Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 328


__ADS_3

Rumah sakit


Sana yang mendengar kabar mengejutkan itu benar-benar sangat terkejut dan pasti tidak percaya dengan apa yang telah di denganya dari Anna dan Lisa. Sana yang histeris langsung meminta untuk pergi kerumah sakit dan awalnya Lisa dan Anna tidak memperbolehkan karena kondisi Sana yang tidak stabil. Namun karena Sana terus memohon akhirnya di perbolehkan mereka.


Mereka sudah sampai di rumah sakit dan Sana langsung berlari mencari di mana calon suaminya itu.


"Sana tunggu!" panggil Anna yang mengejar Sana. Langkah Sana terhenti ketika di depan salah satu kamar terlihat orang tua Gibran. Derry, Athar dan Olive.


Di mana Maharani dan Olive menangis saling berpelukan. Wajah Athar, Ari Purnama dan Derry penuh kesedihan membuat Sana yang melangkah perlahan dengan derai air matanya yang sangat banyak membasahi wajahnya.


"Sana!" lirih Olive yang bisa merasakan hancurnya perasaan Sana yang pasti sudah tau apa yang terjadi.


"Di mana Gibran? apa yang terjadi? Anna dan Lisa pasti bohongkan. Dimana Gibran?" tanya Sana yang sudah seperti orang gila.


"Sana, kamu harus ikhlas," sahut Maharani yang bicara tersedu-sedu yang begitu terluka.


Mendengar hal itu membuat Sana geleng-geleng dan berlari ke depan pintu salah satu kamar yang di pastikan ada Gibran di sana dan sana langsung membuka pintu itu dan melihat jelas para Suster melepas alat mesin di tubuh Gibran.


Wajah Gibran yang penuh luka dengan wajah pucatnya yang sekarang sedang di tutup kain putih yang mengejutkan Sana.


"Tidak!!! teriak Sana yang langsung masuk kedalam ruangan itu.


"Sana!"


"Sana!"


"Sana!" teriak mereka yang menyusul Sana memasuki ruangan itu.


"Apa yang kalian lakukan lepaskan? jangan menyentuhnya, dia belum mati, kenapa melepas mesinnya? kenapa menutup wajahnya? dia calon suamiku. Kami akan menikah. Apa yang kalian lakukan!" teria Sana yang mencegah suster- suster itu untuk menutup Gibran.


"Maaf mbak. Tapi pasien sudah tidak bernyawa. Jadi biarkan kami mengurusnya," sahut salah seorang suster.


"Jangan bercanda, dia belum mati," sahut Sana yang membantah semuanya dan mendekati Gibran memegang wajah Gibran.


"Bangun! aku mohon bangunlah! aku mohon! jangan tinggalkan aku! kamu sudah berjanji padaku. Pernikahan kita satu Minggu lagi dan kita memang tidak boleh bertemu. Tetapi bukan berarti kamu harus pergi. Aku mohon Gibran bangunlah. Aku sangat mencintaimu. Jangan seperti ini kepadaku," ucap Sana dengan air matanya yang mengalir deras yang berbicara pada kekasihnya itu.


Anna sendiri mendengar dan melihat hal itu menangis di pelukan Athar. Dia tidak membayangkan bagaimana perasaan Sana yang pasti sangat hancur. Lisa dan yang lainnya pun menangis. Mereka tidak bisa melarang Sana yang ingin berbicara pada mayat calon suaminya itu.


"Gibran jangan diam saja. Kamu harus bangun! bangun Gibran! dengarkan aku!" teriak Sana yang menggoyang-goyangkan tubuh Gibran yang sama sekali tidak bersaksi apa-apa.


"Maaf Bu, tolong beri kami ruang. Kami harus membereskan pasien, ibu harus menerima kenyataan. Bahwa pasien sudah tidak ada," ucap Suster yang berusaha untuk menjauhkan Sana dari Gibran.


"Aku tidak mau!" teriak Sana, "apa yang kalian lakukan dia masih hidup. Jangan membawanya," sahut Sana yang benar-benar tidak menerima kenyataan itu.


"Sana kamu harus merelakannya," sahut Lisa.


"Diammmm!!! teriak Sana yang tidak menerima hal itu dan terus berusaha untuk membangunkan Gibran.


"Jangan pergi dari ku. Aku mohon. Kamu harus bangun Gibran. Aku sangat mencintaimu dan kamu juga bukannya mencintaiku, bangun Gibran. Jangan biarkan pernikahan yang menjadi impian kita hancur di depan mata begitu saja. Jadi aku mohon bangunlah. Kamu harus bangun Gibran. Bangun Gibran! bangun!" Sana masih berusaha. Namun tidak ada reaksi sama sekali.


Membuat Sana lelah dan memeluk Gibran dengan air matanya yang mengalir terus, berteriak di pelukan itu yang tidak menerima kenyataan kematian Gibran yang sangat tiba-tiba.


Pria itu baru saja mengantarnya pulang dengan tersenyum seolah semuanya baik-baik saja dan sekarang pria yang di pelukannya itu sudah tidak bernyawa sama sekali dan itu membuat Sana benar-benar tidak bisa menerima kenyataan itu.


"Ya Allah apa yang terjadi sebenarnya? kenapa Gibran bisa sampai seperti ini. Ada apa ini ya Allah. Kasihan Sana ya Allah, kasihan dia," batin Anna yang tidak tega dengan sahabatnya itu dan menagis di pelukan itu terus menerus.


Olive yang juga menangis tersedu-sedu yang begitu terkejutnya dengan kepergian sang kakak. Namun tiba-tiba mata Olive melihat jari Gibran yang bergerak yang membuatnya sangat terkejut.


"Kak Gibran!" lirih Olive dengan terkejut membuat semua orang melihat ke arah Olive.


"Tangannya bergerak, Suster," sahut Olive yang membuat orang-orang kaget dan Sana melepas pelukan itu dengan wajahnya yang juga terlihat kaget.


"Suster tolong periksa, aku melihat sendiri kak Gibran masih bergerak," sahut Olive.

__ADS_1


Suster langsung memeriksa nadi Gibran dan saling melihat dengan Suster yang lainnya.


"Panggil Dokter!" perintah Suster pada temannya dan temannya mengangguk langsung buru-buru keluar dari ruangan itu


"Untuk kalian semuanya tolong tunggu di luar!" perintah Suster yang menyuruh orang-orang diruangan itu pergi.


"Tapi saya ingin di sampingnya, saya harus menunggunya," sahut Sana.


"Maaf Bu, biarkan kami menanganinya," sahut Suster yang mendorong Sana.


"Sana kita tunggu di luar saja. Kita percayakan semua pada Dokter dan semuanya akan baik-baik saja," ucap Anna membawa temannya keluar agar memberikan Dokter untuk menangani pasien.


Tiba-tiba Gibran kembali bernapas dan sekarang Dokter berusaha untuk menyelamatkan nyawanya dan Sana dengan penuh ketakutannya yang melihat Dokter dari jendela kecil yang sekarang memeriksa Gibran dan suster-suster terlihat memasang kembali seluruh alat mesin di tubuh Gibran.


"Sana kamu tenang ya kita serahkan kepada Allah dan semoga saja Gibran masih bisa di selamatkan," ucap Anna dengan memegang tangan Sana yang memberi kekuatan pada Sana.


"Benar kata Anna. Kita berdoa saja. Percayalah semuanya akan baik-baik aja," sahut Lisa menambahi. Sana mengangguk dan memeluk sahabatnya itu.


"Aku takut. Aku takut akan terjadi sesuatu padanya. Aku sangat takut. Aku tidak siap harus kehilangannya. Aku benar-benar tidak siap," sahut Sana.


"Kami mengerti perasaan kamu Sana dan kami juga terkejut dengan kejadian ini dan kami juga tidak pernah untuk kehilangan. Kita sama-sama berdoa. Om yakin Gibran pasti kuat," sahut Ari Purnama yang harus tegar dan berpikiran positif.


"Tante juga tidak bisa kehilangan Gibran. Kita harus berdoa untuk memberinya kekuatan. Semoga Allah masih memberikan Gibran kesempatan untuk kembali hidup. Semoga saja," sahut Maharani yang menagis terisak-isak.


"Ya Allah, Olive mohon tolong selamatkan kakak Olive," ucap Olive dengan penuh harapan dan doanya.


*************


Setelah Dokter menangani Gibran. Kondisi Gibran ternyata bisa di selamatkan. Namun tetap Gibran masih dalam keadaan kritis. Tetapi itu jauh lebih baik dari pada sebelumnya yang mana semua orang hampir kehilangannya.


Mereka masih berada di depan pintu ruangan di mana Gibran di rawat. Dokter belum menginjinkan ada yang masuk. Sana masih mengeluarkan air mata yang duduk di mana Lisa dan Anna berada di kiri dan kanannya.


Walau Gibran di nyatakan tidak jadi mati. Namun pasti semua orang masih khawatir dan takut dengan kondisi Gibran.


"Aku akan cari tau apa yang terjadi sebenarnya. Siapa yang melakukan semua ini," sahut Athar yang baru bisa mengalihkan pikirannya kepada orang yang mencelakakai kakaknya.


"Benar kak. Kakak harus menangkap pelakunya. Kak Gibran seperti ini. Gara-gara mereka. Jadi kakak harus menghukum pelayannya," sahut Olive tangisnya yang belum selesai juga yang punya dendam membara untuk orang yang mencelakai kakaknya.


"Kamu jangan khawatir Olive. Aku sama kak Athar pasti akan menemukan pelakunya," sahut Derry.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengurus semuanya. Anna aku antar kamu pulang duku. Kamu juga harus istirahat," ucap Athar yang juga khawatir pada kesehatan kekasihnya itu.


"Aku temani Sana saja di sini," sahut Anna.


"Kamu pulanglah Anna. Aku tidak apa-apa," sahut Sana yang tidak mau merepotkan Anna.


"Iya Anna, ada Tante dan Olive di sini. Kamu pulang saja. Bukannya mama kamu juga tidak ada di rumah. Aurelia juga sendirian. Jadi pulanglah," sahut Maharani.


"Iya sayang, ayo pulang!" ajak Athar.


"Ya sudah kalau begitu. Sana kalau ada apa-apa nanti kamu telpon aku ya. Aku juga besok pagi akan datang," ucap Anna. Sana menganggukkan kepalanya.


"Lisa kamu tidak pulang?" tanya Anna.


"Sebentar lagi. Aku menunggu adikku untuk menjemputku. Kamu pulang saja dulu," sahut Lisa.


"Baiklah!" sahut Anna mengangguk dan langsung berpamitan pada Maharani dan Ari Purnama dan dengan berat hati meninggalkan sahabatnya itu.


************


Tidak lama mobil Athar sudah sampai rumah Anna dan Athar mengantarkan Anna sampai depan rumah.


"Kamu istirahat lah!" ucap Athar. Anna langsung memeluk Athar.

__ADS_1


"Kenapa semuanya bisa seperti ini? ini sangat mengejutkan untukku. Aku tidak percaya semuanya bisa seperti ini. Awalnya baik-baik saja. Lalu kenapa harus terjadi dan Kasihan sana dengan semua yang terjadi. Siapa yang melakukannya?" ucap Anna dengan bertanya-tanya yang penuh dengan kebingungan.


"Aku juga tidak tau Anna, siapa perlakukannya sebenarnya. Aku akan berusaha untuk menemukannya. Kamu jangan Khawatir dia akan secepatnya di temukan," ucap Athar dengan yakin.


"Lalu bagaimana dengan Gibran. Aku sangat kasihan pada Sana. Bagaimana kalau Gibran tidak melewati masa kritisnya. Apa yang akan terjadi pada Sana nantinya," ucap Anna.


"Kita serahkan kepada sang pemilik nyawa. Dokter hanya berusaha dan tugas kita untuk berdoa," ucap Athar. Anna melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah Athar dengan memegang pipi Athar.


"Kamu juga harus hati-hati. Jangan membuatku takut," ucap Anna.


"Pasti. Aku akan hati-hati jangan khawatir Anna. Sekarang kamu istirahat. Besok aku akan menjemputmu," ucap Athar.


"Baiklah, aku masuk dulu," ucap Anna pamit. Athar menganggukan kepalanya dan membiarkan kekasihnya itu masuk. Setelah Anna memasuki rumah Athar pun langsung pergi dengan menghela napasnya.


***********


Mentari pagi kembali tiba Anna dan Aurelia sarapan bersama.


"Jadi bagaimana kabar Gibran?" tanya Aurelia yang juga mendengar berita mengenai Gibran dan dia tidak bisa kerumah sakit tadi malam. Karena tidak enak badan.


"Aku belum mendapat kabar dari Athar," jawab Anna.


"Ya ampun semoga saja. Gibran bisa siuman dan tidak terjadi apa-apa padanya," sahut Aurelia yang juga terlihat sangat khawatir.


"Aku juga berharap seperti itu kak," sahut Anna.


"Siapa yang tega melakukan semua ini. Dia benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya menghajar Gibran sampai hampir mati," sahut Aurelia yang tidak habis pikir.


"Athar, Derry dan pihak Polisi masih menangani kasus ini dan semoga ketemu orangnya dan kita tau apa motip sebenarnya," sahut Anna.


"Aku yakin sih orangnya pasti tidak jauh-jauh dari musuh Gibran," sahut Aurelia.


"Gibran punya musuh," sahut Anna yang terlihat terkejut.


"Anna kamu tau sendiri. Bagaimana Gibran itu dulu. Dia pasti punya musuh di sana-sini dan aku yakin ini ada pasti ada hubungannya dengan hal itu," sahut Aurelia.


"Tapikan kak, bukannya Gibran sudah berubah dalam setahun belakangan ini dan dia juga tidak berada di Perusahaan. Jadi mana mungkin ada yang jahat padanya," sahut Anna.


"Yang berubah itu Gibran. Namun orang-orang yang bermasalah padanya apa berubah dan kita tidak tau mereka masih punya dendam atau tidak," sahut Aurelia.


"Tetapi aku berharap tidak akan terjadi seperti apa yang kakak katakan. Intinya semoga masalah ini cepat selesai," sahut Anna.


"Iya, sudah kamu cepat sarapan, biar kita kerumah sakit. Mahendra tidak bisa mengantar kita. Jadi kakak saja yang menyetir," sahut Aurelia yang lagi-lagi Mahendra berhalangan.


"Baiklah!" Anna mengangguk. Karena Athar juga tiba-tiba ada urusan di kantor Polisi dan tidak bisa menjemput Anna.


**********


Mahenndra dan Jennie sekarang sedang menikmati sarapan mereka di salah satu Restaurant.


"Aku akan bantu selidiki masalah ini," ucap Jennie.


"Jangan Jennie ini sangat bahaya, biar aku, Athar dan Derry menanganinya. Kamu tidak usah ikut," sahut Mahendra menolak yang takut terjadi sesuatu pada kekasihnya itu.


"Aku sudah biasa Mahendra menangani masalah seperti ini. Jadi tidak akan masalah sama sekali," sahut Jennie.


"Aku tau kamu hebat dan terbiasa. Tetapi aku tidak mau kamu ikut-ikutan. Ini bukan Maslaah mudah. Kamu lihat Gibran seperti apa. Jadi jangan cari masalah," ucap Mahendra menegaskan.


"Ya mungkin kamu melarangku dan tidak menginginkanku. Tetapi sebentar lagi aku akan mendapat perintah dari Athar," sahut Jennie yang sudah yakin Athar akan membutuhkannya. mendengarnya membuat Mahendra menghela napasnya.


"Jangan terlalu khawatir Mahendra. Aku baik-baik saja," sahut Jennie yang meyakinkan Mahendra. Mahenndra tidak menjawab membuat Jennie tersenyum dan menyodorkan makanan untuknya.


"Makanlah!" ucap Jennie menyuapi Mahendra. Mahenndra mengangguk dan menerima suapan itu.

__ADS_1


Ternyata Anna dan Aurelia yang ada di dalam mobil yang menunggu macet. Tidak sengaja Aurelia melihat ke kirinya kearah Restaurant di mana Jennie dan Mahendra yang sedang makan dan sangat mengejutkan bagi Aurelia yang melihat Jennie menyuapi Mahendra dan terlihat sangat romantis sekali.


Bersambung


__ADS_2