Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita

Ceo Tampan Di Antara 2 Wanita
Bab 240 Hampir saja.


__ADS_3

Hari ini Anna dan Athar harus kembali ke Jakarta. Mereka sudah di bandara yang sekarang di antarkan Anjani dan juga Maya.


" Mama tinggallah di Jakarta. Kita akan cari rumah untuk tempat kita berdua," ucap Athar yang berdiri di hadapan Anjani.


Anjani mengangguk tersenyum dengan memegang pipi Athar, " mama memang lebih betah di Indonesia dari pada di sini. Mama hanya menemani Maya sebentar dalam menyelesaikan pekerjaannya," ucap Anjani.


" Apa itu artinya mama akan kembali ke Jakarta dan menetap di sana?" tanya Athar memastikan.


" Mama lebih nyaman tinggal di desa," jawab Anjani yang memang lebih suka di desa.


" Lalu kapan kesempatanku untuk hidup bersama mama. Seperti orang pada umumnya yang tinggal 1 rumah dengan ibu kandungnya," ucap Athar yang tampaknya menginginkan hal itu.


Anna yang sejak tadi di rangkul oleh Maya saling melihat dengan Maya yang mendengar perkataan Athar yang mana mereka tampaknya tau jika Athar benar-benar ingin merasakan seperti orang lain dan Anna sedikit sedih dengan permintaan Athar.


" Athar kamu itu sudah punya rumah dan hidup bersama ayahmu dan saudara-saudara mu, juga wanita yang kau panggil selama ini mama. Jadi jangan mengubah apapun saat kamu bertemu mama," ucap Anjani.


" Aku sudah dewasa dan aku bisa hidup sendiri. Punya pilihan hidup sendiri. Termasuk pilihan ini. Aku hanya ingin ibuku tinggal bersamaku dan memang tidak mungkin tinggal di rumahku. Makanya kita akan mencari rumah untuk kehidupan kita ber-2," ucap Athar yang bicara dengan serius menatap intens mamanya dengan wajahnya yang penuh harapan.


" Athar!" ucap Anjani.


" Bukannya mama kemarin ingin memberiku kesempatan. Laku kenapa berubah pikiran," ucap Athar.


" Tidak ada yang berubah pikiran. Kita akan tinggal bersama," sahut Anjani yang tidak ingin putranya itu kecewa. Anna dan Maya mendengarnya tersenyum.


" Ini benarkan?" tanya Athar ragu.


" Tetapi mama akan kembali bersama Maya dan pasti sebelum Anna kompetisi dan kamu juga harus membicarakan baik-baik pada papamu masalah ini. Mama tidak ingin ada keributan," ucap Anjani dengan memberikan pesan.


" Iya mah, aku tau apa yang harus aku lakukan. Mama jangan khawatir," ucap Athar.

__ADS_1


Anjani mengangguk-anggukkan dan memeluk putranya itu.


" Ya sudah kita sebaiknya kembali terlebih dahulu ke Jakarta," sahut Anna yang juga berpamitan pada mamanya.


" Iya sayang kamu baik-baik ya di sana. Jaga kesehatan dan fokus untuk kompetensi kamu," ucap Maya yang sekarang sedang memeluk Anna.


" Iya ma," jawab Anna yang masih memeluk mamanya begitu erat. Karena dia memang begitu masih merindukan mamanya itu.


Anna dan Athar sama-sama melepas pelukan pada ibu masing-masing mereka.


" Athar titip Anna ya," ucap Maya.


" Pasti Tante," jawab Athar mengangguk.


" Anna ibu juga titip Athar ya," sahut Anjani.


" Sip, beres," sahut Anna mengacungkan 2 jempolnya.


" Kalian hati-hati," sahut Maya.


Anna dan Athar mengangguk dan akhirnya mereka pergi dari hadapan Maya dan juga Anjani. Anna melambaikan tangannya pada Maya dan Anjani yang juga membalas melambaikan tangannya.


Athar dan Anna semakin jauh dari 2 wanita itu dan mereka melihat Athar sudah menggandeng tangan Anna membuat Anjani dan Maya saling melihat dan tersenyum lebar.


" Mereka saling mencintai. Semoga Athar bisa menjaga Anna," ucap Maya.


" Iya aku percaya Athar pasti akan terus menjaga Anna. Karena aku tau jika Athar begitu mencintai Anna," sahut Anjani.


" Ayo kita pulang," sahut Maya. Anjani mengangguk dan mereka pun meninggalkan bandara dengan berpegangan tangan sama seperti ke-2 anak mereka.

__ADS_1


****************


Jennie ke luar dari perusahaan Glossi sambil melihat layar handphonenya.


" Menyuruhku mencari tahu siapa ibu kandung Anna. Tau-taunya dia sudah menemukannya. Bahkan tidak mengabariku sama sekali untuk memberitahu kalau aku tidak perlu lagi mencari tahunya. Kan aku jadi tidak repot-repot beberapa hari ini. Apa dia pikir kerjaanku hanya itu saja. Sudah tau aku sedang mengurus ini itu. Akhir kompetisi juga sebentar lagi. Dasar kalau sudah bucin lupa segalanya. Athar- Athar kau ini benar-benar," Jennie bergerutu kesal sambil berjalan yang kesal pada Athar.


Ya dia baru melihat postingan Anna dan terlihat bahagianya temannya itu dan dia seperti orang gila mencari-cari tau ibu kandung Anna. Padahal Athar sudah menemuinya dan membiarkannya mencari tahu ya bagaimana Jennie tidak kesal.


Jennie menghentikan langkahnya dan melihat di sekitarnya, " astaga ternyata sudah malam. Lihatlah Athar ini semua karena kau. Kau tidak memberi kabar apa-apa. Sampai aku bekerja semalam ini," umpatnya dengan kesal sembari melihat arloji di tangannya yang menunjukkan pukul 10 malam.


" Pantesan perutku begitu lapar. Ternyata sudah jam segini," ucap Jennie memegang-megang perutnya yang mulai minta di isi. Pandangan mata Jennie melihat ke sebrang jalan yang melihat gerobak nasi goreng.


" Aku beli makanan dulu. Di apartemen juga tidak ada makanan. Dari pada aku mati kelaparan dan Athar enak-enakan pacaran," ucapnya yang memutuskan untuk kesebrang jalan.


Ternyata di ujung jalan sana di dalam mobil. Ada sejak tadi yang mengawasi pergerakan Jennie. Siapa lagi jika bukan Gibran yang duduk di kursi pengemudi yang terlihat mengawasi Jennie dengan sorot matanya yang tajam.


" Kau akan selesai disini. Berani sekali kau menghinaku Jennie. Kau pikir dirimu sudah paling hebat. Aku mengubah skenarioku. Ternyata harus kau yang duluan mati, baru menyusul Athar orang yang selalu kau bela itu. Bersama dengan wanita yang berusaha kau lindungi itu," umpat Gibran dengan kesal yang melihat Jennie dengan langkah santai yang berjalan menyebrang jalan.


Gibran tidak membuang waktu lagi. Dia menarik gas mobilnya dan melajukan dengan kecepatan tinggi di mana Jennie yang sudah berada di tengah jalan yang tidak menyadari mobil yang di kendarai Gibran sudah begitu dekat.


Sampai akhirnya kaki Jennie terhenti dan melihat mobil melaju kencang ke arahnya membuat matanya melotot.


" Argghhh!" Jennie berteriak dengan menyilangkan tangannya di wajahnya yang sudah tersorot lampu mobil.


Namun di detik berikutnya terlintas bayangan seperti angin ****** beliung yang menarik Jennie yang menghindari kecelakaan. Di mana Gibran tidak tepat pada sasasarn yang tidak menabrak targetnya.


" Sial!" umpat Gibran dengan memukul stir mobilnya. Saat melihat dari kaca spion Jennie yang selamat dan terlihat bersama seorang pria yang tidak dapat di lihat Gibran yang mana Gibran pun semakin jauh.


Rencana Gibran gagal untuk mencelakai Jennie karena tiba-tiba ada orang yang menolong Jennie dan Gibran mana mungkin menghentikan mobilnya untuk melihat siapa orang yang di lihatnya dari kaca spion itu. Sama saja dia menyerahkan diri. Jadi lebih memilih untuk melajukan dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2