Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Episode 311


__ADS_3

Acara Gala primer yang di adakan Gibran akhirnya di laksanakan juga. Cuaca hari ini sangat bagus yang membuat langkah orang-orang yang menghadiri acara tersebut tanpa terhalang.


Keluarga Gibran juga sudah menuju tempat lokasi tersebut yang mana mereka sudah berdandan secantik mungkin untuk menghadiri acara Gibran.


Tidak kalah dengan Anna yang menggunakan dress putih selututnya yang kelihatan begitu anggun dengan rambutnya yang di sanggul cepol. Tangan Anna dan Athar saling menggenggam saat turun dari mobil memasuki gedung pemeran yang di lakukan Gibran. Pasangan itu memang terlihat sangat serasi dan selalu romantis yang membuat yang lainnya iri saja melihat pasangan itu.


Namun berbeda dengan Aurelia dan Olive yang terlihat saling ketus yang mungkin masih mengingat kejadian tadi malam. Mereka saling melihat dengan sinis dan sama-sama sewot.


" Aurelia kamu kenapa sih?" tanya Maya yang berdiri di samping Aurelia melihat Aurelia menatap Olive dengan kesal.


" Aurelia sedang kesal," geram Aurelia.


" Kesal kenapa?" tanya Maya heran.


" Gara-gara anak kecil yang kecentilan," jawab Aurelia kesal dengan menguatkan suaranya yang sengaja. Supaya didengar Olive. Olive memang mendengarnya dan mengepal tangannya dan Aurelia langsung memasuki tempat itu dengan penuh kekesalan membuat Maya heran.


" Kenapa sih tuh anak," ucap Maya geleng-geleng.


" Ada apa Maya?" tanya Anjani yang baru keluar dari mobil dan melihat temannya seperti memikirkan sesuatu.


" Nggak tau tuh Aurelia. Aneh-aneh aja kelakukannya!" jawab Maya.


" Sudahlah palingan lagi Pms. Ayo masuk!" ajak Anjani. Maya mengangguk dan langsung masuk.


" Isss, emang dasar menyebalkan!" Olive yang merasa di singgung mengepal tangannya dan memukul-mukul pada telapak tangannya. Lisa dan Sana hanya saling melihat dengan geleng-geleng.


" Olive apa itu artinya kamu akan saingan dengan Aurelia?" tanya Sana.


" Maksud kamu?" tanya Oliver.


" Maksud Sana itu sudah menjelaskan bahwa tadi malam itu kamu dan Aurelia rebutan Mahendra tidak jelas begitu. Itu menandakan bahwa Aurelia juga menyukai Mahendra dan tadi ekspresinya sama kamu sudah juga menjelaskan dia itu kesal dengan kamu dan mengatai kamu anak kecil," ucap Lisa menjelaskan.


" Aku tidak peduli. Mau dia saingan denganku atau tidak. Aku tidak peduli sama sekali. Aku menyukai kak Mahendra dan masa bodo dengan dia. Kak Mahendra juga tidak akan menyukai wanita yang sok dewasa seperti dirinya," ucap Olive dengan menunjukkan kekesalannya.


" Ya ampun Olivie. Mahendra juga belum tentu suka sama kamu dan juga Aurelia. Udah deh nggak usah merebutkan laki-laki yang tidak jelas. Buang-buang waktu tau. Jadi cewek itu ada harga dirinya dong," ucap Sana dengan tegas.


" Setuju!" sahut Lisa.


" Argggghhh kalian berdua ini sama saja. Tidak mau mendukungku," sahut Olive kesal.


" Ehemmm!" tiba-tiba terdengar deheman yang membuat Olive, Sana dan Lisa melihat ke arah tersebut yang mana ternyata Jennie.


" Kalian ngapain masih di luar. Ayo masuk! acaranya sudah mau di mulai," ucap Jennie dengan wajah datarnya.


" Oke," sahut mereka bertiga dan langsung memasuki tempat tersebut untuk mengikuti acara yang sepertinya sudah di mulai di dalam sana. Jennie menghela napasnya dan juga ikutan masuk kedalam.


********


Para tamu yang di undang di sediakan tempat duduk dengan meja bulat yang satu meja terdapat 6 bangku.


Di setiap ruangan, baik di sudut di dingding dan di tempat lainnya terdapat banyak lukisan karya dari Gibran. Dari pemandangan laut, pengunungan, hutan, tanaman dan yang lainnya yang begitu indah dan pasti memiliki makna tersendiri yang mencuri banyak perhatian.


Sementara di atas panggung terdapat satu lukisan yang masih tertup kain dan itu adalah lukisan yang kemarin ingin di pegang Sana. Namun di cegah Gibran yang sampai sekarang lukisannya belum di buka yang mungkin catnya belum kering.


Athar, Anna, Sana, Lisa, Olive dan Jennie satu meja. Aurelia, Mahendra, Derry, Maya, Anjani, Marko satu meja, sementara Maharani dan Ari Purnama duduk paling terdepan yang khusus untuk 2 orang tuanya yang tempatnya memang sudah di siapkan oleh Gibran.


Acara terlihat ramai dengan banyaknya para tamu yang berdatangan dan terdengar cuitan yang memuji Gibran dengan segala karya yang dibuat oleh Gibran.

__ADS_1


" Gila ya Gibran keren banget bisa buat acara sebagus ini," ucap Anna melihat di sekelilingnya.


" Iya benar, Sana kamu juga ikut membantunya bukan?" tanya Lisa.


" Baru juga kemarin yang aku ikut membantunya. Kan kamu tau sendiri aku aja baru tau kalau Gibran mengadakan gala primer," jawab Sana.


" Tapi kamu pasti tau dong sana semua lukisan ini. Kan kamu sering banget di baskemnya kak Gibran," sahut Olive.


" Ehemmm!" Anna berdehem terlihat menggoda Sana.


" Iya-iya aku tau semua lukisan yang terpajang dan juga tau maknanya dan iya yang di depan itu aku yang tidak tau. Karena Gibran bilang cat belum kering dan tidak bisa buka dan bahkan sampai sekarang juga tidak di buka," ucap Sana yang masih penasaran dengan lukisan yang mencuri perhatian itu.


" Mungkin itu yang paling mahal," ucap Athar.


" Mungkin saja," sahut Sana.


" Selamat pagi semuanya!" sapa Gibran yang sudah berdiri di atas panggung yang menyapa hormat para tamu yang hadir.


" Saya sangat berterima kasih untuk waktu yang kalian berikan kepada saya untuk menghadiri acara ini. Rasa terima kasih tidak lupa pada 2 orang tua saya yang sangat hebat mama dan papa yang memberi saya banyak masukan, dukungan yang besar dan pasti doa-doa yang tulus dari mama dan papa," ucap Gibran menatap ke-2 orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.


Ari Purnama dan Maharani tersenyum dengan rasa bangga pada Gibran. Bahkan kata-kata Gibran menyentuh itu mendapat sambutan tepuk tangan yang meriah.


" Makasih mah. Makasih pah," ucap Gibran lagi. Maharani dan Ari Purnama mengangguk-angguk.


" Patinya buat saudara-saudara saya yang hebat-hebat. Athar yang dengan pacarnya yang selalu nempel-nempel," ucap Gibran melihat ke arah Athar dan Anna. Mendengar hal itu membuat Anna sewot dengan menarik ujung bibirnya kesamping. Namun Athar tersenyum dengan mengangguk kepalanya.


" Juga Derry dan Aurelia, mereka saudara-saudara saya yang selalu mendukung saya memberikan masukan pada saya. Terima kasih untuk kalian yang telah membuat saya seperti ini," ucap Gibran. Derry mengangkat 2 jempolnya memberikan semangat untuk kakaknya itu.


" Dan pasti untuk orang-orang yang ada di di balik terjadi acara ini. Acara besar ini tidak lepas dari kerja keras tim yang membantu dan terima untuk Bu Anjani yang memberikan kesempatan dan tempat yang bagus untuk saya. Bu Anjani ibu ke-2 saya yang sangat saya hormati," ucap Gibran. Anjani tersenyum mendengarnya. Begitu juga Athar. Ibu kandungnya memang di anggap orang tua bagi adik dan kakaknya.


" Ya saya sangat berterima kasih untuk semua yang ada di belakang saya," ucap Gibran dan kembali mendapat sambutan tepuk tangan.


" Kak Gibran kenapa nggak sebut Sana sih. Bukannya Sana selalu bersamanya ya. Issss kak Gibran masa iya dia tidak menyukai sana," batin Olive yang menunggu-nunggu kakaknya menyebutkan nama temannya. Olive juga melihat ke arah Sana dan terlihat Sana berekspresi tidak terbaca.


" Kalian semua bisa melihat semua lukisan di tempat ini dengan banyak makna dan filosofi yang saya ciptakan sendiri saya hanya berharap karya-karya saya yang pasti banyak kekurangan sangat mohon di maklumi. Karena saya masih pemula," ucap Gibran dengan kerendahan hatinya.


" Dan ada satu yang ingin saya sampaikan sebelum kalian berkeliling melihat semua lukisan saya. Semuanya bisa di hargai dengan mata uang. Namun lukisan yang ada di samping saya ini. Adalah yang paling mahal dan ini tidak di jual melainkan untuk Hadian kepada seseorang yang paling berarti dalam hidup saya," ucap Gibran.


Kata-kata Gibran membuat orang penasarannya.


" Saya bukan orang baik saya sangat jahat bahkan saking jahatnya saya. Saya tidak mau mengakui kesalahan saya. Namun ada seseorang yang yang menyadarkan saya dan selalu berada di sisi saya mendukung saya dan pasti menceramahi saya dengan mulutnya yang apa adanya," ucap Gibran.


" Aku tidak bisa memberikan apa-apa kepadamu. Atas apa yang kau lakukan kepadaku. Aku hanya bisa memberikan ini untukmu," ucap Gibran menarik napasnya panjang dan langsung menarik kain pada lukisan itu.


Jreng-jreng.


Lukisan yang mengejutkan meja Anna. Sangat jelas seorang wanita setengah yang menghidangkan makanan di atas meja dan wanita itu tak lain adalah Sana. Hal itu membuat Anna dan yang lainnya terkejut dan langsung melihat ke arah Sana dengan wajah Sana yang tidak kalah Schok. Di mana dirinya menjadi salah satu Icon dan itu adalah lukisan yang membuatnya penasaran.


" Oh, my God Sana!" lirih Lisa yang malah sport jantung.


" Wanita ini adalah wanita yang menjadi bagian dalam hidup saya. Pertemuan kamu sangat singkat. Dia marah-marah kepada saya. Namun saya sepertinya takut kepadanya dan bahkan saya menyadari semua kesalahan saya karena dia," ucap Athar yang menatap Sana dengan tulus.


Mata Sana berkaca-kaca mendengar kata-kata Gibran.


" Tidak tau hati apa yang di milikinya. Dia sangat baik dan bahkan saat saya pulang dari Penjara dia selalu mendukung saya dengan semua ketulusannya. Dia wanita yang begitu berharga bagi saya. Di Sana yang ada di sana," ucap Gibran.


" Ya ampun Gibran manis sekali," puji Anna yang merasa iri.

__ADS_1


Karena Gibran terus melihat ke arah Sana membuat orang-orang penasaran dan melihat wanita yang memakai dress biru Dongker itu yang sudah terlihat air mata di pipinya yang tidak bisa berkata apa-apa.


Ari Purnama dan Maharani tersenyum dengan saling melihat yang ikut bahagia.


" Sana, aku hanya bisa memberimu ini. Maaf ini tidak seberapa dengan apa yang kau lakukan. Kau mengubah hidupku dan aku ingin kau terus di sisiku. Jadilah istriku Sana," lanjut Gibran yang semakin mengejutkan yang mana langsung to the point yang melamar Sana.


" What langsung di lamar," ucap Olive menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang mana jantungnya yang ingin copot.


Gibran menarik napasnya dengan perlahan. Lalu langsung menuruni anak tangga menghampiri meja sana. Gibran yang tanpa basa-basi langsung berlutut di depan Sana dan mengeluarkan kotak cincin di sakunya dan langsung membuka kotak cincin itu menunjukkan pada Sana.


" Menikahlah denganku," ucap Gibran yang kembali melamar Sana yang membuat Sana benar-benar shock.


" Gibran!" lirih Sana dengan air matanya yang mengalir terus dan bahkan berjongkok untuk membuat Gibran berdiri. Dia tidak ingin Gibran berlutut di depannya.


" Sudah Sana terima saja," ucap Lisa yang begitu bahagiannya.


" Kamu mau kan menikah denganku?" tanya Gibran lagi yang berdiri di hadapan Sana yang mana perasaan Sana benar-benar di cabik-cabik- Gibran.


Sana mengangguk-anggukkan kepalanya dan Gibran tersenyum langsung memasangkan cincin yang di siapkannya untuk Sana dan setelah terpasang dan sangat pas mereka langsung berpelukan dan mendapatkan tepuk tangan yang meriah.


Termasuk dari sahabatnya yang malah mewek melihat Sana yang sudah di lamar. Ternyata di antara mereka ber-4 sana yang sebentar lagi akan sold out.


" Gibran keren sekali sayang. Dia sudah melamar Sana saja," ucap Anna yang sepertinya memberi kode untuk kekasihnya.


Dia yang pacaran eh sana yang di ajak menikah. Tidak tau Athar akan peka atau tidak dengan kata-kata Anna.


Sementara Maharani dan Ari Purnama terlihat bahagia.


" Kita akan punya menantu sebentar lagi," ucap Ari Purnama


" Iya kaku benar mas. Aku tidak percaya ternyata sekarang Gibran begitu dewasa dan bahkan sudah nekat untuk menikah," ucap Maharani.


" Iya Maharani dan itu semua karena kamu yang telah tulus menyayanginya," sahut Ari Purnama yang sangat beruntung mempunya istri seperti Maharani.


Sementara di meja Maya dan Anjani juga saking melihat dengan bahagia sama-sama.


" Anak kamu kapan melamar anakku?" tanya Maya yang terlihat menuntut sahabatnya itu.


" Bersabar Maya kan kakaknya duluan," sahut Anjani.


" Awas saja anakku di gantungi terus. Di pacari mulu nggak di nikah-nikahi," ucap Maya.


" Kamu ini. Athar dan Anna saling mencintai. Mungkin niat menikah sudah ada di antara ke-2nya. Mungkin waktunya saja yang belum ada," ucap Anjani.


" Iya kita doakan saja yang terbaik untuk Anna dan Athar. Semoga cepat menyusul Gibran," ucap Maya.


" Amin," sahut Maya.


Melihat lamaran Gibran kepada Sana. Ternya membuat Jennie mengingat ke belakang di mana di pinggir pantai Mahendra pria yang di cintainya yang melamar dirinya dan mereka saat itu sama-sama terlihat begitu bahagia.


" Seandainya semuanya tidak terjadi. Aku tidak mungkin pergi dari hidupmu Mahendra dan mungkin itu sudah jalannya yang memang kita tidak berjodoh," batin Jennie yang mengingat-ingat masa-masa indahnya bersama Mahendra.


" Aku tau Jennie kau masih menyukai. Namun apa yang membuatmu tidak bisa menerimaku. Alasan Olive dan Aurelia sangat tidak masuk akal. Karena kau tau aku tidak pernah menyukai mereka," batin Mahendra yang mana matanya melihat terus ke arah Jennie.


Meski duduk di meja berbeda. Tetapi pasangan mantan kekasih itu saling melihat dengan tatapan yang sangat dalam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2