Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 88 Anna terkunci bersama Athar.


__ADS_3

Setelah kepergian Jennie. Athar kembali memijat-mijat kepalanya dan menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya untuk menetralkan pikirannya.


" Kenapa kepala ku berat sekali," lirihnya yang mengeluh terus dengan menyandarkan kepalanya ke kepala kursi dan matanya terpejam dengan. Dia tidak tidur. Namun hanya menenangkan dengan memejamkan matanya.


Tok-tok-tok-tok.


Baru memejamkan mata sebentar pintu ruangannya kembali di ketuk.


" Masuk!" sahut Athar tanpa membuka matanya.


Yang ternyata Anna yang memasuki ruangan itu dengan membawa lipatan kertas. Sebelum masuk Anna menutup pintu terlebih dahulu dan melangkah mendekati meja Athar. Di mana Athar yang masih tetap pada posisinya yang memejamkan matanya.


" Apa dia tidur, bukannya tadi dia bicara," batin Anna yang terlihat kebingungan. Athar membuka matanya dan membuat Anna kaget.


" Ada apa?" tanya Athar yang melihat Anna berdiri di depannya.


" Aku mau memberikan surat ini," ucap Anna yang tampak begitu hati-hati meletakkan lipatan kertas tersebut.


" Surat apa ini?" tanya Athar.


" Pengambilan cuti 2 hari ke Luar kota," jawab Anna. Athar langsung melihat Anna dengan serius.


" Lisa mengatakan boleh mengambil cuti. Untuk memenuhi kelengkapan desain sebelum acara pembuatan dan kebetulan di gudang tidak satupun aku menemukan bahan yang cocok. Jadi aku harus ke Luar kota. Hanya dua hark saja," cerocos Anna dengan cepat menjelaskan pada Athar. Padahal Athar tidak bertanya apa-apa kepadanya.


Tetapi dia sudah merocos sebelum Athar protes atau apapun itu. Athar pun melihat surat yang di berikan Anna dan melihat tempat mana yang di tuju Anna.


" Kapan kau pergi?" tanya Athar.


" Kan aku sudah menulisnya di sana. Bukannya seharunya kau baca," sahut Anna.


" Apa salahnya menjawab," sahut Athar mulai kesal.


" Ohhh, begitu. Lusa aku akan pergi," sahut Anna.


" Mana desain yang kuminta?" tanya Athar.

__ADS_1


" Astaga," sahut Anna menepuk jidatnya. " Ketinggalan di ruanganku. Aku akan mengambilnya sebentar," sahut Anna yang langsung buru-buru berjalan dan langsung pergi menuju pintu.


Anna memegang kenopi pintu untuk membuka pintu namun saat menekan kenopi pintunya. Tiba-tiba Anna tidak bisa membukanya.


" Kok tidak bisa di buka?" tanya Anna heran Athar melihat ke arah Anna yang mana Athar memejamkan matanya yang pasrah.


" Apa kau yang menutupnya tadi?" tanya Athar dengan suara beratnya.


" Iya," jawab Anna apa adanya.


" Salahmu sendiri. Pintunya rusak. Makanya kalau apa-apa itu di pikir jangan asal-asalan," sahut Athar yang terlihat pasrah.


" Lalu bagaimana?" tanya Anna panik.


" Kepalaku sakit. Jangan menyuruhku berpikir lagi. Itu kesalahanmu. Urus sendiri," sahut Athar.


Athar benar-benar tidak mau tau dengan Anna yang ceroboh. Dia hanya mementingkan kepalanya yang sangat berat bahkan tubuhnya sangat lemas.


" Bagaimana ini," ucap Anna yang panik dengan terus menekan kenopi pintu untuk membuka pintu yang memang terkunci.


" Buka pintunya, hey, apa ada orang di luar. Ayo buka pintunya. Di dalam ada orang yang terkunci," sahut Anna dari dalam yang berteriak dengan memukul-mukul pintu.


Athar melihat dari kejauhan geleng-geleng apa yang di lakukan Anna semakin membuatnya sakit kepala. Napasnya terasa begitu berat.


" Hey buka pintunya, di dalam ada orang, hey!" teriak Anna terus menerus.


" Anna stop, Diamlah! sahut Athar dengan menekan suaranya.


" Mana mungkin aku diam. Kalau aku diam apa yang aku dapatkan. Siapa yang membuka pintunya. Kau ini aneh sekali," sahut Anna yang memprotes Athar.


" Suaramu membuatku sakit kepala. Jadi tutup mulutmu. Orang pasti akan datang. Ini masih jam kantor. Jadi Diamlah. Jika kau bicara lagi. Aku akan melemparmu keluar dari kaca itu," ucap Athar dengan melihat dingding kaca yang mengarah keluar yang mungkin Anna jika terjun langsung pindah alam.


" Jadi diamlah," sahut Athar menegaskan.


" Apa dia serius akan melemparku. Lalu sampai kapan aku menunggu di dalam ini. Iya kalau datang orang kalau tidak," batin Anna yang terlihat panik.

__ADS_1


Athar berdiri dari bangku kerjanya dengan tubuhnya yang tidak stabil. Membuka jasnya meletakkan di sandaran kepala kursi. Lalu berjalan menuju sofa dan langsung membaringkan tubuhnya di sana.


" Awas saja kalau kau sampai berisik," ucap Athar memberi peringatan.


" Lalu aku ngapain di sini. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Anna.


" Kau kerjakan desainmu. Ambil kertas di sana. Itu lebih baik dari pada kau mengoceh di sana. Jadi kerjakan desainmu," jawab Athar memberikan perintah.


" Aku sudah menyiapkannya. Kenapa harus membuatnya lagi," sahut Anna yang protes.


" Aku bilang kerjakan. Siapa tau yang kau buat tidak asli. Karena aku tidak melihatnya. Jadi buat di sini. Biar membuktikan jika desain itu memang tanganmu yang mengukirnya. Jadi tidak ada kecurangan kesana kemari," sahut Athar menegaskan.


Anna masih terlihat bengong dengan kata-kata Athar.


" Kenapa masih diam, ayo cepat lakukan. Jadi kerjakan apa yang aku katakan dan jangan bikin keributan. Kepala ku sakit," sahut Athar menegasakan 1 lengannya di dahinya dan memejamkan matanya.


" Issss, kenapa dia menyuruhku mengerjakannya di sini. Oh iya sebaiknya aku telpon Lisa. Supaya dia membukakan pintu," ucap Anna yang memiliki ide.


" Astaga," Anna menepuk jidatnya, " handphone ku ketinggalan di ruanganku, bagaimana ini. Apa aku pinjam handphonenya saja," gumam Anna yang melihat ke arah Athar.


Anna berjalan dengan perlahan menghampiri Athar kesofa. Anna mengintip-ngintip di mana Athar sedang tertidur.


" Apa dia tidur. Apa orang sepertinya bisa tertidur," batin Anna yang merasa tidak percaya. Jika Athar memang tertidur, " jika aku membangunkannya yang adanya dia akan memarahiku. Lalu bagaimana ini. Apa iya aku harus menunggu sampai benar-benar harus ada orang. Argggghhh, Anna kenapa kamu sial sekali," ucap Anna yang mehentakkan ke-2 kakinya kelantai yang benar-benar pusing dengan apa yang terjadi.


***********


Jennie keluar dari perusahaan Glossi setelah bekerja seharian dan bahkan sudah sampai malam. Hujan rintik-rintik masih membasahi bumi dari tadi cuaca memang tidak bagus.


" Apa Athar sudah pulang," batin Jennie yang minat ke atas. " Sepertinya Athar memang sudah pulang, mobilnya juga tidak ada dan dia juga sedang tidak enak badan dan tadi juga dia mengatakan ingin pulang cepat. Ya semoga kondisinya baik-baik aja," batin Jennie.


Jennie melihat motor Anna masih terparkir di tempatnya biasa.


" Apa Anna belum pulang. Motornya masih ada jam segini dia belum pulang," gumam Jennie yang terus memandangi motor itu.


" Ahhhh, mungkin ada pekerjaannya yang belum selesai," ucapnya. Lalu menuju mobilnya dengan membuat tasnya di atas kepalanya untuk menutupi kepalanya agar tidak terlalu terkena hujan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2