
"Iya Tante Athar pergi ke Luar Negri hari ini. Makanya Olive tidak ada di sini yang ingin menyampaikan pada Athar mengenai kondisi Anna," jelas Sana dengan hati-hati bicara.
Sementara yang lainnya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak dan pasti di dalam pikiran mereka ada yang berpikiran jika Anna dan Athar ada masala.
"Itu Olivie!" tunjuk Lisa saat melihat Olive datang bersama Anjani.
"Maya bagaimana keadaan Anna?" tanya Anjani dengan wajah paniknya dengan memegang tangan Maya yang terasa sangat dingin.
"Anna belum sadar sampai sekarang," jawab Maya.
"Olive mana Athar?" tanya Sana yang tidak melihat keberadaan Athar.
Olive dengan wajah sedihnya terdiam dan menggelengkan kepalanya dengan menunduk.
"Apa Athar sudah pergi dan kamu tidak sempat mengatakan kepadanya. Jika Anna sakit?" tanya Lisa.
"Aku sudah mengatakannya pada kak Athar. Tetapi kak Athar tetap pergi," jawab Olive dengan wajahnya yang tampak lesu.
"Apa maksud Athar dia pergi begitu saja sementara Anna seperti ini. Apa salahnya melihat Anna sebentar. Apa dia tidak khawatir pada Anna," shut Aurelia yang kelihatannya sangat terpancing dengan Athar yang begitu kelewatan menurutnya.
"Aurelia kamu tenang dulu," sahut Chandara yang berusaha untuk membuat anaknya itu tidak penuh dengan emosi.
"Bagaimana Aurelia bisa tenang pah. Dia pergi meninggalkan Anna dalam keadaan seperti ini," sahut Aurelia semakin kesal.
"Kak Athar dan Anna sudah putus," sahut Olive dengan cepat yang membuat orang-orang semakin terkejut mendengarnya yang tidak percaya apa yang di ucapkan Olive. Termasuk Maya yang jauh lebih terkejut.
"A-a-apa maksud kamu Olive?" tanya Maya.
"Tante mereka sudah putus dan itu yang membuat kak Athar tidak ada alasan untuk ini," jawab Olive dengan matanya berkaca-kaca.
"Tidak mungkin Olive kamu jangan bercanda," sahut Sana.
"Aku dan Bu Anjani yang mendengar sendiri," sahut Olive.
Sekarang mata mengarah pada Anjani termasuk Maya yang ingin tau benar atau tidak Anna dan Athar memang sudah putus. Dan dengan berat hati Anjani menganggukkan kepalanya yang semakin mengagetkan semua orang.
"Mereka memang sudah putus dan aku tidak tau kapak mereka putus. Jika di tanya kaget. Aku sangat terkejut dan aku sama Olive sudah berbicara dengan Athar berusaha membujuk Athar. Namun tidak bisa dan kamu tidak tau bagaimana masalah mereka sebenarnya," jelas Anjani.
"Athar keterlaluan. Ini tidak mungkin. Apa dia sedang mencampakkan Anna. Apa jangan-jangan Anna seperti ini karena perbuatannya," sahut Olive yang marah-marah dengan Athar. Bahkan begitu emosi dengan tangannya yang terkepal.
"Aurelia kamu tenanglah," sahut Chandra.
"Aku tidak bisa tenang. Anna seperti ini pasti gara-gara dia. Aku harus menemuinya," ucap Aurelia yang langsung bertindak.
"Percuma Aurelia Athar sudah pergi," sahut Anjani membuat langkah Aurelia terhenti. "ini sangat mengejutkan untuk kita semua. Iya ini sangat keterlaluan. Tetapi kita juga tidak tau apa yang terjadi dan masalah ini kembali lagi Anna dan Athar yang mengetahuinya dan percuma kita berbicara. Jika mereka berdua tetap pada keputusan mereka," jelas Anjani yang mencoba untuk menenagkan semua orang.
Maya sudah tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang di khawatirkan nya terjadi Anna dan Athar ternyata hubungannya hanya sesingkat itu. Mungkin pasangan yang terlihat sangat sweet belum tentu bisa bertahan lama.
*******
Athar benar-benar tetap pada keputusannya. Athar benar-benar pergi ke Luar Negri bahkan dia sudah berada di Bandara yang akan menunggu penerbangan. Sangat berat hati langkah Athar melangkah. Setiap langkah dengan menyeret kopernya mengingatkan dirinya pada Anna.
Hal-hal manis yang mereka lalui bersama-sama, tawa Anna, tangisan Anna yang di ingat Athar.
__ADS_1
"Athar!" suara teriakan itu membuat langkah Athar terhenti. Degan perlahan Athar membalikkan tubuhnya dan melihat Anna yang memakai sweater over size.
"Anna!" lirih Athar yang tidak percaya dengan kehadiran Anna. Anna yang bercucuran air mata langsung berlari dengan kencang menghampiri Athar dan langsung memeluk Athar dengan erat.
"Jangan pergi! aku mohon jangan pergi! jangan pergi Athar aku mohon, kamu tidak bisa seperti ini kepadaku. Kita harus bicara. Jangan pergi dalam keadaan seperti ini. Aku tidak mau hubungan kita seperti ini. Kamu tidak boleh pergi pokoknya," ucap Anna yang merengek di pelukan Athar.
"Iya Anna, maafkan aku tidak akan pergi. Aku tau kamu sedang emosi. Makanya mengambil keputusan dengan cepat. Aku akan menunda kepergian ku. Aku akan pergi setelah kamu benar-benar tenang," ucap Athar yang memeluk Anna dengan erat.
Sampai akhirnya suara tangis itu tidak terdengar lagi. Bukan karena Anna sudah tidak menangis lagi. Tetapi apa yang barusan terjadi. Ternyata hanya ilusi Athar saja. Tidak ada Anna. Anna tidak datang mengejarnya, tidak datang menghentikannya.
"Anna!" lirih Athar dengan napasnya yang naik turun yang melihat lurus kedepannya. Hanya orang-orang yang berlewatan dan tidak satupun ada Anna di sana.
"Anna sedang sakit kak, dia rumah sakit, Tante Maya menemukannya di kamar mandi tidak sadarkan diri," kata-kata Olive teringat di dalam pikiran Athar. Athar sangat khawatir pada Anna. Athar takut wanita yang di cintainya itu sampai kenapa-kenapa.
"Kamu tidak mungkin menghentikan ku Anna. Aku hanya berkhayal saja. Kamu tidak mungkin datang," batin Athar dengan wajahnya yang terlihat sangat mengharapkan kedatangan Anna.
Anna masih tetap di rumah sakit dan tidak ada yang menemaninya. Keadaannya pun masih sama. Masih tidak sadarkan diri di dalam ruangan yang hanya dia sendirian. Mungkin memang Dokter belum mengijinkan ada yang masuk.
Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di kening Anna. Kecupan hangat itu membuat mata Anna perlahan terbuka. Mata indahnya langsung melihat sosok yang sangat dicintainya yang membuat air matanya menetes.
"Athar!" lirih Anna yang melihat Athar tersenyum dengan mengangguk-angguk.
"Kamu tidak jadi pergi?" tanya Anna. Athar duduk di samping Anna dengan menggengam tangan Anna dengan erat.
"Aku tidak mungkin pergi dalam kondisi kamu seperti ini. Aku minta maaf Anna, aku tidak pernah memikirkan perasaan mu. Aku terlalu egois yang hanya peduli dengan diri sendiri. Aku tidak memikirkan apa yang kau alami selama ini. Maafkan aku Anna aku mengakui diriku sangat jahat," ucap Athar dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kalau begitu kamu tidak akan pergi kan?" tanya Anna.
"Aku tidak akan pergi. Aku tidak meninggalkan mu dan aku tidak mau putus dari kamu. Karena aku sangat mencintaimu," ucap Athar membuat Anna tersenyum dengan air matanya yang mengalir. Dia tidak menyangka jika Athar akan membatalkan kepergiannya demi dirinya. Anna pun berusaha untuk duduk agar bisa memeluk kekasihnya itu.
"Athar!" lirih Anna. Anna langsung menangis senggugukan saat menyadari jika dia ternya hanya halusinasi saja. Tidak ada Athar sama sekali. Dia hanya berharap Athar datang menemuinya dan membatalkan kepergiannya. Namun itu hanya khayalan Anna saja.
"Athar, kenapa kau jahat sekali, Athar, Athar!" Anna menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya, menangis senggugukan dengan hubungannya dan Athar benar-benar sudah berakhir. Karena saat ini Athar pun sudah berada di dalam pesawat yang sudah mengudara.
Ternyata memang tidak ada harapan lagi untuk hubungan Anna dan juga Athar. Athar tetap pergi walau tau Anna sedang sakit.
Tangisan kesedihan Anna di lihat, Olive, Sana dan Lisa yang berada di depan pintu yang mana mereka ikut sedih melihat hancurnya Anna yang bukan hanya putus cinta biasa. Sebagai orang yang ikut dalam hubungan Anna dan Athar. Mereka berdua bahkan bisa merasakan apa yang di rasakan Anna.
"Aku tidak kepikiran. Jika akhirnya akan berakhir seperti ini," ucap Sana dengan wajah senduh nya.
"Tidak ada yang kepikiran sebelumnya. Aku juga tidak percaya kenapa semua bisa seperti ini," ucap Lisa.
"Kak Athar ternyata sejahat itu. Kak Athar sangat tega. Kak Athar kenapa sampai seperti itu," ucap Olive yang menyalahkan Athar atas apa yang telah terjadi.
"Kita harus beri Anna waktu untuk semua ini. Ini tidak mudah bagi dia. Kita harus selalu ada untuknya," ucap Sana yang menyarankan.
Olive dan Lisa mengangguk-angguk dan mereka ber-3 berpelukan dengan mata yang berkaca-kaca yang ikut merasakan kesedihan Anna.
***********
Sementara di sisi lain Maya terlihat duduk murung di salah satu kursi. Wajah Maya menggambarkan kesedihan mendalam dengan Anna yang begitu terluka. Tadi sebelumnya Maya sudah menghampiri Anna. Anna hanya diam dengan berbaring miring membelakangi Maya dan di pastikan Anna sedang menangis.
Melihat putrinya seperti itu membuatnya ikut sedih. Ibu mana yang tidak sedih dan kecewa dengan hal itu. Dan pasti Maya lebih kecewa pada Athar yang bisa melakukan hal itu. Hal itu pasti tidak pernah di duga-duga Maya sebelumnya.
__ADS_1
Anjani berada di belakang Maya yang berdiri yang kelihatannya juga begitu sedih. Anjani menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu mendekati Maya dengan memegang pundak Maya yang membuat Maya melihat ke belakang. Anjani mendapati Maya yang meneteskan air mata dan Maya langsung menghapusnya.
Anjani langsung duduk di sebelah Maya yang sedang bersedih, "maafkan aku Maya," ucap Anjani merasa bersalah.
"Kenapa kamu yang meminta maaf, memang apa kesalahan kamu?" tanya Maya.
"Athar yang salah dan itu artinya. Aku juga bersalah. Karena aku tidak bisa menghentikan Athar," ucap Anjani.
"Aku tidak tau Anjani harus berbicara apa. Melihat Anna seperti ini membuatku sangat terluka. Aku sangat mempercayai Athar. Bahkan sebelum Anna dan aku bertemu. Aku tau walau Athar tidak mengatakan perasaannya pada Anna waktu itu. Aku tau jika Anna adalah wanita yang special untuknya yang selalu di lindunginya. Aku sangat mempercayainya dan aku yakin Anna pasti bahagia saat bersamanya,"
"Tetapi justru orang yang bisa membahagiakan Anna, yang membuat Anna tertawa ternyata justru dia juga yang menghancurkan Anna yang membuat Anna seperti sekarang ini. Jika aku saja yang hanya melihat namun bisa merasakan sakitnya jadi Anna. Lalu bagaimana Anna. Aku tidak membayangkan perasaannya saat ini," ucap Maya yang berbicara penuh dengan kekecewaan dengan air matanya yang kembali keluar.
Saat seorang ibu pasti terluka dengan apa yang terjadi pada putrinya.
"Aku mengerti Maya. Aku juga tidak percaya jika Anna dan Athar akan mengalami semua ini. Sungguh Maya aku juga menyesalkan hal ini," ucap Anjani.
"Sudahlah. Tidak ada gunanya membahas hal ini lagi. Athar juga sudah pergi dan benar-benar meninggalkan Anna dan Anna juga sudah seperti ini. Jadi percuma kita membahasnya. Dan iya Anjani ini bukan kesalahan kamu. Kamu jangan berpikiran. Karena masalah Anna dan Athar kita berdua terlibat jarak. Hanya anak-anak kita yang bermasalah dan kita tidak. Namun sebagai ibu aku tetap kecewa pada putramu. Dimana dia menghancurkan mimpi putriku. Jadi aku sangat kecewa," ucap Maya yang tidak bisa membohongi perasaannya.
Anjani mengangguk-angguk saja yang mengerti perasaan sahabatnya itu.
"Ya sudah aku menemui Anna dulu!" ucap Maya yang langsung berdiri dengan tersenyum kaku yang menutupi rasa kekesalannya.
Anjani tidak bisa banyak bicara dan hanya melihat kepergian temannya itu.
"Mama tidak percaya Athar. Kamu bisa melakukan semua ini. Mama tau kamu sangat gila dengan pekerjaan. Tetapi banyak cara Athar untuk mempertahankan hubungan kamu. Ketimbang kamu harus mengakhiri semuanya. Apa kamu tau Athar apa yang terjadi pada Anna dan kamu kenapa bisa sampai seperti ini," batin Anjani yang juga menyimpan kemarahan pada Athar.
Rasa kecewanya yang pasti juga sangat besar. Namun tidak ada yang bisa di lakukan. Karena Athar juga sudah pergi. Anna juga sudah seperti itu.
*********
Sana keluar dari rumah sakit, memasuki mobil yang mana suaminya sedang menunggunya.
"Maaf aku lama," ucap Sana yang langsung memakai sabuk pengamannya.
"Tidak apa-apa! Oh iya bagaimana Anna?" tanya Gibran.
"Dia pasti masih sangat terpuruk, sejak tadi dia menangis terus dan bahkan tidak peduli dengan orang yang masuk. Dia hanya diam dan menangis itu yang di lakukannya," jawab Sana dengan wajah sedihnya.
"Aku masih terkejut Sana mendengar kalau mereka putus dan ternyata efeknya sampai seperti ini," ucap Gibran.
"Semua orang kaget dan aku tidak tau bagaimana Anna akan menjalani hidupnya selanjutnya tanpa Athar," ucap Sana yang mengkhawatirkan temannya itu.
"Anna akan yang kuat. Kita doakan saja. Dia cepat move on dan aku akan berdoa. Semoga saja dia menemukan kebahagiannya. Meski Athar saudaraku. Tetapi aku yakin dia akan menyesal dengan keputusannya ini," ucap Gibran yang bersikap netral.
"Iya aku juga hanya bisa berharap yang terbaik saja. Dan Tante Maya juga bisa mengatasinya. Karena jika Tante Maya kuat. Anna juga pasti akan kuat," ucap Sana.
"Kita doakan yang terbaik saja untuk kedepannya," sahut Gibran. Sana menganggukan kepalanya.
"Kita mau kemana setelah ini?" tanya Sana.
"Kita melihat rumah," jawab Gibran.
"Baiklah! tapi sebelum itu kita makan dulu. Aku lapar," ucap Sana mengeluh.
__ADS_1
"Iya kita akan cari makan. Aku juga tau kamu pasti belum makan," sahut Gibran tersenyum. Sana mengangguk-angguk dengan tersenyum tipis.
Bersambung.