
Perusahaan Glossi.
Athar dan Jennie berjalan sambil berbincang-bincang.
" Aku mau kamu cari tau tentang kehidupan Anna. Ibu kandungnya dan hal yang terkecil!" titah Athar pada Jennie. Jennie pasti bingung dengan Athar yang tiba-tiba menyuruhnya untuk mencari informasi itu. Tetapi Jennie tidak pernah saat di perintah harus bertanya kenapa?
" Apa kamu mengerti Jennie?" tanya Athar.
" Hmmm, baiklah. Aku akan mencoba mencari tahunya," jawab Jennie. Athar mengangguk.
***********
Mobil Aurelia berhenti di Perusahaan Glossi. Dia langsung buru-buru keluar dari mobil yang pasti tujuannya datang ke Perusahaan itu untuk menemui Athar.
Aurelia memasuki Perusahaan itu dan dia langsung melihat Athar yang berjalan dengan Jennie yang sama-sama mengobrol.
" Athar!" panggil Aurelia. Athar dan Jennie sama-sama menghentikan langkah kaki mereka membalikkan tubuh mereka dan melihat Aurelia yang berlari menghampiri Athar dan Jennie.
" Aku ingin bicara denganmu," ucap Aurelia dengan memegang lengan Athar. Namun Athar menjauhkan lengannya dengan pelan.
" Bicaralah!" sahut Athar tampak dingin. Aurelia melihat ke arah Jennie.
" Hmmm, aku permisi dulu," ucap Jennie yang menundukkan kepalanya yang langsung pergi. Dia juga tidak ingin mengganggu Athar dan Aurelia.
" Ada apa?" tanya Athar.
" Athar aku sungguh tidak tau menahu tentang kejadian semalam. Aku tidak tau kalau Anna bisa sampai seperti itu," ucap Aurelia yang mencoba membagi penjelasan.
" Lalu saat Jennie bertanya kepadamu. Apa Anna sudah ada di sana?" tanya Athar. Aurelia menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.
" Iya dia ada di sana. Athar aku tidak mungkin mencampuri urusan papa. Aku tidak tau apa-apa. Papa jika marah memang seperti itu dan itu juga berlaku untukku. Bukan hanya Anna saja. Jadi tolong jangan berpikiran yang lain-lain kepadaku," ucap Aurelia yang mencoba menjelaskan.
" Ya sudah kalau begitu, aku harus kembali keruangan ku. Pekerjaanku banyak," ucap Athar yang tampak dingin.
" Athar tunggu, kamu kenapa seperti ini kepadaku," ucap Aurelia memegang lengan Athar. Athar kembali menurunkan tangan Aurelia dari lengannya.
" Aku sibuk, aku pergi dulu," ucap Athar yang langsung pergi.
" Athar!" panggil Aurelia. Athar tidak berhenti atau berbalik sedikitpun. Dia langsung pergi begitu saja.
" Issshhh, kenapa semuanya seperti ini. Benar-benar sangat keterlaluan," desis Aurelia yang benar-benar stress dengan masalah yang begitu banyak terjadi. Hubungannya dan Athar pun akhirnya semakin berantakan.
***********
__ADS_1
Anna sekarang sedang menikmati makan yang di temani oleh Olive. Di mana Anna terlihat makan dengan lahap.
" Jadi Tante itu mama kamu?" tanya Anna.
" Hmmmm, dia mama ku, aku juga baru tau kalau ternyata mamaku mengenalmu," ucap Olive.
" Mengenalku, mengenalku dari mana?" tanya Anna heran.
" Buktinya mama ku tahu kalau kamu anak Pak Chandra adiknya kak Aurelia," sahut Olive dengan santai.
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Anna yang maaih mencoba meresapi apa yang di katakan Olive.
" Kenapa Tante Maharani mengenalku. Apa jangan-jangan saat kami bertabrakan. Tante Maharani memang sudah mengenalku," batin Anna yang tiba-tiba kepikiran tentang masalah itu.
" Anna kamu kenapa?" tanya Olive.
" Tidak apa-apa. Lalu Pak Derry bagaimana?" tanya Anna heran.
" Kak Derry adalah kakakku, kak Gibran dan juga kak Athar. Mereka ber-3 adalah kakak ku," jawab Olive. Anna sampai kaget mendengarnya dengan menelan salavinanya.
" Jadi mereka semua adalah saudaramu, sungguh benar-benar kebetulan," ucap Anna di dalam hatinya yang tidak percaya.
" Kamu melamun lagi," ucap Olive.
" Hmmm, benar sekali, memang sudah seperti itu," sahut Olive.
" Kok bisa," sahut Anna yang malah menghentikan makannya.
" Ya bisalah, memang harus ada alasan untuk semua itu?" tanya Olive. Anna menggeleng.
" Kenapa dunia ini sangat sempit bisa-bisanya mereka semua bersaudara," batin Anna.
" Hmmm, oh iya kamu belum menjawab pertanyaan ku, kenapa aku bisa ada di rumahmu?" tanya Anna yang memang masih penasaran dengan keberadaannya.
" Kebetukan kami lagi makan malam di rumah Om Chandra dan kak Athar tidak sengaja menemukanmu dalam kondisi yang begitu tragis," sahut Olive menceritakan dengan mengedikkan bahunya.
" Taragis sungguh sangat tragis?" tanya Anna.
" Hmmm, hidungmu berdarah, wajahmu pucat, dan pakaianmu ada belatungnya," sahut Olive yang merasa jijik menceritakannya.
" Benarkah?" tanya Anna.
" Iya Anna aku benar. Lalu kak Athar langsung meminta kunci pada Om Chandra. Awalnya sampai terjadi perdebatan. Tapi karena kakak ku yang super keren itu memebrikan ancaman, jadi mau tidak mau dia berhasil mengeluarkan kamu dan mengendong kamu. Lalu membawa kamu sampai kemari," ucap Olive menjelaskan.
__ADS_1
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Anna yang malah menjadi bengong.
" Jadi dia yang sudah menyelamatkan ku. Membawaku keluar dari tempat itu," batin Anna yang tidak habis pikir dengan Athar.
" Anna kamu harus berterima kasih kepada kakakku, kalau bukan karena dia mungkin saja, besok, Minggu depan atau tidak tau sampai kapan. Kamu akan tetap masih ada di sana," ucap Olive. Anna hanya tersenyum terpaksa dengan kata-kata Olive.
********
Malam hari kembali, Olive sedang mengolesi salep pada pergelangan tangan Anna dan juga kaki Anna.
" Hmmm, semoga saja memarnya cepat hilang. Isssss apa mereka manusia sungguh jahat dan kejam, bisa-bisanya mereka membuat mu seperti ini, lihat tanganmu sampai lecet," ucap Olive yang terus mengoceh sambil mengobati Anna.
" Oh, iya Anna apa itu yang membuatmu tidak mengakui keluargamu?" tanya Olive tiba-tiba yang melihat kearah Anna. Anna diam dan tidak menjawab.
" Maaf aku tidak bermaksud untuk bertanya. Lagian kenapa harus di pikirkan iya tidak," ucap Olive tersenyum yang tidak mau Anna sampai kehilangan mood.
" Makasih ya Olive kamu sudah baik kepadaku," ucap Anna.
" Hmmm, memang apa yang aku lakukan. Aku tidak melakukan apa-apa," sahut Olive.
" Ya banyaklah, kamu sudah membantuku, meminjamkan ku baju, mengobatiku. Jadi banyak yang kamu lakukan," ucap Anna.
" Benarkah?" tanya Olive. Anna tersenyum.
" Bukannya kita sudah menjadi bestie yang memang seharusnya kita menjadi sahabat dekat, jadi harus saling membantu," sahut Olive.
" Iya deh," sahut Anna.
Tok-tok-tok-tok. Pintu kamar yang di ketuk membuat Olive dan Anna melihat ke arah pintu yang langsung di buka begitu saja.
" Anna, Olive ayo turun kita makan malam dulu," ajak Maharani dengan lembut.
" Iya mah, ayo Anna!" ajak Olive.
" Makan, itu berarti akan ada di sana. Bukan hanya dia ada juga si tidak punya otak di sana si Gibran sok-sokan itu. Ahhhh, makan sama mereka hanya membuat seleraku berkurang mending nggak usah," batin Anna yang bergerutu sendiri.
" Anna, ayoo," ajak Olive lagi.
" Aku tidak lapar kamu saja," sahut Anna menolak. Pasti hanya malu-malu saja. Isshhh mana bisa gitu. Pokoknya harus makan sama-sama," desak Olive.
" Tapi Olive," sahut Anna masih menolak. Bukan Olive namanya yang tidak akan menarik Anna dari ranjang. Tangannya baru saja di obati. Tapi Olive sudah suka-sukanya, memang dasar Olive aneh.
Bersambung
__ADS_1