
Tidak lama Anna keluar dari kamar mandi dengan handuk mandi dan Anna duduk di pinggir ranjang di dekat nakas untuk melihat handphonnya yang tadi sempat di tinggalnya saat lobet dan Anna langsung menghidupkannya yang dayanya belum terisi penuh. Karena hanya di isi baru beberapa menit saja.
Wallpaper handphone Anna masih sama dengan sebelumnya dan sama dengan Athar yang ke-2nya memakai wallpaper dia dan Athar. Dengan foto berdua. Namun bersama Athar. Anna melihat sebentar saja dan membuka-buka ponselnya. Yang melihat apakah ada chat yang masuk.
Athar tadi menelpon saat ponselnya lobet. Jadi jelas Anna tidak akan melihat panggilan masuk dari Athar. Anna menghela napasnya kedepan dan kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Tidak tau apa yang di pikirkannya.
*********
Hari telah di jalani sampai berhari-hari dalam hitungan hari dan harus memulai hari baru. Anna sendiri dan Aurelia bahkan sudah tidak menginap di rumah Chandra lagi dan mereka hanya akan datang kesana kalau ada masalah ya mereka mengakui sendiri hal itu. Sekarang Anna dan Aurelia berada di dalam mobil yang di setiri oleh Aurelia dan Anna yang duduk di sebelahnya.
"Anna kamu jadi hari ini sama Lisa mau cek gedung pernikahan Lisa?" tanya Aurelia menoleh sebentar pada Anna.
"Jadi kak, tetapi setelah kita selesai meeting saja," jawab Anna.
"Baiklah kalau begitu," sahut Aurelia.
"Oh iya kakak sendiri bagiamana. Bukannya juga ingin ikut ngecek tempatnya?" tanya Anna yang sebelumnya Aurelia berjanji untuk menemaninya.
"Kayaknya tidak jadi kamu saja yang melakukannya," ucap Aurelia.
"Kenapa tidak jadi?" tanya Anna.
"Di sana pasti ada Olive dan sepertinya Olive masih punya dendam kesumat dengan ku. Jadi aku malas mencari masalah dengan Olive. Kamu saja yang pergi," jawab Aurelia yang memang pasti Olive masih sangat tidak menyukainya. Karena masalah Mahendra. Namun tidak tau sampai kapan mereka menjadi orang yang terus bermusuhan.
"Nanti aku coba bicara pada Olive. Agar kakak dan Olive tidak musuhan lagi," ucap Anna.
"Tidak perlu Anna. Biar itu menjadi urusan kami saja," sahut Aurelia, "lagian memang sangat wajar jika Olive harus membenci kakak dan tidak menyukai kakak. Karena kakak mengakui kakak ini sangat kelewatan," ucap Aurelia.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Aku berdoa saja semoga kakak dan Olive hubungannya kedepan jauh lebih baik," ucap Anna.
"Kakak juga berharap seperti itu," sahut Aurelia.
"Hmmm, oh iya kak Aurelia. Aku boleh tidak minta tolong sama kakak," ucap Anna tiba-tiba.
"Boleh. Minta tolong apa?" tanya Aurelia.
"Aku ada beberapa berkas yang harus di berikan pada Derry. Aku kayaknya tidak akan sempat menemui Derry. Boleh tidak aku minta tolong pada kakak untuk ke Perusahaan Glossi untuk menemui Derry," ucap Anna yang berbicara sangat hati-hati yang takut jika Aurelia menolaknya.
"Memang harus kakak?" tanya Aurelia Anna mengangguk-anggukkan kepalanya yang di harapkannya memang hanya kakaknya saja.
"Ya sudah kalau begitu," jawab Aurelia yang ternyata tidak menolak sama sekali yang membuat Anna tersenyum lebar mendengarnya.
"Makasih kak Aurelia. Kakak benar-benar yang paling terbaik," ucap Anna yang memuji Aurelia.
"Ya kan memang harus seperti itu," sahut Anna yang dengan santainya tersenyum lebar. Aurelia pun ikut juga tersenyum dengan Anna.
*********
Derry berada di ruangannya yang beberapa kali memijat kepalanya yang terlihat sangat frustasi.
"Tidak mungkin hanya alasan seperti itu saja. Benar apa yang di katakan mama dan juga papa. Itu sangat tidak masuk akal. Jika kak Athar tidak ingin menikah karena masalah keluarga dan mengalami trauma. Itu masalah yang sangat aneh," batin Derry yang kepikiran mengenai hal itu.
Kemarin dia memang menelpon Athar dan mereka berbicara serius. Derry juga mengatakan apa yang di katakan Anna. Mengenai prinsip Athar dan bahkan Derry juga berusaha untuk membuka pikiran Athar agar tidak mentok di sana saja. Namun apa yang di katakan Derry tidak mempengaruhi apa-apa sama sekali. Tetap saja. Athar hanya tetap pada pendiriannya dan malah menitip Anna pada Derry.
Apa yang di katakan Athar sangat tidak masuk akal dan langsung membuat Derry menceritakan permasalahan itu pada Maharani dan Ari Purnama. Jelas sebagai orang tua mereka merasa bersalah. Karena merekalah Athar bisa punya pikiran seperti itu dan pasti Athar menjadi korban begitu juga dengan Anna. Namun pembicaraan kemarin juga tidak mendapatkan hasil sama sekali.
__ADS_1
Derry dalam pemikirannya menelpon seseorang.
"Kamu siapkan tiket penerbangan ke New York untuk hari ini. Mau jam berapa saja. Yang penting berangkat hari ini," ucap Derry yang memberikan perintah.
"Saya tunggu," sahut Derry yang langsung menutup telpon itu.
"Aku harus menemui kak Athar langsung. Aku tidak bisa membiarkan semuanya seperti ijin Aku sangat mengenal kak Athar dan semua ini sangat tidak masuk akal. Aku harus menemuinya. Aku harus mendapatkan kejelasan," batin Derry yang merasa ada yang tidak beres dengan kakaknya.
Baginya Anna dan Athar bagai magnet yang tidak bisa di pisahkan. Namun kenapa sekarang berpisah dengan alasan yang tidan masuk akal. Karena dia juga mengenal Athar, pikiran Athar yang luas dan sangat modern. Jadi mana mungkin Athar bisa berpikir pendek seperti itu.
**********
Sementara di kediaman Anjani. Anjani berdiri melihat ke arah luasnya taman rumahnya dengan ke-2 tangannya yang di lipatnya di dadanya.
"Ada apa dengamu Athar. Kenapa tidak mengatakan apa-apa kepada mama. Ini sangat tidak mungkin Athar," batin Anjani yang merasa putranya tidak baik-baik saja dan membuat Anjani yang sebagai seorang ibu pasti merasa sesuatu.
Anjani menarik napasnya panjang kedepan dan membuangnya perlahan kedepan. Langsung memasuki rumahnya. Anjani yang berjalan di dalam rumahnya melewati kamar Athar dan tidak tau kenapa Anjani ingin sekali masuk kedalam kamar itu dan Anjani langsung memasuki kamar putranya tersebut.
Kamar itu tampak tapi. Karena pasti tau bagaimana rapinya Athar. Anjani kembali menghela napas dan melangkah masuk kedalam. Dan hanya melihat-lihat saja kamar kosong itu.
"Kamu akan sangat lama di Luar Negri Athar. Kamar ini akan terus kosong dan mama pasti sangat merindukan mu," batin Anjani yang melihat ke sekitar kamar. Namun mata Anjani berhenti pada lantai yang terlihat kartu nama yang jatuh di dekat tempat tidur membuat Anjani berjongkok dan langsung mengambil kartu nama itu.
"Dokter Luis," gumam Anjani melihat kartu nama tersebut yang ternyata seorang Dokter.
"New York," lirihnya lagi saat melihat tempat praktek Dokter tersebut di New York. Membuat Anjani benar-benar heran dengan dahinya yang mengkerut.
Bersambung
__ADS_1