Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 16 Impian menonton konser.


__ADS_3

Tidak lama tiba lah 2 wanita yang baru bertemu itu di tengah-tengah konser BTS yang sebentar lagi akan di mulai.


Para penonton sudah mulai bersorak dengan kebahagian mereka masing-masing. Tidak ketercuali dengan Anna yang pasti Anna tidak menyangka jika dia berada di bagian paling depan VVIP yang mungkin ketika tangannya menjulur kepanggung tangan-tangan suaminya itu akan bisa di raihnya bisa merasakan tangan para idolanya itu.


Kepala Anna berkeliling melihat banyaknya orang yang tidak bisa di hitung. Anna merasa seperti mimpi yang tidak percaya dengan keberadaannya.


Teriakan orang-orang terdengar di telinganya dengan mengangkat light stik BTS. Orang-orang di atas yang begitu banyak di mana-mana.


Sementara dia di bagian paling depan, bagian paling special yang bisa lebih dekat lagi melihat para suaminya dan pasti wajah-wajah suaminya akan dekat di lihatnya.


" Anna kamu tidak membawa light stik BTS?" tanya Olive sedikit berteriak agar Anna mendengar suaranya maklum tempat itu sangat berisik.


" Tidak aku tidak membawanya," jawab Anna. Padahal dia memang tidak punya. Karena itu mahal, mana ada uang untuk membelinya.


" Aku ada dua untuk kamu satu," sahut Olive yang langsung mengeluarkan dari tasnya.


" Untuk aku?" tanya Anna tidak percaya. Olive mengangguk santai.


" Makasih," sahut Anna dengan penuh kebahagian.


" Sama-sama," sahut Olive mengangguk.


Dan tiba lah saatnya di mulai. 7 member idol Korea itu sudah menaiki panggung.


" Hhhhhhhhhhhhh," teriakan yang keras terdengar kuat termasuk Anna dan Olive yang berteriak seperti tarjan dengan ke-2 tangan mereka berada di antara mulut mereka meneriaki bias mereka masing-masing.


Mereka berdua sama-sama melompat-lompat mengikuti konser tersebut. 2 wanita yang baru bertemu itu memang benar-benar sangat heboh.


Kim Namjoo, Kim Seok Jin, Min Yoongi, Jung Heosok, Park Jimin, Kim Tae Hyung, Jeon Jungkook.


Mereka heboh berteriak-teriak memanggil-manggil idola mereka ikut bernyanyi bersama para idola mereka. Tangan Anna juga terus menjulur berharap biasnya Park Jimin biasnya menyambut tangannya tersebut yang mungkin jika itu terjadi. Anna tidak akan mencuci tangannya.


" Saranghangeo," teriak Anna dengan wajah cerianya yang ternya sama saja dengan Olive.


Ternyata mereka adalah army yang posesif yang seru-seruan dalam konser tersebut. Kalau untuk Anna mungkin baru pertama kali dan mungkin juga tidak akan pernah lagi. Kalau untuk Olive yang anak orang kaya sering menonton konser tersebut dan dia pasti selalu memesan tiket VVIP.


" Ya Allah mimpi apa aku hari ini bisa melihat konser BTS, melihat mereka semua," batinnya dengan wajahnya yang begitu bahagia.

__ADS_1


Para member BTS tersebut melempar-lempar mawar dan rezeki Anna yang mendapatkan mawar itu. Wao Anna jadi heboh sendiri melompat kegirangan. Kebahagiannya yang berlapis-lapis, menonton secara gratis. VVIP pula, melihat jelas 7 suaminya dan sekarang mendapatkan mawar, seumur hidupnya itu adalah hal yang paling bahagia yang mungkin tidak akan terulang lagi.


Dia dan Olive sama-sama menikmati konser dengan kehebohan mereka masing-masing. Walau baru saling kenal. Tetapi mereka tampak akrab dan berbahagia bersama.


*********


Lain dengan Olive yang segitu bahagianya. Mariana ternyata begitu gelisah di ruang tamu dengan memegang ponselnya yang tampak kepikiran sesuatu. Wajahnya juga terlihat sangat panik dan sebentar-sebentar melihat layar ponselnya yang matanya fokus pada jam yang sudah menunjukkan pukul 11.


Tiba-tiba suaminya dan 3 anak laki-laki itu pulang.


" Pah," sapa Mariana.


" Mama kenapa?" tanya Ari Purnama yang langsung duduk. 3 anak Pria itu juga ikut duduk.


" Benar, mama seperti orang kebingungan," sahut Derry.


" Bagaimana tidak bingung. Olive tidak pulang sampai sekarang," ucap Mariana yang ternyata memikirkan putrinya.


" Memang Olive kemana?" tanya Athar.


" Apa lagi kalau bukan menonton Korea-koreanya itu. Konser apalah itu," sahut Mariana yang terlihat pusing dengan anak perempuan satu-satunya itu.


" Tidak. Konsernya kebetulan ada di Jakarta," jawab Mariana.


" Kalau begitu, sebentar lagi juga pulang," sahut Gibran.


" Masalahnya dia itu pergi sama temannya. Bukan sama supir. Jadi itu yang membuat mama khawatir. Jam segini juga belum pulang," ucap Maharanipanik.


" Sudah di telpon?" tanya Ari Purnama.


" Sudah, tapi tidak ada jawaban. Tidak di angkat," sahut Maharani.


" Ma, namanya juga konser pasti berisik. Dia pasti nggak dengar ponselnya hidup. Kan mama tau sendiri. Anak itu kalau sudah berurusan dengan idolanya dia pasti heboh," sahut Derry.


" Ya itu dia mama khawatir. Anak itu nanti malah kemana-mana," sahut Maharani.


" Hmmm, sudahlah mah, bentar lagi juga pulang. Jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh. Kalau belum pulang suruh supir untuk mencarinya di sekitar lokasi konser tersebut," ucap Ari Purnama.

__ADS_1


" Sudah biar Derry saja yang mencarinya," sahut Derry mengambil tindakan.


" Ya sudah kamu juga hati-hati," ucap Maharani.


" Iya ma," sahut Derry mengambil kunci mobilnya.


" Derry pergi sebentar pa, ma, kak," ucap Derry pamit. Mereka mengangguk saja.


" Sudah ma, ayo istrirahat. Buatkan papa kopi," ucap Ari Purnama. Maharani mengangguk dan akhirnya pasangan suami istri itu pun akhirnya pergi dari ruang tamu.


Athar berdiri dengan merapikan jasnya yang juga ingin pergi kekamarnya.


" Kamu sengaja," sahut Gibran tiba-tiba membuat Athar menghentikan langkahnya.


" Sengaja dalam hal apa?" tanya Athar.


" Yang kamu lakukan di kantor. Ide konyolmu yang melakukan sesuatu dengan suka-suka mu," ucap Gibran yang langsung berdiri dan mendekati Athar.


" Apa maksud mu aku tidak mengerti," sahut Athar. Gibran menyunggingkan senyumnya.


" Kau ingin menjadi pimpinan di perusahaan utama bukan," ucap Gibran. Athar menyunggingkan senyumnya mendengarnya.


" Aku memang pimpinan lalu kau mau apa," sahut Athar dengan santai membuat Gibran menatap tajam.


" Kau merasa pimpinan," sahut Gibran.


" Aku tidak merasa. Tetapi itu adalah kenyataan. Paling tidak aku adalah pimpinan mu dan posisi mu jelas masih di bawahku," sahut Athar dengan santai.


" Posisi mu akan berakhir di sini. Kau tau itu. Kau tidak akan pernah menempati posisi itu," ucap Gibran dengan yakin.


" Kita lihat saja nanti. Hanya saja aku mengatakan kepadamu. Kau jangan macam-macam dengan ku. Aku punya cela yang bisa membuatmu langsung keluar dari perusahaan ," ucap Athar dengan tenang bicara. Sementara Gibran mendengarnya sudah mengepal tangannya.


Athar merapikan jasnya lalu langsung pergi yang tidak mempedulikan Gibran yang sudah di penuhi emosi di sana.


" Argggghhh, kau pikir kau bisa menang melawanku. Jangan pikir aku takut ancamanmu. Kau yang segera tergeser dari perusahaan," teriak Gibran dengan mengumpat sesukanya. Namun Athar tidak mempedulikan saudara tirinya yang naik darah itu.


" Kau lihat Athar, aku akan membuatmu benar-benar menyesal sudah mengatakan ini kepadaku," batin Gibran dengan penuh kekesalan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2