Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 325.


__ADS_3

Dugaan Anna tidak pernah salah. Memang Mahendra dan Jennie sudah berbaikan. Di pastikan sudah berbaikan. Karena sekarang kamar Jennie terlihat berantakan dengan pakaian yang berada di atas lantai dan ada dua insan yang berpelukan di atas ranjang yang sepertinya sama-sama polos dengan ke-2nya yang hanya tertutupi dengan selimut.


Di mana Mahendra memeluk Jennie dengan erat yang Jennie juga begitu nyaman di dada bidang Pria yang masih di cintainya itu.


"Jadi kamu juga meninggalkan segalanya?" tanya Jennie.


"Iya. Aku tidak tahan dengan tekanan yang aku dapat dari mama. Belum lagi dengan mama yang harus menjodoh-jodohkan ku yang aku rasa itu hanya membuat aku tidak menemukan kehidupanku," jawab Mahendra.


"Apa kepergian kamu tidak di tentang Tante Rika?" tanya Jennie.


"Pasti iya dan banyak keributan yang terjadi. Apa lagi saat aku menolak keras perjodohannya itu. Mama mengancam ini itu dan bahkan akan mengeluarkan ku dari ahli waris. Aku tidak peduli dan lebih baik pergi. Aku bertemu Bu Maya dan akhirnya aku memutuskan mengabdi kepadanya dan membantu Perusahaannya. Dia juga sangat baik dan sudah seperti ibu ku sendiri," jelas Mahendra yang menceritakan sedikit kronologi apa yang terjadi kepadanya.


"Aku baru mendengar hal itu dari Athar. Aku tidak percaya. Jika kamu bisa meninggalkan semuanya," ucap Jennie


"Itu keputusan ku untuk mendapatkan kedamaian dalam hidupku. Karena jujur semenjak kamu pergi aku kehilangan arah tujuan hidup dan tidak bisa berpikir jernih dan aku ingin mencari kedamaian dan aku pikir mama melepasku ternyata tidak dia masih mengawasi ku diam-diam dan juga ternyata mengawasi kamu," ucap Mahendra melihat ke arah Jennie dan Jennie juga melihatnya.


"Aku juga tidak percaya. Jika Tante Rika akan menemuiku dan kembali menyuruhku meninggalkanmu. Aku mengatakan kepadanya. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengamu dan dia tetap tidak percaya dan memberikan ancaman kepadaku. Jika tidak menjauhimu," ucap Jennie.


"Apa mama melukaimu?" tanya Mahendra dengan rasa khawatirnya.


"Tidak Mahendra. Untuk saat ini. Tidak ada yang berlebihan yang di lakukan Tante Rika kepadaku. Hanya kata-kata yang seperti biasa dan jika di tanya apa itu sakit pasti iya," ucap Jennie.


"Maafkan aku Jennie. Aku tidak akan membiarkan mama melakukan itu lagi kepadamu. Aku tidak akan membiarkan mama mengganggu mu. Aku akan terus ada di sampingmu," ucap Mahendra menatap dalam-dalam Jennie.


"Iya Mahendra aku tau itu. Lagian Athar juga akan mengurus masalah itu dan sekarang aku jauh lebih aman. Karena kamu sudah ada di sisiku dan ternyata dengan kamu mengetahui apa yang terjadi. Jauh lebih baik ternyata," ucap Jennie yang merasa lega.


"Seharunya Jennie kamu memberitahuku masalah ini. Maka hubungan kita tidak akan seperti ini," ucap Mahendra.


Jennie tersenyum dengan mencium lembut pipi Mahendra, "maafkan aku. Jika aku membuatmu khawatir. Maafkan aku jika aku sudah menyakitimu, maafkan aku yang sudah membatalkan pernikahan kita. Membuat impian kita terkubur. Aku benar-benar minta maaf," ucap Jennie yang merasa bersalah pada Mahendra.


"Jangan merasa bersalah Jennie. Semua yang terjadi adalah pelajaran untuk kita berdua yang penting sekarang. Kita sudah saling mengetahui dan sekarang kita akan berjuang sama-sama dan tidak akan membiarkan ada orang yang menghalanginya," ucap Mahendra. Jennie mengangguk-angguk dengan tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca.


Mahenndra mengusap-usap lembut pipi Jennie dengan matanya yang fokus pada bibir Jennie. Mahenndra mendekatkan bibirnya yang ingin kembali meraih bibir yang menjadi candunya itu.


Dratt-dratt-drattt. Ponsel Mahendra berdering membuat hal itu batal. Padahal Jennie sudah memejamkan matanya. Namun ternyata di ganggu. Mahendra mengambil handphone dan langsung mengangkatnya.


"Iya Nona Aurelia," sahut Mahendra yang ternyata panggilan masuk dari Aurelia.


"Memang kamu di mana?" tanya Mahendra terlihat panik.


Jennie yang mendengar hal itu tiba-tiba kesal dan langsung bergeser dari dekat Mahendra. Sepertinya ada percikan ke cemburuan makanya Jennie menjauh dari Mahendra.


Mahendra menyadari hal itu dan membuat Mahendra jadi serba salah sepertinya Aurelia membutuhkannya. Karena mendengar suara Aurelia yang panik. Namun Jennie yang kelihatannya kesal membuat Mahendra mematikan telpon itu dengan sepihak dan Jennie yang ingin turun dari ranjang langsung di tarik Mahendra.


Sampai Jennie sudah berada di bawah Mahendra dengan ke-2 tangannya di cengkram Mahendra.


"Mahendra lepas! apa yang kamu lakukan?" pekik Jennie terlihat kesal saat Mahendra menindih tubuhnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Mahendra lembut.


"Ya mau pakai baju lah mau ngapain lagi. Sana kamu pulang. Aku mau istirahat," jawab Jennie dengan ketus. Bahkan tidak mau melihat wajah Mahendra. Namu melihat hal itu membuat Mahendra tersenyum.


"Kenapa sekarang jadi marah-marah. Memang aku salah ya? sampai-sampai harus mengusirku?" tanya Mahendra.

__ADS_1


"Aku tidak tau, sudah sana," jawab Jennie yang begitu ketus.


"Kamu cantik sekali kalau cemburu seperti ini!" puji Mahendra.


"Siapa yang cemburu?" sahut Jennie dengan protes.


"Ya kamu lah," sahut Mahendra.


"Aku tidak cemburu dan tidak peduli. Sudah buruan sana nanti dia menunggu kamu," sahut Jennie yang masih mengelak. Padahal api cemburu sedang membara.


"Jennie hanya kamu wanita yang aku cintai. Aku tidak menyukainya dan aku tidak kemana-mana. Aku ingin bersamamu," ucap Mahendra membujuk Jennie yang kalau cemburu sangat menyeramkan.


"Buktinya kau begitu panik saat menerima telpon darinya. Sangat bohong tidak ada perasaan," ucap Jennie memperjelas kecemburuannya yang membuat Mahendra hanya tersenyum saja.


"Aurelie meminta ku untuk menjemputnya dan lihat aku tidak menurutinya. Karena masih sangat merindukanmu," ucap Mahendra.


Jennie diam saja yang tetap tidak mau melihat Mahendra. Mahendra tersenyum memegang dagu Jennie. Meluruskan wajah itu sampai akhirnya lurus tepat di hadapannya dan Mahendra mengecup bibir Jennie.


"Aku mencintaimu dan akan membuktikan kepadamu. Aku tidak menyukai siapa-siapa dan jika ada wanita yang mengejarku. Aku akan mengatakan kepada mereka. Jika kamu wanita yang ada di hatiku dan dengan begitu tidak akan ada yang berani mendekatiku," ucap Mahendra dengan tulus bicara kepada Jennie.


"Apa aku bisa percaya itu?" tanya Jennie.


"Kamu harus percaya," ucap Mahendra. Jennie mengangguk pelan. Tanpa Mahendra katakan dia memang mempercayai hal itu. Namun tetap saja wanita pasti ada cemburunya.


Karena tidak ada yang mengganggu lagi. Handphone sudah di matikan Mahendra. Jadi Mahendra tidak menghilangkan kesempatan untuk kembali meraih bibir Jennie yang mana mereka berciuman kembali dengan romantis.


Saling menyentuh memberi kenikmatan di atas ranjang. Ke-2nya masih sama-sama saling merindukan. Jadi mereka ingin meluapkan rasa kerinduan itu dengan penuh cinta.


*********


"Di mana sih Mahendra. Aku belum selesai bicara. Sudah main-main tutup aja telponnya dan ketika di hubungi malah mati. Kenapa sih dia?" umpat Aurelia dengan penuh kekesalan yang sejak tadi menghubungi Mahendra. Namun apa daya. Mahenndra sedang menghabiskan malam dengan kekasihnya dan masa bodo dengan Aurelia.


"Malah nggak ada Taxi lagi, gelap, sunyi, tidak ada orang-orang," Aurelia menjadi takut yang sendirian. Dia merasa horor karena memang begitu sepi tidak ada siapa-siapa sama sekali.


Namun di tengah kecemasannya yang menunggu sambil terus menghubungi siapa saja yang mau di hubunginya untuk membantunya. Tiba-tiba ada 3 orang pria yang lewat. Awalnya pria-pria itu sangat cuek dan lewat begitu saja. Namun tiba-tiba mereka menghentikan langkah mereka dengan berbisik-bisik melihat ke arah Aurelia.


Aurelie yang menyadari di lihati membuatnya semakin takut. Dan Aurelia langsung berjalan meninggalkan tempat itu. Ternyata 3 Pria itu mengikutinya dan Aurelia menyadari hal itu langsung mempercepat langkahnya yang merasa ada yang tidak beres.


"Tolong!" teriak Aurelia yang langsung berlari dengan kencang saat merasa sudah tidak aman dan 3 Pria itu mengejarnya.


"Tunggu Nona!" panggil Pria-pria itu yang mengejar Aurelia.


Lari Aurelia tidak sekencang pria-pria itu. Apa lagi Aurelia yang memakai heels yang akhirnya membuat 3 laki-laki yang berniat jahat itu langsung menangkapnya dan memegang ke-2 tangan Aurelia sampai ponsel yang di pegang Aurelia terjatuh.


"Tolong! tolong! tolong!" Aurelia berteriak-teriak meminta tolong dengan ketakutannya.


"Jangan lari nona. Kami tidak akan melakukan apa-apa," ucap salah satu pria itu.


"Lepaskan aku! lepaskan aku! apa yang kalian inginkan?" teriak Aurelia yang berusaha untuk melepaskan diri.


"Jelas kami menginginkan kamu. Pakai banyak lagi," sahut salah satu Pria itu dan mereka tertawa terbahak-bahak.


"Jangan macam-macam kepadaku. Lepaskan aku!" teriak Aurelia yang berusaha melepaskan dirinya.

__ADS_1


"Baik akan kami lepaskan," sahut salah satu Pria yang langsung membanting Aurelia, membuat Aurelia jatuh ke aspal dengan berbaring dan ke-3 Pria itu berdiri di depannya yang membuat Aurelia semakin takut.


"Apa yang ingin kalian lakukan. Jangan macam-macam kepadaku!" teriak Aurelia yang berusaha untuk mundur dari Pria-pria yang ingin berlaku kurang ajar kepadanya.


"Kami tidak akan banyak macam nona cantik. Hanya cukup satu macam saja kok,"


"Kurang ajar. Pergi menjauh dari ku! pergi!" teriak Aurelia saat salah satu Pria itu langsung memegang tangannya. Aurelia sendiri sudah menangis akibat mendapat pelecehan dengan orang-orang yang berusaha untuk menyentuhnya.


Aurelia meminta tolong. Walau jalan besar tidak ada orang sama sekali dan hal itu membuat ke takutan sendiri dan hanya bisa menangis.


Bahkan orang-orang yang ingin memperkosanya sudah merobek bagian lengan pakaiannya. Saat salah satu pria ingin menyentuhnya tiba-tiba langsung mendapat tendangan membuat orang-orang tersebut menghentikan perbuatan mereka dan melihat siapa yang berani menghalangi mereka.


"Siapa kau brengsek?" tanya salah satu Pria yang terlihat marah karena sudah mengganggu kesenangan yang belum di dapatkan sama sekali.


"Derry!" lirih Aurelia yang ternyata Derry yang datang di saat yang tepat dan Derry melihat sendu Aurelia yang penuh air mata dan sangat memperihatinkan.


"Habisi dia!" teriak salah satu pria itu dan mereka langsung menghajar Derry. 1 lawan tiga tidak membuat Derry kewalahan. Namun Aurelia yang khawatir Derry akan kenapa-kenapa. Tetapi bagi Derry menghadapi orang-orang seperti itu sangat biasa dan yang tidak lama-lama orang-orang yang ingin melecehkan Aurelia sudah berhasil di kalahkan Derry yang terkapar di aspal dengan luka yang banyak.


"Pergi kalian dari sini! sebelum aku kehilangan kesabaran dan aku peringatkan pada kalian semua untuk tidak berani menganggu siapapun orang yang ada di sini. Jika itu kalian lakukan. Maka akan aku habisi kalian semua!" ucap Derry memberi ancaman.


"Pergi aku bilang!" teriak Derry dengan suaranya yang keras membuat orang-orang itu ketakutan dan langsung berlari dengan luka yang parah.


Derry membuang napasnya perlahan kedepan yang merasa lega berhasil mengalahkan orang-orang itu. Derry membalikkan tubuhnya dan melihat Aurelia yang terduduk di aspal dengan memeluk tubuhnya yang mana Aurelia terlihat menangis terisak-isak membuat Derry menghela napasnya dan langsung membuka jasnya sembari berjalan mendekati Aurelia.


Derry berjongkok di depan Aurelia dan langsung menutupkan jas itu pada Aurelia dan Aurelia langsung memeluk Derry dengan erat.


Derry tidak langsung memeluknya hanya diam sesat. Namun merasakan tubuh bergetar Aurelia membuatnya simpatik dan langsung memeluk erat Aurelia.


"Aku takut!" ucap Aurelia yang begitu ketakutan.


"Jangan takut. Mereka tidak akan berani mengganggumu lagi," ucap Derry.


"Makasih Derry. Kamu masih mau menolongku. Terima kasih," ucap Aurelia yang tidak tau bagaimanapun nasibnya kalau tidak ada Derry. Derry mengangguk-angguk dan melepas pelukannya dari Aurelia.


Derry melihat wajah Aurelia yang masih penuh dengan ketakutan. Derry mengusap air mata Aurelia dengan lembut.


"Jangan menangis lagi. Mereka sudah pergi. Kamu jangan khawatir. Mereka tidak akan mengganggu kamu lagi. Sekarang aku akan mengantarmu pulang," ucap Derry. Aurelia mengangguk-angguk. Derry membantu Aurelia berdiri dan berjalan menuju mobilnya.


***********


Di dalam mobil terlihat Aurelia yang murung dan masih memikirkan apa yang terjadi barusan.


"Kenapa kamu bisa pulang sendirian. Di mana mobilmu dan juga Mahendra?" tanya Derry.


"Aku tadi ada meeting dan kebetulan aku naik Taxi. Pulangnya bersama klien. Tetapi di jalan dia ada mendadak ada urusan. Aku merasa tidak enak dan menyuruhnya menurunkanku. Aku sudah menghubungi Mahendra. Tetapi tidak bisa," jelas Aurelia


"Lain kali jangan meeting terlalu malam. Apa lagi harus turun di jalanan, itu sangat berbahaya," ucap Derry dengan lembut.


"Iya Derry. Ini akan aku jadikan pelajaran. Aku sungguh berterima kasih kepada kamu. Kalau tidak ada kamu aku tidak tau bagaimana nasibku," ucap Aurelia melihat ke arah Derry.


"Jangan berlebihan Aurelia. Jika itu orang lain aku juga akan melakukannya dan tadi aku tidak sengaja lewat. Semuanya hanya kebetulan. Intinya lain kali kamu hati-hati," ucap Derry.


Aurelie menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku merasa begitu dingin kepadaku Derry. Bahkan semenjak kita ribut waktu itu. Kamu tidak sekalipun pernah menelponku. Aku merasa kamu sekarang berbeda sangat berbeda yang sepertinya sangat membenciku," batin Aurelia dengan meneteskan air matanya yang merasa Pria di sampingnya itu semakin jauh darinya. Tetapi masih untung Derry tadi masih mau menyelamatkan Aurelia.


Bersambung


__ADS_2