
Anna, Anjani dan Athar akhirnya makan bersama. Mereka makan dengan lahap dengan masakan yang begitu banyak yang di masakkan Anjani dengan begitu cepat.
" Ayo Athar kamu makan yang banyak!" ucap Anjani.
" Iya Bu, terima kasih," sahut Athar.
" Hmmm, oh iya Athar kamu tau tidak Bu Anjani mengatakan. Kalau dia juga punya putra," sahut Anna tiba-tiba. Anjani langsung terdiam mendengarnya.
" Oh, iya!" sahut Athar melihat serius Anjani.
" Iya, saya mempunyai anak dan usianya seperti kamu," sahut Anjani.
" Lalu kemana anak ibu?" tanya Athar.
" Dia sedang bersama orang lain," jawab Anjani tersenyum yang menutupi kesedihannya.
" Hmmm, semoga saja suatu saat nanti anak Bu Anjani bisa makan bersama kita," sahut Anna dengan tersenyum lebar.
" Iya semoga saja. Aku juga penasaran dan ingin berkenalan dengan Anka ibu," sahut Athar. Anjani hanya mengangguk saja dengan tersenyum haru.
" Kita sudah makan bersama dan bahkan sudah sering makan bersama," batin Anjani.
" Oh, iya mengenai yang menculik Anna. Siapa kira-kira mereka sampai ingin mencelakai Anna?" tanya Anjani yang seketika kepikiran dengan orang-orang jahat itu.
" Aku juga tidak tau Bu," sahut Anna.
" Anna dan ibu jangan khawatir dan jangan memikirkan apa-apa. Hal ini tidak akan terulang lagi dan saya juga akan membawa masalah ini ke dalam hukum untuk menjaga keamanan Anna. Jadi jangan khawatir Anna akan baik-baik saja setelah ini," ucap Athar yang berjanji.
" Syukurlah jika ada titik terangnya. Ibu takut jika mereka akan melakukan hal itu lagi. Tidak tau juga apa motifnya. Tetapi sudah melakukan dengan seenak-enaknya, untung saja ada kami. Jika tidak ibu tidak tau apa yang akan terjadi pada Anna selanjutnya," ucap Anjani yang masih khawatir pada Anna.
" Makasih ya Bu Anjani sudah mengkhawatirkan Anna. Anna tidak akan apa-apa. Dan lain kali Anna akan lebih hati-hati lagi. Anna janji," ucap Anna yang merasa bahagia karena mendapatkan rasa khawatir dari Anjani.
" Ibu wajar khawatir sama kamu. Nanti kalau mau pergi ajak-ajak ibu ya. Supaya mereka tidak berani mengganggu kamu," ucap Anjani.
__ADS_1
" Baik Bu Anjani, siap. Jika ada ibu Anna juga yakin mereka tidak akan berani mengganggu Anna karena ibu pasti sangat pandai bela diri," sahut Anna tersenyum.
" Iya ibu memang bisa bela diri," sahut Anjani menyombongkan dirinya membuat Anna tertawa lepas.
" Dengan adanya Bu Anjani di rumah ini. Aku melihat Anna jauh lebih bahagia. Syukurlah hari-harinya lebih terawat, lebih baik dari sebelumny," batin Athar yang tersenyum melihat Anjani dan Athar. Melihat senyum 2 wanita itu membuatnya begitu teduh.
" Ayo Athar, Anna, kalian tambah lagi, Makanannya harus di habiskan, jangan sampai mubajir," ucap Anjani memberikan lauk ke piring Athar dan juga bergantian kepiring Anna," Athar pun tidak menolaknya sama dengan Anna.
" Terima kasih ya Allah, berkat Anna aku bisa bersama dengan putraku. Aku tidak percaya bisa menjadi ibu yang bahkan beberapakali sudah memasakkan nya dan mengobrol bersama, saling berbahagia dan terus melihat perkembangannya," batin Anjani dengan tersenyum haru. Kebahagian yang tidak pernah di dapatkannya.
" Hmmmm, aku tidak tau kenapa akhir-akhir ini hari-hari ku begitu bahagia. Dengan hadirnya Bu Anjani aku merasa seperti seorang anak dan Athar dia selalu saja membantuku," batin Anna yang tersenyum lebar dengan kebahagiannya.
**********
Malam hari tiba Athar dan Anna sama-sama menuruni anak tangga yang pasti Anna ingin mengantar Athar ke mobil yang di kendarai Jennie yang mana Jennie sudah menunggunya. Karena pasti Athar menghubungi Jennie terlebih dahulu.
Katanya Athar ingin istirahat tadi. Tetapi tidak justru dia menghabiskan waktu banyak bersama Anna yang berbicara banyak yang ada saja di bahas dan bukan hanya Anna dan Athar. Anjani juga kadang-kadang ikut dan begitu sudah larut malam. Athar pun harus pulang karena tidak enak juga dengan tetangga-tetangga Anna. Jika dia lama-lama di sana.
" Baiklah, aku pulang dulu," ucap Athar pamit pada Anna yang berada di hadapannya. Anna menganggukkan kepalanya.
" Kamu langsung istirahat, jangan ngapain-ngapain lagi," ucap Athar mengingatkan.
" Baiklah... Hmmm, apa besok aku harus bekerja," sahut Anna yang memang selalu mencari kesempatan untuk libur.
" Anna aku adalah pimpinan yang profesional. Kamu boleh libur," sahut Athar membuat mata Anna berbinar.
" Serius boleh?" tanya Anna tidak percaya.
" Kamu boleh libur besok, lusa, sehari, dua hari, atau berapapun yang kamu mau. Tetapi ketika kamu gajian. Jangan salahkan aku jika di dalam amplop gajimu hanya ada secarik kertas pemecatannya dari ku," ucap Athar dengan santai membuat raut wajah Anna kaget.
" Kau ingin memecatku?" pekik Anna tidak percaya.
" Aku pimpinan yang profesional dan akan memecat karyawan yang pemalas. Memecat tanpa pesangon. Masih ingin libut," tegas Athar. Wajah Anna langsung merengut.
__ADS_1
" Issss, jahat sekali, menindas terus," ucap Anna kesal.
" Makanya jangan pemalas, kamu itu masih muda. Jadi bekerja rajin-rajin. Jangan malas-malasan," sahut Athar dengan menyentil dahi Anna.
" Auhhhh, sakit kamu ini," sahut Anna kesal dengan memukul tangan Athar.
" Salah sendiri. Makanya jangan cari masalah. Pakai mau libur segala. Jangan di biasakan jadi orang pemalas," ucap Athar menegaskan.
" Iya, iya, aku tidak akan libur," sahut Anna tidak ikhlas membuat Athar geleng-geleng.
" Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu!" ucap Athar pamit. Anna kembali mengangguk.
" Tidak menjawab?" tanya Athar.
" Iya pulanglah, hati-hati bos Athar," sahut Anna yang kelihatan tidak ikhlas membuat Athar tersenyum.
Lalu Athar terlihat menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Dan maju sedikit untuk mencium kening Anna yang membuat Anna kaget. Athar bahkan melakukannya saat di dalam mobil ada Jennie.
Jennie yang melihat di dalam mobil hanya tersenyum lagi-lagi harus menjadi saksi bucinnya Athar.
" Dia menciumku lagi," batin Anna menjadi salting.
" Kamu istirahatlah," ucap Athar. Anna mengangguk malu.
" Daaa," ucap Anna melambaikan tangannya pada Athar.
Athar tersenyum dan akhirnya masuk kedalam mobil. Namun Anna masih melambaikan tangannya yang membuat Athar tersenyum. Setelah itu mobil yang di kendarai Jennie pun akhirnya pergi.
Anna jadi tersenyum geli dengan hatinya yang berbunga-bunga dan langsung menaiki anak tangga dengan bernyanyi-nyanyi, bahkan lari-larian saking bahagianya.
Aurelia harus menyaksikan hal itu. Dia berada di dalam mobil melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri Athar dan Anna yang begitu mesra.
" Sudah kuduga Athar kau meninggalkan pertunangan kami hanya demi wanita itu. Aku sudah menduganya Athar, kau benar-benar bajingan Athar dan Anna kau sungguh kelewatan," batin Aurelia yang hanya bisa mengumpat di hatinya.
__ADS_1
" Bisa-bisanya kalian ber-2 berbahagia di atas penderitaan ku, sungguh begitu bahagia," batin Aurelia mengepal tangannya yang tidak terima dengan penghiyanatan Athar kepadanya.
Bersambung