
Maya ingin menaiki anak tangga namun melihat Aurelia menuruni anak tangga dengan menyeret koper membuat Maya heran yang Aurelia sepertinya ingin pergi.
"Aurelia mau kemana kamu? kenapa bawa koper segala?" tanya Maya heran.
"Aurelia mau tinggal di rumah papa beberapa hari ini," jawab Aurelia yang sudah berdiri di depan Maya.
"Apa ini untuk menghindari masalah yang ada?" tebak Maya.
"Karir Aurelia berantakan mah. Aurelia juga bingung harus mulai dari mana lagi dengan semua usaha Aurelia semala ini sebagai desainer. Semuanya sia-sia. Jadi Aurelia ingin menenangkan diri dulu dan tidak ingin di perusahaan untuk sementara waktu," ucap Aurelia yang sudah memikirkan hal itu sebelumnya.
"Baiklah Aurelia, mama tidak akan melarang kamu. Jika ingin tinggal bersama papa kamu. Tetapi mama hanya ingin kamu lebih dewasa lagi dalam menghadapi setiap masalah. Jangan seperti ini. Ini tidak boleh kamu lakukan," ucap Maya memberi saran pada Aurelia.
"Iya mah, Aurelia mengerti dan Aurelia akan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi," ucap Aurelia. Maya mengangguk dan tersenyum yang langsung memeluk Aurelia.
"Tidak ada yang marah padamu dan jika mama marah. Itu karena sayang. Jadi jangan diambil hati," ucap Maya mengusap-usap pundak Aurelia.
"Aurelia paham mah, maafkan Aurelia," ucap Aurelia.
"Percaya pada mama. Jika kamu menjadi orang yang tulus. Maka kamu akan menemukan kebahagiaan mu yang juga tulus kamu dapatkan," ucap Maya mengingatkan Aurelia.
"Iya mah," sahut Aurelia melepas pelukan itu.
"Kalau begitu Aurelia pergi dulu. Mama jaga kesehatan ya dan salam untuk Anna,"ucap Aurelia pamit.
"Iya salam dengan papa kamu juga," ucap Maya. Aurelia mengangguk dengan menghela napasnya dan langsung pergi meninggalkan Maya. Maya juga menghela napasnya melihat kepergian putranya itu.
"Semoga saja Aurelia bisa menjadi orang yang jauh lebih baik lagi," batin Maya yang hanya bisa berdoa untuk Aurelia.
Sebenarnya tidak ada yang memusuhi Aurelia. Aurelia aja yang terlalu merasa di musuhi. Dan dia mengambil keputusan untuk menenagkan dirinya di rumah Chandara.
Saat Aurelia keluar dari rumah dengan bersamaan Mahendra memasuki rumah yang membuat mereka bertemu di depan pintu dan Aurelia melihat keluar ternyata ada Jennie yang menunggu Mahendra. Jennie juga melihat Aurelia.
Tetapi hanya dengan tatapan seperti itu saja dan sementara Mahendra hanya profesional yang menyapa Aurelia dengan menunduk dan setelah itu Mahendra melanjutkan langkahnya yang langsung memasuki rumah yang pasti tujuan Mahendra ke rumah itu untuk menemui Maya.
Aurelia menghela napasnya dan melanjutkan langkahnya. Dan Jennie juga tidak menanggapi apa-apa dan tetap menunggu Mahendra. Ya Jennie tidak peduli dan itu juga bukan urusannya.
Tidak lama akhirnya Mahendra keluar dari rumah dan menghampiri Jennie.
"Sudah?" tanya Jennie. Mahenndra menganggukan kepalanya.
"Ayo pergi!" ajak Mahendra. Jennie mengangguk dan langsung masuki mobil bersama Jennie.
Saat di dalam mobil mereka baru melihat mobil Aurelia yang baru bergerak.
"Mau kemana dia?" tanya Jennie.
"Aku mana tau Jennie dan tidak mau tau," Mahendra.
"Benar tidak mau tau," sahut Jennie.
"Iya sudah. Jangan membahasnya sekarang aku akan mengantarmu kekantor dan setelah itu aku juga akan kekantor," ucap Mahendra.
"Bukannya kamu bilang kamu ingin mengundurkan diri dari Perusahaan Bu Maya?" tanya Jennie yang sebelumnya Mahendra sudah membahas hal itu dengannya.
"Ya seharusnya memang iya. Tetapi Bu Maya minta tolong kepadaku untuk tidak dulu. Karena takut Anna tidak bisa menangani Perusahaan sendirian dan Bu Maya memintaku sebelum meninggalkan perusahaan harus mendapatkan pengganti. Jadi aku belum bisa mengundurkan diri," jelas Mahendra.
"Lagi pula aku setuju dengan Bu Maya. Kamu untuk apa harus mengundurkan diri. Lagian bukannya kamu bilang itu tempat ternyaman kamu," ucap Jennie.
"Iya sih kamu benar. Tapi bukannya kita berdua punya rencana untuk tinggal di Luar Negri," ucap Mahendra.
"Iya sih. Tetapi sebaiknya kita menyelesaikan dulu apa yang menjadi kewajiban kita. Jangan meninggalkan begitu saja," ucap Jennie.
"Baiklah! ya sudah kita gerak sekarang," ucap Mahendra. Jennie mengangguk dengan tersenyum dan langsung pergi.
***********
Anna dan Athar berada di dalam mobil yang mana Athar menyetir dan Anna berada di sebelahnya.
"Bagaimana Aurelia apa dia baik-baik saja?" tanya Athar.
__ADS_1
"Kak Aurelia masih suka diam. Ya mungkin dia masih meresapi apa yang terjadi," ucap Anna.
"Semoga saja dia baik-baik saja," ucap Athar yang hanya bisa berharap.
"Hmmmm, oh iya Derry sendiri bagaimana. Apa Derry benar-benar akan berhenti mengejar kak Aurelia?" tanya Anna.
"Aku rasa tidak. Karena sebelumnya Olive menyinggung masalah wanita pada Derry dengan menjodoh-jodohkan Derry Lisa. Tetapi kelihatan Derry menolaknya dan terlihat tidak bisa move on dari Aurelia," jawab Athar.
"Lagian Olive ada-ada saja. Masa iya menjodoh-jodohkan Lisa dan juga Derry," sahut Anna geleng-geleng.
"Ya begitulah Olivie. Mau bagaimana lagi," sahut Athar.
"Tapi aku rasa Derry hanya butuh waktu saja. Ya kita doa kan saja yang terbaik. Jika memang kak Aurelia dan Derry jodoh. Maka akan di persatukan," ucap Anna.
"Aku setuju sama kamu," sahut Athar tersenyum mengangguk.
Dan mobil itu berhenti di lampu merah. Athar melihat ke arah Anna yang melihat lurus kedepan. Athar meraih tangan Anna dengan menggengamnya erat dan membuat Anna menoleh ke arah Athar.
"Sayang aku mau mengatakan sesuatu kepada kamu," ucap Athar tiba-tiba.
"Apa itu?" tanya Anna yang melihat Athar dengan intens. Athar menghela napasnya dengan mendekatkan dirinya pada Anna.
"Perusahaan di New York, mengalami masalah besar," ucap Athar dengan wajahnya yang sangat serius bicara.
"Lalu?" tanya Anna yang merasa ada yang tidak beres.
"Anna aku harus ke Luar Negri untuk menanganinya. Karena jika tidak aku yang bergerak. Maka Perusahaan itu bisa mati," ucap Athar dengan berat hati mengatakannya pada Anna. Wajah Anna langsung berubah menjadi datar yang tadi tersenyum langsung hilang seketika.
"Berapa lama?" tanya Anna.
"Aku tidak bisa pastikan dan pasti lebih 2 bulan," jawab Athar, Anna menghela napasnya dan melepas tangannya dari Athar yang mana Anna terlihat sedih dengan melihat ke luar jendela yang sepertinya tidak setuju dengan kepergian Anna.
"Anna!" lirih Athar.
"Dulu juga seperti itu. Kamu pergi mengurus perusahaan itu katanya hanya 1 bulan. Tetapi aku menunggu lebih 6 bulan dan sekarang apa akan menunggu 1 tahun lagi," sahut Anna yang terlihat kecewa dan mengeluhkan keadaan hubungan mereka.
"Anna aku juga tidak ingin pergi. Jika bukan karena pekerjaan. Aku janji ini hanya akan sebentar," ucap Athar yang membujuk Anna.
"Aku tidak mungkin membawamu Anna. Tante Maya membutuhkanmu di Perusahaan," sahut Athar. Anna diam yang tidak bicara apa-apa lagi.
"Anna!"lirih Athar.
"Lampunya sudah hijau," sahut Anna yang membuat Athar menghela napasnya yang kali ini Anna benar-benar marah dengan Athar yang berpamitan.
Athar tidak mengajak Anna bicara lagi dan melanjutkan menyetir yang sebentar-sebentar melihat ke arah Anna di sebelahnya yang sekarang jadi murung dengan melihat ke luar jendela.
Sudah sampai di Perusahaan keluarga Anna. Dan sejak di mobil Anna dan Athar hanya diam saja.
"Makasih sudah mengantarku!" ucap Anna yang langsung membuka seat belt nya dan langsung turun dari mobil dan Athar juga buru-buru turun. Bisa berantakan jika Anna benar-benar ngambek.
"Anna tunggu!" panggil Athar dengan memegang tangan Anna menahan Anna agar tidak pergi.
"Kamu jangan marah seperti ini. Kau benar-benar minta maaf, jika ini tiba-tiba membuatmu terkejut," ucap Athar dengan lembut.
"Apapun yang aku katakan, tidak ada gunanya kan. Kamu akan tetap pergi. Jadi pergilah. Jika memang mau pergi," ucap Anna yang sudah malas berdebat dengan Anna.
"Anna kamu jangan seperti ini. Ayo bicara baik-baik," ucap Athar.
"Sebelum kita bicara, aku ingin bertanya dulu. Apa setelah kita bicara keputusan kamu akan berubah?" tanya Anna. Athar diam yang tidak bisa menjawab pertanyaan Anna.
"Jika tidak. Untuk apa kita bicara," sahut Anna melepas tangan Athar dari tangannya dan langsung memasuki Perusahaan dengan penuh kemarahannya.
"Anna!" panggil Athar, Anna tidak meresponnya.
Huffff
Athar menghela kasar napasnya dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.
"Athar!" tegur Mahendra yang berdiri di belakang Athar dan melihat Athar sangat kebingungan.
__ADS_1
"Eh, Mahendra," sahut Athar.
"Ada apa?" tanya Mahendra.
"Tidak apa-apa. Hanya masalah sedikit saja," jawab Athar.
"Masalah apa?" tanya Mahendra. Pasti Mahendra ingin membantu. Karena Athar juga sangat berjasa dalam hubungannya dan Jennie.
"Anna sepertinya marah kepadaku. Karena aku harus ke Luar Negri dengan waktu yang cukup lama," jawab Athar yang butuh orang untuk berbagi cerita. Agar mendapatkan solusi.
"Ayo mengobrol sebentar. Biar jangan terlalu kepikiran," sajak Mahendra.
Athar mengangguk yang tidak keberatan
sama sekali dengan ajakan Mahendra.
********
Mahenndra dan Athar terlihat mengobrol di kafe yang ada di sebrang Perusahaan tersebut.
"Jadi hanya karena Perusahaan yang ada di New York," sahut Mahendra.
"Iya dan Anna terlihat tidak memberi ijin. Aku juga bingung," sahut Athar.
"Mungkin dia tidak ingin jauh-jauh dari mu," sahut Mahendra berpikiran positif.
"Aku tidak mungkin membawanya kan. Aku juga sama Anna masih pacaran. Aneh bukan aku akan tinggal bersamanya di New York tanpa menikah dan bukan waktu yang singkat, waktu yang sangat panjang dan itupun pasti tidak di setujui tanya Maya," ucap Athar.
"Akan di setujui jika kau menikahinya," sahut Mahendra. Athar terdiam.
"Menikah!" sahut Athar. Mahenndra menganggukkan kepalanya.
"Athar kau dan Anna sudah saling mengenal. Justru aku rasa sudah saatnya kau menikahinya dan jika kalian menikah maka Anna bisa ikut dengamu," ucap Mahendra yang memberikan saran.
"Mahendra tidak semudah itu untuk menikah," sahut Athar membuat Mahendra mengkerutkan dahinya.
"Kau belum siap untuk menikah?" tebak Mahendra.
"Menikah bukannya hanya sekali dalam seumur hidup. Dan menikah bukan hal yang mudah. Banyak pasangan yang berakhir dalam pernikahan. Tidak jauh-jauh Mahendra. Aku dan Anna sama-sama anak broken home," ucap Athar.
"Athar kau sedang tidak trauma dalam pernikahan kan?" tanya Mahendra.
"Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya. Mama dan papa dulu saling mencintai dan aku adalah hasil cinta mereka dan perpisahan datang diiringi dengan perselingkuhan, saling menyakiti lalu kedepannya saling membenci. Bukan hanya orang tua kandungku. Mama Maharani dan juga papa juga di dasari rumah tangga yang seperti itu. Tante Maya dan Om Chandara juga orang yang sama-sama saling mencintai dan buah cinta mereka Aurelia dan Anna. Lalu apa adanya perpisahan dengan masuknya Tante Amelia setelah menikah dengan Tante Amelia juga berpisah dan semuanya hanya anak yang menjadi korban," ucap Athar yang secara tidak langsung sangat trauma dengan pernikahan. Mahendra juga kaget mendengarnya. Yang tidak percaya Athar yang selama ini cuek-cuek saja bisa mengalami masalah mental dengan pernikahan.
"Aku dan Anna juga korban dari semua itu dan aku tidak tau. Jika aku mengambil keputusan dengan cepat untuk menikah karena aku mencintainya. Aku tidak tau bagaimana kedepannya nanti, beberapa tahun kedepan siapa lagi anak yang akan menjadi korban," lanjut Athar.
"Athar tidak semuanya pernikahan seburuk itu," sahut Mahendra.
"Tapi keburukan itu ada di depan mata," shut Athar.
"Masalah rumah tangga pasti ada dan itu tergantung kitanya. Kamu tidak bisa mematokkan pernikahan hanya dengan melihat kehidupan kamu dan Anna. Mungkin pernikahan orang tuamu dan orang tua Anna gagal. Tetapi bukan berarti kamu dan Anna juga akan mengalami hal itu," ucap Mahendra.
"Tetapi banyak kemungkinan itu akan terjadi," sahut Athar.
"Tapi tidak semua orang Athar," sahut Mahendra.
"Aku tidak tau Mahendra bagaimana kedepannya nanti. Tetapi yang jelasnya aku tidak siap untuk melangkah ke sana. Karena apa yang nantinya aku akan menyakiti Anna atau sebaliknya," ucap Athar dengan jalan pikirannya yang tidak terduga.
Jadi itu yang membuat Athar tidak bisa mengambil keputusan cepat untuk menikah. Ternyata dia trauma dengan kehidupan keluarganya. Mahendra sampai tidak bisa bicara apa-apa lagi dengan Athar yang sangat sulit percaya dengan pernikahan.
***********
Anna berada di tuangnya yang terlihat lesu. Dengan napasnya yang terus berhembus dengan kasar di pastikan pemikiran Anna saat ini tidak baik-baik saja. Karena bagaimana bisa baik-baik saja. Bisa di katakan tadi dia bertengkar dengan Athar.
"Semua orang sibuk dengan persiapan menuju lebih jauh lagi. Namun dia sibuk untuk pergi lebih jauh lagi. Aku tau dari dulu yang menjadi no 1 nya adalah pekerjaan. Tetapi tidak haruskan sampai pergi berbulan-bulan," gerutu Anna dengan wajah kesalnya pada Athar.
"Sekarang mau pergi. Lalu aku bagaimana. Apa aku di pedulikan. Aneh memang," ucap Anna dengan kesalnya pada Athar.
Anna kali ini memang akan protes dengan kepergian Athar. Ya dia tidak mau LDR lagi dan lagian dia juga ingin menikah dan Athar malah sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Bersambung