
Perusahaan Glossi.
Athar berjalan bersama Jennie memasuki perusahaan dengan langkah mereka yang sejajar dan tangan Athar sudah di perban. Tangan yang kemarin terluka karena kemarahannya.
Athar dan Jennie berpapasan dengan Lisa dan Marko dan mereka sama-sama menghentikan langkah dan saling berhadapan.
" Mana laporan yang aku minta?" tanya Athar pada Lisa dengan suara dinginnya.
" Iya bos santai aja. Galak amat," sahut Lisa dengan becandaan.
" Lisa, cepat berikan. Jangan bermain-main," sahut Jennie yang dia tau suasana hati Athar sedang tidak baik. Jadi jangan di pancing.
" Iya, serius amat," sahut Lisa yang tidak tau jika manusia di hadapannya itu adalah monster.
" Ini bos," sahut Lisa memberikannya.
" Dokumen yang hasil survei mana?" tanya Athar meminta yang satunya.
" Itu Anna yang mengerjakan," jawab Lisa mendengar nama Anna membuat darah Athar berdesir.
" Ambil dari tangannya dan bawa keruang ku," sahut Athar yang tampaknya tidak ingin melihat Anna atau bicara pada Anna.
" Kenapa bukan Anna saja yang mengantarnya? sahut Lisa.
" Kau tidak mendengarku!" Bentak Athar membuat Lisa tersentak kaget tiba-tiba bosnya itu marah.
" Santai Athar kayak pms aja," sahut Marko.
" Jangan ikut campur! sentak Athar benar-benar marah.
" Cepat bawa keruanganku sekarang juga. Jika tidak kau akan ku pecat," ucap Athar mengancam Lisa membuat Lisa kaget yang bisa-bisanya langsung di pecat. Karena masalah spele.
" Athar itu kan tugasnya Anna, kenapa Lisa yang jadi korban. Lagi pula Anna juga belum datang," sahut Marko dengan santai. Jennie hanya menghembus napasnya perlahan yang pasrah dengan marahnya Athar.
" Aku tidak mau tau, secepatnya bawa keruanganku!" teriak Athar di depan Lisa yang mana Lisa sudah menunduk karena takut.
" I-i-iya bos. Tetapi Anna tidak masuk hari ini," ucap Lisa gugup. Membuat Athar geram dengan merapatkan giginya.
" Apa dia pikir ini Perusahannnya yang seenaknya datang atau tidak!" bentak Athar.
" Jennie pecat dia, jika tidak datang hari ini!" perintah Athar membuat Jennie dan yang lainnya kaget dengan mudahnya Athar memecat Anna.
" Athar!" lirih Jennie tidak percaya.
__ADS_1
" Kau tidak mau menurutiku, Perusahaan ini bukan penampung orang malas-malasan sepertinya," tegas Athar.
" Tapi Anna sedang sakit bos," sahut Lisa.
" Aku tidak peduli," sahut Athar yang bertambah emosi.
" Jika dia tidak datang hari ini pecat dia. Jika kau tidak melakukannya. Kau yang ku pecat," ucap Athar yang mengancam Jennie yang membuat Jennie bertambah shock. Athar pernah marah. Tetapi tidak pernah jika dia akan terkena imbas.
" Itu Anna datang," sahut Marko melihat Anna yang berdiri tidak jauh dari keributan itu.
Anna yang berdiri juga mendengar kata-kata Athar dan jelas dia terasa sakit dan bahkan air matanya ingin jatuh. Namun masih di tahannya.
" Ambil dokumennya dan bawa ke ruanganku. Awa saja jika kalian semua malas-malasan di Perusahaan ku. Aku tidak akan segan-segan akan mengeluarkan kalian secara tidak terhormat," tegas Athar yang sama sekali tidak ingin melihat Anna yang berdiri mematung dan Athar pun langsung pergi dengan emosinya yang semakin marah.
" Athar benar-benar membenciku. Bahkan sama sekali tidak ingin melihatku. Dia benar-benar begitu sudah membenciku," batin Anna yang merasa terluka. Jennie melihat ke arah Anna.
" Ada apa sebenarnya. Kenapa Athar seperti orang gila dan aku menjadi imbasnya," batin Jennie bingung dan langsung menyusul Athar.
Namun Anna hanya diam dengan matanya yang terus melihat punggung Athar yang sama sekali tidak mempedulikannya.
Lisa pun langsung menghampiri Anna. " Sini Anna dokumennya, biar aku bawa pada bos Athar. Nanti yang ada aku di marahi lagi," ucap Lisa. Anna mengangguk dan langsung memberikan dokumen itu pada Lisa.
" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Lisa. Anna menggelengkan kepalanya, " soalnya aku lihat kamu begitu pucat," ucap Lisa.
" Ya sudah aku pergi dulu," ucap Lisa yang buru-buru pergi. Marko langsung menghampiri Anna.
" Kata Lisa kamu tidak masuk?" tanya Marko.
" Tadi seharusnya iya. Tetapi aku harus masuk. Karena tidak mungkin libur," jawab Anna.
" Untung aja kamu masuk. Kalau tidak Athar bisa mengamuk. Nggak tau kenapa dia kayak orang kesetanan. Padahal hanya gara-gara dokumen. Tetapi langsung emosian kayak gitu. Ya ada-ada saja dia," ucap Marko yang membicarakan Atha di belakang Anna.
" Itu kesalahanku, dia seperti itu. Karena kejadian tadi malam, ya pasti karena kesalahan ku," batin Anna yang menyadari apa yang terjadi karena ulahnya.
************
Athar berada di ruangannya dengan bersandar di kursi kerjanya dengan kepalanya yang terasa begitu berat. Napas Athar juga terlihat naik turun dan tampak pikirannya memang yang begitu berat yang emosinya sangat cepat membuladak.
Apa lagi kalau sudah bertujuan pada Anna. Mengingat Anna membuat Athar semakin merasa dirinya begitu bodoh yang tidak sadar jika dirinya hanya di permainkan saja. Jika mengingat-ingat kebodohannya membuatnya semakin membenci Anna.
Ceklek.
Jennie membuka pintu membuat Athar tersentak sedikit.
__ADS_1
" Apa tanganmu tidak bisa kau gunakan untuk mengetuk pintu," sahut Athar yang langsung sinis pada Jennie. Mendengar hal itu membuat Jennie mendengus kasar dengan Athar yang begitu sensitif.
" Athar sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kau tiba-tiba seperti ini dan kemarin ada apa dengan Anna?" tanya Jennie yang sudah berdiri di depan Athar.
" Jika kau menyebut namanya, kau sebaiknya keluar dari sini!" sahut Athar. Jennie semakin heran dengan Athar.
" Jadi dia permasalahannya?" ucap Jennie menduga-duga.
" Aku tidak menyuruhmu untuk membahasnya. Jadi aku tegaskan. Jangan menyebut namanya di depanku dan peringatkan dia untuk lebih disiplin dalam bekerja. Jika tidak aku tidak akan segan-segan mengeluarkannya dari Perusahan ini. Sampah tidak pantas berada di perusahan ini. Ini bukan Perusahannnya. Aku tidak akan memperkerjakan wanita yang tidak bejus dan tidak berguna sepertinya," ucap Athar menegaskan.
" Pasti ada masalah besar sampai Athar segitunya mengatai Anna," batin Jennie yang melihat mimik wajah Athar yang penuh kebencian.
" Baiklah. Aku tidak akan menyebut namanya atau apapun. Tetapi profesional lah dalam bekerja jangan karena masalah pribadi kau menjadi orang kesetanan. Kamu harus ingat kamu adalah pimpinan di perusahan ini," ucap Jennie mengingatkan Athar.
" Jangan mengguruiku," sahut Athar tampak tidak terima.
" Ya sudah aku hanya ingin mengatakan persiapan besok malam yang mana pengumuman untuk 5 orang pemenang yang juga sekalian untuk pesta 5 orang itu yang di adakan di perusahaan," ucap Jennie.
" Kau atur semuanya dengan baik dan jangan ada yang tidak beres. Dan para wartawan batasi dalam bertanya. Jangan bertanya di luar tema," ucap Athar memberi saran.
" Baiklah!" sahut Jennie.
" Aku peringatkan kau berkali-kali Jennie untuk melakukan apa yang aku katakan. Dan kau juga tegas pada siapapun termasuk padanya. Aku tidak akan mempertahan karyawan yang menye-menye, banyak tingkah yang tidak pantas di perusahaan ini," ucap Athar menegaskan sekali lagi dengan wajahnya yang begitu serius.
" Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu," sahut Jennie yang langsung keluar dari ruangan itu. Namun ternyata di depan pintu ruangan Athar ada Anna yang berdiri yang menyeka air matanya.
Mungkin ada hari yang teriris saat Anna mendengarkan apa yang di katakan Athar yang saking membenci dirinya sampai mengatai dirinya sampah dan tidak berguna.
" Anna!" Lirih Jennie yang mendapati Anna.
Mendengar Jennie menyebutkan naman itu membuat mata Athar mengarah ke arah pintu dan melihat Anna yang berdiri di sana berhadapan dengan Jennie.
" Kamu ngapain di sini?" tanya Jennie.
" Tidak apa-apa Bu Jennie, ya sudah saya permisi dulu," sahut Anna yang langsung pergi yang sempat melihat ke arah dalam sebentar dan Jennie pun melihat kembali kearah dalam.
" Ada-ada saja yang terjadi," batin Jennie geleng-geleng menutup pintu ruangan Athar.
Athar hanya melihat saja dengan tatapan dingin. Athar seakan tidak peduli apa yang di katakannya tadi membuat Anna sakit hati atau tidak. Walau begitu ada sedikit penyesalan bagi Athar saat kata itu keluar dari mulutnya seakan mengatakan tidak seharusnya dia mengatakan hal itu.
Namun karena sudah begitu membenci Anna jadi mau bagaimana lagi. Kebencian bisa menjadi cinta dan cinta bisa menjadi benci dan semua itu yang di alami Athar.
Bersambung
__ADS_1