
Jennie memasuki kamarnya, menutup pintu kamar dan dan bersandar di balik pintu dengan deru napasnya yang tidak stabil. Jennie memegang dadanya berdetak kencang. Di pastikan jantungnya ingin copot.
" Tidak Jennie apa yang kau pikirkan!" ucap Jennie yang berusaha untuk tenang dengan masalah yang barusan terjadi antara dia dan juga Mahendra.
Jennie perlahan memegang bibirnya yang masih basah yang tadi habis berciuman dengan Mahendra. Dengan cepat Jennie menggelengkan kepalanya dengan cepat.
" Kau jangan gila Jennie. Jangan memikirkan hal yang berlebihan. Hubunganmu dan dia sudah berakhir. Jadi stop memikirkan masalah ini. Kau tidak boleh memikirkan hal itu lagi," Jennie berusaha untuk menenangkan dirinya agar dirinya terlihat tenang.
Jennie memilih untuk menaiki tempat tidur dan berbaring di atas tempat tidur dengan menarik selimut. Jennie pikir akan bisa tertidur setelah apa yang terjadi. Dia malah gelisah sendiri dan tidak nyaman untuk tertidur yang pikirannya masih pada Mahendra.
Tubuhnya harus miring kekanan dan kekiri dengan gelisahnya yang tertidur berusaha memejamkan matanya agar melupakan apa yang terjadi. Namun apa daya pikirannya masih berfokus pada Mahendra dan adegan singkat yang mereka alami tadi.
Sementara Mahendra yang masih di ruang tamu yang hanya duduk santai dengan tersenyum penuh arti dan masih melanjutkan menonton dokumentasi dia dan Jennie. Wajah Mahendra penuh dengan berseri-seri melihat kebahagian yang pernah terjadi di antara mereka.
***********
Pagi hari kembali tiba seperti biasa Anna, Aurelia, Maya sedang sarapan di pagi hari. Maya yang sarapan dengan santai melihat Aurelia yang terlihat gelisah dan bahkan tidak fokus yang matanya benar-benar melihat ke arah handphonenya.
" Aurelia kamu kenapa?" tanya Maya. Anna melihat ke arah Aurelia yang memperhatikan kakaknya itu.
" Tauh nih dari tadi lihatin handphone mulu," ucap Anna.
" Dari tadi malam Mahendra tidak menjawab teleponku. Ya aku heran saja kenapa dia tidak menjawabnya," ucap Aurelia memberikan alasannya.
" Jadi karena Mahendra?" tanya Anna.
" Hmmm," jawab Aurelia.
" Memang apa yang penting Aurelia. Kenapa begitu gelisah hanya karena telpon kamu tidak di angkat?" tanya Maya.
" Ya aku ingin menayakan kabarnya mah," sahut Aurelia.
" Kamu ini seperti seorang pacarnya saja yang harus tau kabar Mahendra. Kamu ini aneh," ucap Maya.
" Mama tidak tau aja jika kak Aurelia menyukai Mahendra," batin Anna.
" Atau jangan-jangan kamu....." sahut Maya melihat Aurelia dengan penuh selidik.
Aurelia melihat ke arah Anna. Anna menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak mengatakan apa-apa sama sekali.
" Assalamualaikum!" tiba-tiba Derry datang mengucapkan salam.
" Walaikum salam," sahut Anna, Aurelia dan Maya serentak.
" Derry!" sahut Maya.
" Selamat pagi Tante," sahut Derry yang langsung mencium punggung tangan Maya.
" Tante apa kabar?" tanya Derry.
" Alhamdulillah baik," jawab Maya, " ayo kamu duduk, sekalian sarapan dengan kita," ucap Maya. Derry mengangguk dan duduk di samping Aurelia.
" Hay Aurelia," ucap Derry.
" Hay," sahut Aurelia dengan tersenyum tipis.
" Derry bagaimana pekerjaan kamu?" tanya Maya.
" Baik Tante. Walau sekarang pasti agak ribet dengan masalah Perusahaan semakin banyak. Tetapi tetap pekerjaan kak Athar yang banyak," jawab Derry.
__ADS_1
" Kasihan sekali pacarku pekerjaannya begitu banyak. Seharusnya kamu membantunya," sahut Anna dengan sewot.
" Pasti Anna jangan khawatir, aku pasti membantu kak Athar," sahut Derry dengan tersenyum.
" Hmmm, oh iya Aurelia aku sudah bicara kemarin dengan Bu Siwi dan dia ingin melihat desain kamu," ucap Derry yang tiba-tiba mengingat suatu hal yang tujuannya menemui Aurelia.
" Benarkah?" tanya Aurelia yang terlihat bahagia. Anna dan Maya saling melihat dengan tersenyum.
" Benar masa iya aku bohong. Jadi kamu tinggal tunjukkan desain kamu saja nantinya," ucap Derry.
" Ya ampun Derry aku tidak percaya. Bisa bertemu desainer terhebat itu. Kamu memang paling terbaik Derry. Selalu bisa membuat semua lancar," ucap Aurelia begitu bahagianya.
" Kamu ini tergantung sekali sama Derry Aurelia," sahut Maya.
" Tidak apa-apa Tante, saya senang kalau banyak-banyak membantu Aurelia. Melihat Aurelia bahagia merupakan kebahagiaan juga untuk saya," sahut Derry begitu tulisnya.
" Ya ampun Derry begitu baik. Apa kak Aurelia tidak bisa melihat ketulusannya. Kak kenapa sih kakak harus menyukai Mahendra yang belum tentu menyukai kakak dan kakak tidak melihat apa. Ada Pria yang begitu baik pada kakak sangat tulus dan mencintai kakak," batin Anna yang melihat dengan penuh ke senduhan di mana tatapan Derry begitu tulus pada Aurelia dan sementara Aurelia begitu cuek.
Ya Aurelia mengatakan pada Anna. Jika dia tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada Derry dan hanya menganggap Derry sebagai teman saja.
Cinta Derry bertepuk sebelah tangan. Padahal dulu hanya Derry yang ada di sisi Aurelia. Di saat Aurelia mengalami banyak masalah.
**********
Perusahaan Glossi.
Mobil Mahendra berhenti di Perusahaan itu yang mana Mahendra mengantarkan Jennie. Pada akhirnya di malam itu. Mahenndra harus menginap di rumah Jennie. Karena masih hujan dan bahkan Mahendra ketiduran. Karena terjadi kecanggungan di antara ke-2nya Jennie tidak berani membangunkan Mahendra karena hujan sudah reda yang akhirnya hanya membiarkan Mahendra tidur di sofa.
" Terima kasih sudah mengantarkanku," ucap Jennie membuka sabuk pengamannya.
" Aku yang berterima kasih padamu. Karena sudah di berikan tempat untuk menginap dan iya terima kasih untuk selimutnya," ucap Mahendra dengan lembut.
Jennie memang menyelimuti tadi malam karena tidak tega dengan Mahendra yang kedinginan.
" Hmmm, ya apapun itu aku harus berterima kasih untuk tumpangan itu dan aku berharap kedepannya kita bisa lebih santai lagi. Ya hanya menjaga silaturahmi saja," ucap Mahendra yang masih mengharapkan hubungan yang baik dengan Jennie.
" Iya," jawab Jennie dengan singkat. " Ya sudah aku masuk dulu!" ucap Jennie pamit dan langsung keluar dari mobil itu.
Mahenndra tersenyum dengan kepergian Jennie.
" Jennie jika masih bisa di perbaiki kenapa tidak. Aku sangat berharap hubungan kita bisa jauh lebih baik. Jennie aku tidak bisa menerima kau pergi begitu saja di hari pernikahan kita dan alasanmu sangat tidak masuk akal," batin Mahendra yang masih mempunyai perasaan yang sama besarnya dengan Jennie.
**********
Anna dan Aurelia menyambangi Perusahaan Glossi yang mana mereka berdua di antar oleh Mahendra. Ke-3 orang itu pun keluar dari mobil dan memasuki Perusahaan Glossi.
" Mahendra kamu tadi malam kemana?" tanya Aurelia sembari berjalan di samping Mahendra. Anna yang mendengarnya hanya terlihat cuek.
" Memang ada apa Nona?" tanya Mahendra.
" Kenapa tidak mengangkat telpon ku?" tanya Aurelia.
" Ya ampun kak Aurelia penting banget harus menanyakan hal itu," ucap Anna dengan kesal.
" Isss Anna kamu itu ya. Namnya juga pengen tau," sahut Aurelia.
" Saya sedang ada urusan dan tidak melihat panggilan telpon dari Nona Aurelia," jawab Mahendra.
" Hanya itu saja?" tanya Aurelia yang tidak puas dengan jawaban Mahendra.
__ADS_1
" Kak Aurelia sudahlah jangan menanyain Mahendra mulu. Nggak ada yang penting juga kan tuh kasihan Mahendra nya," sahut Anna.
" Iya-iya," sahut Aurelia. Anna geleng-geleng dengan menghela napasnya.
Mahendra mempersilahkan Anna dan Aurelia menuju ruangan Athar. Tempat yang mereka tuju.
Di ruangan Athar sendiri ada Jennie, Marko dan Lisa yang sepertinya setia dalam membahas sesuatu.
Mahendra membuka pintu ruangan Athar tanpa mengetuk pintu dan yang ada di dalam itu langsung melihat ke arah pintu.
" Sayang!" sapa Anna yang langsung melangkah mendekati Athar yang duduk Sofa dan Athar langsung berdiri dan memeluk Anna.
" Aku merindukanmu," ucap Anna.
" Aku juga," jawab Athar.
Anna dan Athar hanya bisanya membuat orang-orang pada iri saja. Jennie dan Mahendra yang baru saja tadi pagi bertemu saling melihat dan terdapat senyum tipis yang keluar dari ke-2nya.
" Ya sudah ayo silahkan duduk. Kita mulai saja meetingnya!" sahut Athar mempersilahkan.
" Nanti dulu sayang. Kamu sudah makan siang?" tanya Anna.
" Nanti saja setelah meeting kita selesai," jawab Athar.
" Berarti kamu belum makan siang?" tanya Anna panik.
" Belum ada yang makan siang Anna, kita dari tadi meeting, aku aja kelaparan," sahut Lisa mengeluh.
" Sayang ini sudah hampir jam 3 dan kamu belum makan siang," pekik Anna betapa terkejutnya. Athar hanya menghela napas. Gara-gara mulut Lisa Anna pasti akan mengoceh sekarang.
" Lagian aneh banget jam segini belum makan," sahut Aurelia.
" Waktunya tanggung," jawab Athar.
" Tetapi yang lain kan juga lapar," sahut Aurelia.
" Sudah-sudah. Pokoknya kita harus kamu harus makan dulu. Tidak ada kata tanggung. Kalau sudah penyakitan baru tau rasa," ucap Anna menegaskan.
" Ya sudah," sahut Athar terlihat terpaksa.
" Baiklah, kita makan dulu sebaiknya," sahut Jennie.
" Alhamdulillah perut terisi juga akhirnya, untung ada Anna," sahut Lisa yang merasa lega.
" Ya sudah ayo cari makan," sahut Marko.
" Tidak perlu. Makanan sudah datang," sahut Derry yang tiba-tiba datang dengan banyaknya membawa kantung plastik yang berisi makanan.
" Aku juga datang," sahut Olive yang juga langsung datang dari belakang Derry yang membawa makanan yang banyak.
" Alhamdulillah dapat makanan gratis," sahut Lisa.
" Ya sudah sekarang ayo kita makan rame-rame. Kita harus isi perut dulu baru bekerja. Karena cari uang untuk makan. Jadi perut harus di isi dulu," ucap Anna dengan bijaknya.
" Iya-iya ayo makan dulu," sahut Olive.
Mereka mulai membuka-buka kantung plastik tersebut untuk mengeluarkan isi makanan. Dengan tidak sengaja nya tangan Mahendra dan tangan Jennie saling memegang plastik yang sama. Mereka berdua saling melihat dan sama-sama mengeluarkan senyum.
Ternyata Anna memperhatikan Mahendra dan Jennie yang punya dunia sendiri.
__ADS_1
" Kenapa aku merasa jika mereka berdua itu sangat cocok ya. Bahkan mereka itu sangat mirip, apa jodoh kali ya. Di bandingkan dengan kak Aurelia atau Olive mendengan Mahendra sama Jennie sama-sama cocok," batin Anna yang menjodoh-jodohkan Jennie dan Mahendra. Karena memang menurutnya sangat cocok.
Bersambung