Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 353


__ADS_3

"Kakak senang tidak?" tanya Anna yang ingin memastikannya perasaan kakaknya itu.


"Memang dari wajah kakak ada ketidak senangan?" Aurelia kembali bertanya.


"Tidak ada sih, kalau begitu kakak jangan mengecewakan Lisa. Kakak harus datang ke pernikahan Lisa dan Marko. Karena kakak merupakan tamu special. Sayang banget Lisa sudah menyiapkan perlengkapan brismaid. Tapi kakak malah tidak datang," ucap Anna.


"Jangan khawatir Anna pasti aman-aman saja," sahut Aurelia dengan mengasikkan sebah matanya.


"Iya deh aman," sahut sahut Anna yang tersenyum-senyum dengan Aurelia.


Anna kembali menatap langit. Dan Aurelia melihat Anna seperti ada yang ingin di sampaikannya.


"Apa aku bilang sama Anna aja ya mengenai apa yang di katakan Derry aku yakin Anna pasti tidak tau masalah ini," batin Aurelia yang kepikiran dengan tiba-tiba.


"Ada apa kak?" tanya Anna yang melihat ke arah Aurelia dan mendapati Aurelia yang melihatnya begitu serius.


"Hmmm, tidak apa-apa," sahut Aurelia.


"Sebaiknya nanti saja dulu. Aku menunggu kabar dari Derry dulu," batin Aurelia yang mengundurkan niatnya untuk memberitahu Anna mengenai apa yang terjadi pada Athar.


"Oh iya dokumen yang kemarin Anna minta tolong kakak di berikan pada Derry apa sudah di berikan?" tanya Anna yang baru teringat dengan hal itu.


"Oh itu. Ya sudah kakak berikan pada Derry," jawab Aurelia. Kemarin Derry tampak buru-buru dia mau ke New York. Jadi hanya menerima saja," jawab Aurelia.


"Derry ke New York?" tanya Anna dengan wajah sedikit terkejut.


"Iya," jawab Aurelia.


"Apa masalah Perusahaan Athar tidak baik-baik saja?" tanya Anna yang tiba-tiba kepikiran dengan Athar dan Aurelia malah tersenyum dan bukannya menjawab.


"Kakak kenapa jadi senyum-senyum?" tanya Anna heran.


"Kamu mengkhawatirkan Athar?" tanya Aurelia. Anna gelang-gelang kepala, "siapa yang mengkhawatirkannya. Kan hanya bertanya," sahut Anna yang sangat kelas sedang mengelak.


"Tapi kakak bisa melihat dari wajah kamu sebenarnya. Kamu sangat khawatir pada Athar," ucap Aurelia.


"Apaan sih kak. Jangan sok tau deh. Siapa juga yang khawatir. Dan kalaupun iya. Pasti hanya pada Perusahaan saja. Jika Derry sampai menyusul ke sana. Berarti bukan hal yang main-main," ucap Anna.


"Ya kalau begitu kenapa tidak tanya Athar saja," sahut Aurelia.


"Mulai lagi deh," sahut Anna yang kesal sendiri.


"Iya deh Anna. Tidak ada apa-apa kok Anna. Tetapi kakak juga tidak tau apakah masalahnya serius atau tidak. Hal itu tidak kakak ketahui. Tetapi nanti kakak akan tanya Derry ada masalah apa sebenarnya," ucap Aurelia.


Anna malah tersenyum mendengarnya yang gantian yang membuat Aurelia heran dengan Anna.


"Kamu kenapa? apa ada yang lucu?" tanya Aurelia.


"Hmmm, kalau kakak bertanya pada Derry apa itu artinya kakak sedang membangun kedekatan dengan Derry. Atau jangan-jangan hubungan kalian sudah baik-baik aja dan sekarang sering berhubungan," goda Anna. Ya gantian sekarang. Anna yang menggoda Aurelia yang mampu membuat Aurelia senyum-senyum sendiri yang terlihat salah tingkah.


"Apa arti senyum ini sangat mencurigakan," ucap Anna dengan menatap penuh selidik.


"Apaan sih Anna," sahut Aurelia yang malu-malu.


"Hmmm, Wau bakalan ada yang....."


"Anna sudah deh," sahut Aurelia yang tidak tahanan mendapatkan godaan dari Anna. Anna tersenyum yang merasa puas dengan sang kakak yang terlihat sangat happy dengan wajah memerah yang bisa di pastikan pasti ada kabar baik.


Anna meraih tangan Aurelia dengan menggengamnya dengan erat.


"Anna percaya dengan kakak dan semuanya akan baik-baik saja. Kak Aurelia jangan pernah meragukan Derry. Jika ini kesempatan maka balaslah perasaannya pada kakak," ucap Anna memberi saran.


"Maksud kamu?" tanya Aurelia.

__ADS_1


"Kakak tau tidak Derry itu sangat menyukai kakak. Bukannya Anna pernah mengatakan itu kepada kakak," ucap Anna.


"Hmmm, iya kamu pernah bilang. Tetapi apa iya yang kamu katakan itu benar?" tanya Aurelia yang terlihat sangat ragu.


"Itu adalah benar kak Aurelia. Asal kakak tau saja. Derry juga pernah berencana untuk melamar kakak," ucap Anna yang berterus terang. Hal itu jelas membuat Aurelia sangat terkejut.


"Melamar kakak!" pekik Aurelia.


"Iya dia meminta bantuan Anna, dia sangat mencintai kakak dan sangat semangat waktu ingin melamar kakak waktu itu. Namun ternyata Derry harus tau jika kakak menyukai Mahendra dan dia tidak marah dan pelan-pelan mundur. Semua di lakukannya hanya demi kebahagiaan kakak dan jika dia marah bukan karena perasannya yang kakak abaikan. Namun karena perilaku kakak yang membuatnya kecewa dan pasti karena itu dia sangat marah," jelas Anna yang mengatakan semuanya yang memang belum pernah di bahasnya dengan Aurelia.


Mendengar cerita Anna membuat Aurelia terdiam yang pasti dia tidak percaya dengan apa yang telah di dengarnya itu.


"Kak Aurelia tidak ada salahnya pelan-pelan membuka hati kakak untuknya," ucap Anna yang memberi saran Aurelia.


"Anna tapi untuk sekarang. Kakak merasa sangat tidak pantas mendapatkan perasaan itu dari Derry," ucap Aurelia yang tidak percaya diri.


"Kenapa?" tanya Anna.


"Seperti yang kamu ketahui. Derry itu sangat baik dan kakak bukan ada apa-apanya dengannya dan kakak juga mengecewakan dirinya. Jadi sangat wajar kakak merasa tidak pantas untuk Derry," ucap Aurelia dengan lesu.


"Kakak jangan bicara seperti itu. Tidak ada yang tau hati seseorang dan Anna sangat percaya. Jika Derry pun masih sangat menyukai kakak dan buktinya lihatlah dia mau berbicara pada kakak dan kemarin-kemarin Derry hanya marah dan sekarang amarahnya sudah reda," ucap Anna yang mencoba membuat sang kakak paham.


"Ya kakak hanya berdoa yang terbaik saja dan tidak bisa berharap banyak," sahut Aurelia yang berusaha berpikiran positif.


Dan Anna sangat percaya pada kakak. Semuanya akan baik-baik saja. Dan semoga kakak dan Derry berjodoh," ucap Anna dengan doa dan harapannya.


"Semoga kamu juga berjodoh dengan Athar," sahut Aurelia. Anna terdiam mendengarnya. Hubungannya sudah berakhir dengan Athar dan berjodoh pasti tidak. Tetapi kenapa seakan Anna sangat berharap jika memang akan berjodoh.


"Anna, Aurelia!" panggil Maya yang berada di depan pintu membuat Anna dan Aurelia langsung melihat ke arah wanita yang memanggil mereka.


"Iya mah," jawab Anna dan Aurelia secara bersamaan.


"Ayo makan malam. Kenapa kalian masih ada di sana? ayo cepat buruan. Mama sudah memasakkan masakan kesukaan kalian," ucap Maya.


"Baiklah mah," sahut Aurelia dan Anna dengan bersamaan. Kakak adik itu pun sama-sama berdiri dengan saling membantu. Maya tersenyum dengan melihat anaknya yang kembali dekat ya sangat manis membuat hatinya sangat teduh melihat ke-2 putrinya tersebut.


Anjani sedang duduk di pinggir ranjang yang sedang menelpon.


"Apa kamu baik-baik saja Athar?" tanya Anjani yang ternyata menghubungi Athar.


"Athar baik-baik aja mah," jawab Athar dengan suara terdengar datar, "mama sendiri apa kabar?" tanya Athar.


"Mama baik-baik aja Athar. Kamu bagaimana nak, kenapa mama merasa kamu tidak baik-baik aja," ucap Anjani dengan matanya yang berkaca-kaca dan bahkan suaranya terdengar sangat tertahan.


"Athar baik-baik saja mah, seperti yang Athar katakan. Tidak ada apa-apa mah. Jangan khawatir," sahut Athar pasti Anjani tau itu sangat bohong. Dengan Athar yang tidak memberitahu apa-apa membuatnya semakin takut.


"Bagaimana kabar Anna mah?" tanya Athar yang tidak bisa jika tidak bertanya mengenai Anna. Karena dia begitu merindukan Anna.


"Dia pasti tidak baik-baik aja dan kamu menayakan kabarnya seperti ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Ada apa Athar katakan pada mama," ucap Anjani merasa ada yang tidak beres.


"Mah, tidak ada apa," jawab Athar.


"Jangan bohong," ucap Anjani.


Terdengar suara napas yang menghela nafas.


"Nanti Athar telpon lagi ya mah, jangan khawatir Athar baik-baik saja," ucap Athar yang berusaha meyakinkan Anjani.


"Mama berharap ketika kamu menghubungi mama nanti. Kamu akan mengatakan apa yang terjadi. Mama sangat khawatir Athar," ucap Maya.


"Iya nanti Athar akan bicara lagi. Athar tutup dulu telponnya," sahut Athar yang langsung mematikan panggilan itu.


Air mata Anjani menetes dengan menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.

__ADS_1


"Tidak tau apa yang terjadi padamu Athar mama hanya berharap kamu benar-benar baik-baik saja," batin Anjani yang mencoba untuk menangkan dirinya walau sangat sulit untuk tenang. Dan juga pasti Maya sangat berharap Athar mau jujur kepadanya.


*********


New York/ Rumah sakit.


Athar sedang mengunjungi rumah sakit untuk konsultasi dengan Dokter Luis. Dokter psikolog yang sengaja di temui Athar. Bahkan saat Athar menelpon dengan Anjani Athar berada di rumah sakit dengan menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.


"Jangan khawatir mah, aku tidak akan apa-apa. Aku berjanji akan menyelesaikan semuanya dan maafkan aku jika aku tidak mengatakan kepada mama apa yang terjadi. Aku takut mama merasa bersalah karena masalah yang aku alami. Aku takut mama merasa gagal sebagai orang tua dan ini sudah yang terbaik dengan merahasiakan ini dari mama dan pasti aku akan berusaha untuk sembuh. Aku juga tidak ingin seperti ini. Aku juga tidak ingin mengorbankan Anna dalam masalah ini," batin Athar yang tidak terasa air mata Athar menetes.


Masalah yang terjadi padanya tentang pemikirannya yang tidak normal mengenai tanggapan pernikahan membuat Athar harus berhubungan dengan medis. Karena tidak bisa di selesaikan sendiri yang membuat semakin stress.


Bukan Athar tidak memikirkan Anna, dia sangat mencintai Anna. Anna wanita yang pertama di dalam hidupnya yang sangat di cintainya dan Athar juga tidak bisa menikah dengan Anna begitu saja. Karena masalah pemikirannya.


Dan dia juga sangat memikirkan nasib Anna. arahan dari Mahendra di terima Athar. Pasti di pikirkan Athar dan pasti banyak yang benar yang di katakan Mahendra. Dan justru itu membuat Athar melibatkan seorang Dokter yang hebat untuk konsultasi.


Dokter Luis Dokter psikolog yang telah di kenal Athar yang mungkin bisa membantunya dalam pengobatan yang memang seharusnya bisa.


Athar hanya bisa berusaha dan punya keinginan yang kuat untuk sembuh yang sebenarnya dia masih sangat ingin menyelamatkan hubungannya dengan Anna dengan memperbaiki pikirannya yang tidak normal.


Trauma yang di alaminya telah di sadari nya telah mengorbankan wanita yang di cintainya. Selama di Luar Negri. Athar tidak pernah berpikir jernih dia selalu memikirkan Anna, bertanya-tanya mengenai kabar Anna. Bahkan pekerjaan Athar yang adanya semakin berantakan. Karena kepikiran dengan Anna.


Athar sekarang juga kembali melakukan konsultasi dengan Dokter yang berkepala botak itu yang sekarang duduk berhadapan dengan Athar. Tidak tau apa yang di bicarakan mereka. Athar terus bicara dan Dokter itu mendengarkan. Hanya mereka yang tau ala yang di bahas. Yang pasti sangat berhubungan dengan masalah kesehatan mental Athar.


Beberapa jam Athar konsultasi dengan Dokter tersebut dan setelah itu Athar berdiri dari duduknya dan berjabat tangan dengan Dokter tersebut.


"Percayalah Athar semua akan baik-baik saja. Saya akan terus membantu kamu. Jadi kamu jangan khawatir," ucap Dokter Luis.


"Makasih Dokter saya memang sangat membutuhkan bantuan Dokter," sahut Athar.


"Iya semangat terus," ucap Dokter tersebut menepuk bahu Athar.


"Kalau begitu saya permisi sekali lagi terima kasih untuk semuanya," ucap Athar berpamitan.


"Sama-sama," sahut Dokter tersebut dan Athar pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tidak tau sudah beberapa kali dia terapi tetapi pada intinya dia merasa ada kemajuan.


Athar berjalan di koridor rumah sakit dan tiba-tiba mendapat pesan.


"Kaka di mana?" Derry.


"Derry! kenapa dia bertanya tiba-tiba?" batin Athar dengan wajahnya yang terlihat bingung. Namun Athar tidak membalas pesan itu dan langsung melanjutkan langkahnya keluar dari rumah sakit tersebut.


Athar langsung menuju mobilnya yang terparkir.


"Kak Athar!" suara yang di kenal itu membuat Athar yang ingin membuka pintu mobilnya melihat kebelakang dan ternyata Derry yang pasti mengejutkan Athar. Karena sebelumnya Derry menanyakan keberadaannya dan sudah main muncul saja di hadapan Athar yang membuat Athar kebingungan.


"Derry!" lirih Athar. Derry menghela napasnya dan langsung menghampiri Athar dan mereka sudah saling berhadapan yang sama-sama menatap dengan intens dengan penuh tanya dari wajah ke-2nya.


"Kamu kenapa bisa ada di sini? dari mana kamu tau kakak ada di sini?" tanya Athar dengan penuh kebingungan.


"Kak Athar kenapa ke rumah sakit?" Derry bukannya menjawab malah bertanya balik pada Athar.


"Derry bukan itu jawaban yang kakak minta," ucap Athar dengan wajah seriusnya.


"Aku juga menunggu jawaban kakak. Karena sangat banyak pertanyaan yang ingin ku ajukan," ucap Derry.


"Baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu. Mari ke Apartement kita bicara di sana," ucap Athar.


"Tapi apa kak Athar tidak ingin menayakan keadaan Anna dulu seperti apa?" tanya Derry yang menyinggung masalah Anna.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Athar yang memang ingin tau.


"Seperti biasa dia paling bisa menunjukkan kesedihannya. Agar orang-orang melihat dia baik-baik saja. Namun pasti keadaannya tidak baik-baik saja," jelas Derry. Athar paham itu karena dia juga sangat mengenal Anna.

__ADS_1


"Mari ke Apartemen. Jangan bicara di sini!" ajak Athar lagi. Derry mengangguk dan akhirnya Derry ikut masuk kedalam mobil Athar yang dia akan bicara sangat serius dengan sang kakak.


Bersambung


__ADS_2