
" Athar!" tegur Jennie.
" Kau terus awasi dia. Aku tidak akan mengampuninya kali ini!" titah Athar.
" Baiklah, aku akan melakukannya," jawab Jennie.
" Dan jangan lupa Tante Maya," sahut Athar mengingatkan lagi.
" Baik Athar," sahut Jennie. Athar menutup telpon itu dengan wajahnya yang tampak begitu emosi.
" Kau benar-benar bajingan Gibran, beraninya kau melibatkan Anna dalam urusan kita. Aku tidak akan mengampuni mu kali ini. Kau sengaja bermain-main dengan ku," umpat Athar dengan sorot matanya yang tajam.
Wanitanya yang ingin di celakai karena Athar. Walau tujuan Gibran adalah Athar. Namun Anna sudah beberapa kali celaka. Dan yang paling parah di rel kereta api yang jelas membuat Athar naik darah.
Dan Athar tampaknya tidak heran dengan kelakukan kakak tirinya itu. Athar sangat tau Gibran itu sangat serakah pada perusahaan dan tidak mau kalah saing dengannya. Jadi bukan suatu yang mengejutkan untuk Athar jika Gibran sanggup mencelakainya demi ambisinya.
Dan memang Athar akan menghadapi Gibran langsung setelah urusannya selesai. Karena ini sudah berkaitan dengan Anna dan selama ini dia cukup diam.
**********
Jennie yang baru selesai menelpon Athar. Membuang napasnya dengan perlahan kedepan.
" Aku harus mulai dari mana untuk menyelidiki Maya," ucap Jennie memijat kepalanya. Pikirannya bertambah dengan perintah Athar lagi.
" Huhhhhh, Gibran belum selesai dan sekarang ada yang baru. Athar kapan kau tidak merepotkan ku," gumam Jennie dengan geleng-geleng.
Resiko menjadi teman yang serba bisa. Bisa melakukan pekerjaan kantor, mengurus meeting Athar, bisa menjadi detektif, dan paling bisa melumpuhkan orang yang tidak berguna. Contohnya kemarin Gibran yang tersungkur mencium kaki Jennie. Ya Jennie memang wanita yang tangguh.
**********
Setelah dari toilet Athar kembali ke tempat di mana dia duduk dan di sana Anna sudah makan saja. Anna tersenyum tanpa dosa melihat Athar.
" Kau sudah makan. Aku baru saja ke toilet," ucap Athar tampak kesal.
" Aku lapar," jawab Anna dengan mulutnya yang tidak berhenti makan. Athar pun kembali duduk di tempatnya.
" Kau mau makan?" tanya Anna menawarkan.
" Bukannya kau itu pelit makanan. Apa lagi jika Bibimu yang memasakkanya. Kau bahkan tidak ada niat membaginya padaku," sindir Athar mengingatkan kejadian sewaktu di desa waktu itu.
" Issss, jangan mengingat itu. Namanya juga aku emosi," sahut Anna dengan suaranya yang di ayun.
__ADS_1
" Aku minta maaf. Karena kemarin sudah tidak memberimu makan," ucap Anna dengan wajah merasa bersalahnya.
" Baiklah, aku akan melupakan semua itu," sahut Athar membuat Anna tersenyum.
" Hmmm, lalu bagaimana malam itu. Kamu makan apa?" tanya Anna khawatir pada Athar.
" Aku tidak makan apa-apa," jawab Athar. Wajah Anna semakin menunjukkan rasa bersalahnya pada Athar.
" Maafkan aku. Seharusnya kau minta makan lagi sama bibi saat itu," ucap Anna dengan manyun.
" Tidak apa-apa, aku mengerti kau marah. Lagi pula kita jangan membahas itu lagi. Karena aku tau. Jika kau tidak marah. Kau tidak melakukan itu kepadaku," ucap Athar dengan lembut bicara pada Anna.
" Ya sudah sekarang kamu juga makan. Aku akan panggil Pramugari untuk membawakan makanan," ucap Anna.
" Tidak usah, aku ingin makan apa yang kamu maka," sahut Athar.
" Ya sudah aku akan bilang pada Pramugari," sahut Anna santai.
" Bukan makanan yang sama. Tetapi makanan yang ada di piringmu. Itu yang aku inginkan," ucap Athar lembut.
" Ini?" tanya Anna memastikan. Athar menganggukkan kepalanya.
" Ber-2?" tanya Anna memastikan lagi. Athar mengangguk.
" Kenapa? Apa kamu tidak ingin membagi makanan mu denganku?" tanya Athar memastikan.
" Bukan begitu. Tetapi masa iya, kan porsinya sedikit. Kalau bagi dua mana bisa memenuhi perutku," sahut Anna dengan polosnya.
Ya soal makanan dia memang sangat perhitungan. Athar sampai geleng-geleng melihat Anna yang mempersalahkan hal itu.
" Jika kurang maka kita minta lagi. Yang penting aku ingin makan sepiring berdua denganmu," ucap Athar lagi yang sudah mulai bucin.
Anna terlihat membuang napasnya panjang yang seperti meragukan permintaan Athar. Sementara Athar masih menunggu keikhlasan Anna.
" Baiklah!" sahut Anna setuju dan langsung menyendokkan makanannya dan menyodorkan ke mulut Athar, " ak," ucap Anna.
" Ikhlas?" tanya Athar sebelum memakannya. Anna menganggukkan kepalanya. Athar tersenyum dengan membuka mulutnya yang menerima suapan pertama dari Anna.
" Enak?" tanya Anna. Athar mengangguk dan kembali menyuapi Athar.
" Anna kau sudah membantuku mengetahui rahasia yang selama ini di sembunyikan dari ku. Kau membuatku tau siapa ibu kandungku dan aku berjanji akan mempertemukanmu dengan ibumu. Karena aku tau itu adalah kebahagianmu," batin Athar yang menatap dalam-dalam. Dia benar-benar berjanji pada Anna. Dan memang Athar akan berusaha untuk melakukan semua itu.
__ADS_1
**********
Amelia yang ingin Perusahan nya selamat dari kehancuran. Amelia pun sekarang menemui kliennya di salah satu Restaurant.
" Semoga dia tidak menunggu lama," batin Aurelia yang memasuki Restaurant tersebut.
Amelia pun melihat di sekitarnya mencari-cari di segala arah untuk menemukan kliennya. Dan seketika mata Amelia berhenti pada sosok Pria tampan yang duduk dengan kakinya diangkat satu di atas pahanya yang terlihat menscroll ponselnya.
" Huhhhhh, itu dia," batin Amelia.
Yang ternyata Pria itu adalah klien yang ingin di temuinya. Amelia pun langsung menghampiri Pria yang terlihat cuek dan terlihat berwibawa tersebut.
" Mahendra!" tegur Amelia yang berdiri di samping Pria itu. Pria yang bernama Mahendra itu mengangkat kepalanya melihat ke arah Amelia.
" Iya saya sendiri," jawab Mahendra, " nyonya Amelia?" tanya Mahendra memastikan.
" Iya saya Amelia," sahut Amelia.
" Mari silahkan duduk!" ucap pria itu dengan sopan mempersilahkan wanita itu untuk duduk. Amelia dengan ketenangannya pun duduk di depan Pria itu.
" Maaf saya sedikit terlambat," ucap Amelia.
" Tidak apa-apa. Baik nyonya Amelia. Kita sudah bicara di telpon kemarin. Boleh saya lihat berkas-berkas Perusahan anda," ucap Mahendra tanpa basa-basi.
" Baiklah," sahut Amelia yang langsung menyerahkan berkas-berkas itu.
" Atasan kamu tidak ikut?" tanya Amelia yang mengetahui jika Pria yang di depannya itu hanya tangan kanan.
" Tidak kebetulan dia ada di luar kota dan saya yang mengurus kerja samanya," jawab Mahendra sembari melihat-lihat berkas-berkas itu.
" Begitu rupanya," sahut Amelia.
" Baiklah Bu Amelia saya sudah melihat data-data Perusahaan ibu. Dan kita langsung pada intinya saja," sahut Mahendra yang tidak ingin basa-basi.
Mahendra tampak mengeluarkan dokumen dan langsung menggeser pada Amelia.
" Silahkan di tanda tangani!" ucap Mahendra.
" Apa saya bisa menjamin Perusahaan saya akan terselamatkan?" tanya Amelia dengan sedikit ragu.
" Saya tidak menyuruh nyonya untuk percaya. Namun pada intinya atasan saya memegang kendali ini. Kami juga menyiapkan dana dengan jumlah besar dan saya rasa tidak akan ada yang di rugikan dalam hal ini. Ini sangat setimpal jika nantinya ada sesuatu yang terjadi di luar dugaan," ucap Mahendra menjelaskan sedikit dengan tenang.
__ADS_1
Bersambung