
Selama Athar yang sudah bicara dan membenarkan pertunangannya dengan Aurelia. Anna pun tidak peduli dan melaksanakan aktivitasnya seperti biasanya dan bahkan Anna memang selalu menjaga untuk tidak bertemu dengan Athar dan bahkan Athar juga tidak lagi mengganggunya atau berusaha untuk bicara lagi dengannya. Karena takut semakin menyakiti perasaan Anna.
Hubungan mereka cukup renggang, tidak seperti biasanya dan sekarang hubungan itu layaknya atasan dan bos yang memang seharusnya seperti itu. Karena memang pada dasarnya Athar dan Anna memang tidak dekat.
Hari pertunangan.
Tidak ada yang bisa di hindari sampai hari itu pun tiba. Pertunangan yang di siapkan keluarga Athar dan juga Aurelia tanpa ikut campur Athar akhirnya pun akan di laksanakan malam yang cuacanya tidak bagus ini.
Langit mendung yang seakan ada seseorang yang menggambarkan perasaannya yang tidak bahagia atas pertunangan tersebut.
Berada di hotel mewah dengan tamu-tamu yang penting-penting yang pasti pekerjaan Aurelia atau Chandra mengundang kolega-kolega penting itu. Sementara untuk keluarga Athar hanya mengiyakan saja. Karena bertanya pada Athar pun tidak ada gunanya.
Lokasi pesta pertunangan yang mewah itu sudah mulai di huni para tamu dan pasti ada media yang menyoroti bahkan sampai live yang memang Aurelia tidak tanggung-tanggung yang ingin seluruh dunia tau jika dia Athar adalah pasangan kekasih.
Di dalam kamar Aurelia berdiri di depan cermin dengan gaun panjang berbentuk duyung yang berwarna hitam tanpa lengan yang memperlihatkan pundak Aurelia. Belum lagi rambut Aurelia di sanggul ke atas dengan 2 anak rambut di kiri dan kanannya yang ikal yang menambah kecantikannya.
Aurelia terlihat cantik dan elegan yang berada di depan cermin itu dengan senyumnya yang menggambarkan jika dia sungguh bahagia hari ini.
" Akhirnya hari ini telah tiba. Ini adalah yang aku tunggu-tunggu. Athar kamu benar-benar akan jadi milikku semua orang akan tau jika kita bertunangan. Orang-orang akan tau jika kita berdua adalah pasangan resmi yang tidak akan bisa di pisahkan," batin Aurelia yang tampak tidak sabara dengan pertunangannya.
Aurelia mengangkat tangannya Kananya dan memperlihatkan punggung tangannya dengan 5 jemari tangan yang panjang-panjang itu.
" Jari manis ini akan di pasangkan cincin pertunangan kita. Kamu akan memasukkannya kedalam jariku yang melingkar dengan indah," batin Aurelia tersenyum melihat jari jenjangnya yang tidak sabaran membayangkan jika akan ada cincin di sana.
Lain Aurelia yang begitu bahagia dengan pertunagannya. Berbeda dengan Athar yang berada di dalam satu ruangan. Di mana ke-2 tangannya berada di dalam sakunya. Athar dengan jas hitamnya yang berdiri di depan dingding kaca yang mengarah keluar yang langsung melihat perkotaan di malam hari.
__ADS_1
Wajahnya pasti tidak sebahagia Aurelia. Wajahnya tampak sendu, penuh pikiran dan pasti ragu untuk melakukan semua ini. Tiba-tiba Athar mendengus kasar dengan keluar senyum terpaksa yang penuh arti.
" Ternyata aku pria yang pengecut yang tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan semuanya seperti ini. Jika aku melakukan ini lalu untuk apa aku menaruh hati kepadanya. Kau benar-benar pengecut Athar. Bisa-bisanya kau terjebak dalam situasi ini," ucap Athar dengan suara beratnya yang merasa dia adalah laki-laki bodoh yang tidak bisa tegas dalam bersikap.
" Athar!" tiba-tiba Jennie memasuki ruangan itu, Athar hanya melihat dengan ekor matanya.
" Semua orang sudah mengunggu. Acaranya akan segera di mulai. Aku akan pastikan setelah pertunangan nanti. Tidak akan ada wartawan yang mewawancaraimu. Biarkan mereka yang bicara pada media," ucap Jennie memberi informasi. Karena Athar memang menghindari media yang akan mewawancarainya.
" Baiklah!" sahut Athar membalikkan tubuhnya menghadap Jennie.
" Kau yakin dengan pertunangan ini?" tanya Jennie melihat wajah Athar yang penuh keraguan.
" Jangan bertanya jika sudah tau jawabannya," sahut Athar yang langsung pergi dari hadapan Jennie melangkah keluar dari ruangan itu. Jennie membalikkan tubuhnya dan melihat punggung Athar yang berjalan tampak kekar.
" Ya, terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang kita mau. Ini pilihan Athar dan kau sendiri yang terjebak dalam situasi dan kau juga yang harus bertanggung jawab. Aku hanya berharap. Kau lebih bijak dalam setiap menghadapi masalah. Apa lagi masalah asmara mu," batin Jennie yang seakan tau apa yang di rasakan temannya itu.
Sementara Anna memang tidak akan datang ke acara pertunangan itu. Anna lebih memilih di kamarnya di meja kerjanya dengan mendesain- desain beberapa model pita, bando, ikat rambut yang berhubungan dengan desainnya. Dia hanya ingin menghibur dirinya sendiri. Walau sebenarnya perasaannya sedang tidak baik-baik saja.
Untuk menghibur dirinya sendiri Anna harus punya caranya sendiri. Karena jika di tanya hatinya bagaimana. Ya pasti hatinya tidak baik-baik saja yang seolah menutup telinga atau mata untuk semua yang telah terjadi.
Krekkk.
Pintu ruangan itu terbuka yang ternyata Anjani datang dengan membawakan segelas susu. Anjani melangkah mendekati Anna dengan meletakkan susu di atas meja di samping Anna dan mengusap-usap rambut Anna dengan lembut.
" Kamu sedang apa?" tanya Anjani yang begitu lembut bicara dengan Anna.
__ADS_1
" Menggambar," jawab Anna yang menengok kebelakang dengan tersenyum.
Anjani juga tersenyum pada Anna dan melihat gambaran itu sangat cantik. Usapan kepala tangan Anjani di rambut Anna layaknya seperti seorang ibu yang menemani anak kecil belajar.
" Cantik sekali," puji Anjani.
" Makasih Bu," sahut Anna tersenyum lebar. Walau tersenyum Anjani tau senyum Anna adalah luka.
" Hmmm, ibu dengar sebentar lagi akan pengumuman 5 terbaik?" tanya Anjani. Anna mengangguk.
" Kalau kamu nanti lolos ibu akan berikan kamu hadiah," ucap Anjani berjanji.
Anna tersenyum mendengarnya dan seketika mengingat pesan Athar yang akan memberinya hadiah. Tetapi ternyata hadiahnya adalah kabar pertunangan Athar dan Aurelia.
Seharusnya memang pengumuman itu hari ini di umumkan. Namun karena Athar bertunangan jadi di tunda. Ya jelas di tunda bos besar yang tunangan.
" Kamu kenapa sedih?" tanya Anjani melihat raut wajah Anna yang begitu sendu. Anna langsung menggeleng yang merasa dia tidak apa-apa sama sekali.
" Tidak apa-apa Bu. Hanya saja ibu tidak perlu memberikan Anna hadiah," sahut Anna yang tidak ingin merepotkan Anjani.
" Tidak apa-apa Anna, lagian hanya sekali-sekali saja," sahut Anjani.
" Baiklah terserah ibu saja. Hmmm, oh iya ibu mau jagung bakar tidak?" tanya Anna tiba-tiba menawarkan jagung bakar.
" Jagung bakar?" tanya Anjani, Anna mengangguk, " Di ujung jalan sana ada jual jagung bakar yang enak. Malam-malam seperti ini dengan cuaca mendung sangat enak untuk makan jagung bakar. Ibu mau?" tanya Anna dengan tersenyum yang memberi penawaran lagi.
__ADS_1
Bersambung