
Jakarta.
Akhirnya mereka sudah kembali ke Jakarta dengan keadaan semuanya yang pasti baik-baik saja dan Aurelia yang tidak baik-baik saja yang juga tidak tau apa yang terjadi pada Aurelia di Bali. Semua orang malas bicara kepada-nya dan membiarkan Aurelia mau suka-sukanya. Mau bunuh diri silahkan. Mereka semua sudah lelah menghadapi Aurelia yang tidak pernah dewasa dan berubah.
Setelah masalah selesai. Mereka juga kembali kerumah masing-masing. Begitu juga dengan Anna yang di antarkan Athar pulang hari ini yang mereka sama-sama keluar dari mobil dan Athar mengantarkan Anna sampai depan pintu.
"Kamu masuklah dan istirahat!" ucap Athar.
"Kamu mau kemana setelah ini. Kamu juga bukannya harus beristirahat?" tanya Anna yang melihat sudah malam hari.
"Aku kerumah sakit sebentar. Aku harus bicara sama Gibran. Sana bilang kondisinya sudah jauh lebih baik, juga sudah mulai bisa bicara dengan lancar. Jadi aku menemuinya untuk bicara kepadanya," jawab Athar.
"Tapi habis itu langsung pulang," ucap Anna yang tidak mau Athar terlalu lelah.
"Pasti Anna!" sahut Athar tersenyum tipis yang membuat Anna juga tersenyum.
Athar memegang pipi Anna sembari mengusap lembut dengan jarinya dan mencium kening Anna dengan lembut membuat mata Anna terpejam sementara.
"Aku pulang dulu! selamat malam," ucap Athar pamit. Anna menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada Athar.
"Selamat malam. Hati-hati menyetir," ucap Anna. Athar menganggukkan kepalanya dan ingin berpamitan pergi.
Namun tangan Anna menahan Athar.
Athar mengkerutkan dahinya heran dengan Anna "ada apa?" tanya Athar.
"Kamu melupakan sesuatu," ucap Anna.
"Apa?" tanya Athar. Anna berbisik di telinga Athar, "kenapa tidak mengatakannya mencintaiku?" ucap Anna. Athar menyunggingkan senyumnya.
"Aku mencintaimu," ucap Athar yang langsung mengucapkan kata cinta pada Anna yang membuat Anna langsung tersenyum yang mendapat ucapan cinta itu.
"Aku juga mencintaimu," sahut Anna.
"Ya sudah sana masuk!" suruh Athar. Anna mengangguk.
Anna menunggu pacarnya itu pergi dulu. Lalu memasuki rumah untuk segera beristirahat karena dia juga memang sangat lelah sebelumnya. Bisa di katakan mereka pulang balik dari Jakarta Bali, Bali Jakarta. Jadi pasti sangat lelah.
"Kamu baru pulang Anna?" tanya Maya yang menuruni anak tangga dan langsung menghampiri Anna.
"Iya mah," jawab Anna dengan suara lesunya.
"Kamu sangat lelah?" tanya Maya memegang pipi Anna.
"Lumayan," sahut Anna.
"Tapi masih bisa cerita dengan mama?" tanya Maya yang harus mendengar kronologi lengkapnya. Karena Anna hanya memberi dirinya kabar lewat telpon saja.
"Baiklah mah," sahut Anna yang tidak masalah dan langsung duduk di sofa dan Maya duduk di sebelahnya.
"Katakan sayang apa yang terjadi?" tanya Maya dengan memegang tangan Anna.
"Seperti yang Anna bilang kemarin. Kak Aurelia mengajak Mahendra ke Bali dan merencanakan hal yang tidak-tidak dengan alih-alih ada meeting dengan klien. Anna dan yang lainnya langsung bergerak cepat dan pasti Anna meminta bantuan Bu Anjani yang kebetulan juga ada di Bali. Bu Anjani juga bertemu dengan Mahendra sebelumnya dan Mahendra mengatakan di mana dia menginap bersama kak Aurelia. Bu Anjani juga menyarankan untuk Mahendra langsung pergi dan saat itu kak Aurelia berulah dan Bahkan ingin mengancam Mahendra dengan bunuh diri yang akhirnya Mahendra yang terluka," kelas Anna dengan detail.
"Jadi kalian tau Mahendra dan Aurelia berada di tempat itu. Karena Anjani yang memberitahu kalian?" ucap Maya.
"Benar mah, dan untung saja kami datang tepat waktu. Walau Mahendra sudah terluka," jawab Anna.
"Lalu Aurelia bagaimana. Apa dia merasa bersalah?" tanya Maya.
"Awalnya dia menyalahkan Bu Jennie dan merasa Jennie yang menjadi perusuh. Tetapi Athar menjelaskan dan aku rasa kak Aurelia sudah tau jika selama ini Bu Jennie dan Mahendra memang ada hubungan dan Bu Jennie bukankah penghalang," jelas Anna.
"Dan Aurelia menyadari itu, merasa bersalah atau apa dia tidak merasa bersalah?" tanya Maya dengan ingin tau.
"Entahlah mah, Anna juga bingung. Anna juga malas mengurus kak Aurelia, nanti balik lagi mengaitkan dengan hubungan Anna dan Athar," sahut Anna yang tidak bersemangat sama sekali.
"Baiklah kalau begitu. Biar mama yang akan mengurus kakak kamu selanjutnya. Sebaiknya kamu istirahat saja. Kamu pasti sangat lelah," ucap Maya.
"Baiklah mah! kalau begitu Anna melamar dulu," sahut Anna yang berdiri dari duduknya. Maya menganggukkan kepalanya dan Anna langsung pergi.
Maya menghela napasnya dengan perlahan kedepan, "aku tidak tau harus menghadapi Aurelia seperti apa lagi. Aurelie benar-benar sangat keterlaluan," batin Maya yang sepertinya juga sudah angkat tangan dengan Aurelia.
__ADS_1
**********
Athar dan Derry ke rumah sakit untuk menghampiri Gibran. Mereka berdua sudah berada di ruangan Gibran yang mana barusan Sana keluar. Karena Sana juga tidak mau mencampuri urusan kakak beradik itu.
Gibran yang bersandar di kepala ranjang dengan kondisinya yang masih lemas sebenarnya. Namun sekarang dia jauh lebih baik sekarang.
"Bagaimana kak Gibran. Apa kakak mengenali salah satu dari mereka?" tanya Derry.
Gibran mengingat masalah kejadian malam itu yang mana membuat Gibran memegang kepalanya yang mengingatnya membuat kepalanya sakit.
"Pelan-pelan Gibran. Jangan terlalu di paksakan," sahut Athar yang berusaha untuk membuat Gibran senyaman mungkin.
"Iya kak pelan-pelan saja mengingat kejadian itu," sahut Derry.
"Setelah mengantarkan Sana pulang ada mobil yang mengikutiku dan aku sempat melihat ke arah plat nomor kendaraan. Tetapi tidak ada sama sekali dan karena aku merasa semakin di ikuti. Kau memilih untuk berhenti dan ketika aku keluar dari mobil. Orang yang di dalam mobil tidak aku kenali sama sekali. Dan tidak lama banyak pengendara bermotor yang berdatangan dan mereka langsung menyerang tanpa mengatakan apa-apa," jelas Gibran menceritakan kronologi kejadiannya dengan terus memegang kepalanya yang mungkin masih sangat sakit.
"Jadi yang memukul kakak bukan hanya 3 orang atau 5 orang saja?" pekik Derry.
"Mereka sangat banyak dan bahkan puluhan. Makanya aku tidak bisa melawan mereka," ucap Gibran membuat Athar dan Derry saling melihat.
"Lalu apakah ada yang kau kenali salah satunya?" tanya Athar.
"Tidak ada. Karena wajah mereka juga sebagian memakai penutup dan yang aku ingat saat aku terkapar sebelum menutup mata. Aku mengingat ada langkah kaki yang berjalan menggunakan heels," ucap Gibran yang mengingat kejadian itu.
Athar dan Derry kembali saling melihat dengan penuh pertanyaan yang pasti terkejut dengan penjelasan Gibran.
"Jika itu heels. Apa itu artinya seorang wanita," sahut Athar menebak.
"Bisa jadi iya. Tetapi aku tidak bisa mengetahui siapa dia. Karena aku sudah tidak sadarkan diri lagi setelah itu," ucap Gibran yang tidak bisa mengetahui siapa yang mengarangnya.
"Siapa mereka sebenarnya?" tanya Athar dengan wajahnya yang terlihat penasaran.
"Kak Gibran. Apa kakak punya musuh?" tanya Derry.
"Hal itu jangan di tanya Derry. Banyak yang tidak menyukaiku," sahut Gibran yang sangat sadar.
"Aku akan menyuruh Jennie untuk menyelidiki lebih lanjut semuanya," sahut Athar.
"Makasih Athar. Tetapi aku rasa tidak perlu lagi. Biarlah ini menjadi pelajaran untukku dan Polisi saja yang mengurusnya. Kamu dan yang lainnya tidak perlu khawatir dan repot-repot ingin mengurusnya," sahut Gibran.
"Benar apa kata Derry. Kita akan mencari otak dari semua ini. yang tidak perlu khawatir itu kamu. Kamu fokuslah pada kesehatanmu dan biarkan kami yang mengurus semuanya pasti akan menemukan siapa pelakunya dan tidak akan membiarkan dia berkeliaran," ucap Athar dengan yakin.
"Kalau begitu kalian hati-hati lah," sahut Gibran.
"Pasti kami pasti akan hati-hati. Kamu jaga kesehatan saja," ucap Athar.
"Aku sudah merasa jauh lebih baik dan aku juga berencana setelah keluar dari rumah sakit akan melanjutkan pernikahan ku dengan Sana yang tertunda," ucap Gibran.
"Walau masalahnya belum selesai?" sahut Derry bertanya.
"Iya. Karena aku tidak mau melibatkan Sana dengan apa yang terjadi. Jadi aku akan tetap menikah dengannya dan tidak mengorbankan dia karena ada masalah ini," sahut Gibran yang sudah yakin dengan keputusannya.
"Apapun itu. Kamu punya hak untuk semuanya. Kami tidak melarang jika kamu mau menikah dengan Sana. Kami akan mendukung dan juga pasti menangkap siapa pelakunya," ucap Athar.
"Makasih Athar, Derry. Kalian berdua sudah yang terbaik, makasih sudah membantuku," ucap Gibran yang merasa lega.
"Sama-sama. Kalau begitu kamu lanjut lah istrirahat. Kami pergi dulu," ucap Athar pamit dan Derry juga ikut menyusul untuk pamit.
**********
Derry dan Athar berada di depan kamar Gibran yang mana mereka ber-2 pasti sama-sama berpikir.
"Apa yang akan kakak lakukan selanjutnya?" tanya Derry.
"Aku tidak bisa mengatakan apa-apa untuk saat ini. Karena semuanya penuh dengan misteri," sahut Athar dengan memijat kepalanya yang terasa berat.
"Ya sudah sebaiknya kita pulang dulu. Kita juga harus beristirahat," ucap Derry.
"Baiklah! oh iya Derry Aurelia bagaimana. Kamu akan membiarkannya?" tanya Athar.
"Aku tidak ada urusan dengannya dan tidak tertarik untuk mengurusnya. Jadi aku lebih baik mengurus masalah kak Gibran," sahut Derry yang kelihatannya sudah move on dari Aurelia.
__ADS_1
"Baiklah! kamu punya hak untuk hal itu. Ya sudah ayo kita pergi!" ajak Athar. Derry mengangguk dan kakak beradik itu akhirnya meninggalkan rumah sakit tersebut.
Sementara masih di Bali Aurelia harus meratapi kesendiriannya yang lagi-lagi dia tidak memiliki siapa-siapa. Aurelie berdiri di pinggir pantai dengan menatap lautan yang bergelombang menyapu daratan.
Air mata Aurelia menetes dengan membayangkan Derry. Ya dia mengingat Derry. Jika dalam keadaan seperti ini hanya ada Derry di sisinya. Hanya itu Pria satu-satunya yang mengerti dirinya dan pasti Aurelia tidak akan sesedih ini jika Derry ada di sisinya.
Air matanya semakin mengalir ketika dia mengingat cara Derry menatapnya, begitu sangat menjijikkan. Bahkan Derry tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk Aurelia. Hal itu sangat menyakitkan untuk Aurelia dan membuat Aurelia benar-benar menyesali perbuatannya.
Tidak tau sadar sementara atau akan kembali berulah lagi. Tetapi saat ini dia hanya meratapi kesendiriannya yang benar-benar merasa semua orang meninggalkannya dan pasti itu karena kesalahannya sendiri.
"Kenapa aku bisa seperti ini. Kenapa aku begitu jahat dan Derry dia benar-benar sudah tidak peduli lagi kepadaku. Dia benar-benar sangat membenciku. Apa selama ini aku sudah mengabaikannya. Aku mengabaikan ketulusannya, perasaannya dan membalas dengan menyakitinya," ucap Aurelia yang menagis terisak-isak yang merasa bersalah pada Derry.
Mungkin apa yang di katakan Anna membuat Aurelia sadar dan sekarang ini dia hanya menyesali apa yang sudah terjadi. Harus kehilangan Pria yang selama ini selalu ada untuknya.
************
Beberapa hari setelah kejadian itu. Gibran sudah keluar dari rumah sakit dengan kondisi Gibran yang sekarang jauh lebih membaik dan bahkan Gibran sudah bisa berdiri yang sekarang berdiri di depan cermin dengan memakai jas hitam, kemeja putih dengan dasi kupu-kupu.
Dari penampilan Gibran saat ini bisa di pastikan. Jika Gibran ini seperti orang yang mau menikah saja. Iya benar. Gibran memang orang yang akan menikah hari ini. Dia merasa konsinyasi baik-baik saja dan melanjutkan pernikahannya dengan Sana yang sudah di tunda hampir 3 Minggu.
Sama dengan Gibran yang sudah siap-siap di dalam kamar. Di kamar yang berbeda. Juga ada Sana yang memakai gaun pengantin dan di temani, Anna, Olive dan Lisa yang memakai dress berwarna pink. Mereka ber-3 adalah pendamping Sana.
Wajah Sana begitu cantik yang berada di depan cermin yang tidak bisa di gambarkan lagi seperti apa kebahagiaan yang terpancar di wajah itu. Bagaimana tidak ini adalah hari yang ditunggu-tunggunya.
"Ya ampun bidadari kita cantik sekali," puji Anna dengan tulusnya berdiri di belakang Sana
"Kamu itu berlebihan Anna. Jangan membuatku malu," sahut Sana dengan wajahnya yang memerah saat mendapat pujian dari Anna.
"Anna benar kok kali ini dan tidak bohong. Kamu memang sangat cantik," sahut Lisa menambahi.
"Oh jadi selama ini aku bohong," sahut Anna.
"Canda," sahut Lisa.
"Kakak iparku ini memang sangat cantik hari ini. Tidak ada yang bohong. Karena itu memang kenyataan," sahut Olive.
"Belum menjadi kakak ipar, belum sah," sahut Lisa.
"Iya-iya, kalian ini sidik aja," sahut Olive.
Sana hanya geleng-geleng saja dengan tersenyum. Sebenarnya dia sangat gugup. Namun dengan tema-temanya yang mengajaknya bercanda membuatnya jadi sedikit rileks.
toko-tok-tok-tok.
Pintu diketuk yang ternyata Jennie yang begitu canting dengan dress pink yang juga sama dan panjangnya sampai bawah dengan belahan sampai kebawah nya tanpa lengan yang membentuk tubuh Jennie yang begitu langsing.
"Calon penggantinya sudah selesai yang lain sudah menunggu!" ucap Jennie yang datang hanya ingin menyampaikannya hal itu.
"Sudah kok," sahut Lisa.
"Kalau begitu ayo keluar," sahut Jennie. Mereka mengangguk.
"Bu Jennie cantik sekali hari ini!" puji Anna.
"Kamu jangan memanggil ku ibu lagi. Kamu panggil nama saja," sahut Jennie. Anna memang kebiasaan sejak dulu.
"Apa itu artinya. Kita akan menjadi teman, kalau sudah memanggil nama?" tanya Anna. Jennie menjawab dengan mengangkat ke-2 bahunya.
"Ayo keluar!" sahut Jennie yang mengajak kembali dan yang lainnya mengangguk.
"Dia memang tipe-tipe wanita pembunuh berdarah dingin. Makanya kak Mahendra menyukainya," sahut Olive.
"Meski telat menyadari Olive. Tetapi aku sangat bangga kepadamu. Pertahankan Olive. Semoga kamu mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik," ucap Sana.
"Amin semoga segera menyusul Sana," sahut Lisa.
"Eitss, Anna duluan dong," sahut Sana.
"Iya terserah kalian deh," sahut Anna hanya mengangkat ke-2 bahu saja menanggapi perkataan dari teman-temannya itu.
"Sudah sekarang ayo kita bawa calon istri orang ke pada suaminya," sahut Lisa.
__ADS_1
"Ayo!" ajak mereka semua dan mereka langsung pergi.
Bersambung.