
Pagi hari kembali tiba. Anna membuka matanya perlahan dan melihat langit kamarnya. Namun kembali Anna menutup lagi matanya dan membukanya lagi.
" Apa aku ada di rumah!" batin Anna yang terlihat lelah.
Anna memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa begitu berat, dia juga memukul-mukul kepalanya dengan tangannya yang sakitnya minta ampun.
Anna melihat di sekitarnya memastikan dia ada di mana. Anna pun duduk dengan begitu lemahnya antara lemah dan nyawanya yang belum terkumpul sama sekali. Mata itu sungguh begitu sulit untuk terbuka lebar.
" Aku memang ada di rumah!" Lirihnya, Anna melihat dirinya masih dengan pakaian yang di pakainya sebelumnya. Namun tertutup dengan jas.
" Punya siapa ini?" tanyanya penuh kebingungan. Dia keliatan belum mengingat apa yang terjadi. Anna membuka jas itu dan menguap panjang.
Dengan matanya yang masih berat Anna pun bangkit dari tempat tidur dan langsung keluar dari kamarnya. Anna membuka pintu kamarnya dengan menguap panjang yang menutup mulutnya dengan matanya yang terpejam.
" Mau pipis," gumam Anna dengan masih menguap Anna menuju kamar mandi dan ketika ingin membuka kamar mandi pintu sudah di bukakan dan menampilkan Athar yang membersih- bersihkan kemejanya.
" Aaaaaaaaaaaa!" Teriak Anna dengan matanya yang melotot dan mulutnya yang lebar membuat Athar tersentak kaget dan kebisingan dengan suara teriakan Anna dengan volume tanpa batas sampai gendang telinganya yang ingin pecah.
" Anak ini benar-benar," geram Athar yang langsung membungkam mulut Anna dengan menyandarkannya kedingding menghimpit tubuh Anna dengan tangan Athar menutup mulut Anna.
" Mpt, mpt," Anna memberontak dengan suara yang tidak bisa di keluarkan.
" Diam lah, kenapa kau tidak bisa diam!" gertak Athar dengan penuh emosi menatap tajam Anna.
Anna yang di bekap langsung menggigit tangan Athar.
" Auhh, hey!" teriak Athar melepas bekapannya dan menggoyang-goyangkan tangannya yang di gigit Anna.
" Kau benar-benar binatang buas," geram Athar.
" Tolong! ada maling!" teriak Anna yang semakin menjadi-jadi.
" Wanita ini benar-benar gila," desis Athar kehilangan kesabaran.
" Anna!" bentak Athar yang tidak kalah kuatnya suaranya membuat Anna tersentak kaget.
" Kau bisa diam tidak. Apa yang kau lakukan!" gertak Athar yang pagi-pagi sudah darah tinggi.
" Aku yang seharusnya mengatakan itu. Apa yang kau lakukan di rumahku. Atau jangan - jangan kau sudah," sahut Anna dengan pikirannya sudah kemana-mana. Tidak hanya menuduh Athar maling sekarang pikirannya semakin jauh.
" Kau apa kan aku!" teriak Anna dengan melihat tubuhnya dan menutup dadanya dengan menyilangkan tangannya di dada. Athar harus pasrah dengan Anna yang kembali kumat yang pasti sudah berpikir yang aneh-aneh dengannya.
" Kau, kau benar-benar, kau sudah," geram Anna menunjuk Athar.
" Heh, aku tidak melakukan apapun kepadaku. Aku sudah mengatakan. Kau bukan tipeku dan satu lagi. Sebelum kau mengataiku yang tidak-tidak. Ingat duku. Kenapa kau bisa ada di sini!" teriak Athar dengan geram.
" Agrhhhh," geram Athar yang ingin menerkam Anna dengan tangannya yang sudah ingin memegang kuat kepala Anna. Namun semua itu di tahannya dan pergi dari hadapan Anna.
__ADS_1
" Apa yang terjadi. Kenapa dia ada di sini," batin Anna heran, mengingat-ingat.
" Kenapa dia yang marah-marah, ini kan rumahku," Anna terus bergerutu kebingungan.
" Astaga, bukannya tadi malam dia menolongku dari pria-pria itu dan aku juga masuk mobilnya dan mengantarku pulang karena dia meminta alamat ku," ucap Anna yang bisa mengingat dengan cepat.
" Aisssssssss kenapa aku tidak ingat," ucap Anna menepuk jidatnya dan menghampiri Athar yang duduk di sofa dan Anna duduk di depannya yang melihat Athar masih kesakitan dengan tangannya.
" Ehem!" Anna berdehem di depan Athar, Athar melihat kesal ke arahnya.
" Hmmm, sepertinya ini kembali terjadi salah paham. Hmmm aku memang bangun tidur selalu seperti itu," ucap Anna dengan gugup yang sekarang sudah benar-benar mengingat kejadian sebelumnya dan mencari alasan di depan Athar.
" Aku lupa kalau tadi malam. Kau mengantarku pulang," ucap Anna dengan senyum cengengesan. Melihat senyum tanpa dosa itu hanya membuat Athar ingin menerkam Anna.
" Kau itu manusia atau bukan?" tanya Athar kesal.
" Ya manusia lah. Masa iya hewan," sahut Anna santai.
" Ada saja jawabannya," geram Athar
" Ya namanya di tanya ya pasti akan di jawab, aneh," sahut Anna. Athar langsung menatapnya tajam dengan menaikkan 1 alisnya.
" Hmmm, tau dari mana kamu rumahku?" tanya Anna mengalihkan suasana tegang.
" Kau yang memberi tahunya," sahut Athar. " Makanya punya otak itu di pakai untuk mengingat. Jangan asal main tuduh saja," lanjut Athar dengan kesal.
" Kau itu kesalahanmu bebal yang terus berulang-ulang," sahut Athar menggurui Anna. Anna berdecak kesal mendengarnya.
" Iya deh kau yang paling benar. Hmmm lalu tempatnya tau dari mana. Dan kenapa bisa masuk, dapat dari mana kuncinya?" tanya Anna dengan seribu pertanyaan.
" Aku bertanya pada warga dan kebetulan aku bertanya pada orang yang kau titipkan kunci padanya," jawab Athar dengan singkat.
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Anna mengangguk-angguk.
" Lalu kenapa kau tidak pulang?" tanya Anna. Athar mendadak diam yang tidak tau menjawab apa.
" Aku capek," sahut Athar dengan cepat.
" Ohhhh," sahut Anna mengangguk-angguk.
" Kepala ku sakit sekali. Apa aku terbentur sesuatu ya," keluh Anna memegang kepalanya.
Athar melototkan matanya mendengar ucapan Anna. Athar mengingat kejadian tadi malam membuatnya ngeri yang mana memang Anna terbentur.
" Jangan-jangan dia geger otak lagi," batin Athar terlihat khawatir.
" Apa aku ada terbentur?" tanya Anna pada Athar membuat Athar terdiam yang bingung.
__ADS_1
" Ada?" tanya Anna lagi.
" Ya mana aku tau. Kenapa bertanya kepadaku," sahut Athar.
" Iya, sih," sahut Anna menggoyang-goyangkan kepalanya dan Athar menghela napasnya yang lega. Anna tidak mencurigainya yang menyebabkan kepala Anna terbentur.
" Bersiaplah!" ucap Athar. Membuat Anna melihatnya serius.
" Bersiap mau kemana?" tanya Anna.
" Ya kekantor. Ini sudah siang," jawab Athar.
" Apa tidak bisa libur apa," sahut Anna mengeluh.
" Kau mau menjadi malas-malasan," sahut Athar dengan cepat Anna langsung menggeleng.
" Nggak kok siapa bilang," sahut Anna.
" Ya susah sana bersiap. Jangan membuatku menunggu," sahut Athar.
" Kamu duluanlah, aku pergi sendiri," ucap Anna.
" Kau mengusirku," sahut Athar menaikkan 1 alisnya.
" Ya aku tidak tau sih apa nama lainnya selain mengusir," sahut Anna dengan santai.
" Kau benar-benar sangat berani kepada ku Anna, bukannya berterima kasih aku mengantarmu pulang kau menuduh yang tidak-tidak dan sekarang mengusirku,"' ucap Athar kesal. Pagi-pagi darahnya sudah mulai naik dengan perbuatan Anna.
" Bu_ bu_bukan seperti itu. Begini. Aku pergi sendiri saja. Karena aku kan naik motor. Kalau pergi bersamamu. Itu artinya motorku akan tinggal dan pulang dari kantor nanti aku mau pulang naik apa, masa iya naik bus. Kan pasti akan mengeluarkan ongkos, sudah tau pengiritan. Orang kaya mah, tidak akan mengerti," ucap Anna dengan santai menjelaskan pada Athar.
" Ya, ketercuali...." sahut Anna membuat Athar menatapnya serius dengan menaikkan 1 alisnya.
" Kecuali apa?" tanya Athar.
" Kau memberiku ongkos pulang nanti," sahut Anna dengan berani tanpa ada malunya. Mendengarnya Athar sampai mendengus kasar.
" Baik," sahut Athar yang tanpa berpikir.
" Serius?" tanya Anna yang tidak percaya Athar main-main setuju saja.
" Iya," sahut Athar memastikan.
" Oke, kalau begitu. Awas kalau kau sampai bohong. Baiklah aku akan siap-siap dulu," sahut Anna langsung berdiri.
" Lumayan irit uang bensin," batin Anna tersenyum. Namun Athar geleng-geleng dengan Anna.
" Untung saja dia tidak geger otak. Tapi belum bisa di pastikan sih. Siapa tau ada bermasalah lagi di kepalanya," batin Athar yang masih kepikiran dengan benturan di kepala Anna.
__ADS_1
Bersambung