Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 309


__ADS_3

Untuk acara Gibran yang ada di Bali. Mereka semua pun pergi bersamaan. Untuk menghadiri acara tersebut.


Athar, Olive, Gibran, Maharani, Derry dan Ari Purnama sudah berada di Bandara yang terlihat mereka masih menunggu seseorang


" Sayang!" teriak Anna melambaikan tangannya yang membuat mata tertuju pada mereka. Anna, Maya Mahendra dan Aurelia yang juga datang yang sepertinya akan berangkat bersama.


Athar langsung tersenyum yang ketika melihat pacarnya itu yang sekarang sedang berlari menghampirinya.


" Hay om tante," sapa Anna dan langsung mencium punggung tangan Maharani dan juga Ari Purnama.


" Kamu apa kabar Anna?" tanya Maharani.


" Baik Tante," jawab Anna dengan tersenyum.


" Kamu sudah lama sekali tidak main kerumah. Apa sangat sibuk?" tanya Ari Purnama.


" Iya om ada sedikit pekerjaan," jawab Anna.


" Jangan seperti Athar yang suka bekerja," ucap Ari Purnama.


" Iya Om," sahut Anna. Maya dan Aurelia pun sudah berada bersama mereka dan Aurelia juga mencium punggung tangan Ari Purnama dan bergantian dengan Maharani dan Maya juga menyapa Maharani.


" Kamu juga Aurelia sudah lama tidak main kerumah!" ucap Ari Purnama.


" Iya Om. Aurelia lagi banyak pertemuan dengan beberapa klien. Nanti kalau ada waktu Aurelia akan main kesana," ucap Aurelia.


" Om pasti menunggu itu," sahut Ari Purnama.


" Hmmm, ya sudah apa masih ada yang mau di tunggu?" tanya Maharani.


" Sana dan Lisa belum datang?" tanya Anna tidak melihat 2 temannya itu.


" Katanya masih di jalan," jawab Olive.


" Sebentar lagi juga pasti sampai. Karena Jennie yang menjemput mereka tadi," sahut Athar.


" Hmmm begitu," sahut Anna.


" Itu mereka!" tunjuk Derry yang mana Lisa, Sana Jennie dan ada Marko yang juga datang.


" Maaf kami terlambat," ucap Sana.


" Jalanan macet, jadi harap di maklumi," sahut Marko.


" Tidak apa-apa. Kalau pesawatnya belum landing namanya belum terlambat. Jadi jangan khawatir akan aman-aman saja," ucap Olive.


" Hmmm ya sudah semuanya sudah berkumpul. Sekarang kita sebaiknya berangkat," sahut Maharani.


" Oh iya sayang ibu Anjani tidak ikut?" tanya Anna yang melihat ada yang kurang.


" Iya Athar di mana mama kamu. Kenapa mama tidak melihatnya?" tanya Maharani yang baru menyadari.


" Bu Anjani sudah berangkat dari kemarin. Karena dia yang menyiapkan semua peroses acara Gibran," sahut Gibran.


" Oh iya benarkah, kenapa papa tidak tau itu," sahut Ari Purnama kaget.


" Ya Gibran belum sempat menceritakannya," sahut Gibran.


" Iya mama sudah ada di sana," sahut Athar yang memang sudah mendapat cerita dari mamanya.


" Ya sudah kalau begitu. Kita sekarang pergi saja," sahut Maya. Yang lainnya mengangguk dan langsung mengurus keberangkatan mereka.


Mereka semua menaiki pesawat milik keluarga Athar. Yang mana mereka sudah mengambil tempat duduk masing-masing.

__ADS_1


Ari Purnama dengan Maharani. Gibran dengan Olive, Athar pasti bersama Anna. Sana dengan Maya, Lisa dengan Marko. Aurelia dan Derry. Namun Jennie dan Mahendra belum duduk. Karena ke-2 orang itu yang masih mengurusi hal yang lainnya.


Setelah mengurus semuanya dan pesawat take off. Akhirnya Jennie mengambil tempat duduk dan tidak lama Mahendra juga mengambil tempat duduk di samping Jennie yang membuat Jennie kaget.


" Kenapa harus di sini?" tanya Jennie heran.


" Memang kenapa tidak boleh?" tanya Mahendra yang terlihat santai yang menyandarkan kepalanya di bangku pesawat dan langsung memejamkan matanya yang terlihat lelah.


Jennie hanya menghela napasnya yang tidak bicara lagi. Dia membiarkan saja Mahendra duduk di sampingnya dan kebetulan mereka ada di bangku paling belakang.


Menunggu perjalanan sampai terlihat orang-orang yang ada di dalam pesawat itu kelelahan. Dan memilih untuk tidur dan hanya hanya yang sibuk dengan ponselnya dan sementara Athar di sampingnya yang tumben-tumben nya malah tertidur. Biasanya Athar pasti akan menyempatkan diri untuk memegang pekerjaan.


Bukan hanya Anna yang tidak tidur. Jennie sendiri juga tidak tidur dan melihat ke jendela pesawat melihat gumpalan awan.


" Kau tidak beristirahat?" tanya Mahendra yang tiba-tiba terbangun.


" Aku tidak mengantuk," jawab Jennie tanpa melihat ke arah Mahendra yang berbicara di sampingnya.


" Kau tidak nyaman aku duduk di sampingmu?" tanya Mahendra.


" Mau nyaman atau tidak kau akan tetap duduk di sampingku. Jadi tidak ada bedanya," sahut Jennie.


" Kau takut orang-orang melihat kita. Atau bertanya-tanya mengenai kita," ucap Mahendra.


" Entahlah Mahendra. Tapi aku rasa kau itu berlebihan pada ku," sahut Jennie.


" Maksudnya?" tanya Mahendra.


" Kau selalu menunjukkan sikap berlebihan dan bahkan terang-terangan di depan orang lain. Mahenndra apa yang mau harapkan dari semua ini?" tanya Jennie yang tetap melihat ke jendela pesawat.


" Aku tidak mengerti apa maksudmu Jennie?" tanya Mahendra.


" 1 contoh kenapa kau tidak mengambil jas mu dari rumahku. Padahal kau beralasan untuk ikut bersamaku untuk hal itu. Lalu kenapa tetap meninggalkannya?" tanya Jennie.


" Supaya aku punya alasan untuk menemuimu," jawab Mahendra jujur.


" Apa maksudmu Mahendra?" tanya Jennie.


" Meski kau mengatakan berkali-kali Jennie. Untuk hubungan kita yang hanya masa lalu. Tapi aku rasa aku tidak bisa. Aku masih ingin kita memperbaiki apa yang seharusnya kita perbaiki," ucap Mahendra menatap dengan penuh ketulusan.


" Apa maksudmu?" tanya Jennie.


" Perasanku masih sama kepadamu," ucap Mahendra yang kembali menyatakan isi hatinya dan hal itu sangat mengejutkan bagi Jennie.


" Tap......" Jennie tidak melanjutkan kalimatnya saat Mahendra langsung menempelkan bibirnya lada Jennie. Ya Mahendra sungguh berani melakukannya di dalam pesawat itu yang kemungkinan akan ada yang melihat mereka.


Jennie berusaha memberontak dengan mendorong dada Mahendra. Namun Mahendra menahannya dan akhirnya Jennie terbuai akan ciuman itu dan akhirnya mereka berciuman.


" Aku mau ke toilet sebentar," ucap Anna yang langsung berdiri untuk ketoilet. Namun saat ingin pergi, saat melewati Athar. Anna terkejut melihat Jennie dan Mahendra yang berciuman. Sampai membuat Anna menutup mulutnya dan matanya melotot. Namun Anna langsung duduk tanpa melihat-lihat dan tangannya mengenai perut Athar yang menekan perut Athar membuat Athar terbangun.


" Auhhhhj!" lirih Athar kesakitan pada perutnya yang membuat Anna kaget.


" Ya ampun maaf sayang. Aku tidak sengaja," ucap Anna dengan yang merasa bersalah.


" Kamu ngapain sih nggak bisa diam apa," ucap Athar memegang perutnya.


" Sayang maaf. Aku tadi shock saat melihat ke belakang," ucap Anna.


" Memang apa di belakang," Athar mencoba untuk melihat. Namun Anna mencegahnya dengan memegang ke-2 pipi Athar agar melihat dirinya.


" Tidak boleh di lihat sayang. Ada hal yang sangat lantang untuk di lihat," tegas Anna.


Athar mengkerutkan dahinya mendengar perkataan Anna, " maksud kamu?" tanya Athar membuat penasaran saja.

__ADS_1


" Issss pokoknya kamu tidak boleh melihatnya sangat pantang!" tegas Anna lagi.


" Kamu itu aneh-aneh aja," ucap Athar geleng-geleng.


" Maaf sayang," sahut Anna yang langsung memeluk Athar dan mengusap-usap perut Athar.


" Maaf sudah membuatmu kesakitan. Tetapi aku tidak sengaja," ucap Anna.


" Ya sudahlah lupakan. Memang kamu mau kemana sih?" tanya Athar.


" Mau ke toilet tadi!" jawab Anna.


" Lalu kenapa tidak jadi?" tanya Athar.


" Aku sudah mengatakan ada yang membuatku kaget," jawab Anna.


" Hmmm, ya sudahlah," sahut Athar yang kelihatannya tidak peduli dengan apa yang di lihat Anna.


" Apa sebenarnya hubungan Bu Jennie dengan Mahendra. Kenapa mereka berciuman," batin Anna yang kepikiran dengan hal itu.


" Anna kamu memikirkan sesuatu?" tanya Athar yang melihat kekasihnya yang masih di pelukannya itu terlihat diam.


" Hmmm, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Anna.


" Apa itu?" tanya Athar heran.


" Nanti saja membahasnya kalau sudah sampai Bali," jawab Anna


" Apa sangat penting?" tanya Athar.


" Sangat," jawab Anna.


" Baiklah aku Akan menunggunya. Sekarang istirahat lah," ucap Athar. Anna menganggukkan kepalanya dan mempererat pelukannya pada Athar kekasihnya itu.


Di belakang sana akhirnya Jennie dan Mahendra saling melepas ciuman mereka dengan napas mereka yang terengah-engah dan terlihat saling melihat. Mata mereka saling melihat.


" Mahenndra. Kau tau apa yang kau lakukan ini sangat keterlaluan. Kau seharusnya tidak melakukan hal ini kepadaku," ucap Jennie.


" Aku hanya ingin membuktikan kepadamu. Jika perasaanku benar-benar nyata kepadamu dan terserah kau mau menerimanya atau tidak," ucap Mahendra menatap Jennie dalam-dalam. Jennie terlihat begitu frustasi dengan Mahendra yang mengungkapkan cinta kepadanya.


Jennie tidak bisa berkata-kata sampai akhirnya menjauh dari Mahendra dan melihat kembali ke arah jendela. Dia tidak tau harus mengatakan apa lagi.


" Jennie!" lirih Mahendra.


" Jangan bicara kepadaku," sahut Jennie mengangkat tangannya yang terlihat tidak ingin Mahendra melanjutkan kata-katanya.


" Aku akan memberimu waktu. Aku tau kau masih mempunyai perasaan kepadaku," ucap Mahendra dengan percaya dirinya.


Jennie diam dan tidak menanggapi apa yang di katakan Mahendra. Dia tiba-tiba mengeluarkan air mata. Yang mungkin memang benar ada perasaan kepada Mahendra. Namun ada juga penghalang bagi Jennie yang tidak bisa menerima perasaan itu kembali.


" Jennie ada apa sebenarnya. Kenapa aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan. Aku sangat mengenalmu. Kau wanita yang tegas. Jika tidak suka maka tidak suka. Tetapi kenapa kau menerima ciumanku. Jika kau memang tidak mempunyai perasan itu lagi kepadaku," batin Mahendra yang merasa ada sesuatu yang tidak iya ketahui.


Di bangku yang berbeda Aurelia ternyata juga tertidur di bahu Derry. Yang mana Derry tidak tidur sama sekali dan tersenyum dengan Aurelia yang sangat dekat dengannya.


Derry mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang ternyata adalah kotak cincin


" Aku akan melamar mu Aurelia," ucap Derry di dalam hatinya yang tidak sabar akan menyatakan perasaannya pada Aurelia.


" Kita dari dulu saling mengenal dan aku dari dulu sangat menyukaimu. Dari kau yang di butakan cinta pada Athar. Sampai detik ini dan aku yakin perasaan mu pasti sudah ada untukku," ucap Derry di dalam hatinya yang begitu percaya diri akan Aurelia yang memiliki perasaan yang sama dengan apa yang di rasakannya.


Derry tersenyum dan langsung memasukkan cincin itu ke sakunya lagi. Yang menunggu dengan tidak sabar akan sampai ke Bali. Derry mengusap-usap pucuk kepala Aurelia dengan tersenyum lebar.


" Istirahat lah," ucap Derry dengan menatap Aurelia penuh ketulusan. Dan Derry pun ikut memejamkan matanya yang kepalanya dan Aurelia saling menempel.

__ADS_1


Derry memang mempunyai perasaan yang tulus kepada Aurelia. Dari dulu saat Aurelia dan Athar berhubungan. Namun siapa sangka. Perasaan Derry akan bertepuk sebelah tangan lagi. Karena Aurelia menyukai Mahendra.


Bersambung


__ADS_2