
Anna, Aurelia dan Chandra sedang menikmati makan malam bersama. Di mana mereka terlihat makan dengan santai. Namun tidak ada pembicaraan yang biasanya Anna dan Aurelia pasti mengobrol.
Apalagi mereka ada di rumah Chandra. Akan banyak mengobrol dengan Chandra yang notabenenya jarang bertemu. Namun kali ini terasa berbeda yang membuat Chandra harus mengamati 2 putrinya itu secara bergantian yang merasa ada sesuatu.
"Apa kalian berdua sedang sariawan?" tanya Chandra membuat Aurelia dan Anna melihat Chandra secara bersamaan.
"Maksud papa apa bicara seperti itu?" tanya Anna.
"Iya siapa yang sariawan," sahut Aurelia.
"Lalu jika tidak sariawan. Ada apa dengan kalian berdua. Kenapa hanya diam saja dan tidak ada yang berbicara. Apa topik hari ini sangat tidak enak untuk di bahas," ucap Chandra.
"Topik apaan sih pah," sahut Aurelia.
"Kalian ber-2 kenapa. Apa sedang bermusuhan. Makanya diam saja?" tanya Chandra dengan penuh selidik.
"Tidak kok pah," sahut Anna dan Aurelia secara bersamaan.
"Lalu?" tanya Chandra heran.
"Anna tidak bermusuhan dengan kak Aurelia. Anna menegur kak Aurelia kok. Hanya saja kak Aurelia belakangan ini terlihat sangat ketus pada Anna. Anna juga tidak tau. Apa salah Anna," sahut Anna
"Apa sih Anna. Siapa yang ketus. Aku hanya butuh sendiri," sahut Aurelia dan Chandra hanya memperhatikan dua putrinya itu.
"Menag Aurelia kenapa harus buruh sendiri. Apa ada masalah?" tanya Chandra.
Chandra memang belum tau apa yang terjadi pada Aurelia. Karena Aurelia datang kerumah itu hanya mengatakan ingin menginap beberapa hari untuk reflesing karena pekerjaan membuat sakit kepala.
Chandra pasti tidak percaya dan merasa ada sesuatu. Namun Chandra tidak menggali lebih dalam lagi. Memberikan Aurelia waktu untuk berbicara. Namun saat ini pasti sangat jelas. Jika Aurelia ada sesuatu.
"Ada sesuatu Aurelia?" tanya Chandra. Aurelie menganggukkan kepalanya.
"Nanti Aurelia akan cerita pada papa. Namun ini tidak ada hubungannya dengan Anna dan Aurelia dan Anna baik-baik saja. Aurelia hanya punya masalah sendiri saja," ucap Aurelia.
"Baiklah kalau begitu. Papa percaya pada kamu dan juga Anna. Jika kalian berdua memang baik-baik saja. Ya sudah jangan di pikirkan kita makan lagi dan nanti papa akan menunggu cerita kamu," ucap Chandra.
"Iya pah," sahut Aurelia dan Anna secara serentak.
"Oh iya Anna. Athar tumben sekali tidak datang bersama kamu. Biasanya kalian selalu datang bersamaan?" tanya Chandra.
Wajah Anna langsung murung. Justru karena sedang ada masalah dengan Athar makanya Anna datang kerumah Chandra.
"Anna!" tegur Chandra yang melihat Anna bengong dan Aurelia juga memperhatikan sikap Anna yang seperti ada sesuatu.
"Oh itu pah, Athar sedang sibuk," sahut Anna tersenyum palsu yang mencuri perhatian yang seperti ada sesuatu.
"Begitu rupanya. Dia memang tidak pernah datang lagi. Kalau Derry bahkan sering datang. Walau tidak ikut bersama Aurelia," sahut Chandra membuat Anna dan Aurelia kaget.
"Derry sering datang kemari?" tanya Anna.
"Baru semalam dia juga habis dari sini. Dia suka bantu-bantu papa untuk mengurus ikan-ikan papa di kolam," sahut Chandra.
__ADS_1
Anna dan Aurelia begitu terkejut. Tidak di sangka Derry sering mengunjungi Chandra tanpa sepengatuhaan mereka. Ya Derry memang se humbel itu dan tidak perlu harus datang bersama Anna atau Aurelia. Dia kalau memang ingin mengunjungi Chandra ya akan mengunjunginya.
"Anak itu sangat baik. Padahal pekerjaannya sangat banyak. Tapi masih sempat-sempatnya menemani papa di sini. Bahkan Derry juga pernah menginap di sini," ucap Chandra yang memuji Derry yang semakin membuat Aurelia kaget.
Anna tersenyum dan melihat kearah Aurelia yang mana Aurelia terdiam yang tidak bisa bicara apa-apa.
"Aku bisa melihat penyesalan di wajah kak Aurelia. Ya semoga saja dia bisa bersama dengan Derry. Aku yakin Derry pasti masih mempunyai rasa yang sama terhadap kak Aurelia dan mungkin hanya mempunyai waktu saja," batin Anna yang masih berharap.
" Sudah-sudah ayo kita makan," ajak Chandra lagi. Anna dan Aurelia mengangguk dan langsung melanjutkan makan mereka.
**********
Anna terlihat sangat murung yang berdiri di depan jendela yang mengarah ke taman rumah. Anna beberapa kali menghela napasnya kedepan dengan ke-2 tangannya yang berada di dadanya dengan wajahnya yang sangat murung.
Anna melihat kearah taman itu mengingatkan dia dan Athar yang berlari-larian di sana dan saling bercanda ria di sana. Namun itu tidak pernah terjadi lagi dan jika di tanya sedih atau tidak pasti jawabannya sangat sedih. Namun tidak bisa di gambarkan kesedihan Anna seperti apa.
"Anna!" tegur Chandra yang menempuk bahu Anna dengan lembut yang membuat Anna langsung melihat ke belakang.
"Pah," sahut Anna dengan tersenyum.
"Ada apa? apa ada sesuatu?" tanya Chandra yang bisa membaca dari eksperesi wajah putrinya itu.
"Tidak ada kok pah," sahut Anna bohong.
Chandra tersenyum dengan memegang ke-2 bahu Anna dan menatap Anna dengan intens, seolah menyelidiki apa yang terjadi pada Anna.
"Tidak mau cerita dengan papa?" tanya Chandra.
"Memang tidak ada pah. Jadi apa yang mau di ceritakan," sahut Anna dengan tersenyum lebar yang berusaha untuk menutupi apa yang terjadi.
"Baiklah kita lupakan hal itu. Sekarang katakan pada papa. Kapan kamu dan Athar akan melangkah serius dalam hubungan kalian?" tanya Chandra yang membuat Anna semakin murung.
"Maksud papa?" tanya Anna melihat kearah Chandra yang berdiri di sampingnya yang sedang merangkul bahunya.
"Gibran sudah melangkah pada pernikahan dan kamu kenapa belum? bukannya kamu dan Athar saling mencintai. Apa kalian ber-2 tidak ada niat untuk menyusul Gibran dan juga Sana?" tanya Chandra.
"Boro-boro memikirkan hal itu. Bahkan Athar sekarang hanya memikirkan pekerjaannya dan kepergiannya ke Luar Negri," batin Anna yang menanggapi dengan tersenyum kaku yang seperti menyimpan sebuah arti.
"Anna masih membantu mama pah untuk Perusahaan. Jadi belum kepikiran untuk melangkah ke sana," jawab Anna bohong. Padahal dia memang ingin menikah. Namun Athar sepertinya bertolak belakang dengannya.
"Anna apa kamu baik-baik saja?" tanya Chandra.
"Memang ada apa dengan Anna pah. Anna baik-baik saja kok. Anna dan Athar memang belum ingin melangkah ke arah Sana. Karena memang kami masih sama-sama sibuk," ucap Anna yang berusaha tegar.
"Papa sangat menghargai keputusan kamu. Tapi kamu jangan lalai dalam hal itu. Ingat Anna, jangan sampai kamu yang belum ingin menikah. Akhirnya Athar yang menginginkan hal itu. Namun menunda karena tidak keinginan kamu," ucap Chandra mengingatkan Anna.
Chandra berpikiran Anna yang tidak ingin melanjut pada hubungan serius itu. Namun pada kenyataannya. Athar lah yang tidak ingin melangkah ke arah sana.
"Kamu mengertikan maksud papa?" tanya Chandra.
"Iya pah Anna mengerti," sahut Anna tersenyum.
__ADS_1
"Papa doakan yang terbaik untuk hubungan kamu dan juga Athar. Semoga kalian cepat menyusul Gibran dan juga Sana," ucap Chandra dengan harapannya.
"Makasih pah," sahut Anna yang langsung memeluk Chandra dengan Chandra mengusap-usap bahu Anna.
************
Akhirnya Anna, Olive, Lisa bertemu. Bahkan ada Sana juga yang baru datang yang di antar suaminya yang mana mereka bertemu di salah satu Cafe.
"Sana bagaimana rasanya menjadi seorang istri?" tanya Lisa.
"Hmmmm," sahut Sana dengan senyumannya yang menggambarkan kebahagian yang membuat teman-temannya iri saja.
"Ya ampun manis banget senyumnya. Kalau sudah seperti ini. Kita tidak perlu jawaban lagi," sahut Anna dengan menggoda Sana.
"Bagaimana tidak tersenyum manis seperti itu. Kalian tau tidak Sana semenjak menikah dengan kak Gibran. Di kamar mulu. Tidak tau apa yang mereka kerjakan di sana," sahut Olive yang ikut-ikutan menggoda temannya yang sudah menjadi kakak iparnya itu.
"Ya ampun Olive ya namanya pengantin baru. Jadi kalau di kamar juga nanti pasti ada hasilnya kok," sahut Lisa.
"Apa hasilnya," sahut Olive dengan dahinya yang mengkerut.
"Ponakan buat kamu," celetuk Lisa.
"Lisa kamu ini ya," sahut Sana jadi malu.
"Ya ampun wajahnya langsung memerah gitu," goda Anna menunjuk-nunjuk wajah Sana.
"Issss kalian ini apa-apaan sih. Pembahasannya lari dari jalur," sahut Sana dengan kesal yang kalau sudah di goda pasti dia tidak tahan dan wajahnya itu tidak bisa berbohong. Memerah dengan salah tingkah.
"Ya kalau hasilnya keponakan sih tidak apa-apa," sahut Olive yang cengar-cengir.
"Ini lagi anak, malah di lanjutkan," sahut Sana kesal.
"Ya ampun Sana kalau kamu sama kak Gibran di kamar mulu terus menghasilkan keponakan untukku. Tidak masalah bagiku," sahut Olive lagi. Sana sudah berdecak kesal dengan kata-kata Olive.
"Sangat beruntung Sana punya adik ipar yang pengertian. Mau cari di mana. Biasanya juga adik ipar itu pasti akan suruh-suruh kakak iparnya ini itu, membersihkan rumah, masak dan lain-lain," sahut Lisa.
"Aku itu tau Sana tidak bisa memasak dan bersih-bersih. Jadi aku tidak berharap dia melakukan itu," sahut Olive dengan bercandaan.
"Sembarangan aku itu bisa memasak tau," sahut Sana.
"Iya-iya memasak dengan sayur yang di cuci terlebih dahulu dengan sabun,"celetuk Lisa.
"Dan beras yang di masak dengan takaran yang hanya dan colokannya tidak terpasang," sahut Sana yang tertawa-tawa.
Hal itu membuat Anna terdiam. Semua itu adalah kenangan tahun lalu. Saat masih pedekate dengan Athar yang mana mereka masih saling tidak menyukai.
"Aku tidak membayangkan wajah kak Athar di sana seperti apa. Sangat marah dan Anna yang menjadi korbannya, di omeli. Eh ternyata sekarang mereka jadi pasangan yang bucin. Aneh memang," sahut Olive yang tertawa-tawa.
Namun Anna hanya diam yang juga terbayang masa-masa itu. Kenapa hal itu yang jauh lebih indah di bandingkan sekarang. Masa sebelum mereka pacaran sangat manis.
Athar yang sangat perhatian padanya, selalu ada untuknya. Walau saat itu dia dan Athar masih saling sering ribut. Saling bertengkar. Namun waktu Athar lebih banyak terpakai untuk Anna.
__ADS_1
Berbeda dengan sekarang saat mereka sudah berpacaran. Athar jarang ada waktu. Anna yang selalu mengunjungi kekantor Athar jika Anna tidak kesana. Bisa dalam 1 hari mereka tidak akan bertemu. Athar sangat sibuk dengan pekerjaannya dan jarang ada waktu untuk dirinya dan mereka jarang berduan.
Bersambung