
Mereka akhirnya sampai ketempat di mana untuk mereka makan bersama. Ini cukup mengejutkan karena tempat yang ternyata di tunjukkan Anna sepertinya tidak masuk kelas untuk orang-orang di sana.
Di mana lagi kalau bukan makan di pinggir jalan di tempat Anna dan Sana sering nongkrong. Di tempat bakso Favorite mereka.
" Anna yakin kita akan makan di sini," bisik Sana yang ragu.
" Ya kenapa?" tanya Anna santai saja.
" Kita malam di sini?" tanya Athar melihat di sekelilingnya. Jelas itu bukan tempat Athar dan pasti ada protes dalam diri Athar.
" Iya kita makan di sini. Tidak apa-apa kan mah, Tante, Om, Bu Anjani?" tanya Anna dengan santai melihat ekspresi-ekspresi para orang-orang kaya itu.
" Hmmm, tidak masalah sih sama sekali. Namanya kamu yang menang. Jadi semuanya terserah kamu," sahut Anjani.
" Anna tapi yakin makan di tempat seperti ini dengan kita berpakaian yang seperti ini?" tanya Lisa yang ragu. Karena pakaian mereka terlalu mendominasi untuk acara-acara pesta.
" Ya tidak mungkin ganti baju juga kan," sahut Anna.
" Sudah-sudah. Jangan di permasalahkan masalah tempat makan atau makanan apa yang di makan. Sekarang sebaiknya kita makan saja," sahut Ari Purnama yang tampaknya tidak keberatan membuat Anna tersenyum
" Ya sudah benar kata papa. Lagi pula di sini itu enak. Olive sering makan di sini sama Anna dan Sana," sahut Olive dengan semangat.
" Baiklah semuanya sudah setuju. Jadi mari makan," sahut Anna dengan semangatnya dan langsung menggandeng tangan Athar yang di pastikan Athar begitu ragu dan mau tidak mau Athar pun harus mengikut saja.
***********
Mereka menikmati bakso langganan itu dengan nikmat. Walau pakaian mereka memang tidak sesuai. Namun nyaman-nyaman saja.
Mereka makan berpencar-pencar. Anjani, Maharani Maya, Ari Purnama, Jennie, Aurelia, dan Derry makan satu meja panjang. Gibran sendiri duduk di salah satu kursi yang masih menunggu pesanan baksonya yang bersama dengan Mahendra yang duduk di kursi tunggal.
__ADS_1
Sama dengan Sana, Lisa, dan Olive juga lain di meja. Karena memang mejanya tidak mencukupi untuk menampung yang lainnya.
Sementara Athar dan Anna pasti duduk berduaan duduk bersebelahan yang Anna sudah menikmati baksonya dan pesanan Athar belum datang.
" Pelan-pelan Anna makannya. Kamu itu kayak nggak makan setahun aja," ucap Athar geleng-geleng.
" Issss kamu ini siapa juga yang nggak makan setahun. Namnya juga lapar. Lihat yang lain mereka juga makannya lahap sampai nambah-nambah dan kamu aja yang belum makan sama sekali. Bilang aja kamu sengaja ngulur- ngulur waktu agar tidak makan baksonya. Kamu merasa baksonya tidak sehat kan," ucap Anna sewot.
" Sembarangan menuduh," sahut Athar.
" Ya sudah coba makan nih!" Anna langsung menyuapkan pada Athar satu bakso kecil beserta kuahnya dan Athar langsung membuka mulutnya menerima suapan itu. Membuat Anna tersenyum.
" Anak pintar!" ucap Anna yang tersenyum puas melihat Athar yang akhirnya memakannya. Athar hanya geleng-geleng saja dengan Anna. Athar berdiri dan membuka jasnya menutupkan ke tubuh Anna yang pakaian Anna lumayan terbuka membuat Athar tidak ingin Anna sampai kedinginan.
Anna hanya tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari Athar. Mereka menikmati bakso dengan lahap, sembari mengobrol dan tidak ada dendam atau kebencian. Mungkin ini hal aneh untuk Gibran yang di pastikan pertama kali. Mungkin yang lainnya masih pernah sekali-kali. Namun rasanya berbeda dan sama saja bagi Gibran mau makan di manapun. Ya dia bisa merasakan perbedaannya.
************
Maya, Anjani dan Aurelia mengobrol di dalam rumah Anna. Sementara Anna dan Athar berada di luar rumah yang mana mereka duduk di tangga dengan bersebelahan dan tangan saling menggenggam.
" Aku tidak percaya jika semuanya akan berakhir seindah ini," ucap Anna dengan melihat ke arah Athar.
" Bukankah memang ada yang mengatakan semua akan indah pada waktunya," ucap Athar.
" Makasih Athar. Semua ini berkat kamu. Kamu selalu mendampingiku. Aku sekarang menemukan banyak kebahagian ku dan itu semua karena kamu," ucap Anna dengan tulus.
" Aku tidak melakukan apa-apa. Dan aku yang berterimah kasih kepadamu. Karena kamu sudah ada di sisiku. Hidupku jauh lebih berwarna semenjak ada kamu. Aku merasa jauh lebih hidup dan punya tujuan hidup. Selama ini yang ada di pikiranku hanya pekerjaannya, pekerjaan dan pekerjaan. Namun sekarang kamu ada menjadi pikiranku dan membuat ku merasa sangat bahagia," ucap Athar dengan tulus bicara kepada Anna.
" Aku juga bahagia saat bersamamu," ucap Anna.
__ADS_1
" Anna jujur pertama kali aku melihat desainmu aku itu sangat meragukanmu. Namun ternyata kau mampu membuktikan. Jika kau mampu dan sekarang wanita cantik di hadapan ku ini sudah menjadi pemenangnya. Selain menjadi pemenang dalam kompetisi panjang itu. Juga pemenang di hatiku," ucap Athar.
" Aku tau kau meragukanku, makanya aku berjuang untuk membuktikan jika aku mampu dan yang paling penting yang membuatku bahagia adalah karena pertandingan yang aku jalani juga bersamaan dengan cerita dalam hubungan kita. Cerita dalam percintaan kita yang manis. Dengan segala drama sampai akhirnya kita bisa seperti ini," ucap Anna mengangkat tangannya yang bergandengan dengan Athar.
" Kamu benar. Kompetisi itu membuat perjalanan panjang untuk kita," ucap Athar tersenyum lebar menatap Anna dalam-dalam.
" Aku mencintaimu Anna!" ucap Athar.
" Aku juga mencintaimu," jawab Anna dengan pelan yang mana mereka saling melihat dan akhirnya dengan mata yang sama-sama turun pada bibir mereka. Wajah Athar semakin mendekat di pastikan ingin mencium bibir Anna.
" Ehemmm!" hal itu tidak terjadi karena Anjani berdehem membuat Anna dan Athar kaget dan melihat kebelakang. Sudah ada Maya, Aurelia dan Anjani.
" Mamah!" lirih Anna salah tingkah begitu juga dengan Athar dan mereka ber-2 langsung berdiri dengan penuh kegugupan. Aurelia sudah tertawa saja melihat Anna da Athar yang ke gep.
" Apa kita mau pulang?" tanya Athar mengalihkan suasana.
" Ya mama sih mau pulang. Tetapi apa kamu masih mau melanjutkan atau mau pulang mama tidak tau," sahut Anjani menggoda putranya itu.
" Ibu Bicara ala sih," sahut Anna malu-malu dengan menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali.
" Sudah Anna sekarang kita istirahat ya. Besok ketemu lagi sama Athar," sahut Maya.
" Iya mah, Anna juga tadi mau istirahat kok," sahut Anna.
" Ya sudah Ibu dan Athar pulang dulu," ucap Anjani pamit.
" Hmmm, hati-hati," ucap Anna masih malu-malu.
" Ya sudah aku pulang ya. Kamu istirahat lah," ucap Athar.
__ADS_1
Anna mengangguk dengan tersenyum. Athar merangkul mamanya dan meninggalkan tempat itu. Maya pun merangkul bahu Anna dan Aurelia dan membawanya masuk kerumah untuk beristirahat.
Bersambung