
Anna berdiri di depan ruangan Athar dengan beberapa kali menarik napasnya panjang dan pasti mulutnya komat kamit berdoa semoga Athar tidak berbuat yang aneh-aneh kepadanya.
" Semuanya akan baik-baik saja Anna," batin Anna yang langsung membuka pintu.
Krekkk suara pintu membuat Athar yang duduk di sofa menatap tajam ke arah Anna yang masuk keruangannya dengan perlahan.
" Kenapa kau tidak bisa menggunakan tanganmu untuk mengetuk pintu," ucap Athar sinis.
" Salah lagi," gumam Anna yang serba salah.
" Apa katamu," sahut Athar yang dapat mendengar kata-kata Anna.
" Tidak aku tidak bicara apa-apa," sahut Anna mengelak.
" Alasan," sahut Athar dengan berdesis. Athar
beberapa kali membuang napasnya kasar.
" Kemari kau!" titah Athar mengajak dengan menggerakkan jarinya. Anna dengan ke-2 tangannya mengatup di belakangnya langsung menghampiri Athar dengan jalannya yang lambat dan tibalah dia berada di depan Athar.
Dia melihat Athar yang dari wajahnya masih tetap penuh emosi. Bahkan tatapan mata Athar benar-benar ingin menelannya sekarang.
" Kenapa kau diam saja pertanggung jawabkan perbuatanmu," ucap Athar sinis.
" Apa yang harus aku lakukan?" tanya Anna pelan.
" Pikirkan sendiri, gunakan otakmu. Jangan membuatku semakin emosi. Jadi kali ini pakai otakmu," ucap Athar dengan geram.
" Kau memang selalu saja membuat onar," gerutu Athar.
" Kenapa dia menyuruhku sekarang berpikir. Kenapa tidak to the point saja. Lagian apa juga yang harus aku lakukan," gerutu Anna di dalam hatinya.
Anna pun melihat di sekitarnya yang sepertinya ingin melakukan sesuatu dan matanya tiba-tiba tertuju pada kotak obat. Anna langsung mengambilnya dan setelah mengambilnya. Anna langsung mendekati Athar berdiri lebih dekatnya.
" Mau ngapain kau?" tanya Athar dengan kesal dengan Anna yang semakin dekat dengannya.
" Tapi mau bertanggung jawab. Jadi aku mau mengobatimu," ucap Anna yang meletakkan kotak obat itu meja di depan Athar. Athar terlihat diam dan menunggu apa yang akan di lakukan Anna. Tidak menunggu lama Anna mengambil obat merah yang langsung mengolesi pada Athar.
" Ishhh, Auhhh!" keluh Athar menepis tangan Anna yang kaget dengan cairan yang perih itu.
" Kau sengaja melakukannya!" ucap Athar kesal menuduh Anna.
__ADS_1
" Aku tidak sengaja. Kau terus memrahiku diam lah. Aku bertanggung jawab atas perbuatanku. Lagian kau manja sekali. Hanya seperti ini saja langsung kesakitan," tegas Anna yang menceramahi Athar.
Athar terlihat diam dan tidak bisa bicara lagi. Anna pun kembali mengobati Athar dan Athar mau tidak mau pun akhirnya diam dan menurut saja.
Dengan lembut tangan Anna mengobati luka Athar. Anna yang berdiri di depan Athar dengan sedikit menunduk. Agar mudah mengobati Athar. Athar yang tadinya cuek dengan Anna sekarang malah melihat Anna dan matanya fokus pada tangan Anna yang terlihat terluka. Anna menyadari Athar melihatnya.
Anna melotot dan dengan cepat menyilangkan tangannya di dadanya yang merasa Athar sedang melihat 2 aset berharganya.
" Kau benar-benar mencuri kesempatan," ucap Anna kesal.
" Apa maksudmu. Kau pikir aku melihat apa?" sahut Athar kesal.
" Apa lagi. Jika matamu yang mesum itu kurang ajar kembali," oceh Anna dengan tuduhannya.
" Kau masih berani mengataiku mesum!" geram Athar.
" Lalu apa namanya. Kalau tidak mesum," sahut Anna kesal.
" Heh! Otak mu itu sebaiknya di bersihkan dengan benar. Kau bukan tipeku. Jadi jangan berharap banyak dariku. Aku hanya melihat tanganmu," ucap Athar yang fokusnya pada telapak tangan yang merah itu.
Anna pun tidak menyilangkan tangannya lagi yang sedikit percaya dengan kata-kata Athar.
" Kenapa tangan mu?" tanya Athar dengan dingin.
" Sudah selesai," ucap Anna dengan tidak ikhlas. Pikiran Anna mungkin masih pada Athar yang mencuri kesempatan padanya.
" Ya sudah ngapain kau masih di sini sana pergi!" usir Athar.
" Isss, bukannya berterima kasih malah mengusir aja," desis Anna kesal.
" Apa katamu," sahut Athar.
" Tidak ada. Ya sudah Pak Athar saya permisi," sahut Anna dengan sewot.
Namun saat ingin melangkah. Kakinya tersandung oleh Athar. Anna melotot dan langsung jatuh pada pelukan Athar di mana tubuh kecilnya menimpah Athar dengan tangan Athar berada di pinggangnya yang menahan Anna agar tidak jatuh.
Posisi itu membuat wajah ke-2nya saling mendekat tanpa jarak dengan hidung yang hampir bersentuhan. Tidak tau kenapa mata yang saling bertemu dan saling berkeliling itu melihat satu sama lain yang tiba-tiba ada detak jantung yang tidak beraturan.
Debaran jantung yang tidak bisa di jelaskan dengan saling melihat wajah masing-masing dengan jelas. Athar bahkan kesulitan menelan salavinanya saat wajah cantik Anna yang nyata di depannya.
Memandang dari ke-2 bola mata yang indah itu. Melihat indahnya hidung Anna yang mancung pipi mulus yang putih yang sedikit memerah itu dan pandangan jatuh pada bibir merah Anna yang berbentuk hati.
__ADS_1
Bukan hanya Athar yang menelusuri wajah itu. Dengan berani Anna juga melihat wajah Athar bola mata yang selalu menatap tajam itu yang seakan ingin menerkamnya berubah dengan cepat menjadi pandangan yang terkesan dalam yang tidak dapat di artikan.
Wajah di depan Anna itu tidak munafik baginya jika itu kesempurnaan seorang Pria yang baru di temuinya di dalam hidupnya. Jangan tanya tampan. Lebih dari kata tampan.
" Apa yang kau pikirkan Athar," batin Athar tidak mengerti dengan dirinya saat tubuh Anna melekat padanya.
Ceklek
Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka membuat Athar dan Anna sama-sama tersentak dan kaget dengan posisi mereka. Jennie masuk tanpa mengetuk pintu juga schock melihat Anna dan Athar. Namun Athar dengan cepat mendorong Anna sehingga Anna jatuh ke lantai.
" Auhhh," lirih Anna merasa kesakitan di punggungnya.
Athar yang melihat Anna seperti itu terlihat simpatik dan ingin membantu. Namun mengurungkan niatnya dan langsung berdiri dengan merapikan jasnya dan mencoba tenang. Padahal dia sedang salah tingkah. Bahkan terlihat gugup yang tertangkap Jennie.
" Kenapa tidak mengetuk pintu?" tanya Athar dengan suaranya yang terlihat gugup.
" Apa aku mengganggu?" tanya Jennie yang pandangan matanya masih fokus pada Anna yang masih kesakitan dengan Athar yang mendorongnya dengan asal-asalan.
" Aku tidak mengatakan seperti itu," sahut Athar yang berusaha untuk santai. Namun Anna langsung berdiri dan terus memegang pinggangnya yang kesakitan.
" Kamu keluar lah!" usir Athar pelan pada Anna.
" Ishhh, sudah menjatuhkan malah mengusir," cicit Anna yang langsung berdiri dengan memegang pinggangnya dan langsung keluar dari ruangan Athar. Namun terlihat Athar masih fokus melihat Anna yang berjalan dengan memegang pinggangnya.
Jennie hanya melihat kepergian Anna. Namun melihat Athar masih saja mmeperhatikan Anna.
" Apa aku perlu memanggilnya?" tanya Jennie yang sudah berada dihadapan Athar.
" Tidak perlu," jawab Athar dengan cepat yang sedari tadi gelisah. Bahkan terlihat kepanasan sampai melonggarkan dasinya.
" Ada apa kau menemuiku?" tanya Athar.
" Hanya mengantarkan ini," ucap Jennie memberikan pada Athar map biru.
Athar langsung mengambilnya. Mata Jennie fokus pada bagian dahi Athar yang terlihat di plaster yang membuat pertanyaan untuk Jennie. Kenapa bisa seperti itu.
" Ya sudah keluarlah nanti aku akan memanggilmu," ucap Athar mengusir Jennie.
" Oke," sahut Jennie dengan santai dan langsung keluar dari ruangan itu. Athar membuang napasnya dengan perlahan.
" Huhhhhhhh, ada apa denganku. Kenapa terasa sesak napasku," ucap Athar yang terlihat kepanasan situasi yang tadi di hadapinya. Perasaannya juga tiba-tiba tidak menentu bahkan sampai keringat dingin.
__ADS_1
" Benar-benar aneh kamu Athar," desisnya geleng-geleng dengan menetralkan dirinya.
Bersambung