya," sahut Sana yang merasa jauh lebih tenang dan mereka ber-2 langsung keluar dari kamar mandi dan langsung berhadapan dengan suaminya yang mana Gibran langsung memeluk istrinya.
Athar juga merangkul istrinya dan mereka sama-sama tersenyum.
"Athar selamat ya kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah," ucap Sana.
"Sama-sama Sana, kamu bantuin Anna ya, soalnya Anna ini orangnya sangat teledor," sahut Athar.
"Kalau itu aku juga tau," sahut Sana.
"Isss, apaan sih," sahut Anna kesal yang mengundang tawa di antara semuanya.
__ADS_1
Bersambung