
Acara pesta berlanjut dengan meriah. Anna asyik bersama Chaca di mana mereka menikmati coklat bersama Anna yang berjongkok di depan Chaca.
" Kamu mau lagi coklatnya?" tanya Anna.
" Boleh kak," jawab Chaca.
" Ya sudah kamu tunggu sebentar ya, kakak ambil lagi," ucap Anna.
" Oke," sahut Chaca dengan wajah cerianya. Anna mengusap kepala Chaca lalu pergi mengambil coklat kembali. Saat Anna mengambil coklat Olive berdiri di belakangnya.
" Anna!" tegur Olive.
" Olive," sahut Anna yang sudah membalikkan tubuhnya.
" Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Olive heran.
" Oh, itu, hanya kebetulan saja," sahut Anna santai yang tidak ingin memberi tahu apa-apa.
" Maksudnya kebetulan bagaimana?" tanya Olive heran.
" Ya nanti aku jelasin deh, aku duluan ya," ucap Anna yang langsung pergi.
" Kenapa sih Anna, dia kelihatan menghindar dan bahkan tidak memberi tahu apa-apa padaku. Apa tidak menganggap aku sebagai temannya," ucap Olive dengan wajahnya yang cemberut dengan sikap Anna yang menghindarinya.
Anna kembali ketempat Chaca berjongkok di depan Chaca.
" Coklatnya datang," ucap Anna.
" Makasih kak Anna," sahut Chaca dengan wajah cerianya. Anna tersenyum mengusap pucuk kepala Anna yang ada mahkota di atasnya.
" Ini untuk papa?" tanya Chaca yang melihat paperbag di pegang Anna yang bisa menebak itu untuk papanya.
" Hmm, bukan," sahut Anna dengan cepat, " dia mengundangku menulis surat segala. Seakan seorang ayah yang menyesal. Ketika aku datang di memarahiku. Aku menyesal datang kemari dan membawakan ini," batin Anna yang moodnya sudah hilang.
" Lalu untuk siapa?" tanya Chaca.
" Tidak untuk siapa-siapa," sahut Anna, " Sudah makan lagi nih," ucap Anna yang memberikan adiknya itu coklat dengan tulus Anna bermain bersama Olive yang seakan menyampingkan masalahnya dengan papanya dan ibu tirinya juga kakakny.
Dia memang tidak bisa untuk membenci Chaca. Padahal Chaca lahir dari rahim wanita yang di bencinya. Namun Anna tau apa yang terjadi bukan kesalahan Chaca.
Ternyata kedekatan Anna dan Chaca mencuri perhatian Athar. Di mana dari kejauhan Athar memperhatikan Anna. Pasti Athar masih penasaran dengan siapa Anna sebenarnya yang ada di pesta itu dan tadi terlihat cekcok sedikit dengan Chandra.
" Athar!" tegur Aurelia.
__ADS_1
" Hah! Iya kenapa," sahut Athar kaget.
" Ayo berdansa denganku!" ajak Aurelia.
" Kamu saja," tolak Athar.
" Ayolah, aku tidak mungkin berdansa dengan Pria lain," sahut Aurelia yang memegang tangan Athar.
Tidak ada persetujuan dari Athar Aurelia langsung menariknya paksa dan membawanya ke altar dansa bergabung bersama orang-orang di sana dan mau tidak mau Athar pun mengikutinya.
Derry melihat-lihat di sekitarnya dan melihat Anna. Derry pun menghampiri Anna.
" Anna!" tegur Derry.
" Pak Derry," sahut Anna yang langsung berdiri.
" Ayo dansa," ajak Derry dengan mengulurkan tangannya.
" Maaf pak. Tapi saya tidak bisa," jawab Anna menolak dengan sopan.
" Jangan bilang tidak bisa. Masa sudah secantik ini tidak bisa berdansa kamu ini aneh," sahut Derry.
" Memang saya tidak bisa pak," jawab Anna jujur.
" Chaca, boleh di pegangkan!" ucap Derry pada Chaca.
" Boleh om," sahut Chaca.
" Makasih cantik," sahut Derry yang langsung memegang tangan Anna dan mengajaknya ke altar dansa tanpa persetujuan Anna.
" Pak saya tidak bisa!" Anna tetap menolak. Namun apa mau di kata dia sudah berada di altar dansa dan Derry memegang satu tangannya dan tangannya yang satunya lagi memegang pinggang Anna dan berdansa dengan Anna. Anna pun pasrah yang akhirnya mengikuti gerakan Derry.
Kelihatan Derry tidak peduli dengan Anna yang tadi ada hubungan apa dengan keluarga Chandra walau dia sangat penasaran. Tetapi tetap Derry tidak menanyakan hal itu sama sekali dan hanya berdansa dengan Anna
Tidak hanya Derry dan Athar yang berdansa Gibran juga berdansa dengan salah satu wanita yang di temuinya di sana. Maklumlah Gibran dari pada bete mending mencari hiburan sendiri.
Athar dan Aurelia pun berdansa bersama-sama dengan wajah Aurelia yang terlihat bahagia. Namun Athar matanya tetap saja teralihkan pada Anna yang berdansa dengan Derry.
" Sudah lam kita tidak berdansa seperti ini Athar," ucap Aurelia pelan. Namun Athar tidak mendengarkannya dan matanya fokus pada Anna.
Saat perputaran dansa di mana pasangan dansa bertukar. Tibalah Anna tepat pada Gibran dan Anna kaget dan ingin pergi. Namun Gibran menariknya dan berdansa dengannya memegang pinggang Anna.
" Lepaskan tanganmu!" geram Anna dengan melotot pada Gibran yang tidak mau di sentuh oleh Gonta.
__ADS_1
" Memang seperti ini berdansa," sahut Gibran dengan santai. Namun memaksa Anna.
" Ishhh, tapi aku tidak Sudi denganmu," tolak Anna mentah-mentah.
" Heh, aku juga tidak sudi denganmu. Kau sudah berani kurang ajar kepadaku," ucap Gibran.
" Itu salahmu. Karena kau mengataiku sembarangan. Aku akan lebih melakukan itu lagi," geram Anna yang marah-marah tetapi tetap berdansa dengan Gibran.
" Bukan kau yang akan membalasmu tapi aku," sahut Gibran dengan menyunggingkan senyumnya yang memegang kuat pinggang Anna dengan niat kurang ajar.
Namun mata Athar melihat kearah Gibran dan melihat jari Gibran yang seperti melecehkan Anna dan terkihat memaksa Anna.
" Apa yang kau lakukan. Kau benar-benar!" geram Anna yang naik darah dengan Gibran.
Gibran menyunggingkan senyumnya dan memberi Anna pelajaran dengan memutarkan tubuh Anna di dalam irama dansanya dengan putaran yang cepat dan dengan jahatnya mendorong Anna sampai Anna kehilangan keseimbangan dan heelsnya menginjak bajunya yang membuat Anna melotot yang hampir jatuh tersungkur.
Untung ada Athar yang menarik tangan Anna membawanya kedekapannya memegang pinggang Anna dan terlihat sangat dekat dengan Anna dengan Anna yang memeluk Athar.
Mata Anna yang masih melotot dengan napas tertahan perlahan menurunkan napasnya yang lega yang jadi jatuh. Anna mengangkat pandangannya melihat Athar. Athar juga meliahat Anna yang terlihat pucat. Namun Athar di depannya meraih ke-2 tangan Anna meletakkan di bahunya dan menuntunnya berdansa dengan tangannya memegang pinggang Anna.
Anna masih schok yang tadi hampir saja terjatuh dan sekarang dia benar-benar bernapas lega.
" Sial," geram Gibran yang melihat rencananya berantakan. Karena kesal Gibran pun pergi dari area dansa tersebut.
Namun Anna sudah sedikit tenang karena tidak jadi jatuh. Namun menyadari Athar yang berada di depannya membuat Anna sepontan memukul dada Athar pelan.
" Mencari kesempatan!" geram Anna membuat Athar menaikkan 1 alisanya mendengar ucapan itu dari Anna.
" Apa maksudmu memang apa yang aku lakukan," sahut Athar.
" Ya kau ngapain pakai pegang-pegang segala," ucap Anna kesal.
" Aku menyelamatkan mu. Bukannya berterima kasih malah mengoceh. Kau mau hah! Jadi bahan tertawaan di depan semua orang," ucap Athar kesal.
" Tapi tetap saja. Kau selalu mencari kesempatan," ucap Anna kesal.
" Sepertinya aku harus mengingatkan posisimu dan posisiku apa kau lupa aku atasanmu!" ucap Athar dengan merapatkan giginya yang lama- lama naik pitam dengan Anna.
" Ini bukan kantor, jadi jangan bawa-bawa jabatan," sahut Anna yang punya seribu jawaban untuk Athar.
Athar harus pasrah dengan wanita yang di hadapinya memang wanita pemenag perdebatan berturut-turut dari tahun ke tahun jadi dia seharusnya sudah tau dan pasrah saja.
Walau Athar dan Anna bertengkar dari kejauhan mereka terlihat berdansa dengan serasi. Dan hal itu harus di saksikan Aurelia yang mana di tinggalkan Athar hanya untuk berdansa dengan Anna dan pasti hal itu membuat Aurelia kesal dan di wajahnya di penuhi api cemburu melihat Anna dan Athar.
__ADS_1
Bersambung