
Anna jadi kepikiran dengan apa yang di katakan Oliva membuat Anna yang berada di dalam mobil jadi kepikiran. Di mana Anna duduk di depan di sebelah kursi pengemudi yang pengemudinya sendiri tidak ada di sebelahnya.
Bruk.
Pintu mobil terbuka membuat Anna terkejut yang ternyata adalah Athar yang memasuki mobil dan duduk di kursi pengemudi.
"Sayang!" tegur Athar memberikan Anna air mineral, "maaf aku lama," ucap Athar.
"Tidak apa-apa. Makasih," ucap Anna. Athar mengangguk-angguk kepalanya dan langsung meminum air mineral tersebut.
"Kamu kenapa. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Athar yang melihat Anna penuh dengan pikiran.
"Ada dua kabar yang satu bahagia dan yang satunya tidak," ucap Anna.
"Maksudnya?" tanya Athar heran.
"Kamu mau dengar yang mana dulu?" tanya Anna membuat pilihan pada Athar.
"Aku pasti mau dengar kabar bahagianya dulu, supaya suasana tidak tegang- tegang amat," sahut Athar.
"Sayang kamu tau tidak. Akhirnya Olive sadar. Jika dia tidak seharusnya menyukai Mahendra," ucap Anna.
"Oh iya kamu tau dari mana?" tanya Athar lumayan terkejut.
"Tadi kita mengobrol dan Olive sangat galau. Karena menyadari. Jika Mahendra tidak menyukainya. Bahkan dia tau wanita yang di sukai Mahendra hanya Bu Jennie dan Olive juga sudah memutuskanku tidak akan mengejar Mahendra lagi," jelas Anna.
"Ya itu merupakan kabar baik. Akhirnya adik ku itu bisa menerima kenyataan. Itu merupakan kabar yang sangat baik dan cukup memuaskan," ucap Athar.
"Aku juga lega. Jika Olive seperti itu dan semoga dia menemukan pengganti Mahendra. Agar dia tidak galau lagi dengan keputusan yang di ambilnya. Aku benar-benar sangat salut padanya," ucap Anna.
"Kamu benar sayang. Kita doakan saja yang terbaik. Lalu apa kabar buruknya?" tanya Athar.
Anna menghela napasnya perlahan kedepan, "aku mendengar dari Olive. Katanya Mahendra dan Jennie putus," ucap Anna yang membuat Athar cukup terkejut dengan dahinya yang mengkerut.
"Bukannya mereka sudah baikan dan bahkan aku akan mengurus masalah orang tua Mahendra," ucap Athar yang pasti tidak percaya dengan kata-kata Anna.
"Aku juga berpikiran itu tidak mungkin. Tetapi Olive sendiri yang mendengarnya. Jika Bu Jennie ingin mengakhiri hubungan itu. Karena mengetahui jika Aurelia menyukai Mahendra," jelas Anna.
"Tapi kan Mahendra tidak menyukainya," sahut Athar.
"Aku juga tidak mengerti saya. Dan Mahendra seharusnya mengatakan dengan tegas pada kak Aurelia mengenai hubungannya dengan Bu Jennie. Jadi masalahnya tidak berlarut-larut," ucap Anna dengan wajahnya yang penuh dengan kepanikan.
"Kamu benar. Intinya ada pada Mahendra. Agar Aurelia juga berhenti berharap dari Mahendra," sahut Athar.
"Aku sebaiknya katakan saja dengan tegas pada kak Aurelia. Jika Mahendra tidak punya kesempatan. Maka aku yang akan bicara. Agar semuanya jelas. Aku tidak akan membiarkan masalah ini terus berlarut-larut dan kasihan hubungan Bu Jennie dan Mahendra yang terus terhalang," ucap Anna yang sudah yakin akan bertindak.
"Aku mendukungmu. Tetapi pelan-pelan ya bicara pada Aurelia," sahut Athar.
"Iya pasti!" sahut Anna.
"Sudahlah jangan memikirkan terlalu dalam. Percayalah semuanya akan baik-baik aja," ucap Athar.
"Iya sayang," sahut Anna. Athar tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala Anna.
Dratt-dratt-Dratttt.
Ponsel Athar tiba-tiba berdering dan langsung mengeluarkan dari sakunya.
"Derry!" ucap Athar memberi tau pada pacarnya siapa yang menelponnya. Anna menganggukkan kepalanya.
"Hallo! ada apa Derry?" tanya Athar.
"Apah!" sahut Athar yang terlihat kaget dan Anna juga kaget. Padahal dia tidak tau apa yang terjadi.
"Baiklah aku akan segera kesana," sahut Athar yang langsung mematikan panggilan telpon tersebut.
"Ada apa sayang?" tanya Anna penasaran.
"Gibran sudah siuman," jawab Athar yang membuat Anna terkejut dengan matanya yang terbuka lebar.
"Gibran siuman," pekik Anna terkejut dan Athar menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita kerumah sakit!" ajak Athar.
"Iya ayo buruan," sahut Anna mengangguk. Dia bergetar mendengar yang akhirnya Gibran sadar juga. Anna dan Athar buru-buru langsung menuju rumah sakit.
*********
Anna dan Athar akhirnya sampai juga ke rumah sakit dan mereka langsung menuju di mana ruangan Gibran di rawat.
"Ayo sayang!" ajak Athar menggenggam tangan Anna yang terlihat mereka memang begitu tergesa-gesa.
Di dalam ruangan Gibran, ada Maharani, Ari Purnama, Olive, Lisa, Sana, Derry yang melihat Gibran yang sudah siuman.
Begitu sampai di pintu ruangan Gibran. Anna dan Athar langsung membuka ruangan itu dan melihat dengan nyata. Jika Gibran benar-benar sudah sadar.
__ADS_1
"Gibran!" lirih Athar yang mendekat pada ranjang Gibran dan melihat Gibran sudah sadar.
"Syukurlah ternyata benar Gibran sudah siuman," sahut Anna yang merasa sangat lega.
Kondis Gibran masih belum stabil. Masih sangat lemas dan sejak tadi bicara masih sangat sulit.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Athar yang jelas sangat bersyukur jika kakaknya itu akhirnya bangun. Gibran hanya mengangguk pelan yang tidak bisa menjawab pertanyaan Athar.
"Athar kondisi Gibran sebelum sepenuhnya pulih. Dokter mengatakan masih perlu perawatan yang serius dan apalagi rahang Gibran mengalami luka patah yang serius sehingga membuat Gibran sulit berbicara," jelas Maharani.
"Ya ampun semoga saja kondisinya baik-baik aja setelah ini, semoga Gibran cepat sembuh," sahut Anna yang sangat prihatin.
"Tapi ini tidak akan lama kan mah?" tanya Athar.
"Tidak akan Athar. Kita serahkan semua kepada Dokter. Papa yakin semua akan baik-baik saja," sahut Ari Purnama.
"Yang penting kak Gibran sudah bangun dari komanya. Itu merupakan kabar baik dan semoga kak Gibran cepat pulih," sahut Olive.
"Kamu harus bersabar Olive, kamu juga Sana," sahut Lisa. Sana mengangguk dengan matanya yang berkaca-kaca yang sangat terpukul melihat kondisi Gibran.
"Sebaiknya kita biarkan saja. Kak Gibran untuk beristirahat, seperti apa yang di katakan Dokter tadi," sahut Derry.
"Aku akan tetap di sini," sahut Sana yang tidak mau jauh-jauh dari kekasihnya itu.
"Baik Sana, kamu temani Gibran. Ada apa-apa panggil kami," sahut Maharani.
"Iya Tante," sahut Sana.
Mereka satu persatu pun akhirnya keluar dari tempat itu yang hanya menyusahkan Sana dan juga Gibran. Yang mana Sana langsung duduk di samping Gibran dengan tangan Sana yang terus menggenggam tangan Gibran.
"Ma-maa!" Gibran begitu sulit mengeluarkan kata itu yang sangat tersiksa. Namun mendengar hal itu membuat Sana menggelengkan kepalanya.
"Jangan banyak bicara dulu. Kamu harus jaga kondisi kamu," sahut Sana meneteskan air matanya. Yang tau jika Gibran hanya ingin meminta maaf kepadanya.
Perlahan tangan Gibran terangkat ke atas, menyentuh pipi Sana yang terdapat air mata di sana, mengusap lembut air mata itu dengan wajah Gibran yang di penuhi dengan rasa bersalah.
"Aku tidak apa-apa Gibran. Kamu tidak salah dan jangan meminta maaf. Tidak ada yang salah. Ini semua kecelakaan. Kamu jangan memikirkan apa-apa dulu. Kamu harus pikirkan kesehatan kamu. Itu yang terbaik," ucap Sana. Gibran hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Kamu jangan takut. Aku akan selalu menemani kamu. Aku akan terus berada di sisi kamu jangan takut. Kita semua juga akan secepatnya menemukan orang yang telah membuat kamu seperti ini. Jadi jangan khawatir Gibran," ucap Sana yang terus memberikan Gibran semangat. Gibran menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Dia belum bisa bicara. Masih sangat sulit. Padahal pasti sangat banyak yang ingin di katakannya kepada Sana calon istrinya itu.
*********
Sementara di luar ruangan Gibran, Maharani dan yang lainnya berkumpul.
"Tidak pah, Olive di sini saja," jawab Olive.
"Ya sudah kalau begitu," sahut Ari Purnama.
"Ya sudah mama duluan ya, Anna, Lisa," sahut Maharani.
"Iya Tante hati-hati," sahut Anna dan Lisa bersama-sama.
"Lisa temani aku cari makan yuk!" ajak Olive.
"Ya sudah kalau begitu. Anna kamu ikut?" tanya Lisa.
"Kalian saja duluan, aku tidak ikut?" sahut Anna.
"Baiklah kalau begitu," sahut Olive yang langsung pergi bersama Lisa.
"Kak Athar ada yang ingin aku bicarakan!" ucap Derry.
"Ya sudah katakanlah," sahut Athar.
"Sayang aku tunggu lobi aja ya," sahut Anna.
"Ya sudah aku akan secepatnya ke sana," ucap Athar.
Anna mengangguk dan langsung pergi membiarkan kekasihnya yang sepertinya akan bicara serius dengan Derry.
***********
Anna menunggu Athar yang tadi berbicara dengan Derry. Anna menunggu di lobi rumah sakit dan tiba-tiba berpapasan dengan Jennie.
"Bu Jennie!" tegur Anna.
"Ada apa Anna?" tanya Jennie.
"Ibu mencari Athar ya?" tanya Anna.
"Iya aku mau melapor masalah Gibran kepadanya," jawab Jennie.
"Dia sedang mengobrol bersama Derry. Dan iya bagaimana perkembangannya dan apa sudah do temukan pelakunya?" tanya Anna.
__ADS_1
"Sampai detik ini belum ada kejelasan. Namun aku menemukan beberapa petunjuk. Kamu mau mendengarnya. Atau nanti Athar yang memberi tau?" tanya Jennie yang sangat tau jika Anna itu orangnya sangat penasaran.
"Nanti saja aku dengar dari Athar," sahut Anna dengan tersenyum.
"Baiklah!" sahut Jennie.
Tiba-tiba Aurelia dan Mahendra memasuki rumah sakit dan pasti bertemu dengan Anna dan Jennie. Aurelie melihat Jennie dan Anna yang belum melihat dia dan Mahendra langsung mengandeng lengan Mahendra membuat Mahendra heran.
"Nona!" lirih Mahendra bingung.
"Aku capek berjalan, Jadi biarkan saja seperti ini," ucap Aurelia dan Mahendra hanya menghela napas yang terlihat gelisah. Aurelie menyunggingkan senyumnya dan menghampiri Anna dan Jennie dan Mahendra semakin gelisah dengan kesulitan menelan salivanya.
"Anna!" tegur Aurelia. Anna dan Jennie sama-sama melihat ke arah suara itu dan langsung Jennie melihat Aurelia menggandeng tangan Mahendra, layaknya seorang pasangan. Anna juga sangat terkejut dengan apa yang di lakukan kakaknya itu.
Namun Mahendra mendapat kesempat langsung melepas dari Aurelia.
"Kak Aurelia," sahut Anna.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Aurelia.
"Menunggu Athar," jawab Anna, "kakak sendiri ngapain di sini?" tanya Anna.
"Mahenndra memintaku untuk menemaninya yang juga untuk menemui Athar," jawab Aurelia.
Mahendra mengkerutkan dahinya mendengar pernyataan Aurelia yang pasti tidak benar sama sekali.
"Apa yang di katakan Nona Aurelia. Kapan aku memintanya," batin Mahendra yang terkejut dan langsung melihat ke arah ke Jennie yang terlihat pura-pura tidak peduli.
"Apa-apaan sih kak Aurelia. Apa kak Aurelia sengaja mengatakan hal itu," batin Anna yang merasa kakaknya ini memang ada kesengajaan melakukan hal itu di depan Jennie.
"Baiklah aku pergi dulu ya Anna, aku harus menemui Athar," sahut Jennie yang seolah tidak peduli dengan apa yang di lihatnya.
"Kita sama-sama saja," sahut Aurelia.
"Memang kakak ada urusan apa?" tanya Anna.
"Urusan dengan Mahendra. Bukannya sangat jelas. Kakak datang kemari untuk menemani Mahendra," sahut Aurelia yang memperjelas tujuannya.
"Tidak perlu Nona Aurelia. Saya pergi sendiri saja," sahut Mahendra.
"Aku ikut Mahendra," sahut Aurelia yang terlihat memaksa dan Jennie langsung pergi karena terlihat cukup kesal dengan suasana tersebut.
"Mahendra pergilah. Aku ingin bicara dengan kak Aurelia," sahut Anna yang memberikan waktu untuk Mahendra.
Mahenndra langsung mengangguk dan pergi begitu saja.
"Anna kamu apa-apaan sih?" tanya Mahendra.
"Kakak yang apa-apaan. Nggak biasanya kakak seperti itu," sahut Anna yang terlihat kesal.
"Apa maksud kamu?" tanya Aurelia.
"Kakak itu sadar tidak. Kalau apa yang kakak lakukan barusan itu sangat memaksa Mahendra dan sangat jelas membuat Mahendra tidak nyaman!" tegas Anna.
"Kamu jangan ikut campur dengan masalahku dan Mahendra," tegas Aurelia.
"Jelas aku ikut campur. Karena kakak sangat keterlaluan," sahut Anna.
"Apa maksud kamu. Apa yang keterlaluan Anna. Aku menyukai Mahendra dan dia juga di pastikan sangat menyukaiku. Lalu apa yang keterlaluan," tegas Aurelia
" Mahenndra tidak menyukai kakak. Dia menyukai...."
"Jennie maksud kamu," sahut Aurelia yang memotong pembicaraan Anna.
"Kaka tau itu," sahut Anna.
"Jadi jika dia menyukai Mahendra. Apa aku tidak boleh menyukainya. Aku yang pertama kali bertemu dengan Mahendra dan bukan Jennie dan tidak ada yang bisa menghalangi ku dan aku yakin perasaan Mahendra akan berubah secepatnya. Karena aku akan berusaha membuatnya nyaman di sisiku," ucap Aurelia menegaskan yang membuat Anna benar-benar tidak percaya dengan kata-kata Aurelia yang menurutnya sangat keterlaluan, di mana Aurelia terlihat sangat terobsesi dengan Mahendra.
"Kakak itu benar-benar keterlaluan. Kakak tidak bisa memaksakan orang lain," ucap Anna.
"Jangan ikut campur!" tegas Aurelia, "kamu dengar Anna. Jika dulu aku mengalah kepadamu mengenai Athar. Tidak dengan Mahendra. Aku tidak akan mengalah," tegas Aurelia mengungkit masa lalu membuat Anna kembali tidak mengenal kakaknya itu.
"Jadi aku peringatkan kepadamu untuk pertama kali dan yang terakhir kalinya. Jangan pernah mencampuri urusan percintaan ku!" tegas Aurelia dengan menghela napasnya dan langsung pergi.
"Kakak mau kemana?" tanya Anna menahan tangan Aurelia.
"Lepaskan aku! itu bukan urusan kamu," sahut Aurelia berusaha melepas tangannya dari Anna. Di mana Anna benar-benar menghentikan kegilaan kakaknya.
"Anna lepaskan!" tegas Aurelia dengan kasar dan sampai menampar Anna.
Plakkk.
Di tempatnya Anna bertepatan dengan datangnya, Athar, Derry, Lisa, Olive yang terkejut melihat hal itu.
Anna juga kaget dengan tangannya yang memegang pipinya yang mendapat tamparan. Namun Aurelia juga sepertinya tidak sengaja melakukannya yang juga kaget dengan apa yang di lakukannya.
__ADS_1
Bersambung