Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 377


__ADS_3

"Iya mah, aku sama Anna memutuskan untuk kembali ke Indonesia," jawab Athar dengan apa adanya yang memang akan tinggal di di Indonesia bersama dengan Anna.


"Pekerjaan kamu di sini bagaimana Athar?" tanya Ari Purnama.


"Untuk pekerjaan papa jangan Khawatir aku akan mengatasinya," sahut Athar.


"Apa ini adalah keputusan yang tepat. Jangan sampai nanti gara-gara hal ini nanti akan terjadi perdebatan kedepannya. Dan masalah akan semakin banyak. Jika kalian sudah menikah," sahut Chandra yang mengingatkan terlebih dahulu.


"Pah Anna berencana untuk ikut Athar setelah menikah. Namun ternyata Athar berencana untuk pulang ke Indonesia," jelas Anna.


"Iya Om, aku memikirkan semua ini. Aku juga tidak berencana untuk kembali ke Glossi atau Perusahaan yang ada di sini," ucap Athar dengan berita yang mengejutkan.


"Maksud kamu apa Athar. Jika kembali ke Indonesia, seharusnya kamu juga memimpin Perusahaanku Glossi kembali," sahut Gibran.


"Benar kak Gibran, karena aku hanya sementara saja menggantikannya posisi kakak di sana. Kakak tetap CEO tetapnya," sahut Derry.


"Tidak Derry, aku sudah lama meninggalkan Perusahaan Glossi. Dan selama ini kamu yang memegangnya dan Periksa Glossi sangat berkembang dengan baik. Jadi aku serahkan Perusahaan itu kepada kamu dan papa bisa pikirkan untuk menetapkan Derry sebagai CEO di sana," jelas Athar yang membuat semua orang kaget.


Athar berbicara sungguh mengejutkan orang-orang yang sebelumnya tanpa ada pembicaraan dulu.


"Kak Athar apa yang kakak bicarakan. Kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Derry yang pasti tidak siap untuk hal ini.


"Athar kamu memutuskan kembali ke Indonesia dan meninggal Perusahaan di sini. Tetapi kamu tidak kembali ke Glossi dan malah ingin Derry yang mengatasinya. Jika seperti itu kamu bagaimana?" tanya Maharani dengan wajah penuh tanya.


"Iya kak Athar, apa kakak mau jadi pengangguran," sahut Olive.


Athar melihat ke arah Anna dengan Athar yang menghela napasnya.


"Aku sudah memutuskan semuanya. Aku dan Anna sudah bicara. Kami ingin memulai semuanya dari nol. Baik dengan hubungan kami maupun dari finansial yang itu artinya aku dan Anna akan memulai membangun bisnis dari awal setelah kami menikah," jelas Athar.


"Anna! apa itu artinya Anna juga akan meninggalkan perusahaan mama?" tanya Aurelia yang cukup kaget mendengar berita itu.


"Iya kak," sahut Anna yang memang itu sudah di bicarakannya dengan Athar, " apa yang di katakan Athar benar. Kami memang akan memulai semuanya dan Anna akan mengikuti Athar mensuport apapun itu. Anna hanya ingin menjadi istri saja," jelas Anna.


"Kamu yakin dengan semua ini?" tanya Chandra.


"Iya pah, Anna yakin," sahut Anna dengan yakin.


"Kalian yang menjalani semuanya, apapun keputusan kalian papa hanya berdoa dan mungkin suatu hal besar dengan keputusan Kalian. Tetapi papa yakin kalian akan bisa menjalaninya," sahut Chandara yang lagi-lagi hanya menyerahkan pada anak dan calon menantunya.


"Ya papa juga tidak bisa berkata apa-apa Athar, kamu sudah lama di Perusahaan. Uang, harta dan segalanya pasti sudah banyak. Jadi kalau tiba-tiba mau buka bisnis baru papa rasa tidak ada salahnya. Kamu juga sudah kaya," sahut Ari Purnama dengan selorohnya yang mendukung keputusan putranya.


"Mama juga mensuport apapun keputusan kalian berdua," sahut Maharani.


"Lalu Perusahaan bagaimana?" tanya Gibran. Dia memang sudah tidak ikut andil lagi mengurus Perusahaan atau bisnis lainnya yang berhubungan dengan keluarganya. Karena Gibran fokus pada karyanya. Namun Gibran juga pasti khawatir jika tiba-tiba ada kendala pada Perusahaan.


"Papa akan mengurusnya. Untuk Perusahaan di New York. Papa akan menyerahkan pada seseorang yang pantas dalam mengelolah nya yang pasti bisa di percayai," sahut Ari Purnama membuat orang-orang bertambah bingung lagi. Tidak tau siapa yang di tunjuk Ari Purnama.


"Siapa orangnya pah?" tanya Derry.


"Nanti kalian juga akan tau," jawab Ari Purnama membuat penasaran, "dan untuk Glossi yang seperti kata Athar, papa akan pertimbangan apa kata Athar dengan mempromosikan Derry," sahut Ari Purnama.


"Pah tapi," sahut Derry yang kelihatan ragu. Padahal yang lainnya sangat bahagia dengan Derry yang ingin di promosikan.


"Derry kamu itu layak. Jadi tidak apa-apa," sahut Maharani.


"Kamu harus memegang kepercayaan kakak kamu Derry. Papa juga yakin dengan kamu," ucap Ari Purnama.


"Baiklah. Tapi aku tetap mohon di bimbing," sahut Derry yang merendahkan dirinya.


"Untuk masalah itu jangan khawatir," sahut Athar.


"Baiklah untuk pembicaraan saat ini sudah jelas dengan Anna dan Athar yang memutuskan semuanya dan jujur keluarga sangat lega dengan keputusan ini dan juga akan mendukung kalian terus. Semoga ini menjadi keputusan yang terbaik," ucap Ari Purnama.


"Mama juga lega Athar dengan tindakan kamu," sahut Anjani.


"Iya mah," sahut Athar.


"Kalau begitu kita harus buru-buru kembali ke Indonesia untuk mempersiapkan pernikahan kalian berdua," sahut Maya.


"Iya benar, itu yang paling tepat," sahut Olive yang semangatnya kembali muncul.

__ADS_1


"Mama juga akan memulai mempersilahkan segalanya," sahut Maya.


"Biar aku yang mengurus tiket ke pulangan kita semua," sahut Gibran.


"Baik Gibran Tante serahkan kepada kamu," sahut Maya


"Tapi mah," sahut Anna tiba-tiba membuat orang melihat ke arah Anna.


"Ada apa Anna?" tanya Sana heran.


"Hmmm, kita tidak perlu pulang. Karena aku sama Athar ingin menikah di sini," jawab Anna dengan pelan.


Lagi-lagi berita yang di ucapkan Anna dan Athar sangat mengejutkan.


"Kalian ingin menikah di sini?" pekik Aurelia.


"Iya kak. Makanya jangan pulang dulu," sahut Anna.


"Tunggu-tunggu dulu. Kalau menikah di sini dan menyuruh tidak pulang. Itu artinya pernikahannya tinggal sebentar lagi!" tebak Olive yang menuduga-duga melihat Athar dan Anna secara bergantian.


"Jangan bilang menikahnya dalam Minggu ini," sahut Sana yang juga menebak.


Anna dan Athar saling melihat dan mengangguk bersamaan yang mengagetkan semua orang lagi.


"Anna, Athar begini ya. Bukannya mama tidak suka kalian menikah cepat. Tapi kalau kecepatan itu juga tidak mungkin. Persiapannya bagaimana," sahut Maya jadi panik gara-gara anaknya yang membuat spot jantung.


"Tidak perlu banyak persiapan Tante dan masalah persiapan nanti biar aku yang mengutusnya yang intinya dalam Minggu ini aku dan Anna akan menikah," sahut Athar yang menegaskan pada semuanya.


"Athar tidak mudah mengurusnya. Ini sangat buru-buru," sahut Anjani yang ikutan panik.


"Tetapi ini harus di laksanakan mah," sahut Athar yang ngebet nikah.


"Tunggu-tunggu. Kalian berdua kenapa tiba-tiba jadi buru-buru seperti ini. Anna tidak sedang hamilkan," ucap Anjani menatap Anna curiga.


Anna yang kaget langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak Tante, Tante ini ini bicara apa," sahut Anna yang membantah.


Bahkan celetukan kecurigaan Anjani juga membuat orang-orang yang ada di sana ikut-ikutan menduga hal itu dengan menatap Athar dan Anna curiga.


"Benar, apa-apaan sih pikirannya. Jangan mentang-mentang aku sama Anna buru-buru menikah. Lalu di bilang Anna hamil segala," sahut Athar yang juga kesal dengan pikiran semua orang.


Apa lagi melihat Gibran yang senyum-senyum penuh arti seolah membenarkan bahwa dirinya menghamili Asyifa.


"Asyifa berani bersumpah mah, pah, Asyifa tidak hamil juga tidak pernah macam-macam dengan Athar," tegas Asyifa sampai mengangkat ke-2 jarinya.


"Benar kamu tidak hamil?" tanya Maya.


"Ya benarlah mah," sahut Asyifa dengan serius.


"Lagian kenapa sih pemikiran semuanya sampai kesana. Aku menikah dengan Anna bukan buru-buru dan memang ingin di sini. Lagian juga persiapannya tidak sulit-sulit amat dan bukan berati Anna hamil," tegas Athar.


"Ya udah Athar nggak usah marah juga kali, kita semua kan hanya bertanya saja," sahut Gibran yang sejak tadi menikmati kekesalan wajah Athar.


"Sayang kamu ini ya," tegur Sana.


"Baiklah Tante percaya sama kamu Anna. Mama juga percaya sama kamu Athar. Kamu tidak mungkin macam-macam pada Anna. Karena pasti tau apa yang harus kamu lakukan dan tidak kamu lakukan," sahut Maharani.


"Tuh dengarin semuanya," sahut Athar


"Sudah-sudah jangan di bahas lagi masalah ini. Baiklah jika kalian ingin menikah di sini dan dalam Minggu ini. Papa akan mempersiapkan semuanya dan pernikahan ini juga tidak adakan dengan apa adanya. Walau sangat mendadak. Kami akan membuat pernikahan yang sebaik mungkin untuk kalian berdua," sahut Ari Purnama.


"Makasih pah," sahut Athar.


"Makasih Om," sahut Anna yang tersenyum.


"Aku juga pasti bantuin," sahut Olive.


"Aku juga pasti," sahut Sana tidak mau ketinggalan.


"Dan aku juga harus," sahut Aurelia.

__ADS_1


"Kita semua sama-sama akan membantu persiapan ini," sahut Maharani.


"Makasih untuk semuanya," sahut Anna yang begitu bahagianya dengan Anna yang tersenyum lebar. Athar juga tersenyum dengan memegang tangan Anna menggengamnya dengan erat yang mana mereka saling melihat dengan sama-sama menatap penuh dengan ketulusan.


"Semoga di pelancar segala pernikahan Anna dan Athar," batin Anjani yang hanya mendoakan yang terbaik untuk anak dan juga calon menantunya Anna.


***********


Anna menghampiri Chandra yang ada di balkon di teras atas. Di mana Chandara yang berdiri dengan ke-2 tangannya yang di letakkan di pagar.


"Pah!" tegur Anna.


"Hey Anna, ayo kemari!" ajak Chandra. Anna mengangguk dan berdiri di samping papanya.


"Di luar sangat dingin. Ayo masuk kedalam. Kesehatan papa sedang tidak baik," ucap Anna.


"Tidak apa-apa. Papa harus terbiasa dengan suara dingin. Karena nanti kamu bukannya akan menikah dengan tema out door. Jadi papa harus siapkan tubuh papa," ucap Chandra.


"Jika kesehatan papa tidak memungkinkan untuk hal itu tidak apa-apa Anna dan Athar akan mengubah tema pernikahan," ucap Anna yang tidak ingin terjadi sesuatu pada papanya.


"Anna kamu ini apa-apaan sih. Papa tidak apa-apa dan papa akan mengikuti mau kamu dan Athar menikah dengan seperti apapun. Papa tidak masalah sama sekali," ucap Chandara.


"Tapi Anna takut kesehatan papa nanti menurun," ucap Anna yang khawatir dengan Anna.


Chandra tersenyum dan menghadap putrinya itu dengan memegang ke-2 tangan Anna.


"Bagaimana mungkin kesehatan seorang ayah akan menurun jika anak perempuannya akan menikah. Yang adanya papa akan sangat bahagia," ucap Chandra dengan matanya yang berkaca-kaca yang pasti terharu dengan pernikahan sang putri yang menjadi impian Anna.


Anna langsung memeluk Chandra, "Anna juga sangat bahagia pah, dengan pernikahan ini dan apa lagi papa yang secara langsung yang akan menikahkan Anna. Anna sangat bahagia," ucap Anna dengan meneteskan air matanya.


"Kamu harus menjadi istri yang baik dan harus menurut pada suamimu. Papa sangat percaya jika Athar pasti akan membahagiakan kamu," ucap Chandra yang berpesan pada Anna.


"Iya pah, Anna akan selalu mengingat kata-kata papa," sahut Anna yang melepas pelukan itu dari Chandra, "makasih ya pah, selama ini sudah selalu memberikan Anna nasehat, makasih juga sudah mempercayakan Athar untuk mendamping Anna. Anna janji tidak akan pernah mengecewakan papa," ucap Anna.


"Iya papa yakin itu. Karena anak papa yang cantik ini semakin lama semakin dewasa dan semakin bijak. Sekali lagi selamat untuk pernikahan kamu. Papa sangat bangga masih di berikan kesempatan untuk menikahkan kamu," ucap Chandra yang terus menatap Anna.


"Papa bicara apa. Anna menikah bulan depan, tahun depan atau beberapa tahun lagi bukannya memang papa yang harus menikahkan Anna," sahut Anna.


"Iya Anna kamu benar. Tapi papa memang sangat bahagia karena dengan kesempatan ini," sahut Chandra. Anna kembali memeluk Chandra.


"Papa jangan memikirkan apa-apa. Tetap jaga kesehatan. Ingat kak Aurelia masih ada dan pasti juga ingin di nikahkan oleh papa," ucap Anna yang berpesan.


"Kamu ini bicara seolah papa mau pergi saja," seloroh Chandra.


"Apaan sih pah udah deh jangan bicara hal itu," sahut Anna yang lama-kelamaan kesal mendengarnya.


"Iya-iya," sahut Chandra dengan mengusap-usap pucuk kepala Anna.


"Anna!" tegur Athar yang tiba-tiba datang membuat Anna melepas pelukannya dari Chandra.


"Athar ada apa?" tanya Anna.


"Mama dan Tante Maya sedang mencari kamu," ucap Athar.


"Oh begitu, ya sudah kalau begitu. Pah Anna temui mama dulu. Papa langsung masuk saja. Nanti papa sakit," ucap Anna yang mengingatkan papanya.


"Iya Anna, kamu duluan lah, papa mau bicara sebentar dengan Athar," ucap Chandra.


"Ya sudah Anna pergi dulu," sahut Anna yang langsung meninggalkan Athar dan Chandra di mana Athar langsung menghampiri Chandra.


"Om ingin mengatakan sesuatu?" tanya Athar.


"Iya Athar, Om hanya ingin berterima kasih pada kamu yang sudah sangat baik yang mau menjaga Anna selama ini, dari Anna dan saya hubungannya tidak baik sampai detik ini. Kamu sudah memberikan Anna kebahagiaan. Saya benar-benar berterima kasih pada kamu," ucap Chandra.


"Om jangan berlebihan, itu adalah kewajiban saja," sahut Athar.


"Iya Athar dan Om juga sangat meminta pada kamu. Tolong bahagiakan Anna. Jaga dia terus Om sangat percaya pada kamu," ucap Chandra yang menitip pesan pada Athar.


"Itu sudah pasti Om," sahut Athar yang memang akan terus membahagiakan Anna.


"Om lega mendengarnya dan Om yakin kamu akan menepati janji kamu," ucap Chandra.

__ADS_1


Athar menganggukkan kepalanya. Memang sudah janjinya untuk membahagiakan Anna dan Chandra sudah menerima kepercayaan itu pada Athar.


Bersambung


__ADS_2