
Pagi hari kembali tiba. Athar, Derry, Sana, Gibran, Ari Purnama dan Olive sarapan bersama di luar. Mereka ingin sarapan di luar. Sementara Anna dan keluarganya dan juga yang lainnya juga sekarang sedang jalan-jalan juga yang tidak tau kemana dan mungkin sedang sendiri-sendiri. Anna juga pasti ingin quality time dengan keluarganya.
"Athar kamu dan Anna kapan melangsungkan pernikahan?" tanya Maharani.
"Benar kak Athar jangan di tunda-tunda lagi. Nanti ada masalah lagi," sahut Olive mengingatkan sang kakak.
"Tuh dengar kata Olive. Langsung aja rencanakan pernikahan, Anna sudah menunggu terlalu lama," sahut Gibran menambahi.
"Tau nih kasian juga kali sahabat aku yang menunggu terus," sahut Sana lagi.
"Hmmm, tapi kalau kak Athar melangsungkan pernikahan. Lalau bagaimana dengan kak Derry. Bukannya aku dengar-dengar isunya kak Derry juga mau menikah dengan kak Aurelia," ucap Olive yang baru teringat.
"Apa kalian akan menikah secara bersamaan," sahut Gibran dengan menduga-duga.
"Benar Derry kamu ada rencana untuk menikah dengan Aurelia?" tanya Maharani yang sepertinya hal sebesar itu hanya Derry yang tau dan belum membahasnya dengan keluarganya.
"Baru ada rencana mah.Tapi belum terlalu serius. Biar kak Athar duluan yang menikahi Anna," sahut Derry yang kelihatannya mengalah.
"Lalu kak Aurelia bagaimana?" tanya Olive.
"Aku sama Aurelia baru membahas masalah itu dan kami juga kemarin membahasnya setelah selesai acara di mana aku dan Aurelia sepakat untuk kak Athar dan Anna yang terlebih dahulu melangkah," sahut Derry yang tidak masalah sama sekali jika sang kakak terlebih dahulu.
"Tuh kak Athar apalagi. Kak Derry saja ingin kakak yang duluan. Jadi gas lah nikahi Anna secepatnya, langsung bicarakan dan kita buat pesta pernikahan," ucap Olive dengan semangatnya. Ari Purnama dan Maharani hanya menggeleng-gelengkan saja dengan tersenyum melihat kelakuan Olive.
"Baiklah Olive, kalau begitu kakak serahkan persiapannya pada kamu," sahut Athar yang langsung to the point yang membuat Olive terkejut.
"Maksud kakak. Kakak benar-benar akan menikah dengan Anna?" pekik Olive.
"Sudah melamarnya tidak mungkin menikahinya dan kamu jangan kecewakan kakak untuk persiapan pernikahan kakak. Kamu, Sana dan Anna sangat dekat dan kalian pasti tau keinginan Anna. Jadi kakak serahkan kepada kalian," ucap Athar yang langsung bertindak dengan cepat.
"Kak Athar sungguh!" tanya Olive yang masih tidak percaya.
"Iya Olive sungguh," sahut Athar dengan mengangguk yang membuat Olive begitu senangnya.
"Jadi Olive kamu harus pegang kepercayaan kakak kamu. Jangan sampai kamu tidak melakukan yang terbaik," ucap Maharani.
"Pasti dong mah, Asyik Anna akhirnya jadi Anna jadi adik ipar ku juga," sahut Olive kesenangan.
"Dan kami juga saudaraan ipar," sahut Sana yang tidak kalah bahagianya.
"Ya kalian bertiga pasti bisanya nanti hanya membuat kerusuhan," sahut Gibran.
"Kamu itu sok tau sayang. Memang kita ini anak-anak apa," sahut Sana.
"Memang kalian itu anak-anak," sahut Gibran.
"Issss," desis Sana.
"Hmmmm, Athar kamu dan Anna akan menikah. Lalu kalian akan tinggal di mana. Apa kamu akan tinggal di Luar Negri atau kembali ke Indonesia?" tanya Ari Purnama
Athar terdiam yang tidak langsung menjawab hal itu. Karena memang Athar tidak memikirkan ke arah sana dan belum membahasnya dengan Anna.
"Kak Athar tidak mungkin tinggal di Luar Negrikan. Anna pasti tidak setuju," sahut Derry.
"Iya benar. Aku rasa juga Anna man mungkin mau tinggal di Luar Negri. Dia itu orangnya sangat lokal banget dan bukannya salah satu konflik kalian berdua juga karena masalah ini bukan," sahut Sana.
"Kak Athar kakak harus kembali ke Indonesia. Kakak kan akan menikah dengan Anna dan harus tinggal di Indonesia bukan. Karena tidak mungkin tinggal di sini. Seperti apa di katakan Sana," ucap Olive yang tiba-tiba perasaannya tidak enak.
"Jika Athar kembali ke Indonesia. Lalu bagaimana dengan Perusahaan yang ada di sini. Bukannya kalau di tinggalkan akan kembali menurun dan Athar juga tidak mungkin LDR dengan Anna," sahut Ari Purnama.
"Kalian berdua memutuskan untuk menikah. Itu artinya harus ada yang mengalah," sahut Maharani.
"Benar kak Athar. Harus ada yang mengalah dan kakak harus mengalah. Karena aku yakin Anna tidak mungkin tinggal di Luar Negri," ucap Olive.
"Aku belum membicarakan masalah itu dengan Anna. Nanti aku akan bicarakan padanya," sahut Athar yang memang tidak bisa mengambil tindakan apa-apa. Karena itu juga merupakan hal yang penting.
"Dan aku harap. Itu tidak akan menjadi masalah dalam hubungan kalian. Kamu memilih untuk memulai kembali hidup dengan Anna dan seharusnya kamu sudah mengetahui apa yang harus kamu lakukan, jangan sampai apa yang terjadi terulang lagi," sahut Sana dengan serius bicara.
Dia jelas tidak mau jika sahabatnya akan tersakiti lagi.
"Kamu jangan Khawatir Sana aku akan melakukan yang terbaik sebisa ku," sahut Athar.
"Olive juga berharap seperti itu," sahut Olive yang tiba-tiba tidak bersemangat karena merasa ada sesuatu.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu jangan di anggap terlalu serius. Ayo kita sarapan kembali," sahut Ari Purnama yang mencairkan suasana yang cukup serius itu.
"Jika kak Athar tidak mau kembali ke Indonesia dan Anna tidak mau tinggal di Luar Negri. Lalu hubungan mereka akan seperti apa lagi nantinya," batin Olive yang menjadi sangat lesu.
*********
Di lain tempat Anna, Aurelia, Chandra, dan Maya juga sedang sarapan bersama yang mereka juga sarapan diluar dengan nikmat sembari bercanda-canda. Ya kapan lagi mereka bisa liburan bersama dengan lengkap. Walau ke-2 orangtua mereka sudah tidak bersama tetapi mereka tetap menjalin hubungan baik.
"Jadi tidak apa-apa nih kalau Anna menikah duluan," sahut Chandara yang menggoda Aurelia.
"Tidak apa-apa pah. Aurelia juga masih ada pegelaran jadi belum bisa melangsungkan pernikahan. Dan ini kami sudah membahasnya dengan Derry. Jadi Anna saja duluan," ucap Aurelia dengan tersenyum sembari mengunyah makannya.
"Anna sendiri bagaimana, benar-benar siap?" tanya Chandara.
"Siap pah," sahut Anna.
"Ya ampun semangat amat," goda Maya.
"Mama apa-apaan sih," sahut Anna yang malu-malu.
"Namanya juga menikah mah. Jadi Anna pasti semangat," sahut Olive.
"Papa doakan saja acara pernikahan kalian akan lancar," sahut Chandara.
"Makasih pah," sahut Anna.
"Mama akan bicara masalah ini dengan keluarga Athar dan kita semua akan cari tanggal yang baik," sahut Maya.
"Iya mah," sahut Anna yang tersenyum dengan pipinya memerah yang benar-benar sangat bahagia dengan pernikahannya. Maya juga bisa melihat dari wajah Anna yang tidak bisa bohong.
"Tapi Anna......." tiba-tiba Aurelia berbicara sesuatu.
"Tetapi apa?" tanya Anna.
"Bagaimana dengan hubungan kamu dan Athar maksudnya kalian berdua akan tinggal di mana mengingat Athar tinggal di Luar Negri. Apa kamu akan tinggal bersama Athar di sini atau sebaliknya Athar akan kembali ke Indonesia?" tanya Aurelia yang membuat Anna terdiam bahkan sarapannya berhenti seketika mendengar kata-kata Aurelia.
"Iya Anna mama juga lupa menayakan hal itu. Bagaimana kalian berdua mengatasinya?" tanya Maya.
Anna diam yang seolah tidak punya jawaban dengan wajahnya yang tampak datar.
"Iya pah, Anna belum membahasnya dengan Athar," jawab Anna yang tiba-tiba kepikiran.
"Tidak apa-apa Anna. Nanti bisa di diskusikan dengan Athar dan kalaupun kamu harus tinggal di Luar Negri bersama Athar papa tidak masalah," sahut Chandara yang memberi suport apapun keputusan sang anak.
"Tapi Anna ini sangat sulit meninggalkan Indonesia. Tetapi semua tergantung Anna Anna juga akan suport apapun keputusan kamu," ucap Maya dengan santai.
"Anna bicara baik-baik dengan Athar. Kalian sudah memutuskan untuk bersama. Jangan sampai karena masalah tempat tinggal kalian berdua kembali ribut," ucap Aurelia yang memberikan saran.
"Iya kak Aurelia!" sahut Anna dengan mengangguk yang mana Anna seperti jadinya tidak bersemangat.
Jujur Anna juga sepertinya sangat takut membahas masalah ini dengan Athar. Dua takut ada perbedaan pendapat dan juga tidak tau siapa yang akan mengalah.
"Ayo kita sarapan lagi," sahut Chandra Anna mengangguk dan melanjutkan sarapannya.
"Semoga tidak ada masalah lagi dengan hubungan Anna dan juga Athar," batin Maya yang sebenarnya sangat Khawatir.
Dia tau Anna tidak mungkin betah tinggal di Luar Negri dan dia juga tau Athar sudah tinggal di di Luar Negri dengan pekerjaan yang di rintis Athar dari nol dan sangat mustahil untuk di tinggalkan. Maya jadi memikirkan hubungan Anna dan Athar dan Maya pasti takut terjadi sesuatu hal.
**********
Malam hari terlihat Anna dan Athar yang berada di dalam mobil yang mana ke-2nya batu saja tadi mengadakan makan malam bersama.
"Memang kita cari cincinnya kemana?" tanya Anna.
"Ketempat sesuatu," jawab Athar.
"Apa rahasia?" tanya Anna.
"Tidak terlalu rahasia," jawab Athar. Anna tersenyum dan langsung memeluk lengan Athar dengan kepalanya yang bersandar di bahu Athar.
"Bagaimana cara mulai membicarakannya dengan Athar," batin Anna yang memikirkan masalah tempat tinggal. Apa yang di singgung Aurelia tadi membuat Anna kepikiran.
"Kamu memikirkan sesuatu?" tanya Athar.
__ADS_1
Anna mengangkat kepalanya dan menggelengkan kepalanya pada Athar, "tidak sama sekali, aku tidak memikirkan apa-apa," jawab Anna tersenyum dan kembali memeluk Athar.
Athar yang menyetir sekali-kali mencium pucuk kepala Anna.
"I love you," ucap Athar.
"I love you to," sahut Anna tersenyum.
*******
Tidak lama Anna dan Athar sampai ke toko perhiasan yang paling terbesar di kota tersebut. Pasangan itu bahkan sudah di antarkan ke tempat cincin yang akan di pakai di hari pernikahan mereka. Anna dan Athar di layani dengan baik. Dengan mereka yang sama-sama memilih-milih cincin.
"Kamu mau yang mana?" tanya Athar.
"Semuanya cantik," jawab Anna.
"Kalau begitu biar aku carikan pilihan untuk kamu," ucap Athar.
"Boleh," sahut Anna. Athar mengangguk dan menyuruh pelayan tersebut melettakkan di atas meja beberapa pilihan Athar yang pasti sangat cantik-cantik dan mewah-mewah. Yang adanya semakin bingung dengan apa yang harus di pilihnya.
"Coba kamu lihat yang mana yang ingin kamu mau," ucap Athar.
"Coba yang itu kelihatannya sangat cantik," ucap Anna menunjuk di salah satu cincin yang mencuri perhatiannya.
Cincin yang simple. Namun sangat mewah dengan permata kecil.
"Biar aku pakaian," ucap Athar. Anna menganggukkan kepalanya dan menunggu Athar memasukkan cincin itu ke jari manisnya.
"Kamu suka?" tanya Athar.
Anna menganggukkan kepalanya, " sangat indah," jawab Anna dengan menunjukkan cincin yang di jarinya tersebut.
"Jadi pilihannya hanya itu saja?" tanya Athar.
"Ini saja sudah cukup. Menurut kamu bagaimana. Apa ini cantik?" tanya Anna.
"Hmmm, iya ini sangat cantik. Kalau kamu suka aku juga suka melihatnya," jawan Athar.
"Ya sudah kalau begitu yang itu langsung pulang atau mau ngapain lagi?" tanya Athar.
"Mau jalan-jalan sebentar," jawan Anna.
" baiklah kalau begitu. Kita langsung pergi saja," ucap Athar. Anna mengangguk.
Athar melakukan pembayaran pada cincin tersebut dan setelah itu langsung mengajak Anna pergi. Mereka sudah mendapatkan cincin yang mereka perlukan dan Anna langsung pulang.
***********
Anna dan Athar jalan-jalan malam menghirup udara yang dingin dengan tangan yang selalu bergandengan tangan pastinya.
"Kita duduk di sana," tunjuk Anna pada bangku yang ada di sana.
"Baiklah," sahut Athar yang akhirnya mereka duduk berdua. Tangan Anna tetap di genggam Athar dengan kepala Anna yang bersandar pada bahu Athar.
"Apa setelah menikah kita akan tinggal di New York?" tanya Anna yang harus membicarakan hal itu dengan Athar.
"Apa itu yang dari tadi kamu pikirkan?" tanya Athar.
"Tidak juga. Tapi kalau di pikir-pikir tinggal di Luar Negri juga tidak ada salahnya," sahut Anna dengan tersenyum yang melihat Athar.
Athar memegang pipinya dengan menatap nanar Anna, "jangan memaksakan diri Anna. Aku tau kamu tidak bisa tinggal di sini. Jadi jangan mengalah untuk hal ini," ucap Athar yang seolah tau apa yang di pikirkan Anna.
Anna mencoba untuk mengalah, agar hubungannya dengan Athar baik-baik saja. Karena dia takut akan ribut dan muncul perdebatan karena masalah tempat tinggal.
"Anna aku sudah memikirkan semuanya dan seharunya aku membahas ini pertama denganmu. Aku orang Indonesia yang artinya kita akan kembali ke Indonesia, menikah di sana tinggal di sana," ucap Athar dengan keputusan yang di ambilnya.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan kamu?" tanya Anna. "bukannya pekerjaan kamu sangat penting dan kamu juga sudah memulai dari nol di tempat ini. Jadi bagaimana mungkin kamu akan kembali ke Indonesia. Perusahaan yang di tinggalkan akan menjadi masalah lagi," ucap Anna.
"Athar tidak apa-apa. Jika aku yang akan tinggal di sini bersama kamu. Memang seharusnya sudah menjadi tugas istri untuk mengikuti suaminya," ucap Anna.
Athar tersenyum mendengarnya, "Tidak Anna. Tidak akan ada yang tinggal di sini kita akan kembali ke Indonesia dan masalah Perusahaan. Jangan khawatir aku bisa menanganinya," ucap Athar.
"Tapi bukannya Perusahaan itu jauh lebih penting?" tanya Anna.
__ADS_1
"Bagiku yang penting itu adalah kamu bukan Perusahaan dan aku hanya ingin mengutamakan mu bukan Perusahaan," ucap Athar dengan tulus. Mata Anna sampai berkaca-kaca mendengar kata-kata Athar.
Bersambung