Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 313


__ADS_3

Acara sambutan dan lamaran dari Gibran sudah selesai. Di mana dia langsung mempersunting Sana saat itu. Padahal Gibran tidak tau apakah Sana mempunyai perasaan atau tidak padanya. Dia hanya percaya diri melamar Sana dan dengan di terimanya lamarannya sudah membuktikan bahwa memang Sana mempunyai perasaan. Kalau tidak ya mana mungkin di terima.


Para tamu yang lainnya melihat-lihat lukisan yang tersusun dengan rapi. Yang pasti orang-orang tersebut begitu mengangumi semua karya dari Gibran.


Sama dengan Sana dan Gibran yang sekarang berdiri di hadapan lukisan yang menurut Gibran paling mewah dan sangat mahal. Apa lagi kalau bukan lukisan Sana.


" Jadi ini alasannya. Kenapa kaku tidak mengijinkanku untuk membukanya?" tanya Sana menoleh ke arah Gibran.


" Kamu benar. Ini salah satu alasannya. Aku tidak ingin kamu melihatnya karena semuanya aku siapkan untukmu," jawab Gibran.


" Apa ini juga alasannya kamu tidak memberitahuku masalah Gala primer ini. Yang mana seperti biasanya kamu selalu melibatkan ku dan kaki ini tidak sama sekali dan itu membuatku sangat kesal," ucap Sana.


" Iya kamu benar Sana aku memang sengaja tidak memberitahu apa-apa masalah ini. Karena aku ingin membuat Supraise untukmu," ucap Gibran membuat Sana tersenyum.


" Ini memang sangat mengejutkanku. Aku tidak percaya dengan semua ini," ucap Sana. Gibran tersenyum dan langsung menggengam tangan Sana.


" Terima kasih sana untuk semuanya. Aku benar-benar sangat bahagia. Aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu dan kamu menjadi bagian yang sangat terpenting di dalam hidupku. Terima kasih untuk semuanya," ucap Gibran.


Sana mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Dan iya aku juga berterima kasih. Karena kamu tidak mempermalukan ku sama sekali. Aku tidak tau bagaimana jika kamu mempermalukan ku dengan menolak lamaranku. Mau di taruh di mana wajahku," ucap Gibran.


" Jangan-jangan Sana terpaksa lagi menerima lamaran kamu," tiba-tiba terdengar suara membuat Gibran dan Sana menoleh kebelakang dan ternyata Maharani dan Ari Purnama dan mereka langsung saling melepas genggaman tangan.


" Tidak apa-apa pegangan jangan malu-malu!" goda Ari Purnama.


" Papa!" lirih Gibran yang salah tingkah dan Sana juga menjadi canggung.


" Kamu terpaksa kan Sana menerima lamaran Gibran. Supaya Gibran tidak malu. Kamu jujur saja Tante tidak akan marah," seloroh Maharani.


" Nggak kok Tante. Saya benar-benar sungguh-sungguh menerima lamaran Gibran dengan tulus," sahut Sana dengan tersenyum tipis dengan malu-malu.


" Mama apa-apaan sih. Jangan mempengaruhinya deh. Dia tidak terpaksa. Aku bisa melihat dari wajahnya," ucap Gibran menatap dalam-dalam Sana membuat Sana semakin canggung saja.


" Iya yang paling mengerti dari wajahnya," sahut Maharani.


" Mama sih ada-ada saja yang di bahas," ucap Gibran.


" Sudah mah, jangan menggoda Gibran lihat wajah Gibran jadi memerah," sahut Ari Purnama.


" Siapa juga yang wajahnya memerah," sahut Gibran yang tidak mau mengakui. Sana hanya tersenyum dengan ke-2 orang tua Gibran yang menggoda Gibran.


Maharani menghadap Sana dan memegang ke-2 tangan Sana dan menatap Sana dalam-dalam.


" Makasih ya Sana kamu sudah ada bersama Gibran selama ini. Kamu itu wanita yang sangat baik yang sangat tulus pada Gibran," ucap Maharani.


" Tante berlebihan. Aku padahal tidak melakukan apa-apa dan tidak berharap apa-apa. Jadi jangan berterimah kasih kepadaku," ucap Sana.


" Tante harus berterima kasih kepadamu. Kamu itu sangat baik Sana dan Tante merestui hubungan kamu dengan Gibran. Tante berdoa semoga hubungan kalian langgeng ya," ucap Maharani.


Sana mengangguk dan Gibran tersenyum mendengarnya.


" Papa juga berdoa yang sama untuk kalian berdua. Semoga hubungan kalian baik-baik saja," ucap Argantara.


" Makasih pah," ucap Gibran yang tersenyum.


" Gibran kamu jaga Sana dan bahagiakan dia. Dia sudah begitu baik kepada kamu. Jadi jangan sia-sia kan dia," ucap Ari Purnama


" Pasti pah," sahut Gibran dengan tersenyum yang saling melihat dengan Sana. Wajah mereka terlihat mirip dan mungkin memang mereka sudah berjodoh.


************


Derry menarik tangan Anna yang menjauh sedikit dari keramaian.


" Aduh Derry kamu mau ngapain sih menarik-narik tanganku sakit tau," keluh Anna dengan kesalnya.


" Aku ingin bicara dengamu Anna!" ucap Derry.


" Tapi tidak perlu tarik-tarik memang kamu pikir aku kambing," keluh Anna dengan kesal. Sampai akhirnya Derry menghentikan langkahnya dan menghadap Anna. Anna pun langsung melepas tangannya dari cengkraman Derry.


" Sakit tau," umpat Anna kesal mengusap-usap pergelangan tangannya.


" Sorry Anna aku tidak bermaksud aku hanya ingin mengatakan sesuatu dan aku tidak ingin ada yang mendengarnya. Makanya aku membawamu kemari," ucap Derry.


" Memang apa sih yang ingin kamu katakan?" tanya Anna heran, " kenapa coba harus ngumpet-ngumpet," ucap Anna dengan kesal.

__ADS_1


" Ini masalah Aurelia Anna!" ucap Derry.


" Apa lagi sih.. Memang kak Aurelia kenapa lagi. Masa iya membahas dirinya tanganku harus menjadi korban kan tidak lucu," ucap Anna kesal.


" Anna begini aku ingin melamar Aurelia hari ini juga," ucap Derry to the point membuat Anna terkejut dan langsung melototkan matanya.


" Kamu bilang apa tadi?" tanya Anna berusaha telinganya salah pendengaran.


" Aku ingin melamar Aurelia hari ini juga malam ini dan menurutku ini waktu yang sangat tepat," ucap Derry yang sudah yakin.


" Aku sudah menyiapkan tempat untuk lamaran romantis yang di impikan Aurelia. Jadi aku minta tolong sama kamu tolong bawa Aurelia. Aku akan kirim alamatnya kepadamu," ucap Derry yang ternyata sudah menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk melamar wanita yang di sukainya.


" Kamu yakin Derry. Apa ini tidak buru-buru?" tanya Anna yang merasa sangat tidak mungkin.


" Kenapa buru-buru Anna. Jelas tidak, aku justru sangat yakin menyatakan perasaanku pada Aurelia sebelum semuanya terlambat," ucap Derry.


Anna bereksperesi yang penuh kegelisahan dengan rencana Derry.


" Anna kamu kenapa?" tanya Derry yang melihat ekspresi Anna yang tidak bersemangat, " kamu tidak setuju ya dengan rencanaku?" tanya Derry.


" Bukan begitu Derry. Bukannya tadi Gibran baru saja melamar Sana dan apa kamu tidak terlalu buru-buru melamar kak Aurelia," ucap Anna yang mencari alasannya.


" Anna aku memang tidak tau kalau kak Gibran akan melamar Sana dan aku sudah menyiapkan semuanya dari jauh-jauh hari. Jadi mana mungkin aku membatalkannya karena kak Gibran yang sudah melamar Sana. Dan lagian kan ini hanya melamar saja. Bukan langsung menikah," ucap Derry.


" Ya ampun bagaimana ini," batin Anna yang panik sendiri. Kelas dia panik karena dia tau kakaknya itu menyukai orang lain dan Pria di depannya ini tidak sama sekali yang Anna takut Derry akan kecewa karena adanya cinta yang bertepuk sebelah tangan.


" Anna kenapa kamu diam?" tanya Derry.


" Oh tidak apa-apa. Ya aku hanya berdoa semoga saja kak Aurelia menerima lamaran kamu," ucap Anna.


" Aku juga pasti berharap yang sama dengan kamu," sahut Derry


" Hmmm, oh iya Derry. Lalu bagaimana kalau pada akhirnya kak Aurelia tidak menerima kamu?" tanya Anna dengan hati-hati yang takut Derry tersinggung. Derry bahkan menatap Anna dengan serius.


" Tapi kayaknya tidak mungkin," sahut Derry tersenyum dengan percaya dirinya.


" Anna aku sudah sangat mengenal Aurelia dan kamu bisa melihat kedekatan kami. Jadi mana mungkin dia menolakku. Mungkin saja dia malah menunggu-menunggunya. Astaga kenapa aku jadi percaya diri sekali," ucap Athar dengan geleng-geleng sembari tertawakan.


Anna mengangguk tersenyum saja dengan ekspresi yang datar. " Iya pasti tidak mungkin," sahut Anna.


" Hmmm," Anna hanya menjawab dengan deheman. Derry menepuk bahu Anna dan kemudian Derry langsung pergi yang begitu semangatnya.


Anna menghela napasnya dengan panjang kedepan.


" Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan," ucap Anna dengan memegang kepalanya yang terasa pusing. Hanya karena masalah Derry dan lamarannya yang membuatnya ikut terlibat.


" Athar aku harus berdiskusi dulu dengannya. Aku bisa gila memikirkan semua ini," ucap Anna berdesis kesal dan langsung meninggalkan tempat itu untuk menjari kekasihnya.


********


Anna kembali ke tempat acara dan mencari-cari di mana keberadaan kekasihnya untuk memecahkan permasalahan di otaknya.


" Anna kamu sedang mencari seseorang?" tanya Anjani yang berada di belakang Anna dan Anna langsung membalikkan tubuhnya.


" Oh iya Bu Anjani. Anna mencari Athar di mana ya Athar. Anna sama sekali tidak melihatnya," ucap Anna.


" Tadi ada di sini. Lagi mengobrol. Tante juga heran di mana dia," jawab Anjani.


" Hmmm, begitu ya Bu ya sudahlah kalau begitu biar Anna cari saja," ucap Anna. Anjani menganggukkan kepalanya dan Anna langsung mencari Athar kembali.


Setelah mencari-cari Anna pun melihat Athar yang sedang mengobrol dengan beberapa orang.


" Aku mana mungkin mengganggu Athar. Ini hanya masalah kak Aurelia. Athar pasti sangat serius dengan rekan-rekannya," batin Anna yang tidak berani mengganggu Athar.


" Anna!" tegur Lisa dan Sana yang tiba-tiba menghampirinya.


" Hmmm, kenapa?" tanya Anna.


" Kamu ngapain sendirian di sini?" tanya Sana.


" Mau ketemu Athar. Tapi kayaknya dia sedang bicara serius deh," jawab Anna yang matanya fokus ke arah Athar.


" Kayaknya sih memang iya. Dia itu adalah pengusaha di Bali ini. Mungkin saja Bos Athar sedang membicarakan masalah bisnis," sahut Lisa yang pasti mengenali orang tersebut.


" Tuh kan mana mungkin aku mengganggunya," batin Anna.

__ADS_1


" Memang ada apa Anna. Apa ada yang penting?" tanya Sana.


" Ada sih. Tapi tidak mungkin juga aku temui," jawab Anna.


" Sabar aja sebentar. Kayak nggak ada waktu lain aja. Benar-benar bucinnya makin lama makin menjadi-jadi," ucap Lisa.


" Siapa yang bucin itu itu masalah penting," sahut Anna.


" Lisa kamu itu ya dari wajahnya Anna terlihat Anna memang sangat serius. Jadi jangan mengatainya bucin," bela Sana.


" Ehemm, mentang-mentang sudah di lamar pasti ada nih bucin ke-2," sahut Lisa yang malah menggoda Sana dan Anna malah tersenyum.


" Apaan sih," sahut Sana malu-malu.


" Oh iya Sana aku belum mengucapkan selamat untukmu atas lamaranmu," sahut Anna menjulurkan tangannya.


" Apa sih Anna," Sana malah malu dengan apa yang di lakukan Anna.


" Di sambut uluran tangannya," ucap Anna dengan kesal.


" Iya," sahut Sana dan sekalian memeluk temannya itu.


" Semoga kalian cepat menikah," ucap Anna.


" Iya amin, kamu juga cepat-cepat," ucap Sana.


" Iya," sahut Anna yang melepas pelukan itu dari temannya. Lisa juga hanya tersenyum dengan melihat kebahagian Sana.


Ting.


Tiba-tiba Anna mendapatkan pesan dan langsung membuka pesan tersebut.


..." Anna aku akan berangkat ke lokasinya. Kamu bawa Aurelia ya aku sudah share lokasinya," tulis Derry....


" Mampus," ucap Anna menepuk jidatnya.


" Apa yang mampus Anna?" tanya Sana dan Lisa dengan serentak.


" Oh tidak apa-apa. Ya sudah aku pergi dulu," ucap Anna yang langsung buru-buru pergi. Sudah tidak sempat lagi harus bicara pada Athar.


" Kenapa sih dia?" tanya Lisa heran.


" Mana aku tau," sahut Sana dengan mengangkat ke-2 bahunya.


************


Anna sekarang harus mencari kakaknya dengan mulutnya yang bergerutu.


" Yang penting aku membawanya dan masalah yang lain itu bukan urusanku. Siapa tau aja dengan Derry mengatakan perasaannya pada kak Aurelia. Kak Aurelia jadi menerimanya dan melupakan Mahendra. Aku hanya berusaha melakukan apa yang terbaik saja," gerutu Anna yang terus berjalan mencari sang kakak sampai ke luar gedung.


" Di mana lagi kak Aurelia?" tanyanya mencari ke semua arah. Sebelumnya dia bertanya pada mamanya dan Maya mengatakan Aurelia tadi keluar dan sekarang Anna terus mencari-cari.


" Itu dia!" ucap Anna akhirnya menemukan kakaknya yang berjalan seperti mengejar seseorang.


" Kak Aurelia!" panggil Anna yang langsung berlari mengejar Aurelia dan akhirnya berhasil mendapati Aurelia.


" Kak tunggu! kakak mau kemana sih? aku capek lari-lari terus," ucap Anna dengan deru napasnya yang naik turun memegang tangan kakaknya.


" Anna kakak itu mau menemui Mahendra. Kamu lihat di sana dia sama Olive," ucap Aurelia yang matanya terus melihat Mahendra dan Olive yang berbicara.


" Ya sudah biarin ajalah Kak. Mending sekarang kakak ikut Anna," ucap Anna.


" Di biarin bagaimana. Ya nggak bisa dong Anna," sahut Aurelia.


" Kak udah deh. Mending kakak nggak usah suka sama Mahendra. Itu hanya mencari keributan dengan Olive saja. Mending sekarang kakak ikut Anna!" tegas Anna menarik tangan Aurelia.


" Anna lepas!" Aurelia melepaskan tangannya dari Anna.


" Kamu ini apa-apaan sih malah memaksa kakak. Dan kamu bilang apa tadi kakak tidak usah menyukai Mahendra. Itu tidak mungkin Anna. Kakak itu sangat menyukainya dan kamu sudah tau itu," ucap Aurelia yang bicara serius.


" Jangan menyukai orang lain yang belum tentu menyukai kakak. Ada pria yang pasti menyukai kakak," ucap Anna memberi pesan.


" Maksud kamu itu apa. Masa iya kamu mau mengatur perasaan kakak hah! Anna kakak itu menyukai Mahendra. Bukan siapa-siapa dan seperti yang kamu bilang kemari. Derry kakak tidak menyukainya sama sekali. Kakak hanya menganggapnya teman dan Athar setelah kakak sadari. Kakak juga hanya terobsesi dengannya saja dan tetapi Mahendra kakak benar-benar menyukainya. Karena itu perasaan kakak sesungguhnya," jelas Aurelia dengan serius bicara.


Ternyata apa yang di katakan Aurelia kepada Anna dengan suara lantang tidak sengaja terdengar oleh Derry yang tidak sengaja ingin lewat. Mendengar semua pernyataan yang sangat mengejutkan itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2