
Amelia masih begitu ragu. Karena taruhannya adalah Perusahaannya sendiri.
" Nyonya bagaimana. Saya tidak akan memaksa anda, jika anda ragu," sahut Mahendra dengan santai.
" Baiklah kalau begitu," sahut Amelia yang dengan yakin menandatangani berkas-berkas itu. Mahendra menyunggingkan senyumnya melihat Amelia menanda tangani berkas yang sudah di buatnya.
" Sudah!" ucap Amelia selesai menandatangi berkasnya. Mahendra mengangkat koper kecil ke atas meja. Dan langsung membuka koper itu mengarahkan isinya pada Amelia yang berupa uang yang pasti jumlahnya banyak dan mungkin butuh waktu seharian untuk menghitungnya.
" Ini yang di janjikan atasan saya," ucap Mahendra. Amelia tersenyum lebar dengan anggukan kepala dan menutup koper tersebut.
" Terima kasih," ucap Amelia.
" Kita deal," sahut Mahendra mengulurkan tangannya. Amelia mengangguk dan menyambut uluran tangan itu.
" Sekali lagi terima kasih," ucap Amelia yang tampaknya merasa lega.
" Sama-sama," sahut Mahendra.
" Baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Salam untuk atasan kamu. Semoga suatu saat nanti saya bisa bertemu dengannya," ucap Amelia pamit undur diri.
" Saya akan menyampaikan salam anda. Jika waktunya maka kalian akan bertemu. Sabarlah menunggu," ucap Mahendra yang kata-katanya penuh dengan arti.
Amelia sedikit heran dengan perkataan Mahendra. Namun tampaknya dia tidak ambil pusing dengan kata-kata yang memiliki makna tersendiri itu.
" Baiklah kalau begitu saya permisi," ucap Amelia pamit yang berdiri dari tempat duduknya. Mahendra mengangguk dan mempersilahkan Amelia untuk pergi.
Tidak membuang waktu Amelia pun pergi dengan membawa koper yang berisi uang yang sangat banyak itu. Mahendra menyungging kan senyumnya melihat kepergian wanita itu.
" Tidak sesulit yang aku pikirkan. Semuanya sangat mudah. Akhirnya rencanaku berhasil. Sekarang harus mengabari Bu Maya. Aku harus memberikan informasi yang penting ini. Dia pasti bahagia mendengarnya," batin Mahendra dengan menyunggingkan senyumnya yang tampak puas dengan pertemuan barusan.
__ADS_1
Tidak menunggu lama-lama, Mahendra pun meninggalkan tempat itu. Membawa berkas-berkas yang sudah di berikan Amelia kepadanya. Dan juga pastinya surat yang sudah di tandatangani Amelia.
Maya memanfaatkan situasi dengan kehancuran Perusahan Amelia akibat oleh Chandra mantan suaminya itu. Dia berusaha bagaimana caranya agar aset dan saham yang tersisa di perusahan itu menjadi miliknya.
Mungkin ini waktunya permainan yang sudah di tunggu-tunggu Maya akan di mainkan. Pembalasan dendamnya untuk orang yang menghancurkan kehidupannya, rumah tangganya, mentalnya yang hancur dan kehilangan kesempatan membesarkan putri-putrinya. Dan juga membayar air mata Anna yang begitu menderita karena perbuatan Chandra.
Sudah waktunya dia membalas tanpa ampunan dan seperti apa yang di katakan Mahendra tadi, jika sudah waktunya bertemu maka Amelia akan bertemu di waktu yang tepat. Dan pasti waktu yang juga di tunggu-tunggu Maya untuk bertatap muka dengan sahabatnya yang bermuka 2 itu dan penghiyanat kelas kakap itu.
Mahendra orang kepercayaannya yang berhasil mengatur menuntaskan semuanya dengan mudah. Karena pikiran Amelia memang lagi buntu dan takut Perusahaannya bangkrut dia pun melakukan kerja sama tanpa berpikir panjang tanpa dia tau justru akan membuatnya masuk kedalam jurang paling dalam.
**********
Setelah melakukan perjalan dari Jakarta ke Bangkok sekitar 4 jam. Akhirnya Anna dan Athar sampai di Bangkok. Ya mereka memang langsung menuju rumah yang di katakan Anna alamat yang di berikan Anjani kepadanya.
Mereka di jemput mobil yang lengkap dengan supir yang sudah di siapkan Jennie untuk Athar dan Anna sebagai alat transportasi mereka selama di sana. Di dalam mobil Anna dan Athar duduk di kursi penumpang yang mana supir menyetir dengan fokus yang pasti tujuannya langsung pada rumah Maya.
Anna langsung memegang tangan Athar, menautkan 5 jarinya pada 5 jari Athar membuat Athar menoleh ke arah Anna.
" Jangan gugup. Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan sampai sebentar lagi," ucap Anna memberikan Athar semangat.
" Iya Anna, aku sudah tidak sabar bertemu Bu Anjani. Apa yang harus aku katakan kepadanya nanti. Apa aku langsung bicara semuanya? Atau apa aku harus bertanya terlebih dahulu? Basa-basi padanya. Atau apa aku menyuruhnya menjelaskan semuanya? Apa aku memeluknya dulu dan memanggilnya mama?" tanya Athar tidak henti dengan matanya yang berkaca-kaca yang bingung apa yang harus di lakukannya.
" Kamu ikuti saja apa kata hati kamu. Kamu tidak perlu lagi penjelasan dari Bu Anjani. Karena kamu sudah tau semuanya. Kamu tidak perlu basa-basi karena kenyataannya sudah kamu ketahui. Jika bertanya padaku. Maka peluklah ibumu," sahut Anna dengan lembut bicara yang matanya ikut bergenang.
" Apa tidak apa-apa. Jika aku langsung melakukan itu?" tanya Athar yang tampak takut salah.
Anna menggelengkan kepalanya, " dia memang ibumu dan kamu berhak memeluknya. Dan Bu Anjani juga pasti menginginkan hal itu," sahut Anna.
" Dan tidak apa-apa, jika aku memanggilnya mama?" tanya Athar lagi.
__ADS_1
" Tidak apa-apa Athar. Kamu panggilah dia mama," jawab Anna.
Athar mengangguk dengan tersenyum haru yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Anjani ibu kandungnya dan itu hanya tinggal selangkah lagi dia mungkin bisa memeluk ibu kandungnya merasakan kehangatan sosok ibu yang tidak pernah di dapatkannya.
***********
Sementara di sisi lain. Maya yang berada di suatu ruangan yang sedang menerima telpon.
" Kamu serius, semuanya semuanya selesai?" tanya Maya yang tidak percaya yang mendapat telpon dari Mahendra yang memberikan informasi dengan cepat.
" Benar Bu, saya sudah mendapatkan berkas-berkasnya dan juga dia juga sudah menandatangani semuanya," jawab Mahendra.
" Syukurlah kalau begitu. Terima kasih Mahendra. Pekerjaan kamu sangat bagus. Terima kasih untuk apa yang kamu lakukan," ucap Maya yang benar-benar bahagia mendengarnya dan Mahendra yang .emang bisa di andalkan.
" Jangan berlebihan Bu Maya. Itu sudah tugas saya," sahut Mahendra.
" Yang penting saya berterima kasih banyak kepada kamu. Ya sudah saya tutup telponnya dulu," ucap Maya pamitan.
" Baik Bu, selamat siang," ucap Mahendra yang langsung berpamitan.
" Selamat siang," sahut Maya yang langsung menutup telpon itu.
" Hhhhhhhhhh," suara hembusan napas lega Maya terdengar yang mana dia merasa bahagia.
" Akhirnya satu persatu, aku bisa membalas kalian. Kalian akan merasakan apa yang aku rasakan dulu. Kehancuran akan di balas kehancuran," batin Maya yang tersenyum lebar.
" Aku harus menemui Anjani, dia harus tau kabar bahagia ini," ucap Maya mengambil tasnya dan langsung keluar dari ruangan yang terlihat seperti ruangan kerja. Dia ingin membagi kabar bahagia pada sahabatnya yang selalu bersamanya. Wanita yang menguatkan dirinya.
Bersambung
__ADS_1