
" Ada apa ini?" tiba-tiba terdengar suara wanita yang membuat Gibran kaget.
" Mama," batin Gibran kepanikan yang mana mamanya dengan Aurelia yang datang.
" Maaf nyonya. Bu Jennie menugaskan kami untuk menjaga
" Maaf nyonya bu Jennie menugaskan kami untuk menjaga tuan Athar," ucap salah satu Pria yang bertugas menjaga Athar.
" Kenapa harus di jaga, memang ada apa?" tanya Aurelia.
" Tidak tau nona saya hanya di perintahkan untuk menjaga tuan Athar, di luar atupun di dalam," jawab Pria itu.
" Tetapi dia kan Dokter yang harus memeriksa Athar," sahut Aurelia yang melihat Gibran yang menunduk yang takut ketahuan.
" Bu Jennie mengatakan tidak ada Dokter dan suster yang masuk karena tuan Athar tidak apa-apa. Namun jika memang mendadak maka silahkan masuk. Tetapi maskernya tolong di buka!" ucap Pria dengan tegas yang memang harus menjaga amanah atasannya.
" Sial, apa yang harus aku lakukan. Aku malah terjebak di dalam situasi ini. Semua itu gara-gara sekretaris bego itu yang membuatku terjebak. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau ketahuan di sini," batin Gibran yang kepanikan minta ampun.
" Dokter bisa di buka maskernya!" titah Maharani.
" Ehmmm, sepertinya ada kesalah pahaman di sini. Mungkin saya salah masuk kamar. Karena pasien yang ingin saya cek yang terinfeksi penyakit menular. Jadi saya salah kamar. Maaf kalau begitu. Saya permisi dulu!" ucap Gibran yang langsung pergi.
Dia tidak ingin semakin di curigai dan langsung bertindak pergi. Padahal dia ingin melancarkan aksinya untuk menghabisi Athar. Tetapi harus gagal. Karena Jennie jauh lebih cepat bergerak dengannya dan paling parahnya ada mamanya mungkin jika tadi hanya bodyguard dia bisa mengatasinya.
Maharani dan Aurelia juga 2 bodyguard itu melihat punggung Dokter yang berjalan sangat cepat itu. Mereka bahkan sedikit menaruh curiga. Namun tidak bisa menduga-duganya.
" Ayo Aurelia kita lihat kondisi Athar!" ajak Maharani. Aurelia mengangguk dan langsung memasuki ruangan Athar yang mana di sana juga ada bodyguard yang berjaga.
" Nyonya," bodyguard itu menundukkan kepalanya.
" Ada apa ini. Kenapa Athar di jaga ketat seperti ini," batin Aurelia yang penuh kebingungan.
" Bagaimana keadaan Athar apa ada terjadi padanya?" tanya Maharani.
__ADS_1
" Tuan Athar tadi hanya mengingau-ngigau saja nyonya," jawab Pria itu.
" Apa dia sempat bangun?" tanya Aurelia dengan cepat.
" Kalau bangun tidak. Tetapi tuan Athar mengigau memanggil-manggil nama, siapa ya tadi," bodyguard itu menggaruk-garuk kepalanya mengingat-ingat siapa yang di sebutkan Athar tadi. " Anna," ucapnya ketika mengingatnya yang membuat Aurelia kaget.
" Anna!" pekik Maharani yang tampaknya begitu kaget.
" Benar nyonya, tuan Athar terus menyebut nama Anna. Lalu dia tertidur lagi setelah menyebut nama itu beberapa kali," jelas bodyguard itu mengulang kembali pernyataannya dengan jelas yang membuat Maharani melihat Aurelia.
Jangan tanya wajah Aurelia seperti apa. Wajahnya pasti kesal, ingin marah yang bercampur aduk. Saat dalam keadaan sekarat Athar pun masih sempat mengingat nama Anna dan bahkan dia tidak di anggap sama sekali.
" Hmmm, ya sudah kamu sebaiknya menunggu di luar," sahut Maharani yang mencairkan suasana. Agar Aurelia juga tidak terlalu kepikiran.
" Baik nyonya," sahut bodyguard itu menundukkan kepalanya. Lalu langsung keluar dari ruangan itu.
" Anna. Athar menyelamatkannya dan pasti ada sebabnya dan namanya bahkan di sebutkan. Mungkin Olive benar. Sebenarnya Anna lah wanita yang di cintai Athar. Karena perilaku Athar kepada Anna bukanlah hal biasa. Athar juga punya banyak waktu untuk Anna. Bahkan sampai tau semua masalah Anna. Memang Athar selama ini hanya mencinta Anna. Lalu bagaimana dengan Aurelia," batin Maharani yang bertanya-tanya melihat Aurelia yang pasti masih memikirkan hal itu.
**********
" Anna kamu mau kemana?" tanya Anjani.
" Anna mau kerumah sakit Bu. Anna mau melihat Athar," ucap Anna yang berlari kedepan pintu untuk memulai sepatunya.
" Kamu sepagi ini berangkatnya?" tanya Anjani.
" Iya Bu. Anna ingin bicara pada Athar. Lagian kalau siangan. Anna kan juga harus kekantor," ucap Anna.
" Ya padahal ibu ingin sekali membuatkan bubur untuk Athar. Tapi kamu sudah berangkat aja," sahut Anjani yang kelihatan kecewa.
" Ibu nanti gojekin aja buburnya. Anna tunggu di rumah sakit. Anna juga nanti langsung kekantor. Jadi tidak pulang lagi," ucap Anna.
" Ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati ya," ucap Anjani. Anna mengangguk dan langsung pergi setelah mencium punggung tangan Anjani.
__ADS_1
Anna memang tidak bisa menginap tadi malam di rumah sakit atas perintah Jennie. Namun kali ini Anna harus pergi pagi-pagi. Karena dia yakin tidak akan orang di sana dan bisa menemui Athar. Walau sudah sakit hati dan sempat menyerah. Namun Anna masih tetap ingin berusaha seperti apa yang di katakannya pada Jennie.
***********
Rumah sakit.
Tidak lama Anna akhirnya sampai kerumah sakit juga. Setelah memarkirkan motornya. Di pagi-pagi yang buta itu Anna langsung berlari menuju ruangan Athar.
Anna yang masih di ujung melihat di depan ruangan Athar tampak sepi.
" Alhamdulillah belum ada yang datang," gumam Anna bernapas lega dan langsung melangkah mendekati ruangan Athar. Tangannya langsung memegang kenopi pintu dan menekannya setelah hembusan napasnya yang panjang.
Saat pintu itu terbuka Anna melihat Aurelia ada di sana yang sedang memberikan Athar minum. Athar sudah siuman membuat Anna lega. Namun wajahnya langsung sendu ketika melihat kedekatan Athar dan Aurelia.
Athar yang batuk-batuk di berikan minum dan Aurelia juga melap mulut Athar dengan tangannya. Terlihat dekat dan mesra membuat Anna lemas, kecewa dan tidak mampu untuk melangkah masuk. Dia kalah cepat dari Aurelia dan apa yang di rencanakan nya sudah berantakan.
Dengan perlahan Anna menutup pintu itu yang tidak ingin menunggu Athar. Mata Athar tiba-tiba melihat kearah pintu karena seperti melihat bayangan yang dia tidak tau siapa itu. Namun jantungnya berdetak dan sepertinya ada yang di harapkan nya untuk datang kepadanya.
" Kamu mau minum lagi?" tanya Aurelia membuat Athar membuyarkan lamunannya.
" Tidak, aku mau lanjut istirahat saja," jawab Athar.
" Baiklah kalau begitu," sahut Aurelia membantu Athar membaringkan kembali tubuhnya dan juga menarik selimut sampai dada Athar.
" Kamu istirahatlah, aku cari sarapan sebentar," ucap Aurelia.
Athar hanya mengangguk pelan dan perlahan memejamkan matanya. Aurelia tersenyum dan keluar dari kamar itu.
Anna berjalan di koridor-koridor rumah sakit dengan langkahnya yang pelan. Hembusan napas berat terus di keluarkannya. Saat mengingat bagaimana Athar kemarin yang menyelamatkannya, wajah Pria itu penuh darah, dia takut dan ingin ada di sisi Athar. Namun saat semuanya berjalan lancar.
Anna tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika melihat Aurelia ada di sana. Ya jika Anna datang yang adanya dia dan Aurelia yang akan perang mulut. Jadi mau tidak mau Anna mengalah dan pergi membiarkan orang itu berduaan.
Bersambung
__ADS_1