
Anna yang sudah berada di dalam gudang melihat-lihat bahan-bahan di sana. Anna memegang-megang jenis kain yang di pilihnya. Di sana juga banyak jenis kain yang di susun bergulung di rak-rak yang tingginya menjungkal di atas.
" Kenapa sedari tadi aku memegang kainnya seperti tidak ada yang yang cocok, terlalu lembut dan kurang lembut, warna juga terlihat tidak ada yang cocok. Ternyata perusahan sebesar ini tidak menjamin untuk kelengkapan bahan," gumam Anna merasa kurang puas dengan apa yang di lihatnya.
Anna terus berjalan-jalan mencari kain yang cocok siapa tau dia yang kurang teliti melihat-lihat bahan tersebut.
Anna melewati rak-rak yang ada di sana dan tiba sampai di ujung rak yang mana Anna ingin membelok tiba-tiba Anna harus melihat Athar yang fokus dengan tablet dan juga pen. Mereka tidak berhadapan karena Athar menghadap rak.
Anna yang melihat Athar yang tampak serius. Langsung membalikkan tubuhnya yang ingin melarikan dirinya sebelum Athar melihatnya. Maklum dia tidak ingin mencari gara-gara.
" Mau kemana kau?" tanya Athar membuat Anna tidak jadi bergerak. Ternyata Athar menyadari keberadaan Anna.
" Ya ampun kenapa dia sampai melihatku," batin Anna dengan memejamkan matanya yang terlihat bodoh.
Dengan perlahan Anna kembali membalikkan tubuhnya dan melihat Athar masih fokus pada tabletnya yang tidak tau apa yang di lakukannya.
" Hmmm, aku mau, kembali kekantor," ucap Anna dengan gugup.
" Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Athar menghadap Anna dengan mematikan tabletnya.
" Aku hanya melihat-lihat bahan yang sesuai dengan desainku," jawab Anna berusaha santai.
" Lalu?" tanya Athar dengan wajahnya serius.
" Ya lalu sudah selesai dan aku mau kembali melanjutkan pekerjaanku," jawab Anna dengan santai.
" Kau pulang tidak membawa apa-apa?" tanya Athar.
" Namanya tidak ada yang cocok apa yang mau di bawa, kenapa dia itu hoby sekali bertanya," batin Anna.
" Aku sudah mengatakan kemarin. Seriuslah dalam mendapatkan kesempatan. Gunakan dengan baik jangan di main-main kan. Jadi jangan hanya datang namun pulang tidak membawa apa-apa. Waktu yang kau miliki tidak banyak. Jadi seharusnya gunakan dengan baik dan tepat," ucap Athar menceramahi Anna.
" Apa salahku sih. Kenapa dia sampai menceramahiku. Ya namanya juga tidak ada yang cocok. Ya memang seharusnya aku tidak datang kemari. Jadi aku tidak perlu bertemu dengannya dan mendengar bacotnya yang banyak itu," batin Anna yang menyesal bertemu dengan Athar.
Mulut Athar tidak henti-hentinya menceramahi Anna. Anna hanya menggaruk-garuk bawah lehernya. Yang tidak tau apa yang di bicarakan Athar masuk atau tidak ke dalam otaknya.
Tiba-tiba mata Anna fokus melihat kearah atas kepala Athar di mana bagian rak atas yang gulungan kain yang ingin jatuh. Anna melotot benda yang akan jatuh itu pada Athar yang asyik menceramahinya.
" Awas!" teriak Anna yang langsung mendorong Athar mengelakkan jatuhnya benda itu.
__ADS_1
Athar yang kaget menarik tangan Anna dan alhasil mereka terjatuh bersamaan dengan Anna menindih tubuh Athar namun ujung gulungan kain itu jatuh pada punggung Anna.
" Auuuuuuuuu," lirih Anna menahan sakit yang memejamkan matanya.
Athar yang berada di bawah Anna kaget dengan apa yang menimpah Anna. Dengan cepat Athar langsung mencoba duduk dengan memegang ke-2 bahu Anna yang juga membantunya duduk dan Anna langsung memegang punggung sebelah kirinya yang begitu sakit sampai matanya terpejam.
" Kenapa kau ceroboh sekali," ucap Athar tampak geram.
" Ishh, kenapa menyalahkan ku. Kau yang ceroboh terlalu banyak bercerita. Dan malah memarahiku, sakit tau," ucap Anna dengan kesal dan menahan sakitnya.
" Siapa yang menyuruhmu menjadi pahlawan!" geram Athar.
" Siapa yang mau jadi pahlawan emang perang," jawab Anna dengan berdesis kesakitan.
" Kau benar-benar selalu ceroboh, tidak pernah serius selalu main-main," ucap Athar yang malah memarahi Anna.
" Malah menyalahkan ku. Apa dia tidak bisa diam," cicit Anna semakin kesal.
Athar melihat ke arah gulungan kain yang jatuh itu dan itu sangat besar dan bayangkan saja menimpah Anna ya pasti Anna kesakitan terlihat dari wajah Anna yang menahan sakit.
" Siapa yang menyusunya dengan ceroboh seperti itu!" geram Athar yang sekarang menyalahkan kain-kain yang disusun asal sampai jatuh.
Athar langsung berdiri melihat Anna sebentar dengan kesal. Lalu Athar pun langsung pergi.
" Auhhhh, sakit sekali. Anna hari mu benar-benar sial, kamu sih Anna, seharusnya biarkan saja dia tertimpa. Kalau perlu otaknya yang kenak, supaya dia bisa mengubah tabiatnya," keluh Anna yang menyesal menjadi pahlawan.
Apa yang di lakukannya adalah hal yang spontanitas. Dan mendapat luka yang spontanitas juga.
Anna terus mengeluh dan mencoba untuk duduk. Namun saat Anna ingin berdiri. Athar tiba-tiba datang.
" Ngapain lagi dia kemari, apa ada yang belum di katakannya," batin Anna heran dengan kehadiran Athar tiba-tiba.
Athar malah duduk di belakang Anna yang masih memegang punggungnya. Athar menepis tangan Anna yang memegang punggungnya.
" Apa yang kau lakukan!" tanya Anna kesal.
Dengan cepat Athar merobek asal baju Anna di bagian belakang yang Anna merasa kesakitan.
" Hey, apa yang kau lakukan!" teriak Anna dengan emosi saat Athar merobek pakainnya, sekali tarik memang langsung robek.
__ADS_1
" Diamlah!" tegas Athar.
" Apa yang diam. Kau selalu saja melecehkan ku. Sekarang kau merobek pakaianku, kau benar-benar ya, mau mu apa sih. Mengambil kesempatan dalam kesempitan,"'cerocos Anna dengan penuh emosi dengan Athar yang dalam kesempitan mengambil kesempatan.
" Diamlah!" tegas Athar yang mengambil obat jenis salep untuk mengobati luka Anna dan yang benar saja akibat jatuhnya benda itu membuat punggung Anna luka.
" Auhhhhhhh!" Lirih Anna memukul tangan Athar. Dia merasa sakit dengan Athar yang mengusap punggungnya dengan salep.
" Kau ingin membunuhku!" gertak Anna dengan suaranya yang kuat.
" Jangan berlebihan, hanya seperti itu saja langsung heboh," sahut Athar dingin. Namun dengan lembut mengusap punggung itu dengan salep.
" Siapa yang berlebihan. Kau yang berlebihan, merobek pakaianku sembarangan. Kau pikir membelinya tidak pakai duit apa," ucap Anna kesal yang merocos terus.
" Bajumu memang murahan. Bahannya tidak berkualitas makanya sekali tarik bisa sobek," desis Athar menyalahkan pakaian Anna.
" Sebaiknya tutup mulutmu sudah merusak bukannya mengganti malah menghina," sahut Anna geram.
" Kau berani mengatakan itu pada atasanmu," ucap Athar.
" Kau yang mencari masalah duluan, sekarang kau bermain masalah posisi," sahut Anna yang merendahkan suaranya.
Bicara soal posisi Anna langsung takut. Karena tidak mau mendapat hukuman yang tidak-tidak dari Athar.
" Lain kali apa-apa itu harus hati-hati. Untuk benda itu tidak mengenai kepalamu," ucap Athar mengingatkan.
" Aku yang seharusnya mengatakan kepadamu lain laki-laki kau yang hati-hati. Jangan banyak mengoceh, lihat sampai kau tidak sadar gulungan itu jatuh," sahut Anna membalikkan kata-kata Athar.
" Berani sekali kau menegurku," sahut Athar.
" Kau yang memulai," sahut Anna santai.
" Sudah selesai," ucap Athar yang selesai mengobati punggung Anna. Anna membalikkan tubuhnya dan melihat Athar sebentar. Namun Athar langsung berdiri.
" Berdirilah! Ngapain juga masih duduk di situ!" ucap Athar kesal.
" Iya!" geram Anna yang langsung berdiri.
" Nih, gunakan supaya lukamu tidak iritasi," ucap Athar memberikan salep yang di pegangnya pada Anna.
__ADS_1
Anna pun mengambilnya dengan kasar dengan wajahnya yang masih saja cemberut.
Bersambung